Kebangkitan Besar

Kebangkitan Besar

Sunday, November 27, 2011

Roh, Jiwa dan Tubuh Yang Terpelihara




Pdt. Abraham Alex Tanuseputra

“Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus."
(I Tesalonika 5:23-28)

Salam daripada rasul Paulus yang ditujukan kepada jemaat di Tesalonika ini, di dalamnya terkandung suatu muatan iman, harap dan kasih; yang mana semuanya itu berorientasi terhadap terpeliharanya roh, jiwa, dan tubuh daripada jemaat di Tesalonika. Walaupun di awal kalimat terdapat kata semoga, tetapi itu bukan berarti “mudah-mudahan”, sebab dalam terjemahan lain dikatakan “dan Allah sendiri yang memberikan damai sejahtera . . “

Saudara, kita semua telah tahu bahwa manusia terdiri dari roh, jiwa dan tubuh. Dan penulisan mengenai urutan bagian manusia ini memang sengaja diawali dari roh, kemudian jiwa, lalu tubuh. Karena yang akan mengalami kelahiran baru adalah roh kita yaitu ketika kita menerima Yesus sebagai Tuhan dan juru selamat. Hal ini dapat dikatakan sebagai mujizat yang terbesar dalam kehidupan manusia. Dan kali ini, fokus kita bukanlah tubuh jasmani saja tetapi spirit (roh kita).

Ada beberapa hal yang perlu kita pahami supaya roh, jiwa dan tubuh kita tetap terpelihara dengan sempurna dan tak bercacat sampai kedatangan Yesus Kristus yang kedua kalinya :

1. Roh
Roh kita ini sifatnya seperti air, karena dikatakan bahwa orang yang percaya kepada Kristus, dalam hidupnya akan keluar sumber air yang hidup (Yohanes 7:37). Oleh karena itu air dapat dipengaruhi dengan sesuatu yang dicampur pada air tersebut. Sebagai contoh : apabila air putih diberi teh, maka air putih tersebut akan menjadi air teh; sedangkan kalau diberi jeruk, maka akan menjadi air jeruk. Demikianlah dengan roh kita, seandainya roh kita percaya terhadap Kwan Im maka roh Kwan Im akan masuk dalam roh kita, sedangkan kalau roh kita percaya dengan dunia kegelapan maka roh yang jahat itu akan merusak seluruh kehidupan kita.

Kesaksian : Suatu saat saya (Pdt. Abraham Alex) bertemu dengan seseorang yang kesehariannya tidak bisa tidur/susah tidur karena mengalami kekuatiran dan resah yang sangat dalam, sehingga badan orang tersebut sangat kurus. Dan ketika saya masuk ke dalam rumahnya saya merasakan ada suatu roh yang bertentangan dengan roh saya. Lalu saya katakan kepada orang itu : “dirumah ini banyak jimat, berhala, dan hal-hal yang tidak berkenan kepada Tuhan” lalu orang itu menjawab, katanya “saya hanya koleksi barang antik”. Kemudian saya berkata lagi : “bolehkah saya menunjukkan roh-roh mana yang tidak berkenan kepada Tuhan ?”. Setelah berkata demikian saya rasakan seolah-olah saya ditarik pada sebuah kamar, dan saya katakan kepada orang itu “hati-hati dengan apa yang kau simpan dalam kamar ini”. Akhirnya orang itu bersama anak-anaknya membuka kamar tersebut dan ditunjukkan dalam sebuah lemari terdapat keris sebanyak hampir 100 buah. Lalu saya katakan kepadanya : “ini hobby yang berbahaya”, tetapi orang itu menjawab “saya tidak menyembahnya, ini hanya koleksi.”

Saudara, walaupun orang itu tidak menyembahnya, tetapi ia bergaul dengan jimat-jimat yang dia miliki yaitu dengan cara memberikan tempat dalam rumahnya, maka hal inilah yang membuat dia senantiasa resah. Selain daripada itu, ada sesuatu yang sangat disayangkan karena orang ini tidak ada keputusan untuk melepaskan barang-barang koleksinya. Sehingga hal ini dapat disimpulkan bahwa orang tersebut membiarkan rohnya tidak terpelihara/terancam. Karena pada dasarnya, bahwa roh jahat itu sebenarnya hendak masuk dalam tubuh manusia, meskipun orang tersebut sudah menjadi Kristen, sebab firman Tuhan berkata : apabila roh jahat itu keluar dari tubuh manusia, maka roh itu akan mengembara, tetapi apabila roh itu tidak mendapatkan perhentian, maka roh jahat itu akan kembali ke tempat semula, dan roh jahat itu tidak membawa satu roh jahat tetapi tujuh roh jahat lainnya sehingga keadaan orang itu akan semakin buruk (Matius 12:43-45).

2. Jiwa
Jiwa itu berbeda sifatnya dengan roh, sebab jiwa kita ini sifatnya merekam. Contohnya : apabila kita belajar bahasa Indonesia, maka tidak mungkin keluarnya nanti bahasa Inggris. Demikian pula apabila otak kita diisi dengan ilmu teknik maka kita akan menjadi seorang insinyur, dan tidak mungkin menjadi dokter. Jadi apa yang kita terima maka itulah yang akan kita keluarkan. Saudara, dunia ini penuh dengan polusi (hal-hal yang buruk), sedangkan jiwa itu merekam segala sesuatu termasuk geseran-geseran yang sedang terjadi. Contoh lain, misalnya seorang suami pernah mengkhianati istrinya (selingkuh), maka istri akan merasa disakiti dan tidak bisa mengampuni suaminya; walaupun suaminya sudah bertobat. Hal seperti ini banyak terjadi dalam kehidupan setiap orang, termasuk orang Kristen. Lalu, mengapa perbuatan daripada suaminya tidak dapat diampuni ? Karena sesuatu yang terekam dalam otak manusia itu sifatnya bolak-balik (dalam arti rekaman itu senantiasa memberi ingatan kepada kita yang mengalaminya), dan hal itu membuat jiwa seseorang menjadi terluka. Lalu, bagaimana supaya jiwa seseorang benar-benar disembuhkan ? jiwa ini harus ditandingkan dengan firman Tuhan, sebab firman Tuhan adalah pikiran Kristus.

Contoh yang sederhana : apabila kita disakiti oleh seseorang dan diri kita ingin membalasnya, maka firman Tuhan mengingatkan supaya kita mengampuni, seperti yang tertulis dalam Matius 18:22 Yesus berkata kepadanya : “Aku berkata kepadamu : Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali”. Lalu, bagaimanakah kita menjadi kuat ? firman Tuhan berkata : “tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.” (Yesaya 40:31)

3. Tubuh
Setiap orang wajib memelihara tubuhnya termasuk orang-orang percaya, tetapi bukan berarti Tuhan tidak sanggup memelihara kita. Memelihara tubuh itu sangat penting karena tubuh kita adalah bait Allah (I Korintus 3:16-17), dan itu merupakan tanggungjawab kita masing-masing. Namun dalam kenyataannya, berapa banyak anak Tuhan megalami sakit penyakit karena tidak dapat mengendalikan dirinya. Misalnya : Suka makan, khususnya makanan yang berlemak, atau yang lainnya tanpa membatasi diri, karena makanan itu merupakan kesukaannya. Akhirnya orang tersebut mengalami kelebihan lemak (kolesterol). Lalu beranggapan bahwa Tuhan sedang menghukumnya. Padahal sebenarnya dialah yang sedang menghukum dirinya sendiri. Dan apabila kita sudah mendapat nasehat dari firman Tuhan tetapi kita tidak mau mengendalikan diri kita, maka hal itu sama dengan mencobai.

Oleh sebab itu, biarlah melalui beberapa penjelasan diatas dapat menjadi perenungan dalam kehidupan kita supaya apa yang tertulis dalam ayat bacaan diatas menjadi kenyataan dalam kehidupan kita.

Amin

Tuesday, November 22, 2011

Belajar Dari Dua Wanita Yang Mengalami Kesulitan

Pdt Agus Gunawan


Setiap dari kita tentu pernah mengalami kesulitan dan kesukaran.
Dalam Alkitab kita bisa belajar dari dua wanita yang mengalami kesulitan yang sepertinya tidak ada akhirnya, karena satu kesulitan diikuti oleh kesulitan yang lain. Wanita pertama adalah Mikal anak Saul dan wanita kedua adalah Batseba. Akan tetapi meskipun keduanya mengalami kesulitan yang berat, akhir dari kedua wanita ini sangat jauh berbeda. Mikal meninggal tanpa pernah memiliki anak, sedangkan Batseba merupakan wanita yang menurunkan Salomo dan kemudian Yesus.

Tiga hal yang dapat kita pelajari dari Batseba ketika kita juga mengalami kesulitan dalam hidup kita:

1. Kita boleh menangis, tapi hanya sementara
Kesulitan yang kita alami hanya untuk satu malam, karena di pagi hari kita akan bersorak dalam bersama Tuhan. Percayalah bahwa akhir hidup kita adalah baik. Yang kita perlu lakukan adalah tetap berdoa, membaca firman dan bersuka dalam Tuhan karena kekuatan kita adalah bersuka cita dalam-Nya.

2. Percaya akan Tuhan
Sekalipun yang kita lihat adalah jalan buntuk, tetap percaya bahwa Ia adalah Tuhan yang pasti akan menolong kita. Ketika kita terima Yesus, maka berkat dan kemenangan ada pada kita.

3. Tahu Tuhan mengasihi kita
Dalam segala kesulitan dan kesukaran yang kita alami, kita harus tahu bahwa Tuhan sangatlah mengasihi kita.

Tuhan Yesus memberkati.

Tidak Menoleh Ke Belakang

Pdt Agus Gunawan

Lukas 9:62

Petani yang membajak sawahnya akan selalu mempunyai tujuan untuk menuai, dan itu adalah sesuatu yang di depan. Kita mau belajar agar kita tidak menoleh ke belakang seperti istri Lot. Ada tiga hal yang tidak boleh kita lihat lagi:

1. Dosa yang sudah diampuni
Dalam Yesaya 43:25 dituliskan bahwa Tuhan sendiri yang menghapus dosa kita dan Ia tidak lagi mengingatnya, lalu kenapa kita sendiri mengingatnya. Tuhan sudah menebus dosa-dosa kita, Dia menjadi dosa gantikan kita untuk menghapus pelanggaran kita.

2. Kegagalan kita
Tuhan sendiri yang menetapkan langkah-langkah orang yang berkenan kepada-Nya dan apabila orang itu jatuh ia tidak akan tergeletak. Tuhan bisa membuat yang baru dari kita yang sudah gagal. Selama kita melekat kepada-Nya, maka Ia yang akan memperbarui kita.

3. Konflik dan kepahitan
Sebagai manusia kita tidak sempurna, dan setiap saat kita bisa merasa sakit hati. Jika kita berserah sepenuhnya, maka Tuhan mampu membuat kita tidak mengingat semua kepahitan dan konflik yang pernah kita alami.

Tuhan Yesus memberkati.

Keluar Dari Kondisi Kemandulan



Pdt Yusak Hadisiswantoro

Yesaya 54:1-2

Dalam ayat di atas dituliskan bagaimana Bapa ingin agar kita keluar dari kemandulan. Mungkin ada diantara kita yang sudah bekerja cukup lama tetapi tidak mengalami kemajuan atau mungkin kita berusaha tetapi tidak juga bertumbuh kembang. Ada lima hal yang Bapa ajarkan untuk kita keluar dari kondisi kemandulan:

1. Perbesar (enlarge)
Banyak dari kita memiliki pola pikir yang kecil. Mari kita ubah dengan pola pikir yang besar karena Bapa kita adalah Bapa yang besar dan Ia yang akan memberikan hal-hal yang besar kepada kita. Bapa yang akan memenuhi apa yang kita butuhkan sesuai dengan waktu-Nya. Mari kita perluas juga lingkungan kita yaitu orang-orang yang kita kenal. Jangan hanya bergaul dengan orang-orang yang sama. Dan yang paling penting adalah kita bergaul secara pribadi dengan Pribadi yang paling berhasil yaitu Yesus dengan membaca firmany-Nya secara teratur.

2. Membentang (stretch out)
Ketika kita ingin keluar dari kemandulan kita akan mengalami ketegangan. Jangan putus asa karena selalu masih ada babak selanjutnya yaitu babak “happy ending” yang sudah disediakan oleh Bapa.

3. Panjangkan (lengthened)
Panjangkanlah pikiran kita. Jangan hanya memikirkan kekuatiran dan ketakutan yang tidak ada gunanya dan tidak terjadi. Jangan miliki pikiran yang pendek, tapi miliki pikiran Kristus yaitu pikiran doa dalam menghadapi segala kesulitan, masalah dan halangan.

4. Perkuat (strengthened)
Untuk kita keluar dari kemandulan kita harus memiliki komitment kepada Bapa yang lebih dalam lagi. Selain itu juga komitmen kepada keluarga, gereja dan pekerjaan kita. Dengan demikian kita akan lebih dikasih oleh Bapa.

5. Bernyanyi (sing out)
Apapun yang sedang kita alami saat ini, tetaplah bernyanyi pujian dan mengucap syukur kepada Bapa.

Mari miliki pemahaman yang benar agar kita keluar dari kemandulan. Amin.

Tuhan Yesus memberkati.

Friday, November 18, 2011

Tetap Menjadi Rumah Doa



Pdt. Abraham Alex Tanuseputra

“Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mengusir semua orang yang berjual beli di halaman Bait Allah. Ia membalikkan meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati dan berkata kepada mereka: Ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun. Maka datanglah orang-orang buta dan orang-orang timpang kepada-Nya dalam Bait Allah itu dan mereka disembuhkan-Nya.Tetapi ketika imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat melihat mujizat-mujizat yang dibuat-Nya itu dan anak-anak yang berseru dalam Bait Allah: "Hosana bagi Anak Daud!" hati mereka sangat jengkel, lalu mereka berkata kepada-Nya: Engkau dengar apa yang dikatakan anak-anak ini?
Kata Yesus kepada mereka: Aku dengar; belum pernahkah kamu baca: Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu Engkau telah menyediakan puji-pujian? Lalu Ia meninggalkan mereka dan pergi ke luar kota ke Betania dan bermalam di situ.”
(Matius 21:12-17)


Setelah kita membaca ayat bacaan di atas, maka kita akan menemukan adanya suatu tindakan tegas yang dilakukan oleh Tuhan Yesus terhadap orang-orang yang menggunakan bait Allah sebagai tempat berjual beli atau transaksi lainnya. Tuhan Yesus marah bukan berarti Ia benci terhadap mereka, tetapi Ia ingin memperingatkan mereka bahwa “rumah Allah adalah rumah doa” dan bukan dijadikan sebagai sarang penyamun. Dan orang-orang yang berjual beli di dalam Bait Allah sebenarnya tahu bahwa rumah Tuhan atau bait Allah hanya digunakan untuk beribadah dan bukan untuk hal-hal yang lain, sebab rumah Tuhan adalah kudus. Tetapi, oleh karena mereka mendapat keuntungan dari apa yang mereka lakukan, maka mereka tidak mengindahkan lagi mengenai hal kekudusan. Selain itu para imam-imam tidak melarang mereka yang sedang berjualan di bait Allah, tetapi justru mereka mendukung, sebab para imam-imam juga mendapatkan keuntungan dari orang-orang yang berjualan di bait Allah. Oleh karena hal inilah Tuhan Yesus sangat marah.

Kisah ini telah ditulis dalam keempat Injil, dan apabila kita membaca di dalam Injil Yohanes 2:13, maka kita akan mendapatkan jalan cerita ini lebih detail. Dan kisah ini tidak terjadi hanya pada jaman Tuhan Yesus, tetapi jaman sekarangpun hal ini juga masih sedang berlangsung. Berapa banyak orang Kristen masih melakukan tindakan seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang berjual beli di bait Allah pada jaman Tuhan Yesus. Orang Kristen sudah tidak menghiraukan lagi mengenai aturan dalam rumah Tuhan, sebab yang mereka pikirkan adalah mencari keuntungan secara pribadi.

Memang, selama kita masih ada di dunia ini, kita membutuhkan nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup atau keluarga. Lagipula Allah tidak melarang kita berusaha untuk mencari nafkah, tetapi kita harus tahu bagaimana kita menempatkan diri. Dan apabila kita memahami akan hal ini maka Allah akan memberkati kita secara berlimpah-limpah, sebab tidak ada sesuatu yang terlalu sulit bagi Allah untuk memberkati kita, asalkan kita menghormati akan bait Allah. Bait Allah tidak berbicara soal bangunan atau gedung, tetapi bait Allah berbicara mengenai kehidupan kita.Karena dalam I Korintus 3:16-17 dikatakan : “Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu? Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia. Sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu.

Di dalam ayat ini sudah jelas, bahwa apabila kita membinasakan bait Allah maka Allah akan membinasakan kita. Dalam pengertian bahwa hidup ini tidak hanya mengejar sesuatu yang lahiriah saja, sebab sesuatu yang lahiriah hanya bersifat sementara, tetapi hal-hal yang rohanilah yang akan membawa kita dalam kekekalan. Oleh karena itu janganlah kita kecewa saat Allah memperingatkan kepada kita dengan berbagai macam cambukan; sebab ketika Allah mencambuk kita, sebenarnya Ia menyatakan kasih sayangNya kepada kita. Karena Allah tidak mau melihat kita binasa, dan di dalam Ibrani 12:6-8 juga telah dikatakan bahwa : “Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak. Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang.”

Dan apabila kita marah dan diperingatkan oleh Tuhan, maka tidak ada bedanya dengan orang-orang Yahudi yang menentang Tuhan Yesus, seperti yang terulis dalam Injil Yohanes 2:18 “Orang-orang Yahudi menantang Yesus, katanya: "Tanda apakah dapat Engkau tunjukkan kepada kami, bahwa Engkau berhak bertindak demikian?”. Inilah gambaran orang-orang yang tidak mau diperingatkan oleh Tuhan. Oleh karena itu janganlah kita sama seperti orang-orang Yahudi yang menantang Yesus. Sebab ketika kita percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan juru selamat, maka benih ilahi itu ada didalam diri kita; yang nantinya akan membawa kita pada hidup yang kekal. Dan benih ilahi itu harus tetap kita pelihara agar terus bertumbuh hingga menjadi dewasa, yaitu dengan jalan kita melakukan segala kehendak Tuhan di dalam pimpinan Roh Kudus dan menjahui segala sesuatu yang membangkitkan murka Allah.

Jikalau saat ini bait Allah sudah bebas atau bersih dari pikiran “berjual beli” (dalam pengertian : bahwa segala sesuatu dinilai untung ruginya, khususnya dalam melayani Tuhan), maka kita harus tetap mempertahankan dan jangan berhenti untuk meningkatkannya, sebab apabila kita berhenti maka suatu saat rumah doa ini akan menjadi sarang penyamun yang pada akhirnya mengalami kehancuran. Hal ini terjadi seperti pada jaman Salomo, dimana ketika ia telah membangun bait Allah maka ia diberkati secara luar biasa. Tetapi, justru berkat yang berlimpah itu, kedagingannya mulai muncul karena tidak sanggup menerima berkat yang luar biasa itu. Sehingga pada akhirnya ia menikah dengan ratusan istri dan juga ratusan gundik.

Selain itu perempuan-perempuan yang menjadi istri maupun gundiknya telah membawa berhalanya masing-masing kedalam kerajaannya, sehingga kerajaannya menjadi hancur. Kalau saja pada waktu Salomo mau bertobat, dibersihkan atau disucikan dan tidak takabur dengan keberhasilannya karena ia adalah seorang pemimpin yang penuh hikmat, maka ia tidak mengalami kehancuran. Dimana negaranya menjadi pecah yaitu Yehuda dengan Israel, dan bait Allah juga dihancurkan dan alat-alat yang terdapat didalam bait Allah dirampas dan dibawa kepada Nebukadnesar.

Melalui contoh daripada kisah Salomo, biarlah boleh menjadi pelajaran dalam kehidupan kita agar kita senantiasa memelihara hidup ini untuk tetap menjadi rumah doa atau bait Allah yang kudus.

Amin

Sunday, November 6, 2011

Kerinduan Mencari Tuhan



Pdt. Abraham Alex Tanuseputra

“Mazmur Daud, ketika ia ada di padang gurun Yehuda. Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau, jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku rindu kepada-Mu, seperti tanah yang kering dan tandus, tiada berair. Demikianlah aku memandang kepada-Mu di tempat kudus, sambil melihat kekuatan-Mu dan kemuliaan-Mu. Sebab kasih setia-Mu lebih baik dari pada hidup; bibirku akan memegahkan Engkau. Demikianlah aku mau memuji Engkau seumur hidupku dan menaikkan tanganku demi nama-Mu.”
(Mazmur 63:1-5).

Inilah ungkapan raja Daud saat berada di padang gurun. Ungkapan ini bukan sekedar diucapkan di mulut saja, tetapi ungkapan ini benar- benar keluar dari lubuk hatinya yang paling dalam.

Lalu, mengapa ia harus pergi ke padang gurun kalau hanya sekedar mengungkapkan isi hatinya kepada Tuhan; dan apa tidak ada pekerjaan sehingga ia harus meninggalkan tahtanya untuk pergi ke padang gurun ?. Saudara, hal ini merupakan ekspresi daripada kehidupan raja Daud yang sungguh-sungguh merindukan Tuhan. Bahkan ia menggambarkan hatinya bagaikan tanah yang kering dan tandus, tiada berair.

Selain Daud ingin mengekpresikan kerinduannya kepada Tuhan; ia pergi ke padang gurun untuk mengingat bagaimana Allah telah memberkati nenek moyangnya saat perjalanan menuju tanah perjanjian. Seperti yang tertulis dalam Ulangan 18:1-18. Disana diceritakan bahwa Musa menjelaskan kepada bangsa Israel dengan pesan, “kalau engkau sampai ke negeri yang dijanjikan Tuhan, maka janganlah engkau lupa bahwa Tuhanlah yang memimpin bangsa Isral keluar dari Mesir melalui padang gurun.” Hal ini dikatakan supaya bangsa Israel senantiasa ingat akan pertolongan Tuhan saat keluar dari negeri perbudakan yaitu Mesir. Mesir merupakan gambaran dari segala perbuatan duniawi. Sebab orang yang berada diluar Kristus akan diperhamba oleh mamon atau sifat keduniawian.

Dari sinilah Daud belajar untuk menjadi orang yang tidak sombong walaupun ia memiliki kedudukan yang tertinggi di Israel yaitu sebagai raja. Selain itu juga, ia tahu bahwa kesombongan merupakan awal dari kehancuran. Oleh sebab itu ia senantiasa merendahkan diri dihadapan Tuhan, karena ia juga menyadari bahwa pada mulanya ia hanyalah seorang “kacung”. Tetapi oleh karena ia senantiasa merindukan dan mengingat kebaikan Tuhan, maka ia diangkat oleh Tuhan sampai menjadi raja. Demikian pula dengan kita; apabila kita senantiasa merindukan dan mengingat kebaikan Tuhan, maka Tuhan akan mengangkat kita. Dan apabila Tuhan mengangkat maka tak seorangpun dapat menurunkannya, begitu sebaliknya apabila Tuhan sudah menurunkannya maka tak seorangpun sangggup untuk meninggikannya. Jadi kekuasaan itu mutlak ada di tangan Tuhan.

Kerinduan Daud terhadap Tuhan tidak hanya digambarkan seperti tanah yang tandus dan kering, tetapi digambarkan pula seperti rusa yang merindukan sungai. Seekor rusa tidak dapat menahan dirinya apabila ia sudah haus akan air/merindukan sungai. Seekor rusa tidak akan mempedulikan bahaya apa yang akan menyerangnya apabila ia sudah ingin menikmati kesejukan air sungai. Begitu pula kerinduan hati Daud terhadap Tuhan; tidak ada satupun yang dapat menghalangi dia untuk bertemu dengan Tuhan, bukan karena ia seorang raja yang memiliki kuasa, tetapi kekuatan hatinya yang sedang merindukan Tuhan. Oleh sebab itu, marilah kita memiliki hati yang haus dan lapar atau rindu kepada Tuhan. Firman Tuhan juga berkata : “Carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!” (Yesaya 55:6). Dan kita percaya bahwa Tuhan memberikan hari yang baik kepada kita yaitu masa depan yang penuh dengan keberhasilan dan kebahagiaan. Sebab janji Tuhan dilakukan dengan sumpah (Ulangan 8:1) supaya kita yakin bahwa kita dapat hidup hanya dari berkat Tuhan (Ulangan 8:2-10).

Dan perlu kita tahu juga bahwa sebelum Daud rindu untuk mencari Tuhan, terlebih dahulu Tuhanlah yang merindukan Daud. Demikian pula dengan kita saat ini, sebelum kita merindukan Tuhan, terlebih dahulu Tuhanlah yang merindukan kita. Kita lihat contoh kisah daripada Adam dan Hawa; yaitu saat Allah mendapati Adam dan Hawa berbuat dosa, maka Allah yang terlebih dahulu mencari Adam dan Hawa sebagai bukti bahwa Allah sangat rindu untuk bersekutu dengan manusia senantiasa. Oleh sebab itu, apabila kita rindu untuk bertemu dengan Tuhan, maka tubuh kita harus benar-benar rindu akan Tuhan, karena tubuh kita adalah Rumah Allah. Dan apabila saat ini kita menjadi domba yang hilang, maka Gembala yang baik itu akan mencari kita. Kalau domba itu sudah ditemukan maka Ia akan bersukacita, dan jikalau kita adalah dirham, maka Tuhan akan mencari kita, atau anak yang hilang, maka Tuhan menunggu kita. Kalau kita menjadi ‘tunangan’ yang hilang maka Tuhan akan mengetuk hati kita untuk kembali kepada-Nya. Ini artinya, bahwa kalau kita mencari Tuhan dan Tuhan mencari kita, maka pasti ada titik temunya.

Tetapi, yang menjadi pertanyaan sekarang ini adalah : apakah saat ini kita rindu kepada Tuhan atau ?, Jawaban ada pada diri kita masing-masing. Dari sinilah kita akan belajar dari kehidupan Daud, dimana Daud merupakan sosok hamba Tuhan yang senantiasa rindu untuk bertemu dengan Tuhan, sehingga ia dapat menuliskan mazmur-mazmurnya. Di dalam Yohanes 2:17 dikatakan, “Maka teringatlah murid-murid-Nya, bahwa ada tertulis: "Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku." Dalam ayat ini diceritakan bagaimana Rumah Allah dijadikan tempat jual beli oleh orang-orang Israel. Saat itu juga Tuhan membersihkan Rumah Allah dengan jalan mengusir orang-orang yang sedang berjual beli atau berdagang di Rumah Allah. Tindakan Tuhan Yesus ini merupkan gambaran kehidupan kita yang dibersihkan dengan darah-Nya karena tubuh kita adalah bait Roh Kudus. Dan hal ini dilakukan oleh Tuhan Yesus karena Dia memiliki kerinduan akan rumah-Nya.”

Sekali lagi perlu kita ingat bahwa Dia yang terlebih dahulu memiliki kerinduan untuk bersekutu dengan kita. Dan ketika kita juga memiliki kerinduan untuk bertemu dengan Tuhan, maka yang terjadi adalah suatu pertemuan yang indah. Ini berarti bahwa tubuh ini harus menghadap Tuhan dengan sopan dan berkenan kepada Tuhan.

Amin.

Pengendalian Diri

“Memang kami masih hidup di dunia, tetapi kami tidak berjuang secara duniawi, karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng. Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus”
(2 Kor. 10: 3-5).

Penggendalian diri adalah kemampuan untuk bisa mengendalikan diri, tidak melakukan sesuatu atau melakukan sesuatu yang bisa merusak diri sendiri maupun orang lain. Pengendalian diri itu sangat penting, oleh karena itu, mari kendalikan diri kita! Bukan hanya emosi tetapi juga mata, mulut, telinga, sikap, reaksi, pikiran , hobi kita, dan hati kita.

“Aku tidak merintangi mataku dari apa pun yang dikehendakinya, dan aku tidak menahan hatiku dari sukacita apa pun, sebab hatiku bersukacita karena segala jerih payahku. Itulah buah segala jerih payahku.” (Pengkhotbah 2:10).

Kita bisa mengendalikan diri mengikuti pikiran Tuhan. Alkitab katakan dalam kitab Amsal, sebagai berikut:
a. Amsal 16:32 “Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota.”
b. Amsal 25:28 “Orang yang tak dapat mengendalikan diri adalah seperti kota yang roboh temboknya”.

Supaya bisa mengendalikan diri, mari kita:
1. Sadari kelemahan dan kekurangan kita.
2. Bangun secara sadar dan sengaja untuk bisa berubah.
3. Minta Roh Kudus memberi kekuatan, supaya kita disanggupkan sadar dan berubah.
4. Ingat, bahwa kita telah ditebus oleh darah Tuhan Yesus.

Pengendalian diri dilakukan dengan: kesadaran, berusaha sungguh-sungguh untuk berubah & minta Roh Kudus terus beri kekuatan!

Amin?

Thursday, November 3, 2011

Tetap Bersukacita



Pdt. Abraham Alex Tanuseputra

”Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan : Bersukacitalah!
Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat !
Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.”
(Filipi 4:4-7)

Kata “bersukacita” merupakan klimaks daripada pertumbuhan rohani kita. Permulaan akan sukacita diawali dari iman yang telah diberikan Tuhan kepada kita. Karena dengan imanlah maka segala ketakutan, kecemasan dan kekuatiran akan hilang.

Disamping Tuhan memberikan iman, Dia juga melengkapi kita dengan pengharapan supaya setiap kita bersikap optimis untuk melihat masa depan yang penuh dengan keberhasilan; dan berikutnya Dia melengkapi kita dengan kasih yang mana sebagai manifestasinya adalah sukacita. Oleh sebab itu rasul Paulus menganjurkan kepada jemaat yang ada di Filipi untuk tetap bersukacita, karena jemaat Filipi sudah dilengkapi dengan kasih.

Lawan daripada bersukacita adalah bersungut-sungut; lalu yang menjadi pertanyaannya adalah apakah orang Kristen masih ada yang hidupnya selalu bersungut-sungut ?. Yang dapat menjawab adalah diri kita masing-masing. Sebab apabila kita melihat dari sejarah yang tertulis dalam Alkitab maka kita akan menemukan suatu bangsa yang dicintai, dikasihi, dibimbing dan diberkati oleh Tuhan namun tetap bersungut-sungut setiap hari. Walaupun banyak mujizat telah mereka lihat maupun mereka alami, tetapi ucapan syukur tidak pernah keluar dari mulut mereka (bangsa Israel).

Saudara, perlu kita ketahui pula bahwa untuk mengeluarkan bangsa Israel dari tanah Mesir itu tidak mudah karena harus melalui 10 mujizat yang harus dinyatakan, sampai pada mujizat yang terakhir adalah seluruh anak sulung bangsa Mesir mati semuanya. Dan setelah mereka keluar dari tanah Mesir, mereka harus melintasi padang gurun menuju tanah yang sudah dijanjikan oleh Tuhan. Adapun maksud Tuhan membawa mereka menuju tanah perjanjian melalui padang gurun adalah untuk melatih mereka, supaya mereka senantiasa bergantung sepenuhnya kepada Tuhan dan dalam mulutnya penuh dengan ucapan syukur, karena di padang gurun tidak ada apa-apa atau sesuatu yang bisa diandalkan. Maka dari sinilah Tuhan akan menunjukkan bahwa Dia sanggup membimbing, memimpin dan memelihara serta mencukupi kebutuhan mereka. Selain mereka harus melintasi padang gurun, mereka juga diperhadapkan dengan laut Teberau. Sementara didepan mereka terdapat laut Teberau yang menghalang, sedangkan dibelakang mereka terdapat pasukan Firaun yang mengejar mereka, maka bangsa Israel menjadi sangat takut, karena mereka merasa sedang menghadapi jalan buntu.

Lalu, bagaimanakah tindakan bangsa Israel dalam menghadapi keadaan semacam itu ? mereka marah-marah dan berkata kepada Musa (selaku pimpinan rombongan tersebut), katanya : ”Apakah karena tidak ada kuburan di Mesir, maka engkau membawa kami untuk mati di padang gurun ini? Apakah yang kauperbuat ini terhadap kami dengan membawa kami keluar dari Mesir?” (Keluaran 14:11). Bukankah mereka seharusnya tidak bersungut-sungut atau menggerutu saat menghadapi persoalan; tetapi mereka harus berdoa kepada Tuhan yang merupakan penyelamat umatNya. Memang, saat itu bangsa Israel menghadapi jalan buntu, tetapi Tuhan tidak tinggal diam. Tuhan memerintahkan Musa untuk mengangkat tongkatnya, maka tampak angin seperti puting beliung yang membelah laut itu, sehingga laut itu menjadi suatu daratan dan bangsa Israel dapat melintasi dasar laut itu sampai di seberang. Sementara orang Mesir mengejar dan berada ditengah-tengah laut yang terbelah maka tiba-tiba laut itu tertutup kembali, sehingga seluruh orang Mesir yang sedang mengejar telah terkubur dalam laut Teberau; hal ini telah disaksikan oleh tiga juga orang.

Ternyata, dengan berbagai mujizat yang terjadi tidak cukup untuk mengubah sikap bangsa Israel untuk tidak bersungut-sungut, tetapi justru mereka semakin menjadi-jadi. Oleh karena itu, melalui sikap daripada bangsa Israel telah tampak bahwa mereka senang hidup dalam perhambaan, tindasan maupun tekanan daripada menjadi orang merdeka. Padahal untuk mendapatkan nafkah mereka harus bekerja keras dengan hasil yang tidak sebanding dengan apa yang mereka kerjakan, selain itu mereka hanya bekerja untuk Firaun, sehingga tidak bisa menentukan nasib mereka masing-masing, tetapi itu yang menjadi harapan mereka. Bukankah hal ini suatu kebodohan ??

Saudara, apabila kita membaca pada ayat maupun pasal berikutnya, maka kita hanya mendapatkan persungutan demi persungutan yang dilakukan oleh bangsa Israel. Mereka tidak sadar bahwa apa yang mereka lakukan telah membuat mereka tidak pernah memiliki apa yang disebut dengan sukacita. Selain itu, dalam keadaan yang demikian, mereka malah berani melawan Tuhan dengan membuat patung anak lembu emas untuk disembah, tatkala Musa sedang berdoa di atas gunung untuk bersekutu serta mencari kehendak Tuhan. Bangsa Israel tidak sabar saat menantikan Musa untuk turun dari gunung, padahal mereka tidak tahu apa yang sedang dikerjakan oleh Musa. Bukankah hal demikian juga sering dilakukan oleh orang Kristen, yang mana kerapkali tidak sabar dalam menantikan janji Tuhan untuk digenapi dalam kehidupan mereka, justru sikap bersungut-sungut atau menggerutu yang sering dilakukan saat menghadapi tantangan.

Oleh sebab itu, melalui kisah di atas biarlah menjadi pelajaran dalam kehidupan kita, yaitu supaya kita tidak bersikap seperti yang bangsa Israel lakukan. Dan apabila saat ini kita sedang menghadapi persoalan maupun tantangan yang tak kunjung padam, sehingga seolah-olah kita berada di pada gurun, maka percayalah bahwa Tuhan sekali-kali tidak pernah meninggalkan kita, percayalah bahwa Tuhan memiliki rencana yang indah atas hidup kita selain untuk mendewasakan rohani kita. Terlebih itu, apabila kita menghadapi jalan buntu seperti halnya bangsa Israel yang sedang menghadapi laut Teberau, maka percayalah bahwa Tuhan sanggup membuat jalan atas hidup kita.

Firman Tuhan menasehatkan :
”Berserulah kepada-Ku pada waktu kesesakan, Aku akan meluputkan engkau, dan engkau akan memuliakan Aku.” (Mazmur 50:15);
”Carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat !” (Yesaya 55:6);
”Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kau ketahui” (Yesaya 33:3).

Amin.