Pdt. Riza Solichin
“Ketika perempuan itu terus-menerus berdoa di hadapan TUHAN, maka Eli mengamat-amati mulut perempuan itu; dan karena Hana berkata-kata dalam hatinya dan hanya bibirnya saja bergerak-gerak, tetapi suaranya tidak kedengaran, maka Eli menyangka perempuan itu mabuk. Lalu kata Eli kepadanya: "Berapa lama lagi engkau berlaku sebagai orang mabuk? Lepaskanlah dirimu dari pada mabukmu." Tetapi Hana menjawab: "Bukan, tuanku, aku seorang perempuan yang sangat bersusah hati; anggur ataupun minuman yang memabukkan tidak kuminum, melainkan aku mencurahkan isi hatiku di hadapan TUHAN.”
(1 Samuel 1:12)
Di dalam setiap masalah dan peristiwa yang terjadi dalam hidup kita Tuhan selalu memberikan pesan kepada kita yang berisi tuntunan dan arahan untuk menjalani hidup sebagai anak Allah. Untuk dapat menangkap pesan itu dengan baik, dibutuhkan hati yang sensitif terhadap sinyal kerajaan Sorga.
Takut akan Tuhan menurut teks Yunaninya dapat diartikan sebagai; “tremble, alert” yang artinya “alarm, tanda bahaya” Kalau getaran Allah ini dapat kita tangkap dengan baik maka hidup kita akan berjalan dalam tuntunan Allah, sehingga segala tindakanpun akan bersesuaian dengan kehendak-Nya.
Ketika terjadi arus kemacetan lalu lintas, orang yang berada dilantai tertinggi sebuah gedung dengan orang yang berada di lantai bawah akan berbeda dalam mengetahui informasi tetantang situasi arus lalu lintas. Biasanya orang yang berada dilantai tertingi yang akan lebih mudah memantau kemacetan sehingga mengetahui kapan ia harus menagadakan perjalan tanpa mengalami kemacetan. Demikian juga hidup kita semakin tinggi tingkat hubungan kita dengan Tuhan semakin tinggi pula kesanggupan kita mengantisipasi masalah yang ada dihadapan kita.
Alkitab berkata bahwa dunia di akhir jaman ini sudah semakin rusak, artinya masalah yang kita hadapi akan semakin kompleks karensa itu kita harus lebih sensitif dengan Allah.
Alkitab berkata Hana sedang mencurahkan isi hatinya dihadapan Tuhan oleh karena banyaknya masalah dan tekanan yang terjadi atas hidupnya, namun Imam Eli tidak bisa melihat hal ini dan justru ia berpikir bahwa Hana sedang mabuk anggur. Kalau kita tidak memiliki sensifitas kepada Tuhan, maka kita pasti akan kesulitan untuk mengenali/membedakan suara Tuhan sehingga langkah hidup kita akan menuju kepada kebinasaan.
Suatukali dalam kitab Injil diceritakan bahwa murid-murid Yesus pernah kehilangan rasa sensitif kepada Tuhan, akibatnya ketika Yesus datang menghampiri mereka, murid-murid tidak mengenali-Nya, bahkan mengira Yesus sebagai Hantu (Baca: Matius 14:22)
Bagaimana supaya kita memiliki rasa sensitif kepada Tuhan? Kuncinya ada dalam Yesaya 50:4 “Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid.”
Kalau kita rajin melakukan doa fajar, maka hati kita akan semakin peka kepada Tuhan, dan ketika Ia berbicara kita dapat menangkap dan mengenalinya dengan baik. Kalau hal ini kita alami maka keluarga, pelayaan, pekerjaan dan bahkan di semua aspek hidup kita akan terjadi “multiplikasi dan promosi dari Tuhan. Hal ini terjadi karena kita mendengar dan mau melakukan perintah-Nya yang disampaikan kepada kita.
Mengapa Tuhan setelah hari kebangkitan-Nya, Yesus pertama sekali hanya menampakkan diri kepada Maria dan bukan kepada murid-murid lainnya terlebih dahulu? Kuncinya adalah karena Maria bangun pagi-pagi sekali untuk pergi kekuburan Yesus, artinya Maria punya kebiasaan bangun pagi karena dirinya begitu rindu untuk selalu berjumpa dengan Tuhan (Baca: Yohanes 20:1-12; Markus 16:9). Kebiasaan Maria perlu menjadi teladan bagi kita dalam membangun mezbah bagi Tuhan melalui doa fajar.
“ Mari Bangun kepekaan kita dengan selalu membangun mezbah bagi Tuhan melalu doa fajar sebab bukan hanya Maria Yesus juga selalu melakukan hal ini (Markus 1:35; Lukas 21:38; Yohanes 8:2)”
TUHAN menambahi kita seribu kali lagi dari jumlah sekarang & memberkati seperti yang dijanjikan-Nya
Kebangkitan Besar
Showing posts with label Pdt.Riza Solichin. Show all posts
Showing posts with label Pdt.Riza Solichin. Show all posts
Sunday, April 24, 2011
Mekanisme Kerajaan Allah
Pdt. Riza Solichin
Ayat Bacaaan: Ayub 28:1-27
Seringkali dalam hidup ini kita diperhadapkan dengan perkara-perkara yang kontradiktif sehingga hal ini seringkali menjadi alasan utama orang meninggalkan Tuhan. Semua ini bisa terjadi karena manusia tidak menemukan hikmat Tuhan dalam hidupnya. Merupakan suatu problema yang serius, jika dalam diri kita tidak menemukan hikmat Tuhan.
Seringkali keluarga, pelayanan dan karir kita mengalami masalah yang serius dikarenakan oleh sudut pandang kita yang berbeda/salah dalam memandang suatu masalah. Kita harus berusaha menemukan hikmat itu dalam hidup kita supaya kita dapat memiliki sudut pandang yang bersesuaian dengan kehendak-Nya.
Ketika terjadi arus kemacetan lalu lintas, orang yang berada dilantai tertinggi sebuah gedung dengan orang yang berada di lantai bawah akan berbeda dalam mengetahui informasi tentang situasi arus lalu lintas. Biasanya orang yang berada dilantai tertingi yang akan lebih mudah memantau kemacetan sehingga mengetahui kapan ia harus mengadakan perjalanan tanpa mengalami kemacetan. Pada kedua orang itu terdapat dua sudut pandang yang berbeda karena perbedaan tingkat dan informasi yang diterima. Orang yang berada di tingkat paling tinggi pasti akan dapat mengambil keputusan untuk bertindak dengan baik. Semakin tinggi tingkat keintiman kita dengan Tuhan, maka semakin kita cakap dalam mengambil keputusan dalam hidup.
Ayub 28:28 “tetapi kepada manusia Ia berfirman: Sesungguhnya, takut akan Tuhan, itulah hikmat, dan menjauhi kejahatan itulah akal budi."
Ada 3 jenis kata tentang Tuhan dalam Alkitab; “Elohim”, ”Jehovah” dan “Adonay”. Kata Tuhan dalam kitab Ayub di atas dipakai kata “Adonay” artinya “the owner” (pemilik segala sesuatu). Karena Tuhan itu pemilik segala sesuatu, maka kita orang percaya adalah “stewardship” (penatalayan berkat). Sebab itu jangan berpikir bahwa apa yang kita miliki saat ini adalah aset pribadi kita, ini merupakan kesombongan di hadapan Tuhan (Lukas 12:13-21). Semua berkat dalam hidup kita adalah kepunyaan Tuhan yang dipercayakan kepada kita untuk kita kelola sebagai stewardship (penatalayanan). Karena itu segala yang kita miliki harus kita pakai untuk kemulian Tuhan.
Simson memiliki kekuatan yang luarbiasa bukan karena usahanya tetapi datang dengan sendirinya karena Anugrah dari Tuhan. Tuhan menghendaki Simson dapat berdiri sebagai hakim atas umat Israel. Namun kekuatan dalam diri Simson tidak bertahan lama karena ia tidak taat kepada Tuhan, ia mengira bahwa kekuatannya itu berasal dari dirinya sendiri sehingga ia merasa sombong dan bahkan memilih pasangan hidup yang berasal dari orang kafir (filistin). Hal ini lah yang membuat ia mengalami kegagalan dalam hidupnya (Baca:Hakim-hakim 16:1:31).
Kalau kita mengalami masalahyang di ijinkan Tuhan terjadi, tetap bersyukur! Tuhan punya maksud bagi kita. Ayub kehilangan semua yang berharga dalam hidupnya tetapi ia tidak lari dari Tuhan. Ayub tahu bersyukur kepada Tuhan, ia berkata: "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!" (Ayub 2:21)
“Milikilah cara pandang yang berbeda dalam menilai dan melihat segala sesuatu dengan cara pandang Tuhan, maka multiplikasi dan promosi itu akan menjadi bagian kita sebagai orang percaya
Ayat Bacaaan: Ayub 28:1-27
Seringkali dalam hidup ini kita diperhadapkan dengan perkara-perkara yang kontradiktif sehingga hal ini seringkali menjadi alasan utama orang meninggalkan Tuhan. Semua ini bisa terjadi karena manusia tidak menemukan hikmat Tuhan dalam hidupnya. Merupakan suatu problema yang serius, jika dalam diri kita tidak menemukan hikmat Tuhan.
Seringkali keluarga, pelayanan dan karir kita mengalami masalah yang serius dikarenakan oleh sudut pandang kita yang berbeda/salah dalam memandang suatu masalah. Kita harus berusaha menemukan hikmat itu dalam hidup kita supaya kita dapat memiliki sudut pandang yang bersesuaian dengan kehendak-Nya.
Ketika terjadi arus kemacetan lalu lintas, orang yang berada dilantai tertinggi sebuah gedung dengan orang yang berada di lantai bawah akan berbeda dalam mengetahui informasi tentang situasi arus lalu lintas. Biasanya orang yang berada dilantai tertingi yang akan lebih mudah memantau kemacetan sehingga mengetahui kapan ia harus mengadakan perjalanan tanpa mengalami kemacetan. Pada kedua orang itu terdapat dua sudut pandang yang berbeda karena perbedaan tingkat dan informasi yang diterima. Orang yang berada di tingkat paling tinggi pasti akan dapat mengambil keputusan untuk bertindak dengan baik. Semakin tinggi tingkat keintiman kita dengan Tuhan, maka semakin kita cakap dalam mengambil keputusan dalam hidup.
Ayub 28:28 “tetapi kepada manusia Ia berfirman: Sesungguhnya, takut akan Tuhan, itulah hikmat, dan menjauhi kejahatan itulah akal budi."
Ada 3 jenis kata tentang Tuhan dalam Alkitab; “Elohim”, ”Jehovah” dan “Adonay”. Kata Tuhan dalam kitab Ayub di atas dipakai kata “Adonay” artinya “the owner” (pemilik segala sesuatu). Karena Tuhan itu pemilik segala sesuatu, maka kita orang percaya adalah “stewardship” (penatalayan berkat). Sebab itu jangan berpikir bahwa apa yang kita miliki saat ini adalah aset pribadi kita, ini merupakan kesombongan di hadapan Tuhan (Lukas 12:13-21). Semua berkat dalam hidup kita adalah kepunyaan Tuhan yang dipercayakan kepada kita untuk kita kelola sebagai stewardship (penatalayanan). Karena itu segala yang kita miliki harus kita pakai untuk kemulian Tuhan.
Simson memiliki kekuatan yang luarbiasa bukan karena usahanya tetapi datang dengan sendirinya karena Anugrah dari Tuhan. Tuhan menghendaki Simson dapat berdiri sebagai hakim atas umat Israel. Namun kekuatan dalam diri Simson tidak bertahan lama karena ia tidak taat kepada Tuhan, ia mengira bahwa kekuatannya itu berasal dari dirinya sendiri sehingga ia merasa sombong dan bahkan memilih pasangan hidup yang berasal dari orang kafir (filistin). Hal ini lah yang membuat ia mengalami kegagalan dalam hidupnya (Baca:Hakim-hakim 16:1:31).
Kalau kita mengalami masalahyang di ijinkan Tuhan terjadi, tetap bersyukur! Tuhan punya maksud bagi kita. Ayub kehilangan semua yang berharga dalam hidupnya tetapi ia tidak lari dari Tuhan. Ayub tahu bersyukur kepada Tuhan, ia berkata: "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!" (Ayub 2:21)
“Milikilah cara pandang yang berbeda dalam menilai dan melihat segala sesuatu dengan cara pandang Tuhan, maka multiplikasi dan promosi itu akan menjadi bagian kita sebagai orang percaya
The Kingdom Flow
Pdt.Riza Solichin
“Ketika Yesus memulai pekerjaan-Nya, Ia berumur kira-kira tiga puluh tahun dan menurut anggapan orang, Ia adalah anak Yusuf, anak Eli.”
(Lukas 3:23)
Kalau kita perhatikan kitab Lukas dengan seksama, penulisan silsilah Yesus urut-urutannya dimulai dari bawah ke atas (Yusuf s/d Adam). Sangat berdeda sekali dengan kitab Matius yang mencatat urut-urutannya dari atas ke bawah (Abraham s/d Yusuf). Dalam Lukas 3:23 terdapat kalimat “menurut anggapan orang” pendapat ini berasal dari paradigma manusia. Berbeda sekali dengan yang dicatat dalam Matius 1:1-25. Kitab Matius banyak sekali mengajarkan tentang kerajaan Allah. Urut-urutan pencatatan silsislah dicatat bukan menurut paradigma “apa kata orang” tetapi menurut paradigma Allah.
Dari perbandingan urutan silsilah di kedua kitab itu, dapat kita tarik suatu pelajaran penting bahwa segala sesuatu berasal dari atas (Bapa) turun kepada umat-Nya dan inilah bentuk yang benar dari alur kerajaan sorga. Jangan pernah berpikir bahwa berkat yang kita terima itu berasal dari diri kita sendiri kemudian kita persembahkan untuk kemuliaan Allah. Yang benar adalah anugrah, mujizat dan segala berkat yang kita terima saat ini berasal dari Bapa sebagai sumber dari segala sesuatu.
Ketika terjadi arus kemacetan lalu lintas, orang yang berada dilantai tertinggi sebuah gedung dengan orang yang berada di lantai bawah akan berbeda dalam mengetahui informasi tetantang situasi arus lalu lintas. Biasanya orang yang berada dilantai tertingi yang akan lebih mudah memantau kemacetan sehingga mengetahui kapan ia harus mengadakan perjalan tanpa mengalami kemacetan. Demikian juga hidup kita kalau memakai paradigma Allah (yang berasal dari tempat tinggi) kita pasti berhasil mengatasi masalah dan tangtangan yang terjadi dalam hidup kita (band. Yeremia 17:5).
Mengapa di kota Nazaret Yesus tidak mengadakan mujizat? Para Ahli Alkitab berpendapat bahwa hal ini terjadi karena mereka menolak Yesus (Yohanes 4:44). Pendapat ini memang benar, tetapi ada hal lain yang lebih penting lagi kita ketahui yaitu karena orang-orang Nazaret memakai paradigma “apa kata orang” (Matius 13:53-58; Lukas 3:23).
Anak muda yang kaya yang dicerutakan dalam kitab Matius pasal 19:16-30 mengalami kegagalan dalam mengikut Yesus. Kagagalan hidup itu dialaminya karena anak muda itu tidak mau mengubah paradigma berpikirnya sesuai dengan paradigma Allah. Jangan sampai kita tidak mau mengubah paradigma kita hanya oleh karena harta/materi yang kita miliki. Ingatlah bahwa semua yang kita miliki adalah anugrah Allah yang diberikan kepada kita secara cuma-cuma dan harus kita pakai hanya untuk kemulian nama-Nya saja.
Zakheus tidak memiliki usaha sama sekali untuk mengajak Yesus untuk makan dirumahnya, semua itu datang dari kehendak Yesus sendiri (anugrah). Ketika Zakheus melihat bahwa Yesus sedang mengajar di tengah-tengah orang banyak, ia rela naik ke atas pohon karena ia ingin melihat Yesus dan mendengar pengajaran-Nya. Ia tidak pernah berpikir mengajak Yesus makan dirumahnya karena memang hal ini sangat dilarang dalam hukum Yahudi (Lukas 15:12). Kemudian setelah mendengar pengajaran itu paradigma Zakheus berubah sehingga ia tidak terfokus kepada harta lagi dan bahkan hidupnyapun dipulihkan oleh Tuhan.
“Mari kita tinggalkan sesuatu yang lama dan beralih kepada sesuatu yang baru, supaya kita senantiasa dibaharui dalam roh dan pikiran"
“Ketika Yesus memulai pekerjaan-Nya, Ia berumur kira-kira tiga puluh tahun dan menurut anggapan orang, Ia adalah anak Yusuf, anak Eli.”
(Lukas 3:23)
Kalau kita perhatikan kitab Lukas dengan seksama, penulisan silsilah Yesus urut-urutannya dimulai dari bawah ke atas (Yusuf s/d Adam). Sangat berdeda sekali dengan kitab Matius yang mencatat urut-urutannya dari atas ke bawah (Abraham s/d Yusuf). Dalam Lukas 3:23 terdapat kalimat “menurut anggapan orang” pendapat ini berasal dari paradigma manusia. Berbeda sekali dengan yang dicatat dalam Matius 1:1-25. Kitab Matius banyak sekali mengajarkan tentang kerajaan Allah. Urut-urutan pencatatan silsislah dicatat bukan menurut paradigma “apa kata orang” tetapi menurut paradigma Allah.
Dari perbandingan urutan silsilah di kedua kitab itu, dapat kita tarik suatu pelajaran penting bahwa segala sesuatu berasal dari atas (Bapa) turun kepada umat-Nya dan inilah bentuk yang benar dari alur kerajaan sorga. Jangan pernah berpikir bahwa berkat yang kita terima itu berasal dari diri kita sendiri kemudian kita persembahkan untuk kemuliaan Allah. Yang benar adalah anugrah, mujizat dan segala berkat yang kita terima saat ini berasal dari Bapa sebagai sumber dari segala sesuatu.
Ketika terjadi arus kemacetan lalu lintas, orang yang berada dilantai tertinggi sebuah gedung dengan orang yang berada di lantai bawah akan berbeda dalam mengetahui informasi tetantang situasi arus lalu lintas. Biasanya orang yang berada dilantai tertingi yang akan lebih mudah memantau kemacetan sehingga mengetahui kapan ia harus mengadakan perjalan tanpa mengalami kemacetan. Demikian juga hidup kita kalau memakai paradigma Allah (yang berasal dari tempat tinggi) kita pasti berhasil mengatasi masalah dan tangtangan yang terjadi dalam hidup kita (band. Yeremia 17:5).
Mengapa di kota Nazaret Yesus tidak mengadakan mujizat? Para Ahli Alkitab berpendapat bahwa hal ini terjadi karena mereka menolak Yesus (Yohanes 4:44). Pendapat ini memang benar, tetapi ada hal lain yang lebih penting lagi kita ketahui yaitu karena orang-orang Nazaret memakai paradigma “apa kata orang” (Matius 13:53-58; Lukas 3:23).
Anak muda yang kaya yang dicerutakan dalam kitab Matius pasal 19:16-30 mengalami kegagalan dalam mengikut Yesus. Kagagalan hidup itu dialaminya karena anak muda itu tidak mau mengubah paradigma berpikirnya sesuai dengan paradigma Allah. Jangan sampai kita tidak mau mengubah paradigma kita hanya oleh karena harta/materi yang kita miliki. Ingatlah bahwa semua yang kita miliki adalah anugrah Allah yang diberikan kepada kita secara cuma-cuma dan harus kita pakai hanya untuk kemulian nama-Nya saja.
Zakheus tidak memiliki usaha sama sekali untuk mengajak Yesus untuk makan dirumahnya, semua itu datang dari kehendak Yesus sendiri (anugrah). Ketika Zakheus melihat bahwa Yesus sedang mengajar di tengah-tengah orang banyak, ia rela naik ke atas pohon karena ia ingin melihat Yesus dan mendengar pengajaran-Nya. Ia tidak pernah berpikir mengajak Yesus makan dirumahnya karena memang hal ini sangat dilarang dalam hukum Yahudi (Lukas 15:12). Kemudian setelah mendengar pengajaran itu paradigma Zakheus berubah sehingga ia tidak terfokus kepada harta lagi dan bahkan hidupnyapun dipulihkan oleh Tuhan.
“Mari kita tinggalkan sesuatu yang lama dan beralih kepada sesuatu yang baru, supaya kita senantiasa dibaharui dalam roh dan pikiran"
Subscribe to:
Posts (Atom)