Kebangkitan Besar

Kebangkitan Besar

Tuesday, March 13, 2012

Hormat, Setia dan Rindu Kepada Roh Kudus



Pdt. Abraham Alex Tanuseputra

Ayat Bacaan: 2 Petrus 1:5-8

Yesus pernah bertanya kepada Petrus, “Apakah engkau mengasihi Aku?”
Hal ini ditanya oleh Yesus sebanyak tiga kali agar Petrus mengasihi Tuhan tidak hanya berdasarkan doktrin saja. Semua agama juga mengasihi allahnya. Lebih dari itu, Allah menjadi manusia dan Ia mati dan bangkit, naik ke Sorga dan saat ini Roh Kudus datang sejak hari Pentakosta. Kita percaya saat ini bahwa Roh Kudus hadir di tengah-tengah kita.

Tuhan menginginkan bukan hanya kita mengasihi Tuhan, tetapi juga agar kita selalu rindu akan Tuhan. Kasih tanpa kerinduan sama dengan iman tanpa perbuatan atau harap tanpa ketekunan. Petrus mengerti bahwa ia harus tetap rindu kepada Tuhan, untuk itu Petrus mengajarkan dari mana pondasi kita mengasihi Tuhan.


1) Menghormati Roh Kudus
Pengertian tentang Kerajaan Allah adalah setiap Roh Kudus ada, maka di sana ada Kerajaan Allah. Demikian sekarang, dua atau tiga orang berkumpul dalam nama Yesus, Roh Allah hadir. Mengenai kehadiran Roh Allah tidak cukup sekedar diketahui tetapi kita harus menghormatiNya. Sebagai gambarannya adalah bangsa Israel, dimana saat bangsa Israel menghormati kehadiran Roh Allah maka mereka semua diberkati dan berhasil, tetapi sebaliknya, pada saat mereka tidak menghormati maka mereka mengalami musibah. Daud percaya bahwa dalam Tabut Perjanjian ada Allah, tetapi ketika dia tidak menghormatinya, maka musibah terjadi. Sedangkan Obed Edom tahu menghormati Roh Kudus sehingga hidupnya beserta seluruh isi keluarganya dalam waktu singkat (tiga bulan) diberkati oleh Tuhan. Oleh karena itu jangan sekali-kali kita mengabaikan kehadiran Roh Allah di tengah-tengah kehidupan kita, tetapi biarlah kita menghormatinya sebab Dia adalah pribadi yang lembut.

2) Setia kepada Roh Kudus
Selanjutnya, kita menghormati Roh Kudus saja tidak cukup, karena kita mengikut Tuhan bukan satu atau dua hari saja. Untuk itu, kita perlu setia kepada Roh Kudus. Memang terkadang kita labil dan lemah, tetapi kita percaya bahwa walaupun kita tidak setia, Dia tetap setia. Dia tetap mencintai kita. Sebab itu, dalam cengkeraman Roh Kudus kita harus tetap setia kepada Roh Kudus agar kita dapat menguasai diri. Sebab dengan penguasaan diri, harapan kita bisa terpenuhi. Orang berharap adalah untuk waktu jangka panjang, dan ketika seseorang berharap, maka diperlukan kesabaran, ketekunan terlebih itu adalah kesetiaan. Tuhan ingin kita berlaku setia kepadaNya, sebab kesetiaan akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa dari Tuhan. Firman Tuhanpun menasehatkan, ”Sifat yang diinginkan pada seseorang ialah kesetiaannya; lebih baik orang miskin dari pada seorang pembohong” (Amsal 19:22)
Memang umur dibatasi oleh akhir hayat kita. Kalau kita setia kepada Dia, maka Dia terus memimpin dan membimbing kita. Namun apabila kita tidak setia, maka harapan kita tidak terpenuhi. Selain itu, dengan pengalaman kesetiaan itu, kita menjadi saleh dan suci. Kita percaya bahwa orang yang suci yang pantas mengatakan “aku cinta Tuhan.” Kalau kita hidup dalam kebenaran, maka kita pasti juga dicintai Tuhan.

3) Selalu Rindu kepada Roh Kudus
Orang yang mengasihi Tuhan dan dicintai Tuhan, ia akan menghormati, setia dan selalu rindu kepada Roh Kudus. Dengan ketiga poin di atas akan mewujudkan “kasih.”
1 Korintus 13:13 dan 14:1 berkata, “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih. Kejarlah kasih itu dan usahakanlah dirimu memperoleh karunia-karunia Roh, terutama karunia untuk bernubuat.” “Iman” adalah menghormati Roh, “harap” adalah setia kepada Roh Kudus dan “kasih” adalah kerinduan kepada Roh Kudus.
Orang yang mengasihi dan dikasihi Tuhan akan mendapatkan sesuatu yang luar biasa dari Tuhan. 1 Korintus 2:9 berkata, “Tetapi seperti ada tertulis: "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia." Demikian juga, Amsal berkata, orang yang tidak punya wahyu akan menjadi liar atau terhukum.
Pada saat kita tidak bisa berbuat apa-apa, maka Roh Kudus yang kita kasihi dan mengasihi kita akan memberikan kita hikmat. Orang yang mengasihi dan dikasihi Tuhan selalu mendapat pikiran Tuhan. Kalau berbicara tentang pikiran Tuhan, maka kita tidak dapat menilainya dengan logika kita sehingga terlihat aneh. Abraham dalam perjalanan hidupnya menghadapi tantangan dan rintangan, tetapi selalu ada jalan keluar bagi dia. Demikian juga dengan tokoh-tokoh lain dalam Alkitab. Tanpa pikiran Tuhan, kita tidak mampu menghadapi dunia ini.


Mazmur 127:1-2 berkata, “Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga. Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah -- sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur.”

Tuhan sangat rindu kepada kita (Baca: Mazmur 139:6-12). Roh Kudus sudah manunggal dengan kehidupan kita sehingga kemanapun kita pergi, Dia selalu berada dalam hidup kita. Tetapi seringkali kita tidak hormat, setia, dan rindu kepada Roh Kudus. (Baca: Kidung Agung 5:2-8). Tuhan datang dengan mengetuk pintu, tetapi sang kekasih tidak menanggapinya. Tiba-tiba dia sadar, lalu membuka pintu, ternyata Tuhan sudah pergi. Kekasih ini lalu mencari Tuhan, tetapi tidak menemuinya. Artinya, kesabaran Tuhan ada batasnya. Kalau Roh Kudus sudah meninggalkan gereja Tuhan, maka sekalipun kita menjerit mencarinya, maka tidak akan menemukannya.

Oleh karena itu dalam kidung agung dituliskan “-- Taruhlah aku seperti meterai pada hatimu, seperti meterai pada lenganmu, karena cinta kuat seperti maut, kegairahan gigih seperti dunia orang mati, nyalanya adalah nyala api, seperti nyala api TUHAN! Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta, sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya. Sekalipun orang memberi segala harta benda rumahnya untuk cinta, namun ia pasti akan dihina.” (Kidung Agung 8:6-7)

Amin.

Thursday, February 23, 2012

Tetap Berdiri Teguh



Pdt. Abraham Alex Tanuseputra

“Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia”.
(I Korintus 15:58)

Kata teguh dalam bahasa aslinya berarti setia. Pengertian daripada setia yaitu adanya komitmen yang tinggi. Sedangkan dalam kata komitmen itu sendiri mengandung suatu visi. Demikian halnya dengan Yesus ketika diutus ke dalam dunia ini kehidupanNya penuh dengan komitmen dan Dia tidak sekedar menjalankan perintah Bapa tetapi atas dasar visi yang telah Dia terima. Visi yang Dia kerjakan tidak pernah tergoyahkan meskipun harus menghadapi resiko yang besar. Walaupun muridNya rela mati untuk menggantikan kematianNya di atas kayu salib namun Yesus tetap komitmen dengan visi yang Dia terima. Setiap orang percaya kepada Yesus dalam hidupnya akan muncul suatu visi baru. Kalau Yesus mendapat visi untuk mati sesaat, tetapi kita yang percaya kepada Yesus akan lahir baru sebagai imamat yang rajani. Untuk itu janganlah kita goyah saat menghadapi berbagai pencobaan karena kita sebagai imamat yang rajani. Saat ini kita bukanlah manusia yang terpuruk tetapi umat yang diberkati dan dipulihkan. Memang ditengah perjalanan hidup ada banyak tantangan tetapi kita harus mengambil suatu keputusan yang sesuai dengan Firman Allah maka kemenangan demi kemenangan akan kita terima, sebab apabila Allah dipihak kita, siapakah lawan kita.

Supaya kita tetap teguh maka harus bersatu dengan Kristus. Setiap orang yang tetap melekat pada Tuhan sebagai pokok anggur akan tetap berbuah di dalam Dia. Dalam mengambil suatu keputusan perlu adanya sikap yang disiplin. Sebab apabila kita mengambil keputusan dengan ceroboh maka persoalan besar yang akan kita tuai, sedangkan apabila kita melangkah dengan kedisiplinan maka dalam jangka panjang kita akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Mungkin kita pernah mengalami kegagalan akibat tidak disiplin dalam menjalankan visi, tetapi biarlah kita kembali pada keputusan yang sesuai dengan Firman Allah. Apabila saat ini kita mengalami keadaan yang terpuruk, maka hal yang pertama kita lakukan adalah interopeksi diri. Apakah kita sudah keluar dari visi atau sudah menyeleweng dari kehendak Tuhan. Sebagai pedoman untuk interopeksi diri kita adalah firman Tuhan. Apabila hidup kita tidak sesuai dengan firman Tuhan itu berarti kita sudah keluar dari visi yang Tuhan berikan.

Kalau kita mengalami kemerosotan dalam hidup ini ataupun diberkati; baik dalam hal pekerjaan, keluarga maupun usaha yang semakin berkembang, itu merupakan tanda bahwa diri kita sedang diuji, apakah goyah atau tidak dalam menjalankan visi yang kita terima. Langkah demi langkah Allah membuktikan kuasaNya. Apabila saat ini kita meniliti diri sendiri mengalami banyak tantangan, maka sadarilah bahwa kita akan mendapatkan mujizat dari Allah asalkan tidak goyah. Semakin besar cobaan yang kita alami maka semakin besar pula mujizat yang akan kita terima (Yakobus 1:2-6). Saat kita mengalami cobaan janganlah cepat mengambil keputusan dengan kekuatan kita sendiri. Orang yang mengandalkan diri sendiri akan terkutuk, seperti yang tertulis dalam Yeremia 17:5, “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!”

Segala sesuatu pasti ada waktunya karena Tuhan merindukan kita memiliki iman yang matang. Dalam melayani Tuhan kita harus tetap menyala-nyala karena hal ini akan membuat kita tetap teguh dalam mengiring Dia. Lalu yang menjadi pertanyaannya adalah : bagaimana seseorang dapat terus menyala-nyala dalam melayani Tuhan ? Setiap orang yang memiliki Roh Kristus maka dia akan tetap menyala-nyala dalam melayani Tuhan seperti halnya Tuhan Yesus saat berada di dalam dunia untuk mengemban tugasNya. Dia tidak pernah loyo, putus asa maupun frustrasi dalam menjalankan misiNya, walaupun banyak rintangan yang dihadapi oleh Yesus, namun semuanya itu tidak membuat surut semangat Yesus, sebab di dalam diri Yesus ada Roh Kudus yang membuat Dia menyala-nyala dalam menjalankan pekerjaan Bapanya, bahkan sampai di atas kayu salibpun Dia tetap mau mengampuni orang yang menganiayaNya. Hal ini tidak mudah untuk dilakukan tetapi oleh karena ketaatanNya kepada Bapa maka Ia berhasil untuk menyelesaikannya.

Demikian dengan kita, janganlah kita putus asa, loyo maupun frustrasi sebab kita sebagai anak-anak Tuhan ditetapkan sebagai pemenang seperti yang tertulis dalam I Yohanes 5:4, “sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita.”
Diantara tokoh-tokoh yang ada dalam dunia ini semua rohnya telah mengalami kegagalan, tetapi hanya ada satu tokoh yang tidak gagal yaitu Yesus Kristus. Dan setiap orang yang percaya pada Yesus akan berhasil karena di dalam dirinya ada Roh Kristus. Roh Kristus tidak pernah gagal karena Roh Kristus merupakan energon/energi yang luar biasa. Oleh sebab itu janganlah sekali-kali kita mendukakan Roh Kudus yang sudah dimeteraikan dalam hati kita, dan jangan memadamkan Roh yang sedang bekerja dalam hidup kita, apalagi menghujat. Dan perlu kita ketahui bahwa yang memberi kemampuan/kesanggupan untuk melakukan perkara yang besar adalah Roh Kudus. Untuk itu jangan sekali-kali seseorang memegahkan diri atas dirinya sendiri, sebab hal itu sama dengan kesombongan. Sedangkan orang yang sombong adalah musuh Allah. Dan kesombongan itu sendiri akan mendahului kehancuran.

Saudara, sekali lagi firman Tuhan menasehatkan supaya kita tetap teguh dan tidak terpengaruh oleh keadaan sekitar kita. Sebab orang yang mudah terpengaruh seperti kapal di tengah lautan yang diombang-ombang ambingkan oleh gelombang laut. Kalau kita tetap teguh maka kita akan dipercaya oleh Tuhan mulai dari perkara yang kecil sampai perkara yang besar, seperti yang tertulis dalam Lukas 16:10, “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.”

Kalau kita berhasil saat ini itu merupakan hasil karya daripada Roh Kudus. Untuk itu tetaplah berdiri dengan teguh sebab Roh yang ada dalam diri kita lebih besar daripada roh yang ada di dalam dunia ini.

Amin

Wednesday, February 22, 2012

Mezbah Abraham



Pdt. Abraham Alex Tanuseputra

“Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah (Galatia 3:29).

Ketika seseorang menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, maka orang tersebut menjadi milik Kristus. Dan orang yang menjadi milik Kristus berhak menerima janji Allah seperti yang diberikan kepada Abraham karena kita termasuk keturunan Abraham. Perlu diketahui bahwa dalam firman Tuhan telah terkandung suatu janji dan hukum/perintah. Janji yang dimaksud disini adalah janji berkat. Sekarang kita akan melihat berkat apa yang diterima Abraham, dan apa yang telah dilakukan Abraham. Kita perlu mempelajarinya supaya berkat-berkat yang dijanjikan kepada Abraham-pun boleh kita terima secara nyata dalam hidup kita.

Firman Tuhan berkata : ”Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, . . . .” (Ibrani 11:8-10). Dari ayat tersebut kita melihat bahwa ada suatu rencana Allah bagi kita. Pada waktu Abraham tinggal di tanah yang asing, Tuhan punya rencana untuk Abraham. Bahkan bukan hanya untuk di dunia ini tetapi hidup yang kekal. Oleh sebab itu ada Abram, manusia jasmani dan ada Abraham manusia rohani. Abraham inilah manusia roh yang direncanakan Allah mendapatkan hidup yang kekal. Manusia jasmani pada akhirnya akan roboh, tetapi jika saat itu tiba bagi kita maka kita tidak perlu takut, sebab manusia rohani kita tahu tujuan yang pasti yaitu mendapatkan hidup kekal selama-lamanya. Dan setiap kita yang rindu untuk masuk di dalam rencana Allah baik dalam hidup di dunia ini maupun untuk yang akan datang, biarlah kita mau belajar dari apa yang sudah dilakukan oleh Abraham.

Di dalam Alkitab kita menemukan adanya mezbah-mezbah yang dibangun oleh Abraham. Mezbah adalah berbicara tentang ibadah. Di dalam ayat-ayat yang akan kita lihat nanti, kita menemukan adanya empat mezbah. Mengapa ada empat mezbah? Karena ibadah itu bertumbuh. Seperti seorang anak yang mengenal orang tuanya, dia tidak lahir langsung mengenali orang tuanya, tetapi anak itu bertumbuh selangkah demi selangkah untuk mengenali orang tuanya dengan baik.

Adapun empat mezbah yang telah didirikan oleh Abraham:

a. Mezbah Yang Didirikan Dekat Sikhem (Kejadian 12:1-7)
Mezbah adalah ibadah, dan diatas mezbah selalu ada korban. Di dalam ibadah harus ada yang dikorbankan. Dari kisah Abraham yang dipanggil Allah ini, kita bisa belajar bahwa Abraham telah mempersembahkan korban. Mengapa Abraham dipanggil dari sanak saudaranya? Karena sanak saudara Abraham hidup dalam sistem dunia. Sistem dunia adalah “kalau tidak berkeringat, tidak korupsi, tidak membunuh, tidak merampok… maka tidak bisa hidup”. Dunia kegelapan mem-back up cara hidup sanak saudara Abraham. Abraham ditunjuk Tuhan untuk meninggalkan sistem dunia dan pergi ke suatu tempat.

Dalam hidup ini kita belajar, kita sekolah dan belajar keahlian. Hal ini memang tidak salah, tetapi jika kita beranggapan bahwa kalau tidak berpeluh dan berkeringat maka kita tidak bisa makan, maka ini salah. Hal ini berarti bahwa kita masih terikat pada sistim dunia. Allah mengajar kita untuk berubah dari sistem dunia menuju sistem berkat. Sikhem berarti bahu. Abraham mendirikan mezbah di dekat sikhem, karena dia tidak lagi memakai sistem dunia. Dia telah mengambil keputusan untuk menaruh segala beban hidupnya di atas bahu Allah dan tidak lagi mengandalkan kekuatan sendiri. Demikian juga seharusnya kita. Jangan mengandalkan kekuatan sendiri, tetapi taruhlah segala beban di bahu Yesus Kristus. Sebab bahu Yesus Kristus adalah bahu yang kuat, perkasa dan disana ada kuasa yang hebat. (Yesaya 9:5).

b. Mezbah Yang Didirikan Dekat Betel (Kej. 12:8)
Betel adalah berbicara tentang rumah Allah. Abraham mulai menghormati Allah. Dia mengorbankan kedagingannya menjadi rumah Allah. Siapa yang menghormati Allah dia tidak akan mendukakan, melawan atau menghujat Roh Kudus. Dan barangsiapa menghormati Allah, seperti Obed Edom yang menerima Tabut Allah di rumahnya dan menghormati Allah, maka hanya dalam waktu tiga bulan dia diberkati Allah dengan luar biasa. Mari kita juga menghormati Allah dengan tidak mendukakan, melawan atau menghujat Roh Kudus.

c. Mezbah Yang Didirikan Dekat Hebron (Kej. 13:18)
Pada waktu Abraham keluar dari sanak saudaranya, ternyata ada Lot yang ikut. Kalau kita teliti kebenaran Alkitab, kita akan menemukan bahwa ternyata Lot tidak pernah mendirikan mezbah. Jadi dia hanya numpang Abraham. Sekalipun hanya numpang, ternyata Lot juga menjadi kaya. Tetapi perhatikan, ternyata ada waktunya Allah membuat pemisahan. Dan ketika tiba waktunya untuk memilih, Lot memilih berkemah di dekat Sodom. Sodom adalah sebuah kota duniawi yang moralnya rusak. Lot ternyata memilih untuk kembali ke sistem dunia. Dia telah memulai dengan roh tetapi mengakhiri dalam daging. Akhir keluarga Lot, istrinya menjadi tiang garam dan dua anak wanitanya bermoral rusak, yaitu berselingkuh dengan ayahnya sendiri sebagai akibat dari pengaruh Sodom.
Hebron artinya damai sejahtera. Abraham memilih untuk tidak bertengkar, dia memilih damai sejahtera. Selanjutnya setiap langkah Abraham disertai dan diberkati Allah dengan luar biasa.

d. Mezbah Yang Didirikan Di Gunung Moria (Kejadian 22:1-2)
Ishak adalah anak yang sangat dicintai Abraham. Bahkan Abraham tentu mencintai Ishak lebih dari segala hartanya, karena Ishak didapatkan pada masa tuanya setelah sekian tahun lamanya diharapkan. Namun demikian di mezbah di Gunung Moria dia mengorbankan Ishak. Gunung Moria adalah Gunung Allah. Di Gunung Moria ini Abraham membuktikan diri bahwa dia mencintai Allah lebih dari segala-galanya, termasuk lebih dari yang paling dicintai dalam hidupnya. Tuhan juga menghendaki agar kita mencintai Dia lebih dari segala-galanya. Apakah hal ini merugikan Abraham? Ternyata tidak. Di dalam Kejadian 22:14 terbukti bahwa jika kita mencintai Tuhan lebih dari segalanya, maka segala-galanya disediakan Tuhan.
Perhatikan, dari keempat mezbah tersebut di atas kita bisa melihat bahwa mezbah di Sikhem adalah berbicara tentang iman, mezbah di Betel dan Hebron adalah berbicara tentang harap, sedangkan mezbah di Guning Moria adalah berbicara tentang Kasih.

Untuk itu mari kita teladani Abraham yang medirikan empat mezbah untuk diterapkan di dalam kehidupan ibadah kita! Tentu berkat Abraham akan mengalir juga dalam kehidupan kita.

Amin.

Monday, February 13, 2012

Biji Mata Tuhan Yang Dicintai



Pdt. Abraham Alex Tanuseputra

Seorang budak tidak mempunyai hak atas dirinya sendiri, sekaligus tidak dapat melihat akan masa depan. Demikianlah yang dialami oleh bangsa Israel ketika berada di tanah perbudakan (Mesir), mereka mengalami penderitaan yang luar biasa, selain kehilangan jati dirinya. Mereka tidak menyadari bahwa apa yang sedang mereka alami disebabkan oleh perbuatan mereka yaitu memberontak terhadap ketetapan Tuhan. Walaupun demikian, Tuhan tidak pernah membiarkan mereka untuk tetap hidup dalam penderitaan, sebab Tuhan telah menetapkan suatu rancangan bagi umatNya yaitu rancangan damai sejahtara dan bukan rancangan kecelakaan. Dan sejauh ini bangsa Israel tidak pernah memahami dan menyelami betapa besar kasih Tuhan. Mereka cenderung untuk menuruti keinginannya sendiri ketimbang menuruti kehendak Tuhan.

Saudara, kali ini kita akan melihat betapa besar pembelaan Tuhan terhadap bangsa Israel (termasuk kita sebagai bangsa Israel secara rohani) ketika mengalami berbagai macam aniaya baik itu secara jasmani maupun rohani karena kita adalah biji mataNya; seperti yang tertulis dalam Zakharia 2:8 (Pernyataan Tuhan) “Sebab beginilah firman TUHAN semesta alam, yang dalam kemuliaan-Nya telah mengutus aku, mengenai bangsa-bangsa yang telah menjarah kamu -- sebab siapa yang menjamah kamu, berarti menjamah biji mata-Nya”. Disisi lain, Tuhan juga menyatakan pemeliharaanNya terhadap umatNya yang sedang mengalami pergumulan, walaupun kerapkali umatNya mengecewakanNya. Sebab Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang setia, Ia tidak pernah mengingkari akan janjiNya dan Dia tidak pernah dibatasi oleh ruang dan waktu, sehingga Dia dapat melindungi kita, seperti yang tertulis dalam Ulangan 32:10 “Didapati-Nya dia di suatu negeri, di padang gurun, di tengah-tengah ketandusan dan auman padang belantara. Dikelilingi-Nya dia dan diawasi-Nya, dijaga-Nya sebagai biji mata-Nya.”

Saudara, walaupun orang percaya diposisikan sebagai biji mata Tuhan yang senantiasa dijaga, dipelihara dan dilindungi, tetapi tidak sedikit orang percaya yang berusaha untuk lari dari rencana Tuhan dan menentukan jalannya sendiri, sehingga mereka jatuh dalam berbagai pencobaan. Tetapi saat ini kita akan belajar dari kehidupan Daud. Meskipun Daud adalah seorang raja yang diurapi dan diberkati secara berlimpah, namun ia tetap bergantung kepada Tuhan, sebab ia menyadari bahwa di luar Tuhan manusia tidak dapat berbuat apa-apa. Sehingga dalam doanya, Daud berkata : “Peliharalah aku seperti biji mata, sembunyikanlah aku dalam naungan sayap-Mu.”(Mazmur 17:8).
Hal ini menunjukkan betapa terbatasnya manusia itu. Dan seandainya ada seseorang yang kaya raya, memiliki kedudukan atau jabatan yang tinggi, memiliki rumah yang megah bagaikan istana dengan dilengkapi para penjaga, tetapi kalau tidak hidup melekat pada Tuhan maka sia-sialah segala apa yang ia miliki, sebab firman Tuhan berkata : “Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga. Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah -- sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur.”(Mazmur 127:1-2)

Oleh karena itu janganlah kita menolak untuk dicintai Tuhan, sebab kita adalah biji mataNya. Dan apabila kita tetap menolak atau tidak menganggap cinta daripada Tuhan, maka kita akan mengalami seperti yang dialami oleh gadis Sulam (Shulamite). Shulamite adalah gadis yang sederhana, dan ia adalah pekerja kebun anggur milik Salomo. Dari kisah ini telah diceritakan bahwa Salomo telah jatuh cinta kepada Shulamite walaupun kedudukan diantara keduanya sangat jauh berbeda. Dimana posisi Salomo adalah seorang baginda raja yang diurapi dan diberkati, sedangkan Shulamite adalah pekerja kasar, bahkan dapat dikata “tidak ada harganya” dibanding dengan Salomo. Lalu bagaimana menyamakan posisi dari orang yang biasa untuk naik step by step (langkah demi langkah) supaya setara dengan Salomo, bahkan sampai menjadi permaisuri raja ? Pada waktu Salomo menyatakan cintanya kepada Shulamite, ia harus menyamar menjadi seorang gembala dengan membawa domba ke kebun anggur, sehingga ia dapat bertemu dengan Shulamite. Dan sementara waktu berjalan, hidup daripada Shulamite mulai mengalami perubahan. Dimana dia mendapat banyak hadiah dari Salomo sebagai tanda cintanya kepada Shulamite. Dan ketika kehidupan Shulamite sudah menjadi mapan, maka mulai ada sedikit perubahan dalam hal kesetiaan.

Tatkala Salomo hendak bertemu dengan Shulamite pada malam hari karena rindu bertemu dengan Shulamite, namun Shulamite enggan menemuinya karena ia mau tidur. Tetapi Salomo tetap mengetuk pintu rumahnya, dan pada akhirnya Salomo harus pergi karena kedatangannya tidak diharapkan. Setelah Salomo pergi, Shulamite mulai sadar dan bergegas untuk membukakan pintu, tetapi kekasihnya telah pergi.
Saudara, bukankah Yesus Kristus itu raja segala raja yang menjadi manusia dan sebagai gembala yang baik sehingga Dia dapat bertemu dengan kita. Dan apabila saat ini Tuhan sedang mengetuk pintu hati kita, maka janganlah kita enggan untuk membukanya dan mempersilahkan Dia masuk, sebab ketika Dia masuk dalam hati kita, maka Dia akan merubah kehidupan kita bahkan apa yang tidak pernah kita dengar maupun kita lihat, bahkan tidak pernah timbul dalam hati kita akan dinyatakan oleh Tuhan. Percayalah bahwa Tuhan sedang mengangkat kita menjadi calon permaisuri (mempelai Kristus) step by step. Memang untuk mencapai derajat yang sama itu tidak mudah karena perlu waktu. Namun yang jelas suatu saat derajat kita akan sama dengan mempelai laki-laki.

Tetapi sementara waktu berjalan, janganlah kesetiaan kita berubah, walaupun kita diberkati secara berlimpah-limpah. Karena yang utama adalah kita dibawa pada tingkat kedewasaan yang pada akhirnya kita layak untuk menjadi mempelai Kristus. Dan apabila saat ini kita diberkati Tuhan maka kita perlu memuliakan Tuhan dengan harta kita, dan jangan sampai kita mulai mencintai harta kita lebih daripada Tuhan, sebab firman Tuhan berkata : “Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (Matius 6:24)

Melalui beberapa uraian diatas, biarlah kita semakin giat dan sungguh-sungguh di dalam Tuhan supaya tingkat kerohanian kita semakin hari semakin meningkat sampai mencapai kedewasaan penuh, sehingga kita berkenan menjadi mempelai Kristus.

Dan jikalau dalam perjalanan hidup kita mengalami banyak rintangan atau pergumulan, janganlah kita kuatir sebab kita adalah biji mata Tuhan yang dicintai.

Amin.

Thursday, January 26, 2012

PertolonganNya Tidak Pernah Terlambat



Pdt. Dr. Abraham Alex Tanuseputra

Ayat Bacaan: Markus 5:21-43

Masihkah mujizat Allah terjadi hingga saat ini ?
Sebuah pertanyaan yang kerapkali timbul dalam hati orang yang mengaku dirinya Kristen ketika menghadapi persoalan yang tak kunjung padam maupun sedang mengalami jalan buntu. Dan kali ini kita akan melihat kisah yang terdapat dalam Alkitab yang menceritakan tentang dua orang yang mengalami persoalan selama bertahun-tahun dan menghadapi jalan buntu.

Mujizat yang pertama adalah orang yang mengalami sakit pendarahan selama dua belas tahun telah disembuhkan dan yang kedua adalah anak Yairus dibangkitkan dari kematian. Dari sekian banyak orang yang datang kepada Yesus, hanya dua orang yang mengalami mujizat. Padahal semua orang yang mengerumuni Yesus juga membutuhkan suatu pertolongan, tetapi mereka tidak menyadari bahwa diri mereka perlu ditolong. Mereka lebih suka untuk menonton atau ikut-ikutan saja daripada mengalami sendiri. Hal ini disebabkan karena mereka menganggap bahwa dirinya memiliki kemampuan.

Untuk itu, jangan sampai kita seperti orang banyak yang datang kepada Yesus, yang hanya menonton atau ikut-ikutan, tetapi biarlah kita belajar seperti dua orang yang mengalami mujizat dari Tuhan. Mungkin saat ini ada persoalan yang telah tampak di depan kita atau ada yang belum, namun yang jelas bahwa suatu saat di depan kita ada peristiwa yang tidak dapat kita atasi dengan kekuatan kita sendiri dan kita mengalami jalan buntu (deadlock). Tetapi apabila kita datang kepada Tuhan Yesus seperti dua orang ini, maka segala persoalan kita akan terselesaikan.
Dari peristiwa yang telah kita baca, maka kita akan menemukan nilai kebenaran yang terdapat dalam perikop ini, diantaranya :

Pertama, Yairus adalah seorang kepala rumah ibadat yang sedang mengalami persoalan yang cukup serius, karena anaknya sakit keras dan hampir mati (sekarat). Dan apabila ditinjau dari status sosial ia adalah seorang rohaniawan, maka tentunya ia tahu tentang hal theologia (ilmu ketuhanan), tetapi tatkala ia mendengar tentang nama Yesus atau tentang Injil Kristus yang selalu menyatakan bahwa Allah telah menjadi manusia, yang bernama Yesus, maka datanglah Yairus kepada Yesus dan tersungkurlah Yairus di depan Yesus, lalu menyembahNya (ayat 22). Mengapa Yairus tersungkur didepan Yesus ? Karena ia tahu, bahwa ia sedang menghadap Allah yang menciptakan langit dan bumi. Demikianlah yang tertulis dalam Yohanes 1:14 & 18, yaitu bahwa “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. - Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.” Artinya, bahwa barangsiapa yang bertemu dengan Yesus, dia bertemu dengan Allah yang Mahakuasa.

Dari sini kita akan tahu, bahwa persoalan dapat dialami oleh siapa saja, termasuk hamba Tuhan. Walaupun tampak seolah-olah bahwa seorang hamba Tuhan tidak memiliki masalah, atau tampak bahwa hidupnya serba sukses karena Tuhan pasti menolong. Tetapi suatu saat seorang hamba Tuhan bisa terbenam dalam suatu kesukaran dan tidak bisa mengatasinya. Namun apabila dia minta pertolongan kepada Tuhan Yesus, maka Tuhan Yesus turut bersama-sama untuk menyelesaikan persoalannya itu, asalkan didasari dengan iman yang mantap seperti yang dimiliki oleh Yairus. Tetapi berapa banyak orang yang mengaku dirinya percaya kepada Tuhan Yesus namun tidak seratus persen percaya, bahwa Tuhan sanggup menyelesaikan segala persoalan. Bahkan sebaliknya, saat mereka mengalami persoalan mereka justru menjadi panik. Tetapi Tuhan berkata : jangan takut !. Arti kata takut dalam bahasa Yunani, seperti yang tertulis dalam Markus 5:35-36 yang berarti “panik.”.

Memang, terkadang sementara kita berjalan bersama Yesus, keadaan tidak bertambah baik, seperti yang dialami oleh Yairus. Dan hal ini bukan berarti kita semakin menderita apabila berjalan dengan Yesus, tetapi Tuhan ingin menyatakan kuasaNya yang luar biasa. Karena semakin sukar persoalan itu, maka semakin besar mujizat yang dinyatakan Tuhan kepada kita. Untuk itu jangan kuatir dan takut, karena ada mujizat yang akan dinyatakan lebih hebat lagi. Dan apabila persoalan sedang menimpa kita, maka janganlah kita panik. Orang yang panik adalah seperti orang yang tidak bertuhan. Tetapi orang yang penuh Roh Kudus adalah orang yang tidak takut terhadap persoalan, karena mujizat Tuhan pasti terjadi.

Dan apabila saat ini kita mengalami persoalan dan tidak ada jalan keluarnya (deadlock), maka ingatlah bahwa pertolonganNya tidak pernah terlambat. Meskipun kita tidak bertemu dengan Yesus secara fisik, tetapi RohNya yang kudus telah bersama-sama dengan kita. Karena ketika kita berdoa dalam nama Tuhan Yesus, maka Roh Kudus akan memberikan kemampuan kepada kita untuk mengahadapi persoalan serta menyelesaikannya, demikianlah yang tertulis dalam Efesus 1:13-14 yang berbunyi : “Di dalam Dia kamu juga -- karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu -- di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.”

Kedua, seorang wanita yang mengalami sakit pendarahan selama dua belas tahun (Markus 5:25-28). Dua belas tahun bukanlah waktu yang singkat; jangankan dua belas tahun, satu malam saja orang sudah merasakan penat yang luar biasa, apalagi menderita sakit selama dua belas tahun. Tentunya orang akan berputus asa karena tidak tahan mengalami penderitaan terus-menerus; apalagi kekayaannya habis digunakan untuk berobat namun hasilnya “nol besar”. Tetapi saudara, wanita ini tidak putus asa. Dia sungguh percaya bahwa hidup ini masih ada harapan selama mau berusaha. Dan ketika wanita ini mendengar tentang Tuhan Yesus, maka pengharapannya untuk mendapat mujizat semakin kuat. Bahkan dia berkata : “asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” (ayat 28). Dan setelah menjamah jubah Yesus, maka seketika itu juga wanitu tersebut telah sembuh dari penderitaannya (ayat 29).

Jubah berbicara tentang urapan (contoh : Elia & Elisa). Dan urapan itu kita dapatkan saat kita bersekutu dengan Tuhan, karena dalam firman Tuhan juga dikatakan : “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka."(Matius 18:20). Dan jikalau Tuhan hadir ditengah-tengah kita maka urapanNya juga hadir ditengah-tengah kita. Kemudian, apabila kita menerima urapan, maka segala penyakit yang sudah berlangsung selama belasan bahkan puluhan tahun, Tuhan tetap sanggup memberikan kesembuhan dan jawaban atas persoalan kita.

Oleh sebab itu janganlah kita takut atau panik saat mengahadapi persoalan, tetapi biarlah kita tetap memiliki iman yang teguh dan pengharapan yang kuat, sebab pertolonganNya terhadap kita tidak pernah terlambat.

Amin.

Tuesday, January 24, 2012

Peganglah Apa Yang Ada Padamu!



Pdt. Abraham Alex Tanuseputra

“Aku datang segera. Peganglah apa yang ada padamu, supaya tidak seorang pun mengambil mahkotamu.”
(Wahyu 3:11)

Saat ini yang menjadi bahan perenungan kita adalah kata “peganglah apa yang ada padamu”. Dan sebelum kita meneliti lebih dalam lagi, maka terlebih dahulu kita akan mempelajari pertumbuhan dan perkembangan gereja yang berawal dari kisah para rasul. Dimana pada abad-abad pertama gereja berkembang begitu luar biasa. Tetapi dalam perkembangan selanjutnya, gereja sempat kehilangan sesuatu ketika masuk dalam suatu jaman, yang lebih dikenal dengan abad kegelapan. Dalam masa kegelapan inilah, akhirnya muncul kegerakan Protestament yang berarti gereja harus kembali kepada kebenaran firman Tuhan.

Lalu, hal-hal apakah yang harus kita pegang dan pertahankan supaya kegerakan protestament tetap berkesinambungan, khususnya kita sebagai umat kepunyaanNya ?

1. Kehidupan Doa
Dalam Kisah Para Rasul 1:14 telah jelaskan bahwa : “Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus.”
Hal berdoa telah menjadi gaya hidup mereka (murid-murid Tuhan), sehingga pada akhirnya mereka mengalami pelipatgandaan yaitu menjadi seratus dua puluh orang pada saat hari pentakosta. Oleh karena itu kehidupan doa tidak boleh lepas dari kehidupan kita. Apabila kehidupan doa lepas dari dalam diri kita maka hubungan kita dengan Tuhan Yesus akan terputus. Kehadiran Tuhan ada pada orang yang berdoa, dan apabila Dia hadir, maka : “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” (Matius 7:7)
Berapa banyak gereja kehilangan kehidupan doa. Sepanjang pertengahan minggu tidak ada doa yang dinaikkan, karena kegiatan doa hanya dilakukan pada hari Minggu saja. Padahal doa merupakan nafas kehidupan rohani kita, dimana roh kita dapat berhubungan dengan Roh Kudus. Dan kekuatan doa itu sungguh luar biasa, seperti yang terjadi pada umat Tuhan ketika mereka sedang berdoa (Kisah Para Rasul 4:31). Namun kenyataannya tidak sedikit orang Kristen berkata bahwa berdoa itu membuang-buang waktu (wasting time). Padahal orang yang mengandalkan kekuatan jasmaninya itu sama dengan orang yang masuk kedalam lumpur. Ketika orang tersebut berusaha bergerak maka orang itu akan semakin terhisap oleh lumpur itu. Tetapi apabila kita berdoa maka kekuatan Allah akan dinyatakan melalui kehidupan kita sebagai umat lebih dari pemenang.


2. Firman Tuhan
Selain kehidupan doa yang harus kita pegang, tentunya ada hal lain harus kita pertahankan yaitu senantiasa membaca firman Tuhan dan menyelidiki tentang kebenaranNya, seperti yang dilakukan oleh murid-murid Tuhan (Kisah Para Rasul 2:42). Dan perlu kita ketahui pula bahwa segala sesuatu yang tidak ada menjadi ada oleh karena firman. Memang, firman Tuhan tampaknya seperti dongeng, dimana di dalamnya diceritakan tentang berbagai macam mujizat yang telah dilakukan oleh Tuhan. Tetapi apabila kita sungguh-sungguh menyelidiki firman, maka kita akan menemukan banyak janji-janji Tuhan yang disediakan untuk kita, sedangkan apabila kita enggan atau malas maka kita akan kehilangan banyak janji-janji Tuhan yang akan dinyatakan dalam kehidupan kita. Firman Tuhan berkata : “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.” (Yohanes 15:7). Dalam pengertian bahwa segala sesuatu yang kita minta tentunya sesuai dengan apa yang tertulis dalam firman Tuhan, maka semuanya akan diberikan kepada kita. Oleh sebab itu, jangan sampai kita kehilangan semangat untuk membaca firman Tuhan.


3. Puji-pujian dan Penyembahan
Kisah Para Rasul 2:47 dikatakan : “sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.”
Jadi pujian dan penyembahan dalam kehidupan kita itu sangat penting, karena Tuhan bertahta di atas pujian umatNya (Mazmur 22:4). Oleh karena itu, puji-pujian dalam kehidupan kita jangan sampai hilang, karena dalam puji-pujian ada kuasa yang dahsyat. Hal ini dapat kita lihat dari kisah tentang Paulus dan Silas saat mereka berada dalam penjara, dimana kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka. Akan tetapi terjadilah gempa bumi yang hebat, sehingga sendi-sendi penjara itu goyah; dan seketika itu juga terbukalah semua pintu dan terlepaslah belenggu mereka semua. (Kisah rasul 16:25-26).


4. Menabur dan Menuai
Dalam hal menabur dan menuai ini tidak semua orang dapat memahami. Karena di dalam siklus ini dituntut adanya suatu pengorbanan. Seperti yang dilakukan oleh jemaat mula-mula, yang mana telah dikatakan : ”dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.” (Kisah Para Rasul 2:45) dan sebagai dampaknya adalah “ . . tidak ada seorang pun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya.” (Kisah Para Rasul 4:34-35)
Saudara, apabila dalam kehidupan kita tidak ada tindakan untuk menabur, maka selamanya kita tidak akan menuai. Oleh sebab itu, hal menabur dan menuai biarlah menjadi bagian dan siklus dalam kehidupan kita. Dan hal menabur ini tidak hanya terfokus pada gereja saja, tetapi juga terhadap saudara kita yang membutuhkan pertolongan, karena itu merupakan kehendak Tuhan, seperti yang tertulis dalam Matius 25:35-40.

Amin

Tuesday, January 17, 2012

Responi PanggilanNya



Pdt. Abraham Alex Tanuseputra

“Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung. (II Petrus 1:10)

Pada ayat bacaan di atas terdapat kata-kata “berusahalah sungguh-sungguh”, seolah-olah dengan kekuatan manusia, kita melakukan apa yang telah difirmankanNya. Padahal dalam bahasa aslinya kata berusaha ini mengandung perngertian : adanya suatu respon/menanggapi terhadap panggilan dan pilihan Tuhan.

Sebagai contoh adalah Yohanes pembaptis. Apabila kita melihat sejarah mengenai Yohanes pembaptis maka kita akan tahu bahwa sejak dalam rahim ibunya yaitu Elisabet, ia telah meresponi akan panggilan Tuhan. Hal ini terbukti ketika Elisabet mendengar salam dari Maria (ibu Yesus), dan spontanitas bayi (Yohanes) dalam rahim Elisabet itu melonjak, karena ia tahu bahwa yang bertandang ke rumahnya adalah raja di atas segala raja yaitu Yesus Kristus (Lukas 1:39-45).

Saudara, setelah Yohanes pembaptis lahir, maka dalam masa pertumbuhannya ia berada di padang gurun dengan tujuan supaya ia tidak terpengaruh dengan segala keadaan yang ada disekelilingnya dan tetap konsisten terhadap panggilannya, karena ia yang akan mempersiapkan jalan bagi Tuhan. Bersamaan dengan pertumbuhan akan fisiknya, roh daripada Yohanes pembaptis juga bertambah kuat, dan Yohanes pembaptis tetap tinggal di padang gurun sampai pada saat yang telah ditentukan oleh Tuhan untuk tampil ditengah-tengah bangsa Israel untuk menyatakan bahwa jalan bagi Tuhan harus dipersiapkan.

Roh daripada Yohanes pembaptis ini semakin hari semakin kuat sebab ia senantiasa menjalin hubungan dengan Tuhan dan tidak pernah lepas, karena ia telah mempersiapkan dirinya untuk mengalahkan dunia dan bukan dikalahkan oleh dunia. Dan perlu kita ketahui pula, bahwa kontak roh antara Yohanes dan Yesus tidak hanya terjadi pada saat keduanya berada di rahim ibu mereka masing-masing, tetapi sampai dewasapun hubungan roh ini tetap ada. Hal ini terbukti ketika ia melihat Roh Kudus turun dari langit seperti burung merpati dan tinggal diatasNya, maka saat itu Yohanes berkata : Ia inilah Anak Allah. (Lukas 1:33-34). Demikian pula dengan kita, bahwa sejak kita berada dalam kandungan ibu kita, kita sudah mendapat bagian dari Roh Allah. Karena begitu benih itu ada dalam rahim ibu kita, maka nafas Allah itu sudah ada. Oleh sebab itu, tidak boleh ada pengguguran janin, sebab orang yang menggugurkan janin itu sama dengan membunuh.

Adanya bagian daripada Roh Allah pada manusia juga diungkapkan dalam surat Paulus kepada Jemaat di Galatia, yaitu Galatia 1:15-16 : “Tetapi waktu Ia, yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh kasih karunia-Nya, berkenan menyatakan Anak-Nya di dalam aku, supaya aku memberitakan Dia di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi . . . . . “
Inilah pernyataan daripada Paulus, bahwa sejak berada dalam kandungan ibunya; ia telah mengenal sang pencipta karena sebagian Roh Allah berada dalam hidupnya. Dan kalau kita urut kembali dari Adam dan Hawa, maka kita akan tahu bahwa mereka berasal dari debu dan tanah, lalu dihembuskan nafas hidup sehingga Adam dan Hawa menjadi mahkluk yang hidup. Hal ini membuktikan bahwa setiap manusia memiliki nafas hidup yang berasal dari Allah. Namun dalam pertumbuhan daripada Saulus, baik secara fisik maupun secara mental telah dipengaruhi oleh budaya masyarakat Israel, yang mana pada saat itu tidak beribadah kepada Tuhan; disamping bangsa Israel sedang dijajah oleh bangsa Romawi.

Seharusnya batin Saulus berpaut kepada sang pencipta, tetapi saat dia dewasa justru memusuhi Kristus, dengan cara menganiaya para pengikut Tuhan, salah satunya adalah Stefanus yang telah mati karena dirajam batu. Saulus telah menghalalkan segala cara untuk dapat menumpas umat Tuhan. Saulus adalah seorang intelektual (berpendidikan), tetapi sayangnya dia tidak mengenal Kristus. Akhirnya suatu saat Saulus “disapa” oleh Tuhan ketika melakukan perjalanan ke Damsyik, katanya : “Saulus, Saulus mengapa engkau menganiaya Aku ?” dan saat itu juga Saulus jatuh dan tidak dapat melihat. Lalu ia dituntun Ananias, kemudian dibaptiskan. Dan saat itu Saulus mengalami kelahiran baru, sehingga namanya diganti menjadi Paulus. Dan sekarang Paulus kembali menjadi anak secara roh, dan kini ia mulai peka terhadap sang pencipta; karena hati seorang anak sangat peka terhadap Tuhan. Oleh sebab itu dalam Injil Matius 19:4 Tuhan berkata : “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga.”

Dan sejak peristiwa yang dialami oleh Paulus, maka ia tinggal di Damsyik selama 2-3 tahun, dan disana kerohaniannya dibentuk sampai mengalami pertumbuhan, dan akhirnya ia baru sadar bahwa sang pencipta telah “menyapanya”. Pengalaman hidup daripada Paulus telah membuatnya dia bahagia, karena ia tahu bahwa anugerah Allah telah dilimpahkan kepadanya melalui panggilannya. Dan kini ia mulai mengerti akan artinya hidup.

Dari sekian banyak manusia yang lahir di dunia ini tidak mengenal sang pencipta. Tetapi setelah “disapa” oleh Injil baru percaya akan Tuhan. Oleh sebab itu marilah kita mengenal sang pencipta kita, sebab apabila kita mengenal sang pencipta maka kita tidak akan dibiarkan sendiri, tetapi kita akan diangkat. Demikianlah yang dialami oleh Paulus, setelah dia dipanggil Tuhan maka hidupnya mengalami perubahan secara luar biasa, walaupun dalam pertumbuhannya dia mengalami banyak ujian, tetapi dia berhasil dan menjadi kuat, sehingga pada akhirnya ia berani tampil di tengah-tengah bangsa Israel untuk memberitakan Injil keselamatan.

Saudara, saat ini kita beribadah bukan sekedar memenuhi aturan agama, tetapi mensyukuri dan meresponi akan panggilan Tuhan; untuk itu jangan sampai ada yang undur diantara kita, sebab orang yang undur tidak akan berkenan kepada Allah, seperti yang tertulis dalam Ibrani 10:38-39 “Tetapi orang-Ku yang benar akan hidup oleh iman, dan apabila ia mengundurkan diri, maka Aku tidak berkenan kepadanya. Tetapi kita bukanlah orang-orang yang mengundurkan diri dan binasa, tetapi orang-orang yang percaya dan yang beroleh hidup.”

Berapa banyak orang yang sudah bertobat dan mengenal sang pencipta, kadang-kadang menjadi suam, dan mulai tidak beribadah ataupun melayani Tuhan lagi. Memang, menghadapi dunia ini tidak mudah, karena baik pencobaan, fitnahan, tindisan, kemiskinan dan sakit penyakit telah datang tanpa diundang. Tetapi apabila kita meresponi panggilan Tuhan dengan sungguh-sungguh, maka kita tidak akan pernah undur dari Tuhan, seperti yang dialami oleh Paulus.

Untuk itu, mau tidak mau roh kita harus semakin hari semakin kuat, karena kita sudah ditetapkan menjadi anak-anak Allah seperti firmanNya yang tertulis dalam I Petrus 2:9-10 “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib: kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan.”

Amin.