TUHAN menambahi kita seribu kali lagi dari jumlah sekarang & memberkati seperti yang dijanjikan-Nya
Kebangkitan Besar
Sunday, March 27, 2016
Friday, August 30, 2013
Hasrat Dan Perwujudan Kasih Tuhan
|
Pdt. Abraham Alex Tanuseputra
Ayat bacaan di atas merupakan salah satu ayat yang sering kita baca,
atau bahkan kita sudah hafal. Namun sesungguhnya dari situlah kita dapat
mengetahui tentang hasrat dan perwujudan Allah yang sempurna. Karena
pada ayat tersebut telah ditulis, dimana untuk mewujudkan hasrat dari
pada Allah telah diberikan putraNya yang tunggal yaitu Yesus Kristus.“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3:16 Dan di dalam hasrat Allah yang sudah diwujudkan telah terdapat 7 (tujuh) hal penting, yang pertama adalah kelahiranNya, kemudian yang kedua adalah pelayananNya, ketiga adalah kematianNya dan yang keempat adalah kebangkitanNya. Selanjutnya yang kelima adalah kenaikanNya ke surga, lalu yang keenam adalah pencurahan Roh Kudus dan yang terakhir (ketujuh) adalah kedatanganNya untuk yang kedua kalinya. Dari ketujuh hal ini disebut dengan Injil sepenuh. Dan Injil sepenuh ini harus diberitakan kepada setiap orang termasuk kepada mereka yang bukan Yahudi, seperti surat Paulus kedua yang ditujukan kepada Timotius, katanya : “Tuhan telah mendampingi aku dan menguatkan aku, supaya dengan perantaraanku Injil diberitakan dengan sepenuhnya dan semua orang bukan Yahudi mendengarkannya” (II Timotius 4:17). Oleh sebab itu sampai saat ini Injil terus diberitakan ke seluruh dunia, walaupun mengalami berbagai tantangan dan hambatan, tetapi misi Tuhan tidak pernah terhenti karena di dalam Injil ada kuasa. Dalam ayat lain juga disebutkan bahwa Injil adalah kekuatan Allah (Roma 1:16). Selanjutnya, apabila Injil sudah diberitakan ke seluruh dunia maka akan tiba kesudahannya (Matius 24:14). Oleh sebab itu berbahagialah setiap kita yang percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan raja, karena kita masuk dalam hitungan yang diselamatkan. Karena masih berjuta-juta jiwa yang masih belum menerima Injil atau belum mengerti tentang Injil. Saudara, selama Yesus melakukan tugasNya di bumi, yaitu menyampaikan kabar keselamatan, Ia juga melakukan berbagai macam mujizat, dintaranya menyembuhkan setiap yang sakit; baik itu lumpuh dapat berjalan, buta dapat melihat, tuli dapat mendengar, kusta menjadi tahir, mengubah air menjadi anggur dan banyak mujizat yang lainnya, termasuk membangkitkan orang mati. Selain Yesus mengadakan mujizat Ia juga memberikan pengampunan terhadap mereka yang berdosa. Terlebih itu, Yesus tidak hanya memberikan pengampunan saja, tetapi Ia juga menebus kita dari kutuk dosa dengan memberikan nyawaNya sebagai ganti tebusan. Memang, untuk dapat memahami hasrat Tuhan terhadap umat manusia itu tidak mudah, karena kebanyakan bertolak belakang dengan rasio kita atau tidak masuk akal. Oleh karena itu marilah kita belajar dari kisah yang ada di Betania tentang pribadi yang mengerti hasrat Tuhan. Dalam kisah tersebut diceritakan bahwa ada dua orang (kakak beradik) yaitu Maria dan Marta (Lukas 10:38-42). Mereka sudah mengenal Yesus, dan kedua-duanya sudah mengenal Yesus, bahkan keduanya pernah ditolong Tuhan, melihat mujizat Tuhan dan mengaku bahwa Yesus adalah Mesias; seperti murid-murid Yesus yang lainnya. Maria dan Marta menjadi perhatian Tuhan, tetapi dari keduanya hanya Maria yang mengerti hasrat Tuhan. Marta seorang yang mengasihi Tuhan, tetapi Maria mengetahui tentang kasih Tuhan. Maria memperhatikan dengan cermat dan teliti mengenai apa yang telah diajarkan oleh Yesus tentang bagaimana saatnya nanti Yesus akan disalibkan, mati, dikuburkan dan pada hari yang ketiga Ia akan bangkit. Dalam peristiwa yang lain juga diceritakan bagaimana Maria melakukan suatu tindakan untuk meresponi hasrat daripada Tuhan. Yaitu ketika Yesus berada di Betania, di rumah Simon si kusta, Maria datang dengan membawa buli-buli pualam yang berisi minyak narwastu yang harganya mahal, lalu ia mencurahkan ke atas kepala Yesus dan meminyaki kaki Yesus, kemudian ia menyekanya dengan rambutnya (Matius 26:6-13). Setelah Maria melakukan hal tersebut, bagaimanakah respon murid-muridNya ?. Mereka gusar terhadap apa yang dilakukan oleh Maria. Tetapi Yesus segera menegor mereka, karena mereka tidak tahu apa yang dilakukan oleh Maria. Mereka belum memahami akan hasrat Tuhan atas kehidupan manusia. Walaupun kita sudah banyak melakukan pelayanan; baik membantu orang miskin, mendoakan orang sakit, dan lain sebagainya. Tetapi apabila kita tidak tahu hasrat Tuhan dan perwujudannya maka sia-sialah pelayanan kita. Oleh karena itu biarlah kita lebih memahami hasrat Tuhan dan perwujudannya yaitu bahwa Tuhan telah mengampuni dosa kita dan menebus kita. Semua murid-murid Yesus sangat Ia kasihi termasuk Yudas, tetapi hanya satu diantara murid Yesus yang tahu tentang hasrat (passion) Tuhan yaitu Yohanes (Yohanes 21:20). Murid-murid yang lain seharusnya belajar bahwa Yesus datang ke dunia ini tujuannya untuk mengampuni dan menebus dosa manusia. Lalu, bagaimanakah keadaan bagi orang-orang yang hidup sebelum Yesus ada di dunia ? Dalam I Petrus 4:6 dikatakan, “Itulah sebabnya maka Injil telah diberitakan juga kepada orang-orang mati, supaya mereka, sama seperti semua manusia, dihakimi secara badani; tetapi oleh roh dapat hidup menurut kehendak Allah.” Dan perlu kita sadari pula bahwa Allah memanggil dan memilih kita sebelum dunia dijadikan, seperti yang tertulis dalam Efesus 1:4, “Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat dihadapanNya.” Dalam meresponi segala apa yang menjadi hasrat Tuhan dan perwujudannya, maka hendaknya kita senantiasa mengucap syukur. Dan sebagai respon kita selanjutnya, maka kita harus turut ambil bagian dalam pemberitaan Injil supaya hasrat Tuhan dan perwujudannya dapat diterima oleh setiap manusia. Kita dipanggil untuk menjadi utusan Allah dalam memberitakan Injil bukanlah suatu pilihan tetapi keharusan, supaya apa yang menjadi hasrat Tuhan dan perwujudannya tidak menjadi sia-sia. Sebagai pesan terakhir adalah : biarlah kita semakin membangun kerohanian kita sampai mencapai kedewasaan yang penuh, sehingga kita dapat memahami hasrat dan perwujudan kasih Tuhan. Amin. |
Tetap Berpegang Teguh Pada Janji Tuhan
|
Pdt. Abraham Alex Tanuseputra
Ketika bangsa Israel keluar dari tanah Mesir menuju tanah perjanjian
dibawa pimpinan Musa, mereka telah banyak mengalami mujizat. Dari sekian
banyak mujizat yang dialami oleh bangsa Israel saat keluar dari Mesir,
diantaranya : melintasi laut Kolsom, laut Teberau yang terbelah dan lain
sebagainya. Selain itu, sepanjang perjalanan menuju tanah perjanjian,
mereka berada dalam tuntunan Tuhan melalui tiang awan dan tiang api. Ibrani 10:35-39 “Sebab itu janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu, karena besar upah yang menantinya. Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu. Sebab sedikit, bahkan sangat sedikit waktu lagi, dan Ia yang akan datang, sudah akan ada, tanpa menangguhkan kedatangan-Nya. Tetapi orang-Ku yang benar akan hidup oleh iman, dan apabila ia mengundurkan diri, maka Aku tidak berkenan kepadanya. Tetapi kita bukanlah orang-orang yang mengundurkan diri dan binasa, tetapi orang-orang yang percaya dan yang beroleh hidup.” Dan sebelum bangsa Israel masuk dalam tanah perjanjian yaitu tanah Kanaan, ada dua belas orang yang diutus untuk mengintai negeri tersebut (Bilangan 13:4-15). Yang dimaksud kata mengintai disini adalah bahwa kedua belas yang diutus tersebut harus memiliki visi. Sebab apabila seseorang tidak memiliki visi, maka orang tersebut tidak akan mengalami suatu perubahan atau perkembangan dalam hidupnya. Dari kedua belas pengintai tersebut adalah pemimpin dari masing-masing suku Israel (Bilangan 13:2). Dan kedua belas suku tersebut adalah keturunan daripada Yakub. Sehingga keturunan Yakub merupakan titik tolak daripada tersebarnya berkat Tuhan, karena ketika Allah memberkati Abraham hanya bersifat perorangan, termasuk pada generasi berikutnya yaitu Ishak, dan generasi selanjutnya adalah Yakub. Tetapi setelah Yakub mempunyai dua belas anak, maka terbentuklah dua belas suku, dan dua belas suku terbentuk lagi suatu etnis, sehingga Israel menjadi suatu bangsa dan selanjutnya bangsa ini menjadi umat Tuhan. Terjadinya suatu bangsa dan umat Tuhan ini, karena Tuhan telah berjanji kepada Abraham dengan sumpah, dan Tuhan bersumpah atas diriNnya sendiri, seperti yang tertulis dalam Ulangan 1:8 “Ketahuilah, Aku telah menyerahkan negeri itu kepadamu; masukilah, dudukilah negeri yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepada mereka dan kepada keturunannya.” Dan sumpah atau janji ini tidak hanya berlaku bagi bangsa Israel saja, tetapi berlaku bagi mereka yang percaya kepada Tuhan Yesus, karena dalam Galatia 3:29 dituliskan : “Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah.” Dan ada hal yang harus diyakini, yaitu bahwa janji Tuhan bukanlah halusinasi, tetapi janji Tuhan itu adalah benar-benar nyata, seperti yang diungkapkan oleh raja Daud dalam Mazmur 40:2, katanya : “Aku sangat menanti-nantikan TUHAN; lalu Ia menjenguk kepadaku dan mendengar teriakku minta tolong.” Dengan melalui pernyataan dari raja Daud ini, biarlah roh kita semakin diteguhkan dan menyala-nyala dalam melayani atau mengiring Tuhan, walaupun banyak tantangan dalam kehidupan kita. Karena semakin besar tantangan yang kita hadapi, maka semakin besar pula mujizat yang akan kita dapatkan dari Tuhan. Selain itu, janji ini tidak akan dapat kita peroleh, jikalau dalam diri kita tidak ada suatu tindakan atau langkah untuk mendapatkannya. Dan langkah-langkah kita tidak selalu berjalan mulus, sebab banyak tantangan yang menghalangi; baik itu tantangan dari luar maupun dari dalam. Tetapi biarlah kita tetap percaya bahwa kita akan sanggup mencapai visi yang sudah diberikan kepada kita. Janganlah kita seperti sepuluh orang dari dua belas pengintai tersebut. Mereka sangat pesimis untuk dapat memperoleh apa yang sudah Tuhan janjikan; padahal mereka belum melakukan suatu tindakan. Mereka sudah kalah sebelum berperang, karena mereka terpengaruh oleh tantangan yang ada didepannya. Kesepuluh pengintai telah melemahkan iman umat Tuhan dengan cara membesar-besarkan persoalan, katanya : “Negeri yang telah kami lalui untuk diintai adalah suatu negeri yang memakan penduduknya, dan semua orang yang kami lihat di sana adalah orang-orang yang tinggi-tinggi perawakannya. Juga kami lihat di sana orang-orang raksasa, orang Enak yang berasal dari orang-orang raksasa, dan kami lihat diri kami seperti belalang, dan demikian juga mereka terhadap kami.” Dan akibat sikap daripada sepuluh pengintai tersebut, telah membuat bangsa Israel atau umat Tuhan menjadi bersungut-sungut terhadap Tuhan (Bilangan 14:1-2). Mereka sudah tidak menghiraukan segala apa yang sudah dijanjikan oleh Tuhan. Namun diantara kedua belas pengintai tersebut, ada dua orang yang tetap percaya bahwa mereka akan masuk dan menduduki tanah perjanjian, kedua orang ini tetap teguh memegang janji Tuhan. Kedua pengintai ini telah berusaha menentramkan hati bangsa Israel yang mulai tawar. Tetapi apa yang terjadi ?. Bangsa Israel tidak menjadi tenteram tetapi mereka justru melecehkan atau meremehkan apa yang dikatakan oleh Yosua dan Kaleb, bahkan mereka marah terhadap Musa yang telah membawa keluar dari tanah perbudakan. Hal ini seperti yang dialami oleh Tuhan Yesus ketika hendak pergi ke rumah Yairus (kepala rumah ibadat), karena anaknya sedang sakit keras dan hampir mati. Pada waktu Tuhan Yesus sudah sampai di rumah Yairus, ternyata anak ini sudah meninggal. Lalu, Yesus berkata kepada Yairus supaya ia tidak takut. Lalu Tuhan Yesus berkata bahwa anak ini tidak mati melainkan tidur, tetapi orang yang berada disana telah menertawakan. Saudara, kadang-kadang hal ini juga terjadi dalam kehidupan kita. Dimana ketika kita meyakini bahwa tidak ada sesuatu yang mustahil bagi Tuhan, justru orang-orang sekitar kita menertawakan karena mereka menganggap bahwa kita tidak waras. Tetapi percayalah bahwa segala sesuatu yang kita imani pasti akan terjadi asalkan kita tetap memegang teguh janji dan sumpah telah diucapkan oleh Tuhan. Amin |
Thursday, August 29, 2013
Jalan Naik
|
Pdt. Abraham Alex Tanuseputra
Setiap orang pasti ingin mengalami apa yang disebut dengan
peningkatan atau perkembangan. Baik itu secara rohani maupun secara
jasmani. Sehingga setiap orang berusaha dengan segala kemampuannya untuk
menggapai semuanya itu. Tetapi seluruh upaya manusia adalah sia-sia,
sebab semua manusia telah jatuh dalam dosa. Dan ayat bacaan diatas yang
mendasari pemahaman kita terhadap arti daripada kehidupan manusia.“Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (Roma 6:23) Saudara, dalam ayat bacaan diatas terdapat adanya dua hal yang bertolak belakang, yaitu kematian yang kekal (maut) dan kehidupan yang kekal. Dari masing-masing hal ini ada penyebabnya. Yang pertama yaitu kematian kekal, disebabkan oleh pelanggaran manusia terhadap perintah Allah (jatuh dalam dosa), sedangkan kehidupan yang kekal semata-mata oleh karena kasih karunia Allah dalam Kristus Yesus. Dan saat ini kita akan membahas kedua hal diatas secara detail. Upah dosa ialah maut. Saudara, perlu kita ketahui bahwa transisi dari dosa menuju maut akan didahului oleh kemiskinan, berbagai macam cobaan, tekanan hidup, sakit penyakit, kebangkrutan, sampai mencapai titik yang terberat tanpa adanya pengharapan. Dan transisi ini dapat daiibaratkan seperti orang yang sedang berjalan pada tangga yang menurun. Demikian halnya jalan hidup semua manusia pada umumnya yaitu berjalan menurun; walaupun ada orang yang tampak (secara kasat mata) jalan hidupnya naik karena dipenuhi dengan harta kekayaan secara duniawi, tetapi sebenarnya jalan hidupnya menurun yang diakhiri dengan kematian. Dan melalui pernyataan ini mungkin timbul pertanyaan : mengapa ada orang percaya (Kristen) mengalami berbagai macam pergumulan seperti yang tertera diatas ? Saudara setiap orang bisa mengalami hal demikian karena manusia telah kehilangan kemuliaan Allah, tetapi bagi orang yang percaya kepada Yesus Kristus pasti dapat menang terhadap semua pergumulan itu, sebab semua kutuk itu telah ditanggungNya pada dua ribu tahun yang lalu yaitu di bukit golgota. Apabila berbagai macam pergumulan itu menimpa orang percaya (Kristen), itu semua atas seijin Tuhan yang bertujuan untuk membangun iman kita dan bukan untuk mencelakakan kita. Karunia Allah ialah hidup yang kekal. Dalam keadaan seperti diatas (upah dosa adalah maut), maka Allah tidak tinggal diam, karena itu bukan rencana Allah terhadap manusia. Tetapi yang Allah lakukan adalah Ia mengutus putraNya yang tunggal yaitu Yesus Kristus untuk turun kedalam dunia dan membawa manusia hidup dalam rencana Allah. Karena sejak kita menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, maka langkah kita tidak berjalan pada “tangga yang menurun” tetapi berjalan pada “tangga yang naik”. Dalam proses ini terjadi pemulihan, baik dalam rumah tangga, usaha, keluarga dan lain sebagainya. Dan langkah-langkah kita setiap hari diperbaharui sampai menuju pada kehidupan yang kekal. Memang, sementara masuk dalam proses, kehidupan kita tidak akan berjalan mulus seperti yang kita harapkan, sebab dalam firman Tuhan telah dikatakan bahwa dalam dunia ini banyak onak dan duri (pergumulan hidup), tetapi kita tidak perlu kuatir karena kita memiliki pengharapan yang tidak tergoyahkan yaitu Tuhan Yesus Kristus. Bahkan ketika kita hidup ditengah-tengah krisis yang berkepanjangan disertai dengan berbagai macam kejahatan termasuk bencana alam, namun kasih karunia Allah sanggup memelihara dan melindungi hidup kita. Sebab melalui keadaan seperti inilah Allah ingin menunjukkan kuasaNya terhadap dunia bahwa anak-anakNya sedang dituntun menuju “tangga yang naik”. Lalu, langkah-langkah apakah yang kita ambil untuk tetap hidup dalam kasih karunia Allah ? langkah yang kita ambil adalah langkah iman dan perbuatan. Sebab firman Tuhan berkata : “Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.” (Yakobus 2:22). Langkah rohani (iman) ini merupakan hal yang utama sebelum kita melangkah secara jasmani. Keduanya sama-sama penting dan berlaku dalam kehidupan ini, sebab kita hidup dalam dua dimensi (rohani dan jasmani). Dan orang yang beriman senantiasa melangkah maju (Ibrani 10:37-39). Dan saat ini kita melihat langkah-langkah tersebut : Pertama, langkah Iman (Efesus 3:14-21).Langkah ini merupakan fondasi dalam kehidupan kita yaitu : 1. Percaya kepada Tuhan Yesus (ayat 15), 2. Roh Kudus, yang kaya, kuat itu berserta dengan kita (ayat 16), 3. Berakar dan berdasar di dalam kasih, sebab Allah sangat mengasihi kita (ayat 17). Ketika kita masuk dalam ketiga fase tersebut maka kita akan dapat memahami betapa lebar, panjang serta dalamnya kasih Kristus kepada kita. Untuk itu jangan sampai kita membuat kesalahan yaitu kembali pada kehidupan yang lama (hidup dalam dosa). Sebab, kalau kita berdosa, maka langkah kita menurun. Tetapi hidup kita harus melangkah naik sampai kita dipenuhi dengan kepenuhan Allah (ayat 18-19), karena di dalam diri kita ada kuasa yang bekerja secara luar biasa (ayat 20-21).Kedua, langkah perbuatan.Dalam Yakobus 2:26 dikatakan : “Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.” Dari ayat ini menunjukkan bahwa iman selalu berjalan bersama-sama dengan perbuatan. Karena perbuatan itu merupakan refleksi daripada iman, seperti yang tertulis dalam Yakobus 2:18 Tetapi mungkin ada orang berkata : "Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan", aku akan menjawab dia: "Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku." Jadi iman itu akan tampak apabila ada perbuatan.Saudara, langkah perbuatan ini kerapkali terhalang oleh kepentingan pribadi kita, tetapi bukan berarti kita tidak mempedulikan pribadi kita. Maksudnya yaitu : banyak orang yang hanya mementingkan dirinya sendiri tanpa mempedulikan orang lain, sehingga yang menjadi pusat perhatian dalam hidupnya ini adalah dirinya sendiri. Bukankah kita dipanggil dan dipilih untuk menjadi terang dan garam dunia. Dan apabila terang itu tidak bercahaya maka manusia tetap berada dalam kegelapan yang pada akhirnya menuju pada kebinasaan, dan apabila garam itu tidak asin, maka garam itu akan dibuang dan dinjak-injak orang. Oleh sebab itu, biarlah kedua langkah-langkah diatas merupakan bagian dalam kehidupan kita, supaya kita tetap berada dalam kasih karunia Allah dan dibawa menuju “jalan yang naik”. Amin |
Monday, June 3, 2013
Kesempatan
|
Pdt. Abraham Alex Tanuseputra Setiap orang tentunya memiliki suatu kesempatan dalam kelangsungan hidupnya untuk mencapai sesuatu, termasuk kita sebagai orang percaya diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk melayani, diberkati serta diberikan kuasa untuk menikmati segala berkat yang Tuhan berikan kepada kita. Kitab Pengkhotbah menjelaskan bahwa ada perbedaan antara orang dunia dengan anak-anak Tuhan yang telah lahir baru. Dan saat ini kita akan melihat beberapa perbedaan antara orang dunia dengan anak Tuhan terutama dalam hal kesempatan. Kesempatan Bagi Orang dunia 1. Kesempatan yang ada pada orang dunia adalah suatu kehidupan yang sia-sia, karena kenangan dari masa lampau mereka tidak ada, demikian juga kenangan dari masa depan mereka juga tidak ada. (Pengkhotbah 1:11). Dalam hal ini menunjukkan bahwa betapa malangnya kehidupan mereka, karena tidak ada sesuatu yang dapat dibanggakan. 2. Kesempatan yang mereka dapatkan hanyalah menjalani suatu nasib yang tidak ada bedanya dengan binatang. Artinya bahwa manusia dan binatang harus menghadapi kematian yang tidak berlanjut pada kebahagiaan yang kekal. Karena tubuh orang dunia yang tidak memiliki Roh Kristus, saat dia mati maka jasadnya akan kembali menjadi debu, seperti halnya seekor binatang. (Pengkhotbah 3:19-20). 3. Mereka tidak ada kesempatan mendapatkan kuasa untuk dapat menikmati kekayaan dan kemuliaan yang diperolehnya. Mereka bersusah payah mencari kekayaan tetapi pada akhirnya dihabiskan oleh anak-anaknya, bahkan tidak sedikit diantara mereka terjadi perebutan warisan, bahkan mereka tega membunuh saudaranya sendiri. Hal ini juga merupakan kesia-siaan. (Pengkhotbah 6:1-3). Dari beberapa penjelasan di atas menegaskan bahwa kesempatan yang ada pada orang dunia adalah hidup yang sia-sia dan tidak ada pengharapan. Saudara, sekarang kita lihat lewat kebenaran Firman Tuhan tentang kesempatan apa yang diberikan Tuhan kepada orang percaya, yaitu orang-orang yang sudah menjadi milik Kristus. KESEMPATAN BAGI ANAK-ANAK TUHANDalam Pengkhotbah Pasal 3:10-11, telah terkandung suatu janji, dimana kesempatan yang Tuhan berikan kepada kita adalah indah dan kekal. Dan segala sesuatu yang dikerjakan Allah itu indah pada waktunya, tetapi semuanya itu tidak lepas dari kesetiaan kita dalam mengiring dan melakukan kehendakNya. Jadi saudara-saudara, apapun kesempatan yang Tuhan berikan kepada kita biarlah kita gunakan semaksimal mungkin, karena kesempatan yang sama tidak dapat terulang kembali; baik dalam hal pekerjaan bisnis maupun pelayanan. Mungkin saat ini kita belum mendapatkan sesuatu yang sesuai dengan pengharapan kita, tetapi percayalah bahwa Tuhan mengerjakan indah pada waktunya, sebab kasihNya sudah dicurahkan melalui kuasa Roh KudusNya. Oleh sebab itu pergunakan kesempatan yang ada sebab pengharapan kita tidak mengecewakan (Roma 5:5). Dari ayat yang sama kita juga diingatkan oleh Firman Tuhan bahwa kesempatan yang Tuhan berikan kepada kita sebagai anak-anakNya adalah bersifat kekal, artinya pelayanan kita bersifat jangka panjang, bisa langgeng. Demikian juga bisnis dan pekerjaan kita masing-masing, bahkan bagi saudara yag sudah menikah, hidup perkawinan saudara akan diberkati Tuhan senantiasa. Bahkan yang terlebih indah dari semua itu adalah bahwa kita semua orang-orang yang sudah percaya kepada Kristus akan hidup kekal selama-lamanya bersama Dia di surga. Puji Tuhan, ini menunjukkan bahwa kesempatan yang Tuhan berikan kepada kita, bahwa anak-anak Tuhan adalah sukses di dunia dan di surga. Kalau kita lihat kehidupan Tuhan Yesus sendiri, hidup normalnya sebagai manusia memang cukup lama yaitu tiga puluh tahun, tetapi kesempatan untuk berkarya atau melayani yang diberikan oleh Bapa-Nya hanya tiga setengah tahun saja, tetapi Yesus telah mencapai jauh lebih banyak serta memberikan pengaruh lebih besar dari manusia mana pun yang pernah hidup di muka bumi ini. Oleh sebab itu, mungkin diantara kita ada yang baru menerima Tuhan, janganlah kita merasa tua atau tidak berguna, selama kesempatan itu sudah diberikan Tuhan, berapa pun lamanya waktu yang Tuhan berikan , percayalah bahwa Dia akan jadikan hidup dan karya kita menjadi indah serta kekal. Ini artinya Tuhan akan berikan kesuksesan bagi kita sebagai anak-anak Tuhan yang dikasihi-Nya. Dalam Pengkhotbah Pasal 3 ayat 11, Firman Tuhan berkata bahwa segala sesuatu indah pada waktunya, namun sayangnya manusia tidak bisa menyelami pekerjaan yang dilakukan oleh Allah. Karena keterbatasan kita dalam menyelami pekerjaan Tuhan dalam hidup kita, maka hal ini menyadarkan kita untuk tetap percaya kepada-Nya, bahwa FirmanNya tidak berubah. Jadi sekali Tuhan katakan bahwa kesempatan kita indah dan kekal, kita harus mengucap syukur bahwa Dia buat perbedaan antara kita yang adalah milik-Nya dengan orang-orang dunia yang bukan milik-Nya.Walau kelihatannya di depan kita ada sesuatu yang gelap, kita tahu dan percaya bahwa terang Firman-Nya akan terus menerangi serta menguatkan hati kita sampai kita mendapati janji Tuhan ini digenapi dalam hidup kita. Oleh sebab itu kita yang sudah lahir baru, dipenuhi oleh Roh-Nya, walau kita mati sekalipun secara tubuh, masih ada kesempatan untuk dibangkitkan dengan tubuh kebangkitan. Jadi kita lihat disini bahwa bagi kita anak-anak Allah, ada kesempatan di masa sekarang juga ada kesempatan bagi kita di masa mendatang. Lewat kebenaran Firman Tuhan dalam Yesaya 38:1-8,……. telah diceritakan tentang Raja Hizkia yang sakit, kita bisa simpulkan bahwa Hizkia sesungguhnya tidak lagi punya kesempatan untuk sembuh dan sekaligus tidak punya kesempatan untuk hidup. Tetapi karena tangisan serta permohonan Hizkia, kesempatan untuk hidupnya diperpanjang oleh Tuhan selama 15 tahun. Dan lewat kebenaran firman Tuhan ini membuktikan bahwa kasih karuniaNya sangat berlimpah, dan percayalah bahwa tidak ada yang mustahil bagiNya dan juga tidak ada yang mustahil bagi mereka yang percaya kepadaNya, karena apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Tuhan. Saudara setiap kita telah diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk hidup dan berkarya, tetapi apakah kita tahu sampai kapan kesempatan itu diberikan kepada kita ? Yang terpenting bukanlah berapa lama kesempatan yang akan kita jalani, namun seberapa besar respon kita terhadap kesempatan yang ada. Lalu yang menjadi pertanyaan adalah : “apakah yang harus kita lakukan agar hidup kita tetap indah dan kekal, dalam arti sehari-harinya sukses ? sebagai jawabannya, mari kita membaca Pengkhotbah 9:10-12. Disini firman Tuhan memberikan petunjuk yaitu supaya kita mengerjakan segala sesuatu dengan sekuat tenaga, artinya segala kesempatan yang Tuhan berikan kepada kita untuk hidup, berkarya dan melayani Dia, seharusnya kita respon dengan segala tanggung jawab serta kita kerjakan dengan sebaik-baiknya untuk kemuliaan Tuhan. Amin |
Thursday, May 30, 2013
Gereja Yang Bertumbuh
Pdt. Abraham Alex TanuseputraSejalan dengan majunya jaman, maka gereja harus mengalami pertumbuhan. Dan pertumbuhan gereja ini tidak hanya kwantitas tetapi juga kwalitas. Ada beberapa karakter yang dimiliki oleh gereja yang bertumbuh, yaitu : 1. Koinonia (Kumpulan orang-orang yang mengikatkan diri dalam persekutuan dengan Allah).Kita telah dipanggil dan dipilih oleh Allah untuk dijadikan umat yang kudus dan melakukan perkara-perkara yang besar. Oleh sebab itu kita harus mengikatkan diri dalam persekutuan dengan Allah, karena Allah akan mengikatkan diriNya dengan kita pula, supaya keberhasilan itu menjadi nyata (I Korintus 1:2)Pada saat kita mengikatkan diri dengan Kristus, maka kita akan diangkat dalam satu level berkat tertentu. Apa yang dimaksudkan mengikatkan diri dengan Tuhan ? Yang dimaksud mengikatkan diri dengan Tuhan adalah memiliki hubungan yang intim dan bergantung sepenuhnya kepada Tuhan. Contohnya : Ketika orang Israel dibawa keluar dari Mesir dan melawati padang pasir, maka mau atau tidak mau mereka harus mengikatkan diri dengan Allah karena di padang pasir tidak ada makanan dan minuman seperti di Mesir. Perjalanan dari Mesir menuju Kanaan sebenarnya tidak lebih dari 20 hari, tetapi mengapa sampai 40 tahun lamanya sehingga dalam perjalanan banyak yang mati ?. Dibalik perjalanan yang cukup panjang ini Tuhan mempunyai maksud yang indah, yaitu supaya orang Israel saat dipimpin keluar dari tanah Mesir menuju ke Kanaan mendapat pelajaran dari Tuhan untuk bisa memelihara perasaan, pikiran dan kehendak Tuhan. Demikianlah kehidupan kita, mungkin saat ini kita sedang bergantung pada lingkungan kita, misalnya bergantung pada kekayaan orang tua, bergantung pada pekerjaan yang bagus atau bergantung dengan hal yang lainnya. Tetapi perlu kita ingat bahwa kita adalah orang-orang yang eklesia yaitu orang-orang yang dipanggil dari dunia ini untuk bergantung sepenuhnya pada Tuhan Yesus Kristus. Karena kalau kita menggunakan pikiran, kehendak dan perasaan kita sendiri maka kita akan tersesat di padang pasir. Karena dunia ini sebenarnya adalah padang pasir. Bentuk nyata pimpinan Tuhan terhadap bangsa Israel yaitu Musa telah diperintahkan Tuhan untuk membuat Tabernakel (Bilangan 9:15). Dan kemah suci pada zaman Musa hanya ada satu, sedangkan umat yang mengikuti Musa kurang lebih tiga juta orang. Pada saat mereka beribadah, para imam-imam melayani mulai dari mezbah bakaran, kolam basuhan, pelita emas dan roti pertunjukan. Mereka masuk ke halaman dan mereka percaya akan penebusan dosa dalam wujud kolam basuhan (baptisan). Lalu mereka masuk dalam ruang suci, yang pertama terdapat mezbah dupa (perasaan Tuhan), lalu meja roti pertunjukan (pikiran Kristus), lalu pelita emas (kehendak Tuhan). Kemudian imam itu menghadap tirai yang tebal sampai mendengar firman Tuhan dari ruang maha suci. Setelah para imam itu mendengar firman Tuhan maka mereka keluar dan menyampaikannya kepada jemaat. Demikianlah dalam kehidupan kita, kalau kita benar-benar mengikatkan diri dengan Tuhan dan mau dipimpin oleh Tuhan, maka kita akan sampai pada tujuan seperti yang dikehendaki oleh Tuhan yaitu hidup dalam kesuksesan, kebahagian dan kedamaian. Oleh sebab itu jangan sekali-kali mendukakan Roh Kudus karena Roh Kudus adalah pribadi Allah sendiri. Karena pada waktu kita menghormati Roh Kudus maka urapan Allah itu akan turun atas kita. Tetapi acapkali kita sering menyinggung perasaanNya dengan cara membawa tubuh ini ke dalam dosa. Lalu bagaimana kita bisa melayani Tuhan kalau kita tidak bisa memahami perasaanNya. Jadi orang yang bisa memahami dan melayani perasaan Tuhan dapat disamakan seperti hubungan antara suami dan istri (Efesus 5:32). 2. Diakonia (Kumpulan orang-orang yang saling melayani).Galatia 6:10 ”Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.”Pelayanan diakonia itu sebenarnya membuat kita berbahagia. Memang, kalau kita menilai secara fisik maka perbuatan kita tidak untung karena sebagian apa yang kita miliki harus berkurang. Tetapi akhir dari perbuatan yang kita lakukan akan menghasilkan buah yang luar biasa. Sebab, apa yang kita tabur tidak akan sia-sia tetapi akan menjadi berlipatkaliganda. Misalnya : seseorang mengalami sakit parah dan membutuhkan pertolongan, lalu kita mau berkorban. Maka segala perbuatan kita akan diperhitungkan oleh Tuhan (Ulangan 1:10). Allah tidak mau dipiutangi. Pelayanan diakonia di masa sekarang ini sangat langka, karena dalam kondisi yang sulit ini manusia cenderung untuk memikirkan dirinya sendiri atau sekelompok orang saja. Untuk itu, selama masih ada kesempatan marilah kita berlomba untuk berbuat baik terhadap saudara kita yang lemah, karena hal itu merupakan wujud sebagian dalam mengasihi sesama. 3. Marturia (Memberitakan Injil, atau menyampaikan kabar baik).Gereja dikatakan exist apabila semua jemaatnya menyampaikan kabar baik kepada semua umat manusia, terutama bagi mereka yang belum diselamatkan. Memberitakan Injil bukanlah tugas pendeta saja, tetapi tugas semua orang yang percaya dan yang sudah diselamatkan oleh Tuhan. Marturia (memberitakan Injil) bersifat wajib (Matius 28:19-20). Tetapi janganlah takut, karena apabila kita memberitakan Injil maka kita akan diperlengkapi dengan kuasa Tuhan, karena di dalam diri kita ada sesuatu yang ilahi (Markus 16:15-17). Tetapi sebaliknya apabila kita tidak memenuhi kewajiban itu maka kita harus memberi pertanggungan jawab kepada Tuhan atas nyawa orang yang belum diselamatkan (Yehezkhiel 33:6). Bukankah kita dipanggil dan dipilih tidak sekedar untuk diselamatkan tetapi kita ditetapkan sebagai pembawa kabar baik yaitu keselamatan dalam Yesus Kristus. Mungkin timbul pertanyaan dalam hati kita, “bagaimana aku dapat memberitakan Injil sedangkan akau tidak pandai bicara ?”. Saudara, memberitakan Injil itu bukan soal pandai atau tidak pandai bicara, melainkan mau atau tidak untuk memberitakannya. Pemberitaan Injil yang konkrit adalah melalui sikap hidup kita. Apakah sikap hidup kita sudah mencerminkan pribadi Yesus. Apabila kita mengaku percaya kepada Yesus maka hidup kita wajib seperti Yesus hidup. Apa artinya kita pandai berbicara tetapi hidup kita tidak mencerminkan sebagai anak-anak Tuhan ?. Perlu kita ketahui bahwa hidup kita adalah suratan yang terbuka; setiap orang dapat membaca kebenaran melalui sikap hidup kita sehari-hari. Amin. |
Hidup Dalam Lindungan Tuhan
|
Pdt. Abraham Alex Tanuseputra Ayat Bacaan : Mazmur 91:1-16 Yang mendasari Raja Daud menulis dalam pasal ini yaitu karena ia memperhatikan kehidupan Musa bersama orang Israel, tatkala Musa membawa orang Israel keluar dari Mesir, dan dia meneliti bagaimana Allah melindungi bangsa Israel. Dan perlindungan ini berawal daripada Abraham; dimana Allah pernah berjanji yang disertai dengan sumpah untuk melindungi Abraham dan seluruh keturunannya, termasuk diri kita yang merupakan keturunan dari Abraham, sebab kita telah percaya pada Kristus. Oleh karena itu perlindungan itu mutlak diberikan kepada umat pilihanNya, sebagaimana Allah melindungi Abraham, Ishak dan Yakub, sampai kepada Daud. Dan Daud mempunyai bukti bahwa Allah sungguh melindunginya. Dan pada akhirnya Daud menulis Mazmur 91 ini yang merupakan bukti dari perlindungan Allah. Dalam kitab Mazmur pasal 91 terbagi menjadi 3 bagian : Yang pertama ayat 1-2, merupakan bukti perlindungan Allah, dan Daud percaya akan hal ini.Dalam ayat tersebut terdapat kata-kata “yang kupercayai”, kata ini menunjukkan adanya suatu iman dalam diri Daud. Saudara, Mazmur 91 ini telah di tulis 1010 tahun sebelum Masehi. Dan kita percaya bahwa firman Allah tidak berubah dari dulu sekarang dan selamanya. Kalau raja Daud pada waktu itu dilindungi oleh Allah karena percaya. Dan apabila kita ingin mendapatkan perlindungan Allah maka kita harus memiliki iman, karena iman merupakan dasar/fondasi dalam kehidupan kita, seperti yang tertulis dalam Ibrani 11:1 “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” Oleh karena itu janganlah kita kuatir dan takut dalam menjalani hidup ini, sebab segala yang kita harapkan telah terbukti walaupun kita belum melihat. Sebab oleh imanlah akan ada kesaksian.Yang Kedua ayat 3-13, Karena Daud berharap maka Allah membuktikan perlindunganNya.Perlu kita perhatikan bahwa pada bagian yang kedua ini yaitu pada ayat 7-13 telah terdapat kata-kata “akan”. Yang mana kata ini menunjukkan suatu pernyatakan daripada Tuhan yang akan menjadi suatu kenyataan dalam kehidupan orang-orang percaya yang memiliki suatu pengharapan. Pernyataan Allah ini sungguh luar biasa, sebab pernyataan ini benar-benar mutlak untuk melindungi kita semua. Memang, dalam bagian kedua ini bersifat “akan” (sesuatu yang belum terjadi), oleh karena itu hidup kita harus penuh dengan pengharapan. Dan apabila kita melihat perjalanan hidup Abraham bersama Tuhan, maka kita akan melihat adanya suatu nilai hidup yang dimuati dengan pengharapan. Dimana janji Tuhan yang ditujukan kepada Abraham untuk menjadi bangsa yang besar tidak langsung didapatkan oleh Abraham, karena Allah ingin melihat seberapa besar pengharapan Abraham terhadap Tuhan, sampai pada akhirnya Abraham mendapatkan apa yang telah dijanjikan Tuhan kepadanya yang disertai dengan sumpah (Ibrani 6:13-20).Lalu bagaimana dengan kita, apakah kita masih punya pengharapan pada Tuhan ? atau kita sudah mulai bergantung pada kekayaan, jabatan, kedudukan atau hal yang lain ? Maka ingatlah bahwa Tuhan tidak pernah lalai akan janjinya, sebab firman Tuhan tidak akan kembali dengan sia-sia. Oleh sebab itu tetaplah berharap kepada Tuhan, sebab pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita yang dilabuhkan sampai dibelakang tabir. Mungkin timbul pertanyaan, apa yang ada di belakang tabir ? yang ada dibelakang tabir adalah Allah, sebab dibelakang tabir adalah ruang maha suci; dan tabir ini merupakan hadirat Allah. Saudara, kalau kita percaya akan hal ini maka iman dan pengharapan kita akan menjangkau hadirat Tuhan. Dan perlu kita renungkan bahwa kita tidak sekedar menjangkau atau menyentuh hati Tuhan, tetapi kita percaya dan berharap bahwa Allah akan melindungi kita. Jadi, bukan percaya saja, tetapi kita juga harus memiliki pengharapan, sebab Allah membuat pernyataan ini disertai dengan sumpah. Dan dalam ayat berikutnya, yaitu Mazmur 91:3 terdapat kata “jerat penangkap burung”. Lalu, apakah wujud/kejadian yang dialami oleh orang yang terkena jerat burung. Contoh yang sederhana yaitu : suatu ketika ada seseorang yang mengendari motor melintasi rel kereta api namun tiba-tiba mesin kendaraan mati persis ditengah-tengah rel kereta, sedangkan kereta api sedang lewat. Orang tersebut berusaha untuk menyalakan mesin tetapi tidak nyala juga, sedangkan kereta semakin dekat. Sebenarnya ia dapat terhindar dari maut yaitu dengan jalan meninggalkan motornya, tetapi hal itu tidak pernah terpikirkan, sehingga maut merenggut nyawanya. Inilah merupakan gambaran daripada orang yang terkana jerat penangkap burung (kuasa kegelapan). Dan dalam ayat berikutnya dikatakan : Engkau tak usah takut terhadap kedahsyatan malam, terhadap panah yang terbang di waktu siang, atau terhadap penyakit sampar yang berjalan di dalam gelap, terhadap penyakit menular yang mengamuk di waktu petang (Mazmur 91:5-6). Kemudian ayat selanjutnya dikatakan : Walau seribu orang rebah di sisimu, dan sepuluh ribu di sebelah kananmu, tetapi itu tidak akan menimpamu. Engkau hanya menontonnya dengan matamu sendiri dan melihat pembalasan terhadap orang-orang fasik (Mazmur 91:7-8). Yang dimaksud ayat ini yaitu : bahwa segala sesuatu (malapetaka) boleh terjadi namun sekali-kali tidak akan menimpa kita termasuk keluarga kita, sebab TUHAN ialah tempat perlindungan kita, dan Yang Mahatinggi telah menjadi tempat perteduhan kita (Mazmur 91:9-10), dan malaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya untuk menjaga di segala jalan kita dan malaikat-malaikatNya akan menatang kita di atas tangannya, supaya kaki kita jangan terantuk kepada batu (Mazmur 91:11-12). Bahkan Singa dan ular tedung akan kita langkahi, kita akan menginjak anak singa dan ular naga (Mazmur 91:13). Dan dalam ayat 13 ini berbicara tentang spirit. Perlu kita ketahui pula bahwa roh jahat tidak bisa kita lawan dengan fisik; tetapi syukur bahwa dunia roh yang digambarkan sebagai ular tedung, singa dan ular naga yang mengganggu kita akan dikalahkan, sebab malaikat Tuhan telah diperintahkan untuk melindungi kita. Saudara, spirit harus dilawan dengan spirit, dan kita percaya siapa yang ada dipihak Allah pasti akan menang. Yang Ketiga ayat 14-16, Dengan pengalaman itu hati Daud melekat dan mengasihi Allah, karena ia benar-benar membuktikan perlindungan Allah dinyatakan dalam hidupnya.Bagian yang ketiga terdapat adanya suatu muatan kasih; dimana pada Mazmur 91:14 dikatakan “Sungguh, hatinya melekat kepada-Ku, maka Aku akan meluputkannya, Aku akan membentenginya, sebab ia mengenal nama-Ku.” Arti kata melekat ini adalah : suatu muatan kasih. Bahkan dalam Kidung Agung digambarkan bahwa kekuatan kasih/cinta itu seperti maut. “. . . . . . karena cinta kuat seperti maut, kegairahan gigih seperti dunia orang mati, nyalanya adalah nyala api, seperti nyala api TUHAN!” (Kidung Agung 8:6). Oleh karena itu, marilah kita mengasihi Tuhan lebih sungguh-sungguh lagi, sebab selain kita mendapat perlindungan dari Tuhan, kita akan mendapat jawaban dari Tuhan atas segala sesuatu yang kita harapkan dan Diapun menyertai kita dalam kesesakan, bahkan ia meluputkan kita dari malapetaka serta memuliakan kita. Dan disamping itu Allah akan memberikan panjang umur yang disertai dengan kebahagian (Mazmur 91:15-16).Amin. |
Subscribe to:
Posts (Atom)





