Kebangkitan Besar

Kebangkitan Besar
Showing posts with label Pdt.Anthony Chang. Show all posts
Showing posts with label Pdt.Anthony Chang. Show all posts

Sunday, August 7, 2011

Perumpamaan Anak Yang Hilang




Pdt. Anthony Chang, M.Th

“Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan ia pun mulai melarat. Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya.
(Lukas 15 : 11-32)

Setiap kali membaca Alkitab berbicara tentang perikop Perumpamaan artinya belum tentu true story, tetapi melainkan hanya diumpamakan saja. Dalam Budaya tertentu, bahwa anak minta warisan saat orang tua masih hidup itu merupakan suatu yang tidak baik. Ketika anak itu belum siap menerima warisan yang diberikannya akan bisa menghancurkan masa depan anak tersebut. Mempersiapkan anak lebih baik dipersiapkan dengan iman yang kuat. Dalam kehidupan manusia itu ada alam sadar, alam tidak sadar dan alam antara sadar dan tidak sadar. Ketika anak-anak masih kecil (Sekolah Minggu) mungkin belum tahu dan mengerti tentang Firman Tuhan usahakan terus karena ada alam bawah sadar yang akan terus menyerap apa yang didengarnya. Cara menilai orang itu kaya, pada zaman itu didasarkan berapa banyak ladang, ternak, budak yang dimilikinya.

Lukas 15:17 “Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa.”Bertobat adalah ketika orang menyadari kesalahan-kesalahannya, membenci kelakuannya dan kembali kepada Bapa di sorga. Ketika menyadari keberadaannya langkah yang dilakukan anak tersebut adalah kembali kepada Bapa. Ketika Bapa melihat anak tersebut kembali bapa mencium dan merangkul yang dilakukan, sebenarnya apa yang dilakukan Bapa, bapa benci pada dosa dan kelakuan anaknya tetapi bapa sayang kepada anaknya sebagai pribadi.

15:20 “Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.”“ayahnya telah melihatnya”, maksud perkataan tersebut menunjukkan bahwa penantian dan kerinduan bapa kepada anaknya yang cukup lama terjawab sudah, itulah yang membuat tergerak hatinya oleh belas kasihan. Bapa itu benci kepada sikap anak bungsu tersebut karena itu adalah dosa, tetapi sayang kepada pribadi anak bungsunya. Begitu juga Bapa di sorga sangat membenci dosa yang dilakukan umat pilihannya, tetapi sangat mengasihi dan sayang kepada pribadinya.

Lukas 15:28-29 “Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia. Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku.

Anak sulung memiliki sikap yang benci kepada anak bungsu yaitu adiknya, sebagai kakak ia marah baik kelakuan dosa yang dibuatnya dan pribadinya. Ketika kita benci pada seseorang, mana yang kita benci apa semuanya. Bapa dan anak sulung memiliki prinsip yang berbeda, sebagai seorang Bapa ia sayang dan cinta kepada anak secara pribadi karena ia adalah anak, tetapi membenci dosa dan kelakuan yang dilakukan oleh anaknya yang bungsu. Tetapi anak sulung benci semuanya itulah yang akan membuat kita tidak berkenan kepada Tuhan.Begitu juga dengan Tuhan Yesus, Ketika Tuhan Yesus menemukan orang berdosa ia benci, tetapi ketika orang itu bertobat, Tuhan membuka kedua tangannya dan merangkul dan menyayangi luar biasa, Tuhan sukacita ketika ada orang berdosa bertobat. Kasih dan anugerah Tuhan tidak bisa dibandingkan dengan apapun juga bagi anak-anaknya, oleh karena itu Tuhan mau memberikan apa saja untuk menebus dosa setiap orang, bahkan Tuhan memberikan nyawanya dan berperang melawan maut supaya kita memiliki kehidupan yang kekal. Ketika kita membenci seseorang kita harus sadar bahwa yang harus kita benci adalah dosa dan tingkah laku yang tidak benar, tetapi kita mengasihi pribadinya. Saat kita mampu menerapkan itu maka kita memiliki hati yang mengampuni dan Tuhan berkenan kepada Tuhan.

Kesimpulan tentang “Perumpamaan Anak yang Hilang”: bahwa ketika kita mengasihi anak kita, yang harus kita lakukan adalah:

1. Tidak baik mempersiapkan anak dengan masa depan harta karena bisa menghancurkan masa depan.

2. Menyiapkan anak untuk masa depan lebih baik dengan bekal iman, takut akan Tuhan dan pengetahuan.

3. Jangan pernah pilih kasih dengan anak tetapi harus dengan porsi yang sama
Membenci seseorang karena dosa dan kelakuannya, jangan pribadinya.










.

Sunday, June 19, 2011

Hadirat Tuhan

Pdt. Anthony Chang

Tetapi sesudah beberapa waktu, sungai itu menjadi kering, sebab hujan tiada turun di negeri itu. Maka datanglah firman TUHAN kepada Elia: "Bersiaplah, pergi ke Sarfat yang termasuk wilayah Sidon, dan diamlah di sana. Ketahuilah, Aku telah memerintahkan seorang janda untuk memberi engkau makan." Sesudah itu ia bersiap, lalu pergi ke Sarfat. Setelah ia sampai ke pintu gerbang kota itu, tampaklah di sana seorang janda sedang mengumpulkan kayu api. Ia berseru kepada perempuan itu, katanya: "Cobalah ambil bagiku sedikit air dalam kendi, supaya aku minum." Ketika perempuan itu pergi mengambilnya, ia berseru lagi: "Cobalah ambil juga bagiku sepotong roti." Perempuan itu menjawab: "Demi TUHAN, Allahmu, yang hidup, sesungguhnya tidak ada roti padaku sedikit pun, kecuali segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli. Dan sekarang aku sedang mengumpulkan dua tiga potong kayu api, kemudian aku mau pulang dan mengolahnya bagiku dan bagi anakku, dan setelah kami memakannya, maka kami akan mati." Tetapi Elia berkata kepadanya: "Janganlah takut, pulanglah, buatlah seperti yang kaukatakan, tetapi buatlah lebih dahulu bagiku sepotong roti bundar kecil dari padanya, dan bawalah kepadaku, kemudian barulah kaubuat bagimu dan bagi anakmu. Sebab beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Tepung dalam tempayan itu tidak akan habis dan minyak dalam buli-buli itu pun tidak akan berkurang sampai pada waktu TUHAN memberi hujan ke atas muka bumi." Lalu pergilah perempuan itu dan berbuat seperti yang dikatakan Elia; maka perempuan itu dan dia serta anak perempuan itu mendapat makan beberapa waktu lamanya. Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurang seperti firman TUHAN yang diucapkan-Nya dengan perantaraan Elia.
Sesudah itu anak dari perempuan pemilik rumah itu jatuh sakit dan sakitnya itu sangat keras sampai tidak ada nafasnya lagi. Kata perempuan itu kepada Elia: "Apakah maksudmu datang ke mari, ya abdi Allah? Singgahkah engkau kepadaku untuk mengingatkan kesalahanku dan untuk menyebabkan anakku mati?" Kata Elia kepadanya: "Berikanlah anakmu itu kepadaku." Elia mengambilnya dari pangkuan perempuan itu dan membawanya naik ke kamarnya di atas, dan membaringkan anak itu di tempat tidurnya. Sesudah itu ia berseru kepada TUHAN, katanya: "Ya TUHAN, Allahku! Apakah Engkau menimpakan kemalangan ini atas janda ini juga, yang menerima aku sebagai penumpang, dengan membunuh anaknya?" Lalu ia mengunjurkan badannya di atas anak itu tiga kali, dan berseru kepada TUHAN, katanya: "Ya TUHAN, Allahku! Pulangkanlah kiranya nyawa anak ini ke dalam tubuhnya." TUHAN mendengarkan permintaan Elia itu, dan nyawa anak itu pulang ke dalam tubuhnya, sehingga ia hidup kembali. Elia mengambil anak itu; ia membawanya turun dari kamar atas ke dalam rumah dan memberikannya kepada ibunya. Kata Elia: "Ini anakmu, ia sudah hidup. Kemudian kata perempuan itu kepada Elia: "Sekarang aku tahu, bahwa engkau abdi Allah dan firman TUHAN yang kauucapkan itu adalah benar."
(1 Raja-Raja 17:7-24)

Cara Tuhan menyatakan hadirat-Nya:
1. Bisa pakai hamba Tuhan
2. Bisa pakai saudara seiman
3. Bisa pakai bukan saudara seiman/ siapa saja
4. Bisa pakai apa saja:
a. Bileam - keledai
b. Petrus - ayam berkokok
c. Anak yang hilang - babi
d. Yunus - ikan

Cara Memberi
Dengan memberi, kita menjadi malaikat Tuhan bagi orang lain
Waktu untuk memberi, tidak harus menjadi kaya dahulu.

Mujizat
Ada waktunya: ketika hujan muncul, mujizat berhenti.

Pertolongan Tuhan
Tepat pada waktunya, saat Elia datang tepung habis dan Elia datang saat anak janda mati.

Tuhan rindu menyatakan hadirat-Nya selalu. Mari jangan batasi hadirat-Nya.

Sunday, May 22, 2011

Mengatasi Kekecewaan

Pdt. Anthony Chang, S. Th, MA
Graha Bethany Nginden

Habakuk 1:1-3 ;
Habakuk 2:1;
Habakuk 3:17-19

Dalam kehidupan ini tentunya setiap orang pasti pernah merasakan akan rasa kecewa. Salah satu penyebab dari perasaan kecewa yaitu ketika seseorang mengalami ketidakpuasan dengan apa yang diterima atau yang dialaminya. Di dalam ayat bacaan diatas kita melihat bagaimana Habakuk mengalami rasa kecewa pada Tuhan sebab apa yang ia harapkan tidak sesuai dengan kenyataan yang ada; begitu pula dalam hidup ini.

Contoh, seseorang akan kecewa ketika mereka bekerja cukup keras namun hasilnya belum sesuai dengan apa yang ia harapkan. Atau mugkin orang tua yang mengalami rasa kecewa terhadap anaknya. Bahkan ketika seseorang tidak diterima dalam suatu kelompok maka kekecewaan itu akan muncul. Dan ketika rasa kecewa ini terus disimpan maka suatu saat akan dapat menyebabkan seseorang ingin balas dendam ataupun berdiam diri. Bahkan seseorang akan memiliki keinginan untuk bunuh diri ketika ia kecewa. Seperti dalam firman Tuhan yang menjelaskan mengenai kisah daripada Yunus yang kecewa karena bangsa Niniwe diselamatkan. Yunus menjadi kecewa, marah hingga ia ingin bunuh diri. Oleh sebab itu ketika kita mengalami kekecewaan sangat dibutuhkan bantuan dari orang lain untuk kita mencurahkan perasaan hati kita. Kekecewaan itu ibarat bom waktu yang waktu-waktu dapat meledak. Untuk mengatasi rasa kecewa setiap kita harus dapat menyadari bahwa dalam hidup ini untuk segala sesuatunya akan ada waktunya (Pengkhotbah 3:1-15).

Kita harus dapat memahami bahwa hidup ini selalu terdiri dari 2 sisi yang berbeda. Dimana dalam hidup tidak selamanya kita berada dalam keadaan yang baik, adakalanya kita mengalami hal yang buruk.Namun ketika kita mengalami keadaan yang tidak baik percayalah bahwa itu tidak akan selamanya kita alami, segala sesuatu ada waktunya pada saatnya kita akan mengalami kebaikkan Tuhan. Sebab itu setiap kita harus dapat belajar menerima keadaan yang terjadi. Ketika kita dapat memahami akan setiap situasi yang kita alami maka kita akan dapat bersukacita bahkan akan bersorak sorai di dalam Tuhan (Habakuk 3:18). Yang berikutnya sadarilah bahwa dalam segala sesuatu Allah turut bekerja untuk mendatangkan kebaikkan bagi kita. Ingatlah bahwa lewat proses yang kita alami suatu saat akan muncul sesuatu yang indah.

Ilustrasi seekor anak kerang didasar laut mengeluh pada ibunya karena sebutir pasir tajam memasuki tubuhnya. Tetapi dengan berjalanya sang waktu akhirnya dalam tubuh anak kerang tumbuhlah sebutir mutiara berharga dengan sempurna dari butiran pasir tajam yang telah membuat dia menahan sakit, menderita dan mencucurkan air mata.

Sunday, April 24, 2011

Kasih

Pdt. Anthony Chang

“Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi."1 Korintus 13:1, Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.... Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih".
(Matius 22:34-40)

Alkitab berkata ALLAH adalah KASIH tetapi jangan membalikkannya menjadi KASIH adalah ALLAH, sebab kedua kalimat itu sangat berbeda pengertiannya. Jangan sekalipun pernah mengubah, menambahkan dan mengurangi firman Tuhan dalam Alkitab, karena hal ini bisa menyesatkan.

Dalam kitab kejadian Allah berfirman, “Baiklah KITA menjadikan manusia menurut gambar dan rupa KITA....” (Kejadian 1:26-27). Dari hal ini terlihat bahwa Allah sangat mengasihi manusia lebih dari semua ciptaan sebab IA sendiri adalah kasih itu. Karena itu menjadi kewajiban kita sebagai ciptaan-Nya untuk tunduk dan mengasihi Allah dalam hidup kita.


Dalam kitab Matius 22: 34-40, ada tiga hal/faktor yang ditekankan berkenaan dengan kasih;

1.Mengasihi Allah (Loving God)
Mengasihi Allah berarti mempersembahkan segala aspek hidup kita; bekerja dengan baik, belajar dengan baik, menolong orang dengan rajin, melayani dengan baik, beribadah dengan rajin, dsb. Tetapi meskipun hal ini sudah kita lakukan, kalau kita tidak berhati-hati kita bisa melenceng dan menjadi “miskin kasih”.

Dalam sejarah gereja banyak hamba-hamba Tuhan dan orang kriten yang menjadi miskin kasih karena mereka tidak berhati-hati menjaga kasihnya. Dewasa inipun tidak sedikit media/majalah yang memuat berita mengenai skandal hamba Tuhan, korupsi hamba Tuhan, dsb. Bahkan dalam Alkitab sendiri menceritakan bahwa Yudas Iskariot adalah salah seorang dari murid Tuhan Yesus dan ia sudah lama mengikut dan melayani Tuhan tetapi, karena ia kurang berhati-hati, ia terjebak dalam dosa dan menghianati Tuhan Yesus. Lalu dimanakah kasihnya selama ini? mengapa gereja menjadi market untuk mencari penghasilan? Hal inilah yang perlu kita waspadai jangan sampai terjebak dalam situasi dan keadaan yang membuat kita tidak sadar telah meninggalkan kasih kepada Tuhan.

2.Mengasihi diri sendiri.
Berarti mencitai, merawat dan menghargai diri sendiri tetapi dalam cakupan yang tidak berlebihan. Seorang yang tidak menghargai dirinya tidak akan bisa mengalami keberhasilan dalam hidup. Biasanya hal ini akan terlihat dari sikapnya yang minder yang selalu tidak bisa bersyukur dengan apa yang dimilikinya. Seorang yang minder juga selalu suka membandingkan dirinya dengan orang lain dan tidak pernah merasa puas. Kalau kita tidak dapat mencintai diri sendiri mustahil kita dapat mencintai sesama kita dengan benar.

3.Mengasihi sesama (Loving People)
Sesama berarti isteri, suami, anak, keluarga dan orang lain. Mengasihi sesama seperti diri sendiri berarti memperlakukan orang lain dengan baik. Misalnya kalau kita memberikan bantuan kepada panti asuhan jangan memberikan sumbangan yang bekas yang sudah tidak kita pakai lagi (sisa), kita harus mengusahakan pakaian yang baru.


Dalam keluarga, suami harus harus mencintai isterinya, begitu juga sebaliknya isteri harus mencintai suami. Cinta dalam keluarga harus dipupuk dan dijaga dengan baik jika kita tidak mau adanya orang ketiga yang akan merusaknya. Karena itu Isteri harus melakukan tugas dan kewajibannya sebagi isteri yang baik dan suami melakukan tugasnya sebagai kepala rumah tangga yang baik supaya semuanya berjalan dengan baik dan hidup dalam kerukunan.

Begitupun setiap orang tua harus memberikan waktu yang terbaik untuk mencintai anak-anaknya. Berusaha mencukupi setiap kebutuhan secara jasmani tidak akan berarti sama sekali jika orang tua kurang memberikan waktunya untuk berkomunikasi dan memberikan perhatian yang lebih dengan anak.

Doa Tak Terkabulkan

Pdt. Anthony Chang

“Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri. Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku. Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.”
(2 Korintus 12:7-10)


Banyak kesaksian orang Kristen yang menyatakan bagaimana Tuhan hadir dan bekerja dengan nyata dalam kehidupan mereka. Namun, sering orang Kristen keliru dan menganggap Tuhan hanya “bekerja” melalui kejadian dan peristiwa yang dianggap “dahsyat” saja.
Namun apakah harus selalu melalui peristiwa besar dan spektakuler baru kita merasakan bahwa Tuhan itu hadir dan bekerja di dalam hidup kita? Apakah tidak bisa kita menyaksikan kebaikan Tuhan melalui peristiwa-peristiwa kecil, biasa dan sederhana yang kita alami dalam kehidupan sehari-hari?

Kalau kita tidak bisa menyaksikan kebaikan Tuhan dalam hal sederhana dan yang biasa, itu menunjukkan bahwa kita tidak peka lagi, ada masalah dengan kerohanian kita.
Sebaliknya, kalau kerohanian peka, kita bisa rasakan dan lihat bahwa Tuhan itu baik di dalam peristiwa apa pun. Kita bisa rasakan dan sadari bagaimana Tuhan memberikan nafas hidup hari ini, memberikan angota-anggota tubuh yang letaknya dan susunannya tepat, memelihara anak-anak kita hingga tumbuh menjadi dewasa. Kalau kita bisa merasakan dan menyadari kebaikan Tuhan dalam hal-hal seperti itu, berarti kerohanian kita masih baik dan peka.

Dalam ayat diatas, “duri dalam daging” adalah sesuatu yang menyesakkan dan menyulitkan kehidupan Paulus. Dan Paulus berdoa agar itu dicabut, tetapi Tuhan tidak mengabulkannya.

Ada hal-hal yang harus kita ketahui tentang doa, yaitu:
1.Doa pasti selalu didengar Tuhan
2.Doa pasti selalu dijawab Tuhan,
3.Isi jawaban Tuhan:
- Dikabulkan
- Belum dikabulkan
- Tidak dikabulkan, seperti yang dialami Paulus.


Kita harus bersyukur bahwa Tuhan tidak selalu mengabulkan semua doa-doa kita. Mengapa? Sebab sebagai manusia kita pasti dapat salah berdoa. Tuhan tahu hal ini dan Tuhan tidak mau kita menempuh bahaya akibat “keinginan” dan doa kita yang keliru.

Kalau Tuhan tidak mengabulkan doa kita, itu adalah suatu bentuk keperdulian Tuhan kepada kita. Janganlah kita “ngambek” dan bersungut-sungut kalau tidak dikabulkan. Jangan sampai salah mengerti dan menyalahkan Tuhan. Kalau kita bersikap seperti ini, hal itu menunjukkan bahwa kita masih “anak kecil”. Meskipun tidak dikabulkan, kita seharusnya tidak kecewa. Itu tidak berguna. Sebab selalu ada jalan keluar yang lain.
Yang penting adalah bagaimana kita meresponi doa-doa yang tidak terkabulkan itu. Justru “pada saat aku lemah maka aku kuat”, kata Paulus. Artinya Paulus tidak kecil hati. Paulus tetap semangat dan tidak menyalahkan Tuhan.

Selalu ada bagian di dalam kehidupan ini yang tidak memuaskan kita, namun apakah kita sanggup melihat bahwa selalu ada tangan Tuhan didalam semua itu?

Jangan Kuatir

Pdt. Anthony Chang

"Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari."
(Matius 6:25-34)


Setelah mendengar kebenaran firman ini tidak berarti mengajarkan kepada kita agar “jangan kuatir” seumur hidup. Bukan berarti kita tidak boleh kuatir lagi. Mengapa kita kuatir dan kapan kita kuatir? Itu disebabkan oleh karena ada masalah yang muncul. Kita tidak bisa menghindar, masalah pasti akan datang. Namun, ada hal yang mengajarkan kepada kita bahwa kalau rasa kuatir itu datang, maka kita akan melihat bagaimana Tuhan memakai rasa kuatir itu untuk membentuk kita.

Ketika kebenaran firman Tuhan bertemu dengan kenyataan kehidupan kita sehari-hari, maka sering muncul pemikiran seperti ini: kalau Tuhan mengasihi aku, mengapa saya mengalami hal yang seperti ini? Kalau Tuhan memelihara, mengapa terjadi kecelakaan seperti ini? Seringkali kenyataan hidup tidak cocok dengan apa yang dikatakan firman Tuhan. Mengapa? Karena ketidakmampuan pikiran kita untuk menjembatani realita/kenyataan kehidupan dengan apa yang dikatakan oleh firman Tuhan.

Ayat firman diatas mengatakan agar “jangan kuatir”. Itu artinya bahwa dalam hidup ini kita pasti akan mengalami kekuatiran. Semua orang, siapapun itu: kaya, miskin, rakyat atau pun pemimpin. Yesus berkata agar “jangan kuatir”. Apa saja bentuk kekuatiran itu? Bermacam-macam, setiap orang memiliki rasa kuatir yang berbeda-beda. Misalnya kuatir tentang anak, tentang pasangan, tentang kesehatan, tentang penghasilan.

Penyebab kekuatiran itu muncul dari cara kita berdoa.
Jangan berdoa untuk apa yang kita ingini. Sebab kita tidak mampu menguasai hati kita.
Hati kita tidak pernah puas. Menginginkan yang lebih cantik, menginginkan yang lebih mahal, menginginkan merek yang lebih baru, menginginkan yang lebih besar. Pokoknya menginginkan yang lebih. Mengapa begitu? Karena hati kita, karena gengsi, karena tidak mau orang lain melebihi kita.

Sebab itu, berdoalah untuk apa yang kita butuhkan: “berikanlah kepada kami makanan kami yang secukupnya”. Ketahuilah bahwa “keinginan” dan “kebutuhan” itu berbeda.
Bagaimana cara mengatasinya? Lihat ayat: “Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari."

Ayat itu mengatakan kepada kita: “kalau kuatir jangan berlama-lama”. Yang belum terjadi jangan dikuatirkan. Jangan memikirkan hal-hal 5 bulan di depan. Kita tidak tahu apa yang ada di masa depan, sebab masa depan itu ada di dalam kuasa Tuhan.

“Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari". Tuhan mau mengajarkan kepada kita untuk selalu bergantung kepada Tuhan. Sebab itu jalanilah kehidupan ini, lakukanlah bagian dan tanggung jawab kita, dan berikan kepada Tuhan apa yang menjadi bagian Tuhan. Kita tidak bisa “merangkul” apa yang ada di depan kita

Amin?

Dekat Dengan Tuhan

Pdt. Anthony Chang
Graha Bethany Nginden


Apakah kita pernah mengalami jenuh rohani? Mungkin kita sudah berdoa, puasa, melayani tetapi jawaban persoalan masih belum kunjung tiba. Mungkin juga kita pernah malas dalam doa dan merasa jenuh. Apalagi kita yang ada dalam lingkungan gereja kita merasa jenuh karena banyak persoalan yang belum dijawab.

Suatu ketika Yesus singgah di rumah Maria dan Marta. Dimana Marta sangat sibuk melayani, sedangkan Maria memilih untuk duduk di bawah kaki Tuhan dan mendengarkan apa yang Tuhan katakan. Kemudia Marta berkata kepada Tuhan agar Maria membantu dirinya tetapi Tuhan mengatakan bahwa ia terlalu sibuk melayani tetapi Maria telah mengambil bagian yang terbaik. Apakah dalam hal ini Marta salah? Dalam hidup ini ada tiga hal yang perlu kita pisahkan supaya kita tidak mengalami rasa jenuh rohani yaitu diri kita, masalah dan Tuhan.

Saat kita tidak dapat membedakan maka kita akan mengalami kejenuhan. Dalam perjalanan hidup kita bersama Tuhan, kerohanian kita akan bertumbuh lewat semua persoalan. Kalau tidak ada persoalan kita akan sulit bergaul dengan Tuhan karena tidak ada medianya. Dalam pergaulan dengan Tuhan muncul tiga aspek yang sangat besar yang ada dalam hidup orang percaya, diantaranya :

Pertama : Saat kita berdoa dan meminta sesuatu, Tuhan mengabulkan permintaan kita. Atau dengan kata lain apa yang kita inginkan Tuhan memberikan sesuai dengan keinginan kita. Kesaksian: di Jakarta saya (Pdt. Anthony Chang) sedang membangun satu lembaga Anthony Chang Ministry Internasional melewati banyak negara lewat radio, televisi. Saya mempunyai tanah yang besar, dan pintu gerbangnya sepanjang 15 meter di pakai untuk berjualan oleh tukang loak selama 25 tahun. Dan setelah saya bertanya ke kecamatan itu saya harus membayar 50 juta, belum termasuk memberikan kepada tukang loak yang ada.

Jadi saya harus memberikan uang 50 juta lebih. Saya berdoa kepada Tuhan; kalau memang Tuhan menghendaki saya membuka pelayanan yang besar, kiranya Tuhan membuka jalan. Setelah saya berdoa 3 bulan, para pedagang dan tukang loak sudah tidak ada lagi, trotoar menjadi bersih karena mereka terkena program pemerintah. Dan saya langsung membuat pagar Contoh lain mungkin kita membutuhkan uang untuk kuliah anak kita, kemudian tepat pada saatnya Tuhan memberikanNya. Dan hal ini membuat kita semakin dekat dengan Tuhan. Dan kerohanian iman kita akan bertumbuh.

Kedua : Dalam hidup ini apa yang kita iginkan namun Tuhan tidak menyetujui. Misalnya kita sudah menikah 4 tahun dan meminta anak tetapi Tuhan belum memberikannya. Atau kita berdoa untuk orang sakit namun belum sembuh juga. Ingatlah bahwa Tuhan sanggup menyembuhkan segala penyakit kita. Dalam Firman Tuhan diceritakan bahwa di samping kolam Betesda ada banyak orang sakit, dimana kalau airnya bergelombang, banyak orang yang turun ke sana dan sembuh. Sedangkan ada orang yang 38 tahun mengalami lumpuh tidak bisa turun ke kolam namun memohon kepada Tuhan dan akhirnya disembuhkan oleh Tuhan. Lalu mengapa Tuhan tidak menyembuhkan semua? Disini kita belajar bahwa Allah itu besar melampaui pikiran kita, Allah itu lebih tahu apa yang kita butuhkan. Prinsip disini adalah Tuhan pasti selalu memberikan yang terbaik. Untuk itu, seharusnya kita melihat kebesaran Tuhan dibalik masalah kita agar kita dapat melihat sesuatu yang besar.

Ketiga : Apa yang Tuhan inginkan bagi kita, kita tidak inginkan. Contoh saat Yunus disuruh ke Niniwe namun ia lari ke Tarsis karena ia tidak mau. Sampai akhirnya Yunus di telan ikan besar.

Ketiga aspek ini harus kita miliki agar kita tidak mengalami jenuh rohani, kalau tidak maka kita akan selalu menangis. Saat Marta sibuk, sebenarnya ia kehilangan sumber yaitu relasi dengan Tuhan. Kalau diri kita selalu dekat dengan sumbernya maka kita akan menjadi kuat. Setelah itu baru kita melihat permasalahan kita. Tapi kalau tidak dekat dengan sumber maka kita akan mengalami jenuh rohani. Misalnya : saat malam hari kita menaikkan doa dan membaca firman maka disitulah kita sedang belajar mendekatkan diri dengan Tuhan. Untuk itu yang pertama jadilah seperti Maria yang selalu dekat dengan Tuhan. Lalu yang kedua sibuklah seperti Marta. Hubungan dengan Tuhan akan membuat hidup kita berbeda. Dalam hidup ini kita harus menyadari bahwa kadang-kadang masalah tidak selalu selesai namun disana Tuhan selalu bekerja. Dan disaat situasi tidak baik justru disana kedekatan kita dengan Tuhan membuat kita kuat.