|
Pdt. Abraham Alex Tanuseputra
Ayat Bacaan : I Petrus 1:3-8 Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu. Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir. Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu--yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api--sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya. Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan Berapa banyak orang Kristen yang tidak menyadari bahwa dirinya sangat berharga di mata Tuhan, sehingga mereka tidak dapat menghargai rahmatNya yang besar yang telah dilimpahkan pada kita. Dimana Dia telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati supaya kita menerima suatu yang tidak binasa yang tersimpan di surga. Dengan demikian kita mendapat perlindungan yang luar biasa dari Tuhan karena kita memiliki nilai yang cukup tinggi dihadapanNya. Namun kenyataannya banyak orang yang melecehkan nilai kehidupan yang telah dikaruniakan Tuhan. Mereka menyamakan nilai kehidupan manusia seperti nilai kehidupan binatang yaitu melalui kepercayaannya terhadap horoskop maupun sio. Tetapi bagi kita yang telah mengalami kelahiran baru harus mengubah pola pikir kita, bahwa kita adalah ciptaan yang paling sempurna dan berharga diantara semua ciptaanNya. Tetapi kalau kita perhatikan faktanya seperti yang biasa kita lihat melalui media masa, baik itu media elektronik maupun media cetak, maka kita akan melihat bahwa manusia seolah-olah tidak memiliki nilai lagi, karena manusia sekarang terlalu mudah untuk menghilangkan nyawa sesamanya. Contohnya : hanya masalah rasa cemburu yang tidak beralasan, mereka tega membunuh temannya sendiri, atau karena diejek oleh temannya dan merasa dirinya dilecehkan maka ia tega membunuh orang yang mengejeknya. Dan masih banyak peristiwa lain semacam itu masih berlangsung hingga saat ini. Dari contoh-contoh diatas telah menunjukkan bahwa pada akhir zaman citra diri manusia semakin merosot, tetapi sebagai umat pilihan Tuhan harus tetap menyadari bahwa diri kita adalah manusia yang berharga oleh karena kuasa Yesus. Di dalam I Korintus 6:20 telah dikatakan : “Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” Karena kita telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar yaitu dengan darah Kristus, maka kita berkenan menghadap tahta Allah. Selain itu, Tuhan juga memberikan meterai atas hidup kita yaitu RohNya yang kudus. Apabila kita sudah menyandang sebagai orang yang sudah ditebus dan dimeteraikan dengan RohNya yang kudus, maka jangan sekali-kali kita melecehkan akan karunia Allah. Seperti hal yang telah kita ketahui, ketika Yesus datang ke bait Allah. Disana banyak orang yang mengadakan transaksi jual-beli dan aktifitas lainnya yang tidak selayaknya dilakukan di bait Allah. Dan sebagai akibat tindakan orang banyak tersebut, maka Tuhan menjadi marah. Semua barang-barang yang ada disana dijungkir balikkan. Dan ketika peristiwa itu terjadi maka murid-murid Tuhan teringat dengan apa yang telah dikatakan firman Tuhan yaitu “cinta untuk rumahMu menghanguskan Aku” (Yohanes 2:17). Selain itu, kita harus tahu bahwa keberadaan Roh Allah bukan sekedar pribadi Allah, tetapi memiliki nilai yang sangat mahal. Seperti yang tercantum dalam II Korintus 4:7 yang berbunyi : “Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.” Oleh sebab itu, kita tidak punya alasan untuk bersungut-sunggut, atau kecil hati terhadap apa yang sedang kita alami saat ini. Karena didalam diri kita sebenarnya ada kekuatan yang luar biasa yang membuat kita mampu untuk menghadapi pergumulan hidup. Tetapi seringkali kali kita kurang menyadari bahwa kekuatan itu masih berlangsung sampai hari ini. Dan saat ini firman Tuhan mengingatkan kepada kita sekali lagi bahwa : kita adalah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kita memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kita keluar dari kegelapan kepada terangNya yang ajaib.” (I Petrus 2:9) Berdasarkan ayat diatas, yang menyebutkan bahwa kita adalah imam dan raja. Dalam sejarah Alkitab kita ketahui bahwa imam itu dilindungi oleh Tuhan secara khusus yaitu melalui perantaraan malaikatNya. Misalnya : ketika Elisa dikepung oleh ribuan musuh, ia tidak takut sama sekali karena Elisa telah melihat ribuan malaikat sedang membentengi dia; sedangkan Gehazi yaitu hamba Elisa merasa sangat ketakutan. Tetapi pada akhirnya Elisa berdoa supaya Gehazi melihat seperti yang Elisa lihat. Selain seorang imam mendapat perlindungan dari Tuhan, rajapun juga mendapat perlindungan dari Tuhan. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah : Mengapa Allah begitu memperhatikan kita sedemikian rupa ? Jawabannya adalah : karena kita adalah biji mata Allah. Seperti yang diungkapkan oleh raja Daud dalam Mazmur 17:8 “Peliharalah aku seperti biji mata, sembunyikanlah aku dalam naungan sayap-Mu” Mengapa Daud mengungkapkan hal ini dalam doanya ? Karena ia mengerti bahwa dia biji mata Allah sangat berharga dimata Tuhan. Dan apa akibatnya jika ada orang mengusik umat pilihan Tuhan ? mereka akan berurusan dengan Tuhan. Karena didalam Zakharia 2:8b disebutkan bahwa “siapa yang menjamah kamu, berarti menjamah biji mataNya.” Seperti halnya bangsa Israel ketika berada di Mesir sebagai budak dan mengalami perlakuan yang tidak seharusnya dialami oleh bangsa Israel. Sehingga bangsa Israel memiliki image yang rendah, tetapi oleh kasih karunia Allah mereka dibawa keluar dari tanah perbudakan melalui pimpinan daripada Musa. Waktu mereka keluar dari tanah perbudakan menuju tanah perjanjian yaitu tanah Kanaan; mereka harus melintasi padang gurun, sedangkan jumlah mereka sangat banyak yaitu kurang lebih tiga juta orang. Tetapi Allah memberi kemampuan kepada Musa untuk memimpin mereka yang begitu banyak jumlahnya. Pada saat mereka sampai di tanah perjanjian, mereka diberkati secara luar biasa. Dan sebagai klimaks dari kisah ini yaitu pada zaman Salomo. Namun Salomo tidak tahan diberkati secara berlimpah-limpah. Buktinya Salomo memiliki tujuh ratus istri dan tiga ratus gundik. Dan pada suatu saat bangsa Israel dijajah kembali oleh bangsa Babel. Memang, secara fisik bahwa hidup ini sangat membosankan, tetapi perlu kita ingat bahwa Tuhan sangat memperhatikan hidup kita karena Tuhan telah menetapkan kita menjadi milikNya seperti yang tertulis dalam Ulangan 32:9 “Tetapi bagian TUHAN ialah umat-Nya, Yakub ialah milik yang ditetapkan bagi-Nya.” Dan juga kita tahu bahwa ketika orang Israel berjalan melintasi padang pasir, Allah juga memeliharanya. Pada siang hari mereka dilindungi oleh tiang awan sehingga mereka tidak kepanasan dan pada waktu malam hari mereka dilindungi oleh tiang api sehingga mereka tidak kedinginan. Tetapi mereka menganggap bahwa perlindungan Allah adalah sesuatu yang biasa. Padahal perlindungan Allah adalah luar biasa. Apabila kita melecehkan perlindungan Tuhan, maka perlindungan atas hidup kita tidak ada. Oleh karena itu biarlah kita senantiasa mengucap syukur dan tetap menghormati akan pemeliharaanNya karena kita sangat berharga dihadapanNya |
TUHAN menambahi kita seribu kali lagi dari jumlah sekarang & memberkati seperti yang dijanjikan-Nya
Kebangkitan Besar
Thursday, November 29, 2012
Berharga Dimata Tuhan
Tuesday, November 27, 2012
Peliharalah Keselamatanmu !
|
Pdt. Abraham Alex Tanuseputra
Seperti yang telah kita ketahui bahwa keselamatan bukan hasil usaha
manusia melainkan anugerah Allah. Sebenarnya kita harus menerima hukuman
kekal tetapi oleh karena kasihNya, maka kita diselamatkan melalui
pengorbanan Kristus. Keselamatan itu sendiri diberikan kepada kita
ketika kita percaya dan mengaku Yesus sebagai Tuhan dan juru selamat;
lalu dibaptiskan, yang pada akhirnya terjadilah kelahiran baru.
Keselamatan terjadi hanya satu kali saja. Lalu, bagaimana keselamatan
itu terus berlangsung dalam kehidupan kita? Perlu ada “maintenance” /
pemeliharaan.”Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu !” (I Korintus 6:20). Saudara, berapa banyak orang yang mengaku dirinya percaya kepada Yesus, tetapi memandang rendah nilai pengorbanan Tuhan Yesus di atas kayu salib. Mereka tidak memelihara ataupun peduli lagi terhadap keselamatan yang telah diberikan Tuhan kepada mereka. Hal ini terbukti dari gaya hidupnya yang tidak mencerminkan sebagai anak Tuhan atau orang yang telah dipindahkan dari kegelapan menuju terang. Jadi, sesungguhnya mereka tidak mengerti arti daripada keselamatan. Oleh sebab itu marilah kita belajar bagaimana seharusnya kita memelihara keselamatan yang telah diberikan Tuhan kepada kita : 1. Menghormati Roh KudusFirman Tuhan berkata : ”Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu !” (I Korintus 6:20). Dan sejak kita dibeli Tuhan dengan darahNya yang mahal yaitu melalui pengorbananNya di atas kayu salib, maka hidup kita bukan milik kita sendiri tetapi milik Allah; dan Allah menempatkan RohNya dalam hidup kita sehingga tubuh kita menjadi bait Roh Kudus. Untuk itu kita harus menghormati keberadaan Roh Kudus yang tinggal dalam kehidupan kita, dan sebagai landasannya adalah I Korintus 3:16-17. Selain itu kita dipanggil bukan untuk melakukan yang cemar, seperti yang tertulis dalam I Tesalonika 4:7 ”Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus.”Wujud daripada sikap hormat kita terhadap Roh Kudus, yaitu jikalau kita melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan; dan semuanya itu tidak lepas dari pimpinan Roh Kudus. Dan orang yang hidup dalam Roh tidak akan menuruti keinginan daging, karena ia tahu bahwa hidup menuruti keinginan daging itu sama dengan membangun perseteruan dengan Allah. Mungkin timbul pertanyaan : ”keinginan daging itu seperti apa ?” firman Tuhan berkata : ”Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu -- seperti yang telah kubuat dahulu -- bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.” (Galatia 5: 19-21). Dari segala macam bentuk perbuatan yang tertulis dalam ayat tersebut bukankah sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari ? baik melalui media elektronik maupun media cetak, bahkan kita temui disekeliling dimana kita tinggal. Lalu, apakah dampaknya apabila kita menghormati dan hidup di dalam Roh Kudus ? Kita akan menemukan kemurahan Allah yang luar biasa, dan hal ini dapat kita lihat dalam 2 Samuel 6:6-19 yaitu kisah tentang Obed Edom. Gambaran Roh Kudus pada waktu itu adalah Tabut Perjanjian. Saat itu Tabut Perjanjian sempat di taruh di rumah Obed Edom selama tiga bulan, dan selama Tabut itu di rumah Obed Edom, ia begitu menghormatinya sehingga selama tiga bulan itu pula Obed Edom dan seisi rumahnya diberkati Tuhan. Demikian pula apabila Roh Kudus tinggal dalam hidup kita atau manunggal dengan kita, maka untuk jangka waktu yang tidak lama kita akan dipulihkan, disembuhkan dan diberkati Tuhan. Waktu Daud memikul Tabut Perjanjian ke Kota Daud, maka kota Daud diberkati Tuhan secara luar biasa. Mengapa kita harus berdoa? Pada waktu kita berdoa, pasti ada muatan kasih. Hukum yang pertama dalam Matius 12:30-32 menyangkut roh, jiwa dan tubuh. Kerbersamaan mencari Tuhan ini sangat penting. Tubuh – longing God, Jiwa – thirsty God, Roh - I seek. Tidak bisa tubuhnya saja beribadah, atau jiwa saja, tetapi harus dengan Roh. Kalau kita baca Roma 7:16-26, kita mendapatkan bahwa roh, jiwa dan tubuh tidak dapat bersama-sama mencari Tuhan. Rohnya mencari Tuhan, tubuhnya membawa kepada dosa, bahkan jiwanya kadang muncul dengki, iri hati dan pengertian-pengertian lain. Akhirnya timbul kekacauan yang membuat “pemeliharaan itu” terhambat. Dalam keadaan dengki doa kita tidak mungkin dijawab Tuhan. 2. Tetap Melekat Pada TuhanMazmur 63:1-3 berkata, “. . . Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau, jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku rindu kepada-Mu, seperti tanah yang kering dan tandus, tiada berair. Demikianlah aku memandang kepada-Mu di tempat kudus, sambil melihat kekuatan-Mu dan kemuliaan-Mu.” Inilah merupakah ungkapan daripada hati Daud yang sangat merindukan Tuhan. Karena dia tahu bahwa dalam hadirat Tuhan, dia telah mendapatkan segalanya. Dan dari beberapa Mazmur yang telah ditulis oleh Daud telah mengungkapan kerinduannya untuk senantiasa tinggal atau melekat pada Tuhan. Sehingga pada Mazmur 91:14 tertera ungkapan hati Tuhan yang menyatakan : ”Sungguh, hatinya melekat kepada-Ku, maka Aku akan meluputkannya, Aku akan membentenginya, sebab ia mengenal nama-Ku.”Suatu ketika Daud mengalami persoalan yang begitu berat, maka dia pergi ke padang gurun, dan dia berdoa dan berpuasa untuk mencari Tuhan dengan batinnya, jiwanya bahkan tubuhnya juga rindu akan Tuhan. Dia ingat akan nenek moyangnya pada waktu keluar dari Mesir, Tuhan sanggup memelihara mereka. Mazmur 34:19 berkata, “TUHAN itu dekat (bersama) kepada orang-orang yang patah hati (brokeness), dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.” Dalam dunia ini banyak tindasan, untuk itu carilah Tuhan dengan jiwa yang hancur ( Mazmur 34:7-11). 3. Tetap Menghasilkan BuahDalam hal menghasilkan buah sangat berkaitan dengan bagian kedua yang tetap melekat pada Tuhan, sebab di luar Tuhan kita tidak dapat berbuat apa-apa, seperti yang tertulis dalam Yohanes 15:5 “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” Dan dalam Mazmur 1:3 juga dikatakan : “Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.” Dan sebagai aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari adalah kita menjadi berkat bagi orang lain, namun semuanya itu kita kerjakan bukan dalam kondisi tertentu tetapi terus menerus, sebab firman Tuhan menasehatkan : ”Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah” (Galatia 6:9).Amin. |
Monday, October 29, 2012
Hidup Dalam Pengawasan Allah
|
|
|
Pdt. Abraham Alex Tanuseputra
Saudara, dalam ayat bacaan diatas menyatakan mengenai ketidakmampuan
manusia untuk mengetahui hal-hal yang akan terjadi di waktu mendatang.
Sebab sejak manusia jatuh dalam dosa, maka Roh Allah meninggalkan
manusia.”Karena manusia tidak mengetahui waktunya. Seperti ikan yang tertangkap dalam jala yang mencelakakan, dan seperti burung yang tertangkap dalam jerat, begitulah anak manusia terjerat pada waktu yang malang, kalau hal ini menimpa mereka secara tiba-tiba.” (Pengkhotbah 9:12) Akibat Roh Allah meninggalkan manusia, maka yang ada dalam diri manusia hanya tubuh, jiwa dan roh manusia itu sendiri, dan manusia tidak tahu apa-apa (mengenai hari esok), meskipun manusia diciptakan menurut peta dan gambar Allah. Manusia hanya mengetahui hal-hal yang tampak oleh mata saja, sedangkan hal-hal yang akan terjadi di hari mendatang manusia tidak dapat mengetahuinya. Contohnya, kejadian-kejadian yang telah berlangsung beberapa tahun terakhir ini. Banyak kerusuhan dimana-mana, aksi teroris semakin merajalela bahkan sampai terjadi ledakan bom dibeberapa tempat yang mengakibatkan rusaknya fasilitas umum bahkan sampai merenggut nyawa manusia dalam jumlah yang tidak sedikit, selain itu banyaknya terjadi bencana alam menyebabkan ratusan ribu manusia meninggal dunia. Bahkan daerah yang dianggap aman/bebas terhadap bencana alam maupun kerusuhan, ternyata mengalami musibah juga. Dari semua kejadian yang telah disebutkan mengajak kita untuk menyadari bahwa hal tersebut tidak pernah diduga sebelumnya, tetapi kenyataanlah yang membuktikan bahwa manusia tidak tahu apa-apa mengenai hari esok. Lalu, bagaimana sikap kita sebagai umat pilihan Allah ? apakah kita juga takut atau kuatir terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi secara tiba-tiba ?. Saudara, perlu kita ketahui bahwa Allah yang kita sembah adalah Allah yang mengetahui, menyelidiki dan mamaklumi keadaan kita atas hal-hal yang akan terjadi di masa mendatang (Mazmur 139:1-6). Bagi Tuhan tidak ada sesuatu yang tersembunyi, sebab Ia mengetahui sampai dasar hati kita. Selain Dia mengetahui, menyelidiki dan memaklumi keadaan kita, Tuhan juga berjanji akan memberikan seorang penolong dan penghibur yaitu Roh Kudus (Yohanes 14:15-17, 26-27) agar kita tetap bertahan dan berkemenangan dalam menjalani hidup di dunia ini. Karena segala rancangan Tuhan atas hidup kita adalah rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, seperti yang tertulis dalam Yeremia 29:11, ” Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” Selain itu, Tuhan telah membawa kita dalam posisi yang baik, seperti yang tertulis dalam Kitab Mazmur 23, bahwa Allah adalah gembala yang baik dan kita adalah domba-dombanya. Sebagai gembala pasti tahu apabila dombanya membutuhkan makanan dan minuman. Demikian halnya Tuhan kita, dimana Dia tidak pernah membiarkan kita hidup dalam kekurangan tetapi Dia membuat hidup kita dalam kecukupan, bahkan berkelimpahan. Kasih setiaNya melindungi dan menghibur kita senantiasa, sebab Ia tidak pernah terlelap walaupun sedetik. MataNya senantiasa memperhatikan kita, supaya tak ada satu kuasa lain yang boleh menyentuh kita. Dan istilah gembala disini tidak ada pada orang-orang yang belum mengenal Tuhan, sebab istilah ini hanya ada pada orang-orang yang percaya pada Yesus. Kalau kita memiliki gembala yang baik, maka hidup kita tetap terjamin. Sebab dalam dunia ini saja, tidak ada seorang gembala yang akan membawa domba-dombanya kepada suatu kecelakaan atau malapetaka, apalagi gembala kita yang disebut sebagai gembala yang agung (Yesus Kristus). Saudara, melalui pertumbuhan dan perkembangan rohani kita, Tuhan mengajarkan bahwa kita tidak hanya diposisikan sebagai domba saja tetapi sebagai anak Allah yang berhak menerima janji-janji Allah atau dengan kata lain kita adalah ahli waris kerajaan Allah (Roma 8:16-17). Dan selain kita memiliki predikat sebagai anak-anak Allah, kita juga disebut sebagai tunangan Kristus, bahkan kita juga disebut sebagai mempelai Kristus. Oleh sebab itu, apabila kita menyandang beberapa predikat seperti yang tertulis diatas, maka kita harus berhati-hati dalam menjaga dan memeliharanya, karena domba bisa hilang, anak bisa hilang, tunangan bisa kehilangan kasih mula-mula, bahkan mempelai Kristuspun bisa diceraikan juga. Contohnya adalah bangsa Israel, dimana suatu kali Allah sangat marah kepada Israel, karena Israel yang didambakan untuk menjadi kekasih Allah, tetapi kenyataannya mereka berpaling dari hadapan Tuhan, sehingga mereka menjadi bangsa yang murtad dan menyembah kepada berhala. Untuk itu, melalui contoh diatas biarlah menjadi pelajaran dalam kehidupan kita yaitu supaya kita tetap hidup dalam rencana atau rancangan Allah. Dan untuk tetap bertahan dalam rancangan Allah maka kita harus benar-benar menghormati Roh Kudus sebagai penolong kita, karena Roh Kuduslah yang memeriksa dan memaklumi kita. Dan juga, apabila Roh-Nya yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, maka Roh-Nya pulalah yang akan menghidupkan tubuh kita yang fana. (Roma 8:11). Jadi cengkraman Roh ini tidak lepas dalam kehidupan kita asalkan kita tetap menghormatiNya. Memang, kadang-kadang firman Tuhan itu tidak dapat kita pahami secara langsung; tetapi langkah demi langkah pasti akan kita pahami jikalau kita senantiasa menyelidikinya. Misalnya karunia bernubuat. Kata-kata nubuatan ini sangat berguna dalam kehidupan kita karena nubuatan itu sendiri menasehati dan berbicara tentang hal-hal yang akan datang supaya kita tidak mendapatkan celaka. Kalau kita mau memperhatikan fiman Tuhan dengan sungguh-sungguh, maka kita semakin memahami bahwa kemurahan Tuhan itu sebenarnya berlaku bagi semua orang, bahkan berlaku sejak dalam kandungan ibu kita (Galatia 1:15). Dan apabila hal ini disyukuri, maka kemurahan Allah akan turun secara luar biasa. Kita lihat salah satu tokoh Alkitab yang dipakai Tuhan secara luar biasa yaitu Paulus. Pada awalnya dia bernama Saulus dan dia adalah seorang ahli Taurat yang dikenal sebagai tokoh yang mengejar, menganiaya dan membunuh orang Kristen, tetapi suatu saat Allah memanggil dia untuk menjadi alatNya ketika ia melakukan perjalanan ke Damsyik, ia bertemu dengan Tuhan sendiri, lalu bertobat dan namanya menjadi Paulus. Meskipun hal ini sebelumnya tidak pernah dipikirkan oleh Paulus, tetapi semuanya itu sudah ada dalam rancangan Tuhan. Oleh sebab itu marilah kita senantiasa mengucap syukur, karena Tuhan itu memperhatikan sejak dari rahim ibu kita dan penyertaanNya terhadap kita tetap berlangsung sampai saat ini. Amin |
Jagalah Energimu !
|
Pdt. Abraham Alex Tanuseputra
Kali ini kita akan petik satu kata, yaitu apa yang disebut dengan
“energi” (dunamos). Yesus disebut sebagai Putra Allah, dan yang lahir
dari Roh Kudus dan firman Allah. Tetapi dia juga lahir seperti manusia
pada umumnya, termasuk seperti kita. Dan dalam wujud manusia, Yesus
telah memelihara energi atau satu kekuatan yang diberikan Allah dalam
diriNya. Dia tidak mau kebocoran energi yang ada dalam diriNya. Tuhan
Yesus ingin supaya kita yang menerima kuasa sebagai proses kelahiran
baru tidak membiarkan energi yang ada dalam diri kita bocor."Aku berkata kepadamu : Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa; dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak. Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya." (Yohanes 14:12-14) Ada beberapa hal yang akan kita pelajari pada diri Yesus, sehingga tidak ada energi yang bocor dalam diriNya : 1. Penguasaan DiriKalau kita ingin tahu seberapa besar energi yang ada dalam diri kita, sehingga penguasaan diri menjadi prioritas utama dalam hidup ini, maka terlebih dahulu kita membaca dalam Injil Yohanes 14:12-14, berbunyi : "Aku berkata kepadamu : Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa; dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak. Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya." Setelah kita membaca ayat di atas, maka kita tahu bahwa energi yang ada dalam diri kita sungguh luar biasa, karena sanggup melakukan pekerjaan yang Yesus lakukan bahkan lebih besar. Dan hal ini menjadi alasan mengapa dalam diri kita harus ada penguasaan diri. Lalu, bagaimana proses energi yang akan kita terima sama seperti Yesus sesuai dengan janjiNya ? Roma 8:16-17, berkata : ”Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” Jadi, apabila kita mau menerima energi yang sama, maka kita rela menderita bersama-sama dengan dia (dalam pengertian bahwa dalam diri kita harus juga ada penguasan diri seperti yang ada dalam diri Kristus). Dan penderitaan ini berlaku secara daging, diantaranya memikul salib dan menyangkal diri. Memang, untuk dapat menyangkal diri sendiri itu tidak mudah, apalagi kita memiliki kedudukan, jabatan atau harta kekayaan. Karena apabila kita mau menyangkali diri, maka kita merasa seolah-olah orang Kristen itu ditekan; tetapi semuanya itu bertujuan supaya orang Kristen tidak mengumbar hawa nafsunya. Sebab, jikalau orang Kristen yang mengumbar hawa nafsunya, maka hal itu sama dengan orang yang memboroskan energi yang telah diberikan Tuhan. Contoh : Ada seorang yang menerima warisan dari orang tuanya dalam jumlah yang besar, maka didalam diri orang tersebut terdapat kekuatan setelah menerima warisan tersebut ? ia bisa berbuat apa saja sesuai keinginannya. Tetapi karena dia bocor atau menghambur-hamburkan energi yang dia miliki dengan cara berfoya-foya, maka pada akhirnya penderitaanlah yang dia terima. Seperti kisah anak bungsu yang terhilang, dimana dia telah menghabiskan hartanya untuk hal-hal yang sia-sia, sehingga ia menjadi miskin dan pada akhirnya ia harus kembali pada bapaknya dalam posisi kemiskinan. Oleh karena itu, kita harus menjaga atau memelihara energi yang kita miliki, bahkan kita harus mengisinya terus menerus, karena apabila kita mengisinya terus maka suatu saat energi ini memiliki kekuatan yang dahsyat, sebagai contoh : Seorang ahli fisika (ilmu alam) berusaha menghimpun energi melalui sinar. Jikalau energi yang dikumpulkan tidak mengalami kebocoran maka sinar itu bisa menjadi spot light, dan apabila dikumpulkan lagi maka sinar itu akan menjadi sinar laser. Sinar laser itu bisa menembus tembok. Untuk itu janganlah kita takut atau kuatir dalam mengalami pergumulan hidup, sebab orang yang takut atau kuatir itu sama dengan membuang energi. Perlu kita ketahui bahwa energi yang kita miliki adalah energi yang supranatural, seperti halnya dengan kisah seorang perempuan yang mengalami pendarahan selama dua belas tahun, yaitu tatkala ia menjamah jumbai jubah Yesus maka ia mendapatkan kekuatan supranatural, sehingga penyakitnya disembuhkan seketika. Sedangkan Yesus merasakan ada kekuatan atau kuasa yang keluar dalam diriNya (Lukas 8:43-46). Dan lebih dahsyat lagi apabila kita memperhatikan kisah daripada Petrus, dimana janji Tuhan yang tertulis dalam Yohanes 14:12 itu tergenapi yaitu melakukan pekerjaan yang lebih besar; hal ini terbukti ketika Petrus berjalan, dan orang yang sakit terkena bayangannya, maka orang tersebut akan sembuh. 2. Tinggal Tetap Dalam TuhanFirman Tuhan yang terdapat dalam Yohanes 15:7-8 telah menasehatkan : “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku." Saudara, melalui ayat bacaan diatas menujukkan bahwa betapa pentingnya kita membangun hubungan yang erat dengan Tuhan, sebab di luar Tuhan kita tidak dapat berbuat apa-apa. Selain itu, orang yang erat atau melekat dengan Tuhan hidupnya penuh ketenteraman, seperti yang tertulis dalam Mazmur 91:14 “Sungguh, hatinya melekat kepadaKu, maka Aku akan meluputkannya, aku akan membentenginya, sebab ia mengenal namaKu. Bahkan dalam ayat 15 ditegaskan : “Bila ia berseru kepadaKu, Aku akan menjawab, Aku akan menyertai dia dalam kesesakan, Aku akan meluputkannya dan memuliakannya.” Sebagai contoh : Ada seorang manager yang berkerja sendiri dan lupa contact dengan bosnya, maka manager ini berkerja atas kemauannya sendiri, sehingga manager ini melakukan banyak kesalahan karena pekerjaannya tidak sesuai dengan kehendak bosnya, dengan kata lain manager tersebut tidak menuruti segala perintah bosnya. Bukankah firman Tuhan menasehatkan : “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku . . . . (Yohanes 11:41). Demikianlah kita dengan Tuhan jangan sampai kita lepas hubungan dengan Dia, sebab apabila kita lepas hubungan dengan Tuhan maka kita tidak akan pernah mendapatkan visi atau wahyu dari Tuhan, sehingga kita melakukan pekerjaan Tuhan dengan kekuatan sendiri. Hal ini sama dengan membuang energi dan membuang waktu. Oleh sebab itu, marilah kita bertindak lebih bijaksana. Amin. |
Thursday, October 11, 2012
Menggapai Ketenteraman
|
|
|
Pdt. Abraham Alex Tanuseputra
Kita semua tentunya hafal dengan ayat diatas, karena kita sering
mendengar pemberitaan dari hamba-hamba Tuhan mengenai ayat ini, maupun
kita membaca sendiri. Tetapi saat ini kita akan menggali lebih dalam
lagi mengenai ayat ini, sebab ayat ini sangat berkaitan dengan
perjalanan hidup kita dalam menggapai ketenangan maupun ketenteraman.“Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.” (I Korintus 13:13) Hal pertama yang perlu kita mengerti adalah iman. Iman merupakan anugerah dari Tuhan. Lalu, apakah hasil daripada iman itu sendiri ? atau apa yang akan diraih oleh seseorang yang beriman ? jawabanya adalah kesuksesan. Sedangkan pengharapan untuk jangka panjang mempunyai tujuan untuk mendapatkan kebahagiaan. Kedua hal ini, yaitu iman dan pengharapan akan berlaku selama kita masih tinggal dalam dunia ini, tetapi satu hal yang terus berlaku sampai pada kekekalan adalah kasih. Karena di dalam kasihlah telah terkandung ketenangan maupun ketenteraman. Ketiga hal diatas merupakan visi, dan apabila kita mengerti akan visi ini maka kita akan diberkati. Tetapi apabila kita buta akan visi ini, maka kita akan terhukum seperti yang tertulis dalam kitab Amsal. Dan pokok atau pedoman daripada pengertian ini, akan kita pelajari dalam Injil Matius 19:16-26; Injil Markus 10:17-27; Lukas 18:18-27. Dari ketiga Injil ini telah menceritakan seseorang yang ingin menggapai kehidupan yang langgeng/kekal. Di dalam Injil Matius menyebut bahwa seseorang yang ingin menggapai hidup yang kekal adalah seorang pemuda yang kaya, sedangkan didalam Injil Markus menyebutkan bahwa orang tersebut adalah seseorang seperti pada umumnya; dan di dalam Lukas menyebutkan bahwa orang tersebut adalah seorang pemimpin. Dari ketiga sebutan tersebut bukan menjadi persoalan, karena orang yang dimaksud adalah sama; baik dalam Injil Matius, Markus maupun Lukas. Dan yang menjadi pelajaran bagi kita adalah bahwa setiap orang; baik sebagai seorang pemuda yang sukses, atau seperti seorang pada umumnya maupun sebagai seorang pemimpin pasti memiliki kerinduan dalam hidupnya untuk menggapai apa yang disebut dengan kehidupan yang kekal (hidup yang penuh ketenangan dan ketenteraman). Dan kalau kita kembali pada kisah tentang pemuda yang kaya tersebut, maka kita akan menemukan bahwa pemuda ini adalah pemuda yang baik (secara moral). Namun dari semua apa yang dia dapatkan tidak membuat dia puas sampai disitu, karena pemuda ini ingin menggapai sesuatu yang lebih tinggi yaitu kehidupan yang kekal. Oleh sebab itu ia berusaha menemui Tuhan Yesus untuk mendapatkan pentunjuk dalam mencapai kerinduannya. Dan kita tahu bahwa langkah pertama yang diambil oleh pemuda ini adalah benar yaitu ia mencari wajah Tuhan. Tetapi setelah mendapat petunjuk dari Tuhan Yesus, ia justru menjadi sedih dan meninggalkan Tuhan Yesus. Lalu, mengapa pemuda ini meninggalkan Tuhan Yesus dengan hati yang sedih ? Karena ketika pemuda ini bertanya kepada Tuhan Yesus supaya ia dapat mencapai kehidupan yang kekal, Yesus menjawab kepadanya, kataNya : “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku.” Setelah mendengar jawaban inilah pemuda tersebut menjadi sedih dan meninggalkan Tuhan Yesus karena hartanya sangat banyak. Pemuda ini beranggapan bahwa apabila ia membagi-bagikan hartanya, lalu mengikut Yesus maka ia akan menjadi miskin. Padahal anggapan ini adalah salah, sebab sumber dari segala berkat baik itu kesehatan, kekayaan, maupun keberhasilan adalah Tuhan Yesus. Oleh sebab itu, apabila kita masih diberi kesempatan untuk memberi, baik itu untuk pekerjaan Tuhan, membantu orang miskin dan hal-hal lainnya yang berkaitan dengan penggapaian kehidupan kekal, maka janganlah kita menunda sebab berkat Tuhan siap dicurahkan atas hidup kita. Seperti halnya yang tertulis di dalam Amsal 11:24 “Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan.” Di dalam ayat ini menunjukkan bahwa ketika kita menabur maka kita pasti akan menuai dan janji-janji Tuhan seperti yang tertulis dalam Ulangan 8:1-3 akan tergenapi dalam kehidupan kita, tetapi apabila kita tidak mau menabur karena takut apa yang kita miliki akan berkurang, maka tuaian itu tidak pernah kita dapatkan. Selain itu, di dalam Lukas 12:34 telah disebutkan “. . di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” Jadi, ketika kita menginvestasikan apa yang kita miliki ke dalam kerajaan sorga, maka secara tidak langsung kita sedang mengikatkan diri kita pada hal-hal yang akan datang (dalam kekekalan). Memang untuk mempraktekkan hal demikian tidak mudah, karena kita masih tinggal dalam dunia, dan keadaan dunia seringkali menggoda kita untuk tidak melakukannya. Tetapi apabila kita memiliki kemauan yang kuat untuk melakukan kehendak Tuhan, maka Tuhan akan menyatakan kuasaNya atas kita. Saudara, perlu kita ingat pula, bahwa hidup kita tidak tergantung oleh mamon tetapi hidup kita tergantung hanya kepada Tuhan. Dan orang yang hidupnya tergantung kepada mamon akan mengalami seperti apa yang dikatakan oleh Tuhan Yesus kepada murid-muridNya yaitu mengenai perumpamaan seorang kaya yang bodoh. Dimana ketika ia masih tinggal didunia ia tidak tahu apa yang harus ia berbuat, sehingga ia memperkaya dirinya sendiri tanpa mempedulikan perkara-perkara yang langgeng. Dan ia berkata kepada jiwanya : “jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! Tetapi firman Allah kepadanya : hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? (Lukas 12:19-20). Inilah gambaran orang yang tidak mengerti kebenaran akan firman Tuhan. Oleh sebab itu, “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.” (Matius 6:19). Maka berbahagialah bagi orang yang mendengar maupun membaca firman Tuhan dan melakukannya, karena ia akan mencapai ketenangan dan ketenteraman yang sejati yaitu kehidupan kekal. Amin |
Thursday, September 27, 2012
Visi Dari Allah
|
|
|
Pdt. Abraham Alex Tanuseputra
Pada ayat bacaan diatas telah menceritakan mengenai kisah Yakub.
Dimana ia sedang melarikan diri dari kejaran kakaknya yaitu Esau.
Peristiwa ini terjadi bukan tanpa alasan, tetapi yang jelas bahwa Esau
menaruh dendam terhadap Yakub dan ingin membunuhnya, karena berkat yang
seharusnya Esau terima dari ayahnya telah diambil oleh Yakub dengan cara
menipu ayahnya yaitu Ishak (Kajadian 27:41-43). Secara tidak langsung
Yakub telah mengambil hak kesulungan daripada Esau.“Maka Yakub berangkat dari Bersyeba dan pergi ke Haran. Ia sampai di suatu tempat, dan bermalam di situ, karena matahari telah terbenam. Ia mengambil sebuah batu yang terletak di tempat itu dan dipakainya sebagai alas kepala, lalu membaringkan dirinya di tempat itu. Maka bermimpilah ia, . . . . . ." (Kejadian 28:10-22) Dan untuk menghindari amarah dari Esau maka Yakub melarikan diri menuju ke Haran, yaitu ke tempat dimana pamannya tinggal. Yakub telah lari dari persoalan yang mengakibatkan maut. Meskipun Yakub lolos dari kejaran kakaknya bukan berarti ia bebas dari masalah yang sedang ia hadapi, karena ia harus membayar atas segala perbuatannya. Bukankah terkadang kita melakukan seperti yang dilakukan oleh Yakub yaitu berusaha lari dari sebuah tanggungjawab atas perbuatan yang telah kita lakukan, untuk itu marilah kita menghadapi/menyelesaikannya dengan rasa tanggungjawab, termasuk menanggung segala konsekuensi dari perbuatan kita, maka Tuhan akan membela kita. Memang pada waktu siang hari Yakub dapat melarikan diri dari kejaran kakaknya (persoalan), tetapi pada malam hari ia tidak dapat melanjutkan perjalanannya, karena ia mengalami kesukaran. Dan kesukaran itu bisa berupa gelapnya malam, sehingga ia tidak dapat sekelilingnya dengan jelas dan juga tidak dapat berbuat apa-apa, kecuali beristirahat (tidur). Demikianlah dengan kehidupan kita, yang kadang-kadang mengalami persoalan seperti yang dialami oleh Yakub. Tatkala persoalan datang menimpa kita, maka kita berusaha lari dari persoalan itu dengan kekuatan kita sendiri. Kita menganggap bahwa kita mampu menyelesaikannya, tetapi perlu kita ingat bahwa tidak semua persoalan dapat kita atasi dengan kekuatan kita sendiri, karena suatu saat pasti ada persoalan yang benar-benar tidak dapat diselesaikan oleh kekuatan manusia (itulah gambaran daripada datangnya malam, dimana kita tidak dapat berbuat apa-apa, kecuali kita beristirahat/menenangkan diri untuk mendapatkan wahyu atau visi dari Tuhan). Dan perlu kita sadari pula bahwa kita penuh dengan keterbatasan maupun kelemahan, untuk itu jangan sekali-kali kita mengandalkan kekuatan diri sendiri melainkan kita andalkan Tuhan, sebab firman Tuhan berkata : ”Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!” (Yeremia 17:5). Selanjunya, dalam kisah Yakub ini telah diceritakan bahwa ia beristirahat, dalam arti kata lain : ia sedang menenangkan diri, maka Yakub mendapatkan wahyu/visi dari Tuhan melalui mimpinya. Wahyu/visi yang diterima oleh Yakub ini bersifat universal, yang artinya bahwa setiap orang berhak untuk mendapatkan visi seperti yang dialami oleh Yakub dan sampai hari ini Tuhan memberikan wahyu yang sama. Apa yang dilihat oleh Yakub sama dengan apa yang kita lihat hari-hari ini. Mungkin kita tidak mimpi seperti Yakub, tetapi saat ini kita mendapatkan visi yang sama. Lalu, yang menjadi pertanyaan adalah : “visi apa yang diterima oleh Yakub melalui mimpinya ?.” Yakub telah mendapat penglihatan bahwa di bumi ada didirikan sebuah tangga yang ujungnya sampai di langit, dan tampak malaikat-malaikat Allah turun naik di tangga itu, dan berdirilah Tuhan di sampingnya. Jadi, melalui peristiwa ini Yakub sadar bahwa ada hubungan antara sorga dan bumi, sehingga apa yang ada di sorga itu bisa turun ke bumi; baik itu kuasa maupun kekayaan. Yakub mendapat kemurahan dari Allah, dan kemurahan itu juga berlaku bagi anak-anaknya yaitu umat Israel, termasuk kita sebagai keturunan Abraham secara rohani, sebab di dalam firman Tuhan telah dikatakan : “ . . . Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah (Galatia 6:23). Dan perlu kita ketahui bahwa yang menjadi penghubung antara sorga dan bumi adalah Yesus sendiri, karena di dalam Injil Yohanes 1:51 telah dikatakan : “Lalu kata Yesus kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia.” Jadi visi yang diterima oleh Yakub itu sama dengan visi yang diberikan kepada kita. Alasannya yaitu : karena kita sudah percaya kepada Tuhan Yesus dan diselamatkan, sehingga kita mendapatkan hubungan antara sorga dan bumi ini dengan tidak terputus. Saudara, pertama kali visi ini dilihat oleh Yakub yaitu bahwa tidak ada halangan lagi antara bumi dan sorga; maka apa yang diikat di bumi akan terikat di sorga dan apa yang dilepas di bumi akan terlepas di sorga. Jadi segala kuasa, kekayaan bisa turun dalam kehidupan kita, karena kita punya hak untuk menarik kuasa dan kekayaan dari sorga. Dan setelah visi itu diterima oleh Yakub, lalu tindakan apa yang diambil oleh dia ?. Yakub mulai mengambil batu yang dipakainya sebagai alas kepala dan didirikan sebuah tugu serta menuangkan minyak ke atasnya. Lalu Yakub menamai tempat itu Betel (rumah Tuhan), dimana yang dahulunya kota tersebut bernama Lus (yang berarti penuh dengan hawa nafsu). Demikianlah halnya dengan kita yang dahulunya hidup penuh dengan hawa nafsu, tetapi setelah kita menerima Yesus sebagai Tuhan dan juru selamat maka hidup kita disebut sebagai rumah Tuhan atau bait Roh Kudus. Oleh sebab itu janganlah kita mengotori kehidupan kita dengan tindakan yang didasari oleh hawa nafsu, tetapi biarlah kita tetap menjaga kehidupan ini dengan kekudusan, supaya urapan Allah terus mengalir dalam kehidupan kita dan visi yang telah kita terima, seperti yang Yakub terima dapat terwujud dalam kehidupan kita. Memang untuk dapat memujudkannya tidak semudah kita membalikkan telapak tangan, tetapi dibutuhkan perjuangan, ada harga yang harus kita bayar yaitu seluruh kehidupan kita. Biarlah Roh Allah saja yang bekerja dalam kehidupan kita, maka segala sesuatu tidak ada yang mustahil, Amin. |
Friday, September 21, 2012
Sebuah Wasiat
|
Pdt. Dr. Abraham Alex Tanuseputra
Pada ayat bacaan di atas terdapat kata “Wasiat”. Wasiat adalah sebuah
janji; sedangkan yang memberikan wasiat itu adalah Allah. Dan perlu
kita ketahui bahwa wasiat ini baru berlaku kalau yang memberi wasiat ini
telah mati. Memang, Allah tidak pernah mati, karena Dia kekal, tetapi
Dia bisa memberikan warisan kepada kita dengan jalan memberikan Yesus
yang adalah Tuhan telah menjadi manusia. Pada saat Dia mati (walaupun
pada hari yang ketiga Dia telah bangkit) Allah memberikan wasiat kepada
kita, selain itu Allah mengangkat kembali manusia menjadi anak-anak
Allah. Ini berlaku bagi yang percaya kepada-Nya.“Sebab di mana ada wasiat, di situ harus diberitahukan tentang kematian pembuat wasiat itu. Karena suatu wasiat barulah sah, kalau pembuat wasiat itu telah mati, sebab ia tidak berlaku, selama pembuat wasiat itu masih hidup.” (Ibrani 9:16-17) Wahyu 5:6-12 menyatakan bahwa Allah itu memiliki segala-galanya, khususnya pada ayat 12 telah dikatakan : "Anak Domba yang disembelih itu layak untuk menerima kuasa, dan kekayaan, dan hikmat, dan kekuatan, dan hormat, dan kemuliaan, dan puji-pujian!". Sejak Yesus mati di atas kayu salib wasiat di atas tersebut diberikan bagi kita selaku anak-anakNya. Hal ini dapat kita ketahui dalam Roma 8:16-17 yang berkata, “Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” Menderita bersama-sama dengan Tuhan merupakan sesuatu hal yang tidak enak untuk daging. Kata yang lebih tepat untuk kata “menderita” adalah “prihatin.” Ini berarti mau tidak mau kita harus berjalan di jalan yang sempit, menderita bersama dengan Kristus. Namun ujungnya menuju kebahagiaan yang tidak terlukiskan. Selain itu penderitaan yang kita alami tidak sebanding dengan kemuliaan dan kebahagiaan yang akan kita terima. Wasiat di dalam Yesus dihubungkan dengan pengertian “berkat Allah yang diberikan kepada Abraham.” (Galatia 3:26-29). Apabila kita melihat siklus sebuah kehidupan khususnya dari Abraham, Ishak dan Yakub, maka disana dipenuhi dengan bukti-bukti iman. Yang perlu kita perhatikan adalah bukan hanya berkat yang diterima Abraham saja, tetapi siklusnya. Setelah Abraham, Ishak diberkati, lalu diturunkan kepada Yakub. Memang secara fisik Ishak tidak memberikan apa-apa kepada Yakub, tetapi berkat yang dari Tuhan tetap terjadi dalam kehidupan Yakub. Ini merupakan siklus turun-temurun. Hal ini juga berlaku bagi kehidupan orang yang percaya kepada Kristus, termasuk saudara semua. Berapa banyak orang mengalami masa kejayaan namun setelah meninggal dunia, anak-anaknya hidup penuh penderitaan. Hal ini disebabkan karena mereka tidak berada dalam sebuah siklus kehidupan seperti yang dilakukan oleh Abraham, Ishak dan Yakub. Sebagai contoh yang gamblang adalah bangsa Israel. Tatkala orang Israel menyembah Tuhan dengan baik, maka kota Yerusalem mendapatkan damai sejahtera. Klimaksnya pada saat pemerintahan Daud dan Salomo. Tetapi saat orang Israel tidak mengikuti siklus yang dilakukan nenek moyangnya, maka Yerusalem hancur dan dijajah oleh banyak bangsa. Saat mereka bertobat dibangun kembali dan saat mereka tidak taat, maka dijajah kembali. Ini berlangsung terus menerus, hingga Yerusalem memiliki pondasi yang berlapis-lapis. Yerusalem adalah kota yang kekal. Ini merupakan gambaran bagi kita kepada Yerusalem yang kekal. Kalau Yerusalem kita di dunia ini baik, maka Yerusalem yang di sorga pasti juga baik. Hari-hari ini, memang Tuhan sedang mengembalikan Yerusalem, tetapi ibadah mereka belum pulih secara keseluruhan. Tetapi kita adalah keturunan Abraham di dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Tanpa Yesus, berkat Allah tidak bisa turun kepada kita. Karena Yesus, semua berhak menjadi anak-anak Allah yang menerima wasiat dari-Nya. Untuk itu kita tidak bisa meninggalkan siklus yang pernah dilakukan oleh tokoh-tokoh pergerakan Kristen yang berkembang sampai sekarang. Apa yang dilakukan Abraham dilakukan oleh Ishak, seperti yang tertulis dalam Kejadian 26:12-13, ”Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati Tuhan. Dan orang itu menjadi kaya, bahkan kian lama kian kaya, sehingga ia menjadi sangat kaya.” Memang tidak mudah untuk melakukan siklus ini secara turun-temurun, tetapi kalau orang kembali kepada siklusnya, maka berkat Tuhan akan turun dengan luar biasa. Setiap orang memiliki siklus ini. Jangan sampai kita melupakan siklus itu, karena apabila kita melupakannya maka yang akan terjadi dalam kehidupan kita seperti yang tertulis dalam Pengkhotbah 1:11, ”Kenang-kenangan dari masa lampau tidak ada, dan dari masa depan yang masih akan datangpun tidak akan ada kenang-kenangan pada mereka yang hidup sesudahnya.” Ini merupakan peringatan bagi kita. 2 Korintus 9:10-11 berkata, “Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu; kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kami.” Menabur bukan berarti berbicara masalah uang saja. Ini suatu siklus, kenangan yang lama ada dan yang akan datang lebih ada lagi. Hidup kita ini sangat berguna untuk ini. Matius 25:14-30 berbicara tentang seorang tuan yang mempercayakan talenta-talentanya kepada hamba-hambanya. Ada yang menerima 5, 4, 3, 2, 1 talenta. Yang diberi 5 sampai 2 dikembangkan, tetapi yang menerima 1 talenta tidak mengembangkannya. Justru yang diberi 1 talenta menganggap tuannya kejam. Orang tersebut diberi 1 talenta saja tidak bisa mengembangkan, apalagi diberi banyak. Oleh karena itu berapapun talenta yang dipercayakan kepada kita, seharusnya kita kembangkan, supaya hal yang buruk tidak kita alami, seperti yang tertulis dalam Matius 25:30 berkata, “Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi." Untuk itu, marilah kita kembali kepada silklus, menabur dan menuai. Memang terasa berat, tetapi apabila kita mau melakukannya maka kita akan dimuliakan bersama dengan Kristus. Walaupun kita mengalami banyak tantangan, tetapi kita tetap diberkati oleh Tuhan, Amin. |
Subscribe to:
Posts (Atom)






