Kebangkitan Besar

Kebangkitan Besar
Showing posts with label Pdt.Leonardo A. Sjiamsuri. Show all posts
Showing posts with label Pdt.Leonardo A. Sjiamsuri. Show all posts

Sunday, April 24, 2011

Tindakan Iman

Pdt. Leonardo A. Sjiamsuri


“Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.”
(Filipi 4:9)

Paulus mengajak agar kita mau meneladani sikap hidupnya yang benar. Dan jika hal-hal ini kita lakukan, Tuhan pasti akan senantiasa melimpahkan berkat-Nya dalam hidup kita. Namun yang yang menjadi pertanyaan bagi kita, apakah kita sudah bertindak menghidupi firman Tuhan itu dengan iman?

Ketika kita banyak melihat mujizat yang Tuhan kerjakan, dengan mudah kita selalu mengatakan; “Tuhan itu sangat baik”. Tetapi, seringkali dalam setiap tindakan kita kurang mencerminkan iman percaya kepada Yesus. Paulus berkata dalam Efesus 1:15, “Karena itu, setelah aku mendengar tentang imanmu dalam Tuhan Yesus dan tentang kasihmu terhadap semua orang kudus.” Mengapa Paulus bisa mendengar iman dan kasih seseorang, sedangkan kedua hal itu tidak dapat dilihat secara kasat mata? Yang Paulus maksud dalam hal ini adalah melihat iman dan kasih mereka dari setiap perbuatannya. Kita harus sadar bahwa kekristenan bukan hanya sekedar datang beribadah dan mendengar firman tetapi harus dilengkapi dengan tindakan iman. Karena itu kunci supaya kita dapat mendatangkan kuasa Allah dan dapat menikmatinya adalah tindakan iman.

Ketika Elia di perintahkan Tuhan untuk bersembunyi di tepi sungai kerit, meskipun hal itu tidak enak bagi Elia ia tetap pergi dan Tuhan mencukupkan segala kebutuhannya dengan mengirimkan makanan lewat perantaraan burung gagak (1 Raj. 17:1-6). Bahkan ketika Elia juga menumpang di rumah janda Sarfat dan meminta air dan roti kepadanya, Janda di sarfat sudah melihat hidupnya tidak ada pengharapan lagi karena memang sedang terjadi kekeringan dan kelaparan di negerinya. Tetapi Elia sebagai nabi Allah berkata bahwa buli-buli dan tepung itu tidak akan habis dan hal itu benar-benar terjadi, meski kelaparan melanda, mereka tetap dapat makanan yang cukup (1 Raj. 7-16).

Mujizat pasti terjadi jika iman dan tindakan kita berjalan secara bersama-sama. Kalau Naaman tidak bertindak untuk mandi sebanyak tujuh kali di sungai Yordan sesuai dengan perintah nabi Elisa, dia tidak akan sembuh dari penyakit kusta yang di deritanya. Meskipun hal itu menurut logika sepertinya tidak mungkin, tetapi Tuhan ingin melihat iman dan ketaatan terhadap perintah-Nya. Kepercayaan kita akan firman Tuhan dapat terlihat dari setiap perbuatan dan tindakan kita ketika meresponi firman-Nya.

Dalam Kitab Yohanes diceritakan tentang mujizat Yesus yang pertama yaitu mengubah air menjadi anggur. Dari perintah Yesus "Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air,..."Sekarang cedoklah dan bawalah kepada pemimpin pesta” (Yohanes 2:7-9). Kalau perintah Yesus ini tidak dilakukan para pelayan mustahil hal itu terjadi.


Apa yang terjadi ketika kita mengambil tindakan iman?

1.Sorga akan bergerak bagi kita.
Tuhan akan menyediakan segala sesuatu yang kita butuhkan ketika kita mengambil tindakan iman. Alkitab berkata dalam Matius 16: 19, “Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga." Dan Efesus 3:20 mengatakan bahwa “Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita.” Lakukan tindakan iman dan Tuhan pasti akan melakukan sesuatu bagi kita. di luar dari perkiraan kita.

2.Akan terkumpul momentum dan kekuatan untuk membantu iman kita bekerja sehingga mujizat terjadi.
Seorang yang lumpuh yang sudah 38 tahun berada di kolam Bethesda tidak mengalami kesembuhan karena ia tidak mau berusaha bergerak mencapai kolam Bethesda. Tetapi setelah Yesus datang dan memerintahkannya untuk mengangkat tilamnya, ia bertindak dan seketika itu kesembuhan terjadi.
Momentum dan kekuatan yang terkumpul dalam hidup kita dapat memotivasi kita untuk melakukan tindakan iman yang berakibat mujizat dan hal besar dalam hidup kita. Dalam kitab Injil diceritakan mengenai seorang perempuan yang mengalami pendarahan, dan ia pun sudah banyak mendengar tentang Yesus melakukan banyak mujizat. Hal ini membuat ia berani melakukan tindakan iman meskipun orang banyak bergerumun dekat Yesus. Perempuan itu berkata; “asal kujamah saja jubahnya aku pasti sembuh...” dan hal itu terjadi dalam hidupnya. Tindakan iman perempuan itu menjadikan ia mengalami sesuatu mujizat yang besar dalam hidupnya.

3.Tuhan akan mengirimkan orang-orang dan sumber-sumber untuk mendukung kita.
Tuhan akan mengumpulkan semua itu dengan cara-Nya yang ajaib. Petrus mengenal Kornelius bukan karena kehebatan dan usahanya tetapi Roh kudus sendiri yang mengarahkan dan menuntun Kornelius untuk datang kepada Petrus sehingga Kornelius dan keluarganya mengenal dan percaya Tuhan Yesus.


Apa yang harus dilakukan supaya kita berani bertindak?

1.Belajar untuk selalu bersorak-sorai dan memuji Tuhan.
Ketika kita bersorak-sorai di dalam Tuhan, kita sedang mendeklarasikan kemenangan kita. Jangan pernah bersungut -sungut sebab hal itu dapat membuat kita tidak melakukan tindakan positif dan menjadi lemah. Alkitab dalam Kisah para Rasul menceritakan ketika Paulus dan Silas bersorak-sorai dan berdoa kepada Tuhan mujizat terjadi dalam hidup mereka.

2.Memiliki keberanian dan keteguhan hati terhadap Tuhan.
Jangan biasakan kita memikirkan resiko terlalu jauh, tetapi tetaplah bertindak dan tetap percaya kepada Tuhan yang dapat menjadikan semuanya menjadi kebaikan bagi kita. Dia dapat mereka-reka segala keadaan menjadi kebaikan bagi kita sebagai mana yang telah dialami oleh Yusuf ketika ia dijual saudara-saudaranya sampai akhirnya ia menjadi penguasa nomor dua di Mesir.

“jangan hanya sebatas memperkatakan firman Tuhan saja, tetapi bertindaklah segera supaya berkat Multiplikasi dan Promosi terjadi dalam hidup kita.”

Berkemenangan Dalam Situasi Apapun

Pdt Leonardo A. Sjiamsuri

"Setelah itu bani Moab dan bani Amon datang berperang melawan Yosafat bersama-sama sepasukan orang Meunim. Datanglah orang memberitahukan Yosafat: "Suatu laskar yang besar datang dari seberang Laut Asin, dari Edom, menyerang tuanku. Sekarang mereka di Hazezon-Tamar," yakni En-Gedi. Yosafat menjadi takut, lalu mengambil keputusan untuk mencari TUHAN. Ia menyerukan kepada seluruh Yehuda supaya berpuasa. Dan Yehuda berkumpul untuk meminta pertolongan dari pada TUHAN. Mereka datang dari semua kota di Yehuda untuk mencari TUHAN".
(2 Tawarikh 20:1-4)


Raja dalam Perjanjian Lama adalah sebagai gambaran orang yang berada dalam dunia market place. Dalam cerita di atas, ada 3 musuh yang menghadang dan Raja Yosafat menjadi takut. Ketakutan adalah akibat yang normal ketika ada masalah; tetapi, jangan kita tertekan dan terfokus oleh masalah saja. Sebab itu kita harus mengalami kemenangan dari masalah tersebut.

Untuk mengalami kemenangan adalah:

1. Ketika masalah ada, kita dipaksa jadi berpikir lebih kreatif.
Ketika ada krisis, para pengusaha menjadi lebih ketat dalam mengendalikan cost. Masalah membuat kita lebih mengandalkan Tuhan, membuat mujizat menjadi lebih nyata dalam hidup kita. Sebab itu, jangan terlalu takut terhadap masalah, lihatlah Tuhan yang bisa menolong kita. Ketika kita terlalu banyak berpikir, kita tidak dapat melihat masalah secara proporsional.

Sebab itu mari posisikan masalah dengan benar, jangan melihat masalah dengan terlalu berlebih-lebihan. Lewati masalah bersama Tuhan maka masalah itu akan selesai. Dalam Mazmur 12:7,8, berkata bahwa Tuhan tidak pernah ingkar janji. Dia sanggup menggenapi janji-Nya. Jangan melihat fakta terus-menerus, tetapi lihatlah janji Tuhan. Fakta selalu berubah, tetapi Tuhan tidak akan pernah berubah kuasa-Nya dan kesetiaan-Nya. Bagi Tuhan menenangkan badai
(= masalah) adalah kecil, tetapi bagaimana Tuhan lebih dulu hendak menenangkan hati Petrus dan murid-murid-Nya yang ada di dalam perahu, menenangkan hati kita saat dalam masalah.

Jangan terlalu takut kepada Iblis. Jangan terlalu membesar-besarkan kuasa Iblis. Kuasa TUHAN lebih besar dari Iblis. Roh Tuhan dalam kita lebih besar dari dunia (setan) ini. Gelap tidak bisa menutupi terang. Kalau di dalam kita ada terang, kegelapan (setan) akan pergi.

2. Siapa yang kita percayai?
Berita yang kita dengar akan mempengaruhi kondisi iman kita. Berita krisis ekonomi akan membuat kita semakin ketakutan dan kuatir. Sebab itu dengarkanlah firman Tuhan, maka kita akan memperoleh kemenangan. Yosua dan Kaleb memberikan laporan yang baik tentang tanah Kanaan. Tuhan tidak pernah merancangkan hal buruk, tetapi rencana yang penuh damai sejahtera. Sering-seringlah mendengar firman Tuhan, jangan mencari orang yang tidak mengenal Tuhan
(Mazmur 1:1-3). Jangan terlalu percaya dengan berita dan laporan dunia ini, tetapi dengarkanlah apa kata firman Tuhan.

3. Jagalah kualitas keputusan kita.
Hidup kita ditentukan oleh keputusan yang kita ambil, bukan hanya oleh karena mendengarkan khotbah, bukan hanya oleh karena doa, bahkan bukan hanya setelah mendengarkan suara Tuhan sekali pun, tetapi keputusan apa yang kita ambil atas semua itu? Supaya kita dapat mengambil keputusan yang benar adalah:
a. selaraskan pikiran kita dengan firman Tuhan.
b. tinggal dalam komunitas orang percaya (beriman) untuk dapat saling menasehati.

4. Cari Tuhan dengan konsisten.
Marilah kita seperti Yosafat, di mana saat ketakutan dia mengambil keputusan untuk mencari Tuhan. Lihat Mazmur 56:1-4, Waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu.
Mencari Tuhan harus konsisten, jangan hanya saat ada masalah. Datanglah ke gereja/ beribadah bukan hanya kebiasaan, tetapi sebagai kerinduan kepada Tuhan.

Manfaat Mengucap Syukur

Pdt. Leonardo A. Sjiamsuri


Kedatangan Tuhan semakin dekat, sebab itu jangan sampai hati kita tidak benar di hadapan Tuhan. Ukuran Tuhan bukanlah berapa banyaknya kita melayani Tuhan, tetapi ukuran Tuhan adalah bagaimana kemurian hati kita di hadapan Tuhan.

Amsal 4:23, “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan”.
Ayat ini meminta kita sendiri-lah yang menjaga hati kita. Kita harus menjaga kemurnian hati kita, sebab seseorang bisa tetap melayani dengan kepahitan, dengan motivasi yang salah. Kalau hatinya belum pulih maka dia tidak boleh melayani, karena dia akan men-transfer-kan itu kepada orang yang dilayani. Sebab itu, jagalah hati kita agar tidak tercemar. Caranya adalah 1 Tesalonika 5: 18, “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu”.

Jadi, mengucap syukur itu tidak ditentukan oleh situasi dan kondisi. Artinya, ini menggambarkan sebuah gaya hidup, bukan hanya peristiwa sesekali saja, bukan hanya saat beribadah atau saat senang. Tetapi dimanapun: di rumah, di kantor, di gereja, kita tetap mengucap syukur. Ini adalah sebuh keputusan, sebuah pilihan. Itu tergantung kita.

Apa manfaatnya kalau kita mengucap syukur?
Mazmur 9: 2, “Aku mau bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hatiku, aku mau menceritakan segala perbuatan-Mu yang ajaib”. Artinya kita yang memutuskan. Kalau ini kita lakukan setiap hari, maka akan menjadi kebiasaan. Orang yang suka mengeluh, ketika ada masalah, maka otomatis responnya adalah mengeluh, akan mengomel dan akan memaki. Ini karena kebiasaan. Sebaliknya, kalau terbiasa mengucap syukur, maka ketika ada masalah, dia akan otomatis mengucap syukur. Itu kebiasaan. Sebab itu, bangun kebiasaan mengucap syukur!
Mengapa Tuhan menyuruh kita mengucap syukur? Sebenarnya Tuhan sedang memberikan kunci berkat kepada kita, bukan untuk kepentingan Tuhan.



Manfaat mengucap syukur adalah:
1.Supaya segala hal negatif itu semakin cepat sirna/hilang.
Perasaan negatif itu akan semakin kuat jika kita selalu mengomel/mengeluh. Orang yang jarang mengucap syukur, hatinya gampang keras, tegar tengkuk. Seperti orang Israel yang selalu bersungut-sungut. Karena yang mereka lihat adalah sisi negatif, bukan hal yang baik, sehingga mereka 40 tahun berada di padang gurun. Kalau kita menabur yang baik (bersyukur) maka kita akan menuai yang baik, demikian sebaliknya. Jadi kalau ingin diberkati Tuhan maka kita harus mengucap syukur. Orang yang selalu mengucap syukur akan melihat ada jalan keluar dari masalahnya.

2.Kita menciptakan atmosfir/suasana yang kondusif untuk iman dan firman bekerja.
Kalau suasana hati kita tidak kondusif - kalau di rumah tangga hanya mendengar keluhan, omelan dan hal-hal negatif, tidak ada komunikasi yang baik - maka firman yang kita dengar selama ini tidak mampu bekerja dan iman kita tidak bertumbuh. Sebaliknya, kalau suasana hati kondusif – di dalam keluaga ada pujian, ada ucapan syukur, ada komunikasi yang baik, ada rasa penerimaan - maka firman yang kita dengar selama ini akan bekerja dan iman kita akan bertumbuh. Itulah sebabnya, tidak ada hal yang mustahil baginya.

3.Kita bisa melihat Tuhan di tengah persoalan hidup.
Orang yang suka mengeluh hanya bisa melihat musibah, dia tidak bisa melihat tangan Tuhan di dalam masalahnya. Tetapi, orang yang suka mengucap syukur, dia bisa melihat tangan Tuhan ada di dalam masalahnya, sehingga dia mendapatkan pengharapan. Dengan mengucap syukur kita bisa melihat Tuhan di tengah masalah itu. Kita tahu bahwa Tuhan perduli kepada kita
Seperti bangsa Israel yang suka mengeluh, maka ketika ada “daging dan manna”, mereka tidak bersyukur karena mereka tidak bisa melihat Tuhan di balik berkat itu.
Walaupun hati ini panas, maka mulut ini harus terlebih dahulu mengeluarkan ucapan syukur. Jangan biarkan “hati yang panas” mempengaruhi perkataan kita. Kalau di mulut ini ada ucapan syukur, maka tingkat pengharapan kita akan meningkat, akan ada mujizat. Itulah sebabnya gaya hidup orang Kristen adalah menyanyi dan bersyukur memuji Tuhan: saat sedih, saat senang, saat ada masalah. Ingat! Mengucap syukur adalah senjata ampuh yang Tuhan berikan kepada kita.

4.Menjadi benteng perlindungan yang kuat untuk menghadapai:
(a). iri hati.
(b). keserakahan
(c). kesombongan.
(d). persaingan yang tidak sehat.

Marilah kita terus mengucap bersyukur, Amin?

Hidup Oleh Iman

Pdt.Leonardo A. Sjiamsuri

"Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani. Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: "Orang benar akan hidup oleh iman."
(Roma 1: 16-17)

Sebagai orang percaya, hidup kita ditentukan oleh iman, bukan ditentukan oleh harta, kekayaan, kekuasaan. Bahkan, bukan ditentukan oleh seberapa sering kita beribadah, karena banyak orang Kristen yang mengerti firman, suka berdoa, suka beribadah, namun belum percaya/beriman.

Kita mengerti bahwa doa itu berkuasa, tetapi persoalannya adalah apakah kita percaya? Sebab kalau kita percaya, maka ketika ada masalah kita akan masuk ke dalam doa; bukan malah mencari pertolongan manusia.

Efesus 2: 8, "Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah", Allah bekerja karena iman yang ada di dalam diri kita. Karena iman adalah transaksi antara kita dengan Tuhan, maka "uangnya" adalah iman. Dalam perkara Kerajaan Sorga, transaksi yang berlaku adalah "iman", kita tidak bertransaksi dengan pengalaman dan dengan pengetahuan.

Yohanes 3:18 Penghukuman terjadi bukan hanya karena dosa, tetapi juga karena tidak percaya. Mengapa firman itu tidak bekerja dalam kehidupan seseorang adalah karena firman itu hanya dianalisa untuk dimengerti, bukannya untuk dipercayai. Itulah sebabnya Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Percaya saja!"

Ibrani 11:1. Iman itu adalah suatu "substance" (substansi, materi) yang dapat kita pegang. Iman adalah dasar. Itulah sebabnya, kita hidup dari apa yang dijanjikan oleh Tuhan, bukan dari apa yang kita kerjakan. Iman adalah bukti. Jadi, iman bisa membuat yang tidak ada menjadi ada. Suatu transaksi Tuhan dari yang tidak kelihatan menjadi kelihatan. Ibrani 11:3. Apapun yang kita lihat dengan indera kita ini memiliki landasan dari yang tidak kelihatan. Yang kelihatan itu telah terjadi dari yang tidak kelihatan. Jika kita mau hidup kita berubah, kita harus fokus kepada yang tidak kelihatan; dan, untuk mencapai ke sana kita harus memiliki "iman".

Bersama Tuhan, kita akan mengubah yang kelihatan ini. Dunia yang tidak kelihatan, yang tidak dapat kita lihat dengan kasat mata, itu sangat nyata dan dahsyat. Banyak hal yang Tuhan janjikan di alam supranatural ini tidak sanggup kita terima, karena kita tidak dapat melihat dunia yang tidak kelihatan itu. Kita bisa masuk ke dunia yang tidak kelihatan itu kalau kita memiliki "iman".

Tuhan bisa membuat mujizat kalau ada materi-nya. Kita memerlukan materi itu, yaitu "iman". Seperti seorang perempuan yang pendarahan selama 12 tahun, yang imannya timbul karena dia mendengar tentang Yesus dan perbuatan-perbuatan-Nya. Dan, ketika Yesus berjalan lewat, perempuan ini menyentuh ujung jubah Yesus, karena iman yang timbul dari cerita-cerita yang dia dengar tersebut, dan dia sembuh. Mengapa kita tahu bahwa perempuan itu beriman? Sebab, saat perempuan itu menyentuh ujung jubah-Nya, Yesus merasakan ada kuasa mengalir dari dalam Diri-Nya (Markus 5:21-34)

Roma 4: 18-20. Kalau kita beriman, tandanya adalah walaupun keadaan hampir membuat kita hendak menyerah, namun ada sesuatu di dalam hati yang terus mendorong kita untuk maju terus. Dorongan itulah yang disebut iman. Yang membuat Abraham terus "bergerak", walaupun dia sudah sangat tua. Sama seperti Yosua, ketika Tuhan memerintahkan dia untuk mengelilingi tembok Yerikho (Yosua 6). Mengapa Yosua mau melakukannya? Karena dia telah melihat dengan iman bahwa tembok Yerikho itu telah runtuh. Karena iman adalah bukti dari sesuatu yang tidak kelihatan.

Akal dan pancaindera berkata: lihat dulu/mengerti dulu baru mau percaya. Namun, iman adalah percaya dulu baru mengerti dan kita bisa melihat. Bukan berarti kalau semakin banyak berdoa dan semakin sering beribadah maka akan ada iman. Sebaliknya, iman yang akan membuat doa dan ibadah kita itu efektif.

Bagaimana caranya memiliki iman?

1. Harus memiliki hati yang percaya dulu. Sebab iman itu pemberian Tuhan, dan iman itu akan bertumbuh di hati orang yang mau percaya dulu.

2. Mendengar firman Tuhan (Roma 10:17)

3. Taat. Iman Abraham bertumbuh karena dia taat kepada Tuhan