Kebangkitan Besar

Kebangkitan Besar

Wednesday, April 17, 2013

Investasi Sorgawi




Pdt. Abraham Alex Tanuseputra

“Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada. . . . . . . ."

(Matius 6:19-24)
Apabila kita berbicara mengenai ekonomi dunia, maka tidak akan luput dari hal-hal yang berkaitan dengan mamon, dan mamon itu memang perlu tetapi itu bukan hal yang utama bagi umat Tuhan, sebab yang utama adalah mengabdi kepada Allah yang merupakan satu-satunya tumpuhan dalam kehidupan kita. Lalu bagaimana kita hidup dalam dunia ini tetap diberkati oleh Tuhan yaitu dalam hal ekonomi (mamon), tetapi kita tetap mengabdi kepada Tuhan ? Kita harus masuk dalam siklus tabur-tuai yang berorientasi pada kekekalan.

Ketika tahun 1965, saya (Pdt. Abraham Alex T.) mulai bertobat, dan saat itu saya masih berdomisili di kota Mojokerto. Sejak awal pertobatan, saya mulai menanam dari hasil usaha saya yaitu jual beli mobil. Dan modal yang saya gunakan untuk usaha tersebut merupakan pemberian orang tua saya (gambaran iman yaitu sesuatu yang tidak ada menjadi ada). Singkat cerita; apa yang telah saya tanam telah tumbuh 14 cabang gereja. Kemudian, suatu saat saya harus meninggalkan kota Mojokerto untuk pindah ke Surabaya, dan 14 cabang yang sudah bertumbuh itu saya serahkan kepada hamba-hamba Tuhan yang ada di pedesaan.
Setelah di Surabaya, saya menuai Bethany Manyar, kemudian saya menabur lagi, sampai berdiri kurang lebih delapan ratus cabang di seluruh Indonesia, kemudian saya menuai Bethany Nginden. Tetapi saya tidak berhenti disitu saja, karena saya harus tetap menabur yaitu untuk terlaksananya Menara Doa Jakarta. Saudara, dari kesaksian ini kita dapat melihat bagaimana urutan hukum ekonomi kerajaan Allah, dan hukum menabur ini tidak ada batasan umur (sampai akhir hidup kita), sebab esensi daripada menabur ini adalah kita sedang investasi dalam kerajaan sorga.

Memang dalam hal menabur itu tidak gampang, sebab kadang-kadang kita harus sedikit menderita dan mencucurkan air mata. Namun perlu kita ingat bahwa penderitaan yang kita alami tidak akan sebanding dengan kemuliaan yang akan dinyatakan nanti, karena firman Tuhan juga berkata : “Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai. Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya (Mazmur 126:5-6).” Bahkan akibat dari menabur ini telah digambarkan seperti orang yang sedang bermimpi, dimana mulut kita penuh dengan tertawa, dan lidah kita dengan sorak-sorai, seperti yang tertulis dalam Mazmur 126:1-3 “ . .  Ketika TUHAN memulihkan keadaan Sion, keadaan kita seperti orang-orang yang bermimpi. Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tertawa, dan lidah kita dengan sorak-sorai. Pada waktu itu berkatalah orang di antara bangsa-bangsa : TUHAN telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini! TUHAN telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita.”

Ada beberapa hal yang harus kita mengerti dalam hal menabur :

1.    Benih Yang Ditanam Harus Mati.

Dalam pengertian bahwa segala sesuatu yang sudah kita tabur baik untuk orang yang membutuhkan pertolongan maupun untuk pekerjaan Tuhan tidak kita ingat-ingat lagi (diungkit-ungkit), sebab kalau tidak demikian maka apa yang kita tabur akan sia-sia, seperti yang terulis dalam Yohanes 12:24 “ . . . Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.” Atau seperti yang tertulis dalam I Korintus 15:36.

2. Tetap Melakukannya Dengan Sungguh-sungguh.

Kata sungguh-sungguh disini mengandung unsur ketekunan, dimana tidak ada sesuatu hal yang dapat menghalangi kita untuk berhenti menabur, karena hal ini merupakan siklus daripada kehidupan, seperti yang tertulis dalam II Timotius 2:6-7 : “Seorang petani yang bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil usahanya. Perhatikanlah apa yang kukatakan; Tuhan akan memberi kepadamu pengertian dalam segala sesuatu.”

3. Jenis Benih Yang Kita Tabur

Segala sesuatu yang kita tabur harus berdampak pada sesuatu yang kekal karena apa yang ditabur, itulah yang akan dituai, seperti yang tertulis dalam Galatia 6:7-8 “Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.

4. Ukuran panen

Besar atau kecilnya hasil yang kita terima tergantung seberapa besar benih yang kita tanam serta kerelaan hati saat menabur, sebab firman Tuhan berkata : “. . . Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan” (II Korintus 9:6-8).

5. Menabur Di Tanah Yang Baik

Saat kita menabur, kita tidak boleh sembarangan menabur, tetapi biarlah kita menabur pada tanah yang subur (Matius 13:8).

6. Sabar Menanti Musim Menuai

Saudara kita harus sabar, sebab saat kita menanam benih, maka kita harus menyirami, kemudian diberi pupuk sampai tumbuh sebuah tunas, tetapi ketika tumbuh tunas, maka kita tidak boleh menarik-narik supaya cepat tinggi dan berbuah, karena segala sesuatu ada waktunya. Demikianlah firman Tuhan berkata : “ . . . seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu. Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu. (Markus 4:26-29)

7. Menjaga Kekristenan

Ulangan 28:1 "Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka TUHAN, Allahmu, akan `mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi.”
Saudara, jika seseorang menabur di tempat yang baik, maka apa yang ditabur akan tumbuh semakin hari semakin bagus, tetapi apabila suatu saat orang tersebut tidak menjaga tanaman yang sudah bertumbuh itu, maka apa yang mereka tanam menjadi busuk/rusak yang disebabkan oleh kesalahannya sendiri. Misalnya : pada awalnya seseorang menabur dengan tekun, sehingga diberkati Tuhan secara luar biasa, lalu ia mulai coba-coba tidak menjaga tanamannya (Kekristenan) dengan cara berselingkuh atau tindakan lain yang bertentangan dengan kehendak Tuhan maka tanaman itu akan rusak (busuk).

8. Menerima Hasil Tuaian

Pasti akan menuai secara luar biasa oleh karena turut campur tangan Tuhan (Kejadian 26:12)

9. Berdoa senantiasa

Kita senantiasa bergantung kepada Tuhan karena yang memberi pertumbuhan atas segala yang kita tanam adalah Tuhan (I Korintus 3:6-7).
AMIN

Nasib Yang Diubahkan






Pdt. Abraham Alex Tanuseputra
“Aku tahu bahwa segala sesuatu yang dilakukan Allah akan tetap ada untuk selamanya; itu tak dapat ditambah dan tak dapat dikurangi; Allah berbuat demikian, supaya manusia takut akan Dia.” (Pengkhotbah 3:14)
Saudara, melalui ayat bacaan di atas kita akan mendapatkan nilai kebenaran yaitu bahwa segala sesuatu yang dilakukan Allah akan tetap ada untuk selamanya bahkan tidak dapat ditambah maupun dikurangi. Dan hal ini pada umumnya disebut takdir atau nasib. Takdir/nasib tidak bisa diubah, karena dengan demikian manusia diharapkan untuk memiliki rasa takut akan Tuhan. Akan tetapi kenyataannya manusia tidak pernah takut kepada Tuhan, kecuali orang yang percaya bahwa Yesus adalah Tuhan.
Segala sesuatu yang ditetapkan Tuhan tidak dapat ditambah maupun dikurangi berlaku bagi orang yang belum lahir baru atau percaya kepada Kristus. Dan kali ini kita akan melihat kehidupan seseorang yang menjadi contoh bagi kehidupan setiap orang yang percaya, karena orang ini adalah orang yang percaya. Kita akan membaca dalam Yesaya 38:1-7 ”Pada hari-hari itu Hizkia jatuh sakit dan hampir mati. Lalu datanglah nabi Yesaya bin Amos dan berkata kepadanya : Beginilah firman TUHAN: Sampaikanlah pesan terakhir kepada keluargamu, sebab engkau akan mati, tidak akan sembuh lagi. Lalu Hizkia memalingkan mukanya ke arah dinding dan ia berdoa kepada TUHAN.
Ia berkata : Ah TUHAN, ingatlah kiranya, bahwa aku telah hidup di hadapan-Mu dengan setia dan dengan tulus hati dan bahwa aku telah melakukan apa yang baik di mata-Mu." Kemudian menangislah Hizkia dengan sangat. Maka berfirmanlah TUHAN kepada Yesaya : Pergilah dan katakanlah kepada Hizkia: Beginilah firman TUHAN, Allah Daud, bapa leluhurmu: Telah Kudengar doamu dan telah Kulihat air matamu. Sesungguhnya Aku akan memperpanjang hidupmu lima belas tahun lagi, dan Aku akan melepaskan engkau dan kota ini dari tangan raja Asyur dan Aku akan memagari kota ini. Inilah yang akan menjadi tanda bagimu dari TUHAN, bahwa TUHAN akan melakukan apa yang telah dijanjikan-Nya”

Seperti yang telah kita baca dalam Pengkhotbah, bahwa takdir atau nasib itu pasti, dan takdir itu juga dialami Hizkia, dimana ia telah ditentukan untuk mati dalam usia tertentu oleh karena penyakitnya. Saat itu Hizkia tidak putus asa dalam menghadapi persoalan, walaupun persoalan ini sangat serius yaitu menyangkut hidup Hizkia yang tidak lama lagi. Hizkia benar-benar memegang janji Tuhan, seperti yang tertulis dalam Matius 7:7-11. Akhirnya Hizkia berdoa “ya Tuhan Engkau telah melihat kesetiaanku dalam beribadah kepadaMu”, maka menangislah ia dengan sangat. Dan dalam waktu yang singkat Tuhan menjawab doa Hizkia, sehingga Tuhan menambahkan umur Hizkia lima belas tahun lagi. Hizkia memerintah pada tahun 716-687 SM. Melalui kisah ini kita diingatkan tentang firman Tuhan yang berkata : “Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.” (Yakobus 5:16b). Jadi, disini kita temukan ada suatu perbedaan antara anak Tuhan dengan orang dunia. Kalau anak Tuhan nasib/takdir itu bisa berubah, sedangkan orang dunia tidak bisa berubah. Kisah daripada Hizkia ini ditulis oleh nabi Yesaya maupun oleh riwayat raja-raja atau para sejarahwan, karena peristiwa ini sangat penting, dimana kisah hidup daripada Hizkia telah menjadi contoh bagi orang lain, termasuk orang yang belum mengenal Tuhan.

Selanjutnya dalam kisah ini kita akan temukan sesuatu yang bertolak belakang dari sebelumnya, dimana pada saat Hizkia mengetahui bahwa penyakit yang dialaminya akan membawa pada kematian, maka ia mulai sungguh-sungguh melekatkan dirinya pada Tuhan, namun setelah ia mendapatkan jawaban doa dan mulai diberkati Tuhan maka dia mulai angkuh. Ia tidak menyadari bahwa segala sesuatu yang ia dapat berasal dari Tuhan, sehingga sebagai akibatnya Yerusalem dan Yehuda ditimpa murka (II Tawarikh 32:24). Kita semua mengetahui bahwa keangkuhan adalah awal daripada kehancuran. Seperti halnya Lucifer, oleh karena keangkuhannya dan ingin menyamai Tuhan maka segala sesuatu yang ia miliki menjadi hancur.
Saudara, dari sekian rentetan kisah yang telah kita pelajari akan terjadi pula dalam kehidupan saat ini, misalnya : apabila seorang pemimpin daripada suatu bangsa tidak benar dihadapan Tuhan, maka rakyatnya akan menderita; demikian pula dalam keluarga, apabila seorang ayah memiliki sifat yang angkuh maka anggota keluarganya akan menderita.
Tetapi bagaimanapun juga Allah tetap mengasihi umatNya yang kembali kepadaNya untuk bertobat; yaitu tatkala Hizkia menyadari akan kesalahannya maka Tuhan memulihkan keadaaan Hizkia (II Tawarikh 32:26), bahkan pada ayat selanjutnya dikatakan : “Hizkia mendapat kekayaan dan kemuliaan yang sangat besar. Ia membuat perbendaharaan-perbendaharaan untuk emas, perak, batu permata yang mahal-mahal, rempah-rempah, perisai-perisai dan segala macam barang yang indah-indah, juga tempat perbekalan untuk hasil gandum, untuk anggur dan minyak, dan kandang-kandang untuk berbagai jenis hewan besar dan kandang-kandang untuk kawanan kambing domba. Ia mendirikan kota-kota, memperoleh banyak kambing domba dan lembu sapi, karena Allah mengaruniakan dia harta milik yang amat besar. Hizkia ini juga telah membendung aliran Gihon di sebelah hulu, dan menyalurkannya ke hilir, ke sebelah barat, ke kota Daud. Hizkia berhasil dalam segala usahanya.” (II Tawarikh 32:27-30)

Ternyata apa yang dialami oleh Hizkia telah membawa dampak yang luar biasa, dimana dari negara luar pun ingin tahu apa yang membuat Hizkia sampai mengalami hal yang demikian (Yesaya 39:1). Namun kenyataannya Hizkia tidak bersaksi atas kuasa Tuhan yang dia alami, justru dia hanya “memamerkan” atau menunjukkan segala harta kekayaannya dengan sikap angkuh, maka terjadilah sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan, dimana firman Tuhan menegurnya : “Sesungguhnya, suatu masa akan datang, bahwa segala yang ada dalam istanamu dan yang disimpan oleh nenek moyangmu sampai hari ini akan diangkut ke Babel. Tidak ada barang yang akan ditinggalkan, demikianlah firman TUHAN. Dan dari keturunanmu yang akan kauperoleh, akan diambil orang untuk menjadi sida-sida di istana raja Babel.” (Yesaya 39:6-7)

Saudara, melalui uraian diatas biarlah boleh menjadi suatu pelajaran atau pemahaman dalam kehidupan kita. Bahwa segala sesuatu dapat berubah, karena bagi Tuhan tidak ada sesuatu yang mustahil. Selama kita mencari Tuhan maka kasih setia Tuhan akan menyertai kita. Walaupun kita tidak tahu maksud Allah (Pengkhotbah 3:9-10), tetapi Ia berjanji bahwa apabila kita hidup dalam kebenaran maka segala sesuatu yang kita kerjakan pasti akan berhasil karena segala sesuatu indah pada waktunya (waktu Tuhan), dan di dalamnya terkandung kekekalan. Dan sebagai peringatan : janganlah kita menunggu persoalan datang baru kita mulai bertobat, tetapi selama ada kesempatan biarlah kita gunakan semaksimal mungkin untuk kemuliaan nama Tuhan.  

Amin.