Kebangkitan Besar

Kebangkitan Besar

Wednesday, March 28, 2012

Kodrat Ilahi



Pdt. Abraham Alex Tanuseputra

"Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya."
(Matius 7:24-27)

Setiap orang Kristen yang sudah menerima Yesus sebagai Juruselamat, lahir baru dan sudah dibaptis, harus menyadari bahwa di dalam dirinya ada kekuatan ilahi atau kondrat ilahi. Dan hal ini telah ditegaskan oleh rasul Paulus melalui suratnya yang ditujukan kepada jemaat di Korintus, yang bunyinya : ”Tidak tahukah kamu bahwa tubuhmu adalah rumah Roh Kudus” (I Korintus 3:16; I Korintus 6:19). Untuk itu kita patut bangga dan mengucap syukur senantiasa karena Roh Allah telah manunggal dalam kehidupan kita. Bahkan raja Daud berkata : “Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku!” (Mazmur 51:13).

Ayat ini menunjukkan bahwa betapa berharganya Roh Allah itu, karena Roh Allah merupakan sumber dari segalanya. Dan dalam ayat ini telah tersirat bahwa Daud rela kehilangan segala apa yang dia miliki asalkan Roh Tuhan tidak diambil daripadanya; hal ini terlihat dari apa yang difokuskan oleh Daud yaitu Roh Tuhan, dan bukan kerajaan atau kekayaan maupun yang lainnya. Dan apabila kita menengok kebelakang mengenai pekerjaan Roh Kudus khususnya pada masa penciptaan dunia, maka kita akan kagum akan kedahsyatannya, dimana saat itu Roh Kudus ada di permukaan air waktu penciptaan bumi ini karena bumi ini sedang kacau balau dan iblis dicampakkan ke bumi. Bumi menjadi campur baur dan rusak.

Sepertiga malaikat Tuhan mengikuti iblis. Tetapi Tuhan memperbaiki bumi ini. Roh Allah ada di permukaan air, lalu Allah berfirman untuk menciptakan bumi ini. Memang pada waktu itu seperti zaman penciptaan, sebenarnya penciptaan kembali, karena sebelumnya ada suatu zaman. Dunia diperbaiki dengan firman Allah, karena bumi telah dirusak oleh iblis. Dan saat itu jadilah yang diciptakan oleh Allah. Ini terjadi karena ada Roh Kudus dan firman Allah. Dan sekarang Roh Kudus ada di permukaan air, yaitu tubuh ini, karena tubuh manusia terdiri dari 80% air, yaitu darah/jiwa ini. Roh Allah merupakan satu kodrat ilahi yang hendak berkarya secara luar biasa. Dan ini baru bisa terjadi dalam hidup kita kalau kita mendengar firman Allah dan melakukannya.

Saudara, melalui sedikit ulasan diatas membuktikan bahwa Roh Kudus adalah harta atau kodrat ilahi yang akan berfungsi dan berkarya di dalam hidup kita. Dan ayat bacaan diatas menjadi landasan bagi pemahaman kita terhadap berfungsinya maupun berkaryanya kodrat ilahi yang ada di dalam kehidupan kita. Kodrat ilahi akan berfungsi apabila kita melakukan firman Tuhan (Matius 7:24-25), dan begitu sebaliknya, bahwa kodrat ilahi itu tidak berfungsi apabila kita tidak melakukan kehendak Tuhan (Matius 7:26-27). Selain itu, perlu kita ketahui pula bahwa kita mendapatkan kodrat ilahi semata-mata oleh karena kasih dan anugerahNya; seperti yang tertulis dalam 2 Petrus 1:3-4 : ”Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib. Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia.”

Sedangkan pada ayat selanjutnya (2 Petrus 1:5-10); apabila dikolaborasikan dengan ayat bacaan diatas maka kita akan menemukan nilai kebenaran yaitu bahwa saat kita membangun rumah harus dimulai dengan iman, lalu kebajikan, pengetahuan, penguasaan diri, ketekunan, kesalehan, kasih akan saudara-saudara, dan kasih akan semua orang.

Untuk lebih detailnya, mari kita bahas satu persatu mengenai syarat dalam membangun rumah (rumah rohani). Yang pertama yaitu dengan iman. Dimana iman itu ada atau timbul dalam kehidupan kita apabila kita senantiasa mendengarkan firman Tuhan, seperti yang tertulis dalam Roma 10:17 berkata : “Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” Sebab firman Allah telah diwujudkan melalui peristiwa kehidupan seseorang, seperti Musa, Daud dan lainnya. Di dalam firman Tuhan banyak dicatat tentang mujizat yang Tuhan lakukan, baik itu dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru. Semua itu adalah kodrat ilahi dan bukan oleh kekuatan manusia.

Kalau kita membaca firman Allah, maka pekerjaan Roh Kudus yang dicatat dalam Alkitab dapat terjadi dalam kehidupan kita pula, khususnya sebagai orang yang dipanggil dan dipilih oleh Tuhan. Dan Firman Allah tidak boleh hanya sebagai kepercayaan/iman saja, tetapi harus nyata dalam perbuatan (Yakobus 2: 17-22). Perbuatan yang didalamnya terkandung kebajikan ini tidak tidak hanya dilakukan oleh seorang imam atau nabi saja, tetapi semua umat Tuhan harus melakukannya. Seperti halnya Yunus yang bertobat dan melakukan perintah Tuhan. Setelah melakukan firman Allah maka kodrat ilahi yang ada dalam dirinya bekerja secara luar biasa, dimana melalui pemberitaannya maka satu kota (Niniwe) bertobat.


Saudara, ketika kodrat ilahi berfungsi dalam hidup kita, dan berjalan seiring dengan waktu yang di dalamnya diwarnai dengan berbagai macam pencobaan demi pencobaan, maka dari situlah akan timbul pengalaman/pengetahuan, yang pada akhirnya akan membawa kita hidup dengan penguasaan diri; misalnya saat kita menghadapi persoalan maka kita tidak panik lagi. Sebagai contoh yang nyata adalah kisah daripada rasul Paulus; dimana telah diungkapkan melalui suratnya yang ditujukan kepada jemaat di Korintus, bunyinya : “Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami” (II Korintus 4:8-10).

Selain penguasaan diri, dalam diri kita dituntut pula adanya ketekunan, karena tanpa ketekunan maka kita tidak akan mendapatkan apa-apa. Sebagai gambaran adalah seorang petani. Mereka tidak akan panen apabila tidak sabar atau tekun dalam merawat dan menantikan tanaman yang ia tanam, karena segala sesuatu ada waktunya. Firman Tuhan berkata : “Seorang petani yang bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil usahanya” (II Timotius 2:6). Dan besar kecilnya panen mereka tidak lepas dari hukum tabur tuai, yaitu “Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga” (II Korintus 9:6). Dan selanjutnya adalah : bagi orang yang bertekun di dalam Tuhan maka orang itu akan hidup dalam kesalehan; yang pada akhirnya kodrat ilahi yang ada di dalam dirinya akan senantiasa memelihara orang tersebut baik di dalam dunia maupun sampai pada hidup yang kekal.
Oleh karena itu, janganlah kita sia-siakan kesempatan yang ada.

Biarlah kodrat ilahi yang telah dianugerahkan dalam kehidupan ini, senantiasa berfungsi untuk melakukan pekerjaan yang besar. Karena pondasi ini sebenarnya tercakup dalam iman, harap dan kasih.

Amin.

Wednesday, March 14, 2012

Wasiat



Pdt. Dr. Abraham Alex Tanuseputra

“Sebab di mana ada wasiat, di situ harus diberitahukan tentang kematian pembuat wasiat itu. Karena suatu wasiat barulah sah, kalau pembuat wasiat itu telah mati, sebab ia tidak berlaku, selama pembuat wasiat itu masih hidup.”
(Ibrani 9:16-17)

Pada ayat bacaan di atas terdapat kata “Wasiat”.
Wasiat adalah sebuah janji; sedangkan yang memberikan wasiat itu adalah Allah. Dan perlu kita ketahui bahwa wasiat ini baru berlaku kalau yang memberi wasiat ini telah mati.

Memang, Allah tidak pernah mati, karena Dia kekal, tetapi Dia bisa memberikan warisan kepada kita dengan jalan memberikan Yesus yang adalah Tuhan telah menjadi manusia. Pada saat Dia mati (walaupun pada hari yang ketiga Dia telah bangkit) Allah memberikan wasiat kepada kita, selain itu Allah mengangkat kembali manusia menjadi anak-anak Allah. Ini berlaku bagi yang percaya kepada-Nya.

Wahyu 5:6-12 menyatakan bahwa Allah itu memiliki segala-galanya, khususnya pada ayat 12 telah dikatakan : "Anak Domba yang disembelih itu layak untuk menerima kuasa, dan kekayaan, dan hikmat, dan kekuatan, dan hormat, dan kemuliaan, dan puji-pujian!". Sejak Yesus mati di atas kayu salib wasiat di atas tersebut diberikan bagi kita selaku anak-anakNya. Hal ini dapat kita ketahui dalam Roma 8:16-17 yang berkata, “Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” Menderita bersama-sama dengan Tuhan merupakan sesuatu hal yang tidak enak untuk daging. Kata yang lebih tepat untuk kata “menderita” adalah “prihatin.” Ini berarti mau tidak mau kita harus berjalan di jalan yang sempit, menderita bersama dengan Kristus. Namun ujungnya menuju kebahagiaan yang tidak terlukiskan. Selain itu penderitaan yang kita alami tidak sebanding dengan kemuliaan dan kebahagiaan yang akan kita terima.

Wasiat di dalam Yesus dihubungkan dengan pengertian “berkat Allah yang diberikan kepada Abraham.” (Galatia 3:26-29). Apabila kita melihat siklus sebuah kehidupan khususnya dari Abraham, Ishak dan Yakub, maka disana dipenuhi dengan bukti-bukti iman. Yang perlu kita perhatikan adalah bukan hanya berkat yang diterima Abraham saja, tetapi siklusnya. Setelah Abraham, Ishak diberkati, lalu diturunkan kepada Yakub. Memang secara fisik Ishak tidak memberikan apa-apa kepada Yakub, tetapi berkat yang dari Tuhan tetap terjadi dalam kehidupan Yakub. Ini merupakan siklus turun-temurun. Hal ini juga berlaku bagi kehidupan orang yang percaya kepada Kristus, termasuk saudara semua. Berapa banyak orang mengalami masa kejayaan namun setelah meninggal dunia, anak-anaknya hidup penuh penderitaan. Hal ini disebabkan karena mereka tidak berada dalam sebuah siklus kehidupan seperti yang dilakukan oleh Abraham, Ishak dan Yakub. Sebagai contoh yang gamblang adalah bangsa Israel. Tatkala orang Israel menyembah Tuhan dengan baik, maka kota Yerusalem mendapatkan damai sejahtera. Klimaksnya pada saat pemerintahan Daud dan Salomo. Tetapi saat orang Israel tidak mengikuti siklus yang dilakukan nenek moyangnya, maka Yerusalem hancur dan dijajah oleh banyak bangsa. Saat mereka bertobat dibangun kembali dan saat mereka tidak taat, maka dijajah kembali. Ini berlangsung terus menerus, hingga Yerusalem memiliki pondasi yang berlapis-lapis. Yerusalem adalah kota yang kekal. Ini merupakan gambaran bagi kita kepada Yerusalem yang kekal. Kalau Yerusalem kita di dunia ini baik, maka Yerusalem yang di sorga pasti juga baik.

Hari-hari ini, memang Tuhan sedang mengembalikan Yerusalem, tetapi ibadah mereka belum pulih secara keseluruhan. Tetapi kita adalah keturunan Abraham di dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Tanpa Yesus, berkat Allah tidak bisa turun kepada kita. Karena Yesus, semua berhak menjadi anak-anak Allah yang menerima wasiat dari-Nya. Untuk itu kita tidak bisa meninggalkan siklus yang pernah dilakukan oleh tokoh-tokoh pergerakan Kristen yang berkembang sampai sekarang. Apa yang dilakukan Abraham dilakukan oleh Ishak, seperti yang tertulis dalam Kejadian 26:12-13, ”Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati Tuhan. Dan orang itu menjadi kaya, bahkan kian lama kian kaya, sehingga ia menjadi sangat kaya.” Memang tidak mudah untuk melakukan siklus ini secara turun-temurun, tetapi kalau orang kembali kepada siklusnya, maka berkat Tuhan akan turun dengan luar biasa. Setiap orang memiliki siklus ini. Jangan sampai kita melupakan siklus itu, karena apabila kita melupakannya maka yang akan terjadi dalam kehidupan kita seperti yang tertulis dalam Pengkhotbah 1:11, ”Kenang-kenangan dari masa lampau tidak ada, dan dari masa depan yang masih akan datangpun tidak aka nada kenang-kanangan pada mereka yang hidup sesudahnya.” Ini merupakan peringatan bagi kita.

2 Korintus 9:10-11 berkata, “Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu; kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kami.” Menabur bukan berarti berbicara masalah uang saja. Ini suatu siklus, kenangan yang lama ada dan yang akan datang lebih ada lagi. Hidup kita ini sangat berguna untuk ini.

Matius 25:14-30 berbicara tentang seorang tuan yang mempercayakan talenta-talentanya kepada hamba-hambanya. Ada yang menerima 5, 4, 3, 2, 1 talenta. Yang diberi 5 sampai 2 dikembangkan, tetapi yang menerima 1 talenta tidak mengembangkannya. Justru yang diberi 1 talenta menganggap tuannya kejam. Orang tersebut diberi 1 talenta saja tidak bisa mengembangkan, apalagi diberi banyak. Oleh karena itu berapapun talenta yang dipercayakan kepada kita, seharusnya kita kembangkan, supaya hal yang buruk tidak kita alami, seperti yang tertulis dalam Matius 25:30 berkata, “Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi."

Untuk itu, marilah kita kembali kepada silklus, menabur dan menuai. Memang terasa berat, tetapi apabila kita mau melakukannya maka kita akan dimuliakan bersama dengan Kristus. Walaupun kita mengalami banyak tantangan, tetapi kita tetap diberkati oleh Tuhan.

Amin

Tuesday, March 13, 2012

Hormat, Setia dan Rindu Kepada Roh Kudus



Pdt. Abraham Alex Tanuseputra

Ayat Bacaan: 2 Petrus 1:5-8

Yesus pernah bertanya kepada Petrus, “Apakah engkau mengasihi Aku?”
Hal ini ditanya oleh Yesus sebanyak tiga kali agar Petrus mengasihi Tuhan tidak hanya berdasarkan doktrin saja. Semua agama juga mengasihi allahnya. Lebih dari itu, Allah menjadi manusia dan Ia mati dan bangkit, naik ke Sorga dan saat ini Roh Kudus datang sejak hari Pentakosta. Kita percaya saat ini bahwa Roh Kudus hadir di tengah-tengah kita.

Tuhan menginginkan bukan hanya kita mengasihi Tuhan, tetapi juga agar kita selalu rindu akan Tuhan. Kasih tanpa kerinduan sama dengan iman tanpa perbuatan atau harap tanpa ketekunan. Petrus mengerti bahwa ia harus tetap rindu kepada Tuhan, untuk itu Petrus mengajarkan dari mana pondasi kita mengasihi Tuhan.


1) Menghormati Roh Kudus
Pengertian tentang Kerajaan Allah adalah setiap Roh Kudus ada, maka di sana ada Kerajaan Allah. Demikian sekarang, dua atau tiga orang berkumpul dalam nama Yesus, Roh Allah hadir. Mengenai kehadiran Roh Allah tidak cukup sekedar diketahui tetapi kita harus menghormatiNya. Sebagai gambarannya adalah bangsa Israel, dimana saat bangsa Israel menghormati kehadiran Roh Allah maka mereka semua diberkati dan berhasil, tetapi sebaliknya, pada saat mereka tidak menghormati maka mereka mengalami musibah. Daud percaya bahwa dalam Tabut Perjanjian ada Allah, tetapi ketika dia tidak menghormatinya, maka musibah terjadi. Sedangkan Obed Edom tahu menghormati Roh Kudus sehingga hidupnya beserta seluruh isi keluarganya dalam waktu singkat (tiga bulan) diberkati oleh Tuhan. Oleh karena itu jangan sekali-kali kita mengabaikan kehadiran Roh Allah di tengah-tengah kehidupan kita, tetapi biarlah kita menghormatinya sebab Dia adalah pribadi yang lembut.

2) Setia kepada Roh Kudus
Selanjutnya, kita menghormati Roh Kudus saja tidak cukup, karena kita mengikut Tuhan bukan satu atau dua hari saja. Untuk itu, kita perlu setia kepada Roh Kudus. Memang terkadang kita labil dan lemah, tetapi kita percaya bahwa walaupun kita tidak setia, Dia tetap setia. Dia tetap mencintai kita. Sebab itu, dalam cengkeraman Roh Kudus kita harus tetap setia kepada Roh Kudus agar kita dapat menguasai diri. Sebab dengan penguasaan diri, harapan kita bisa terpenuhi. Orang berharap adalah untuk waktu jangka panjang, dan ketika seseorang berharap, maka diperlukan kesabaran, ketekunan terlebih itu adalah kesetiaan. Tuhan ingin kita berlaku setia kepadaNya, sebab kesetiaan akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa dari Tuhan. Firman Tuhanpun menasehatkan, ”Sifat yang diinginkan pada seseorang ialah kesetiaannya; lebih baik orang miskin dari pada seorang pembohong” (Amsal 19:22)
Memang umur dibatasi oleh akhir hayat kita. Kalau kita setia kepada Dia, maka Dia terus memimpin dan membimbing kita. Namun apabila kita tidak setia, maka harapan kita tidak terpenuhi. Selain itu, dengan pengalaman kesetiaan itu, kita menjadi saleh dan suci. Kita percaya bahwa orang yang suci yang pantas mengatakan “aku cinta Tuhan.” Kalau kita hidup dalam kebenaran, maka kita pasti juga dicintai Tuhan.

3) Selalu Rindu kepada Roh Kudus
Orang yang mengasihi Tuhan dan dicintai Tuhan, ia akan menghormati, setia dan selalu rindu kepada Roh Kudus. Dengan ketiga poin di atas akan mewujudkan “kasih.”
1 Korintus 13:13 dan 14:1 berkata, “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih. Kejarlah kasih itu dan usahakanlah dirimu memperoleh karunia-karunia Roh, terutama karunia untuk bernubuat.” “Iman” adalah menghormati Roh, “harap” adalah setia kepada Roh Kudus dan “kasih” adalah kerinduan kepada Roh Kudus.
Orang yang mengasihi dan dikasihi Tuhan akan mendapatkan sesuatu yang luar biasa dari Tuhan. 1 Korintus 2:9 berkata, “Tetapi seperti ada tertulis: "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia." Demikian juga, Amsal berkata, orang yang tidak punya wahyu akan menjadi liar atau terhukum.
Pada saat kita tidak bisa berbuat apa-apa, maka Roh Kudus yang kita kasihi dan mengasihi kita akan memberikan kita hikmat. Orang yang mengasihi dan dikasihi Tuhan selalu mendapat pikiran Tuhan. Kalau berbicara tentang pikiran Tuhan, maka kita tidak dapat menilainya dengan logika kita sehingga terlihat aneh. Abraham dalam perjalanan hidupnya menghadapi tantangan dan rintangan, tetapi selalu ada jalan keluar bagi dia. Demikian juga dengan tokoh-tokoh lain dalam Alkitab. Tanpa pikiran Tuhan, kita tidak mampu menghadapi dunia ini.


Mazmur 127:1-2 berkata, “Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga. Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah -- sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur.”

Tuhan sangat rindu kepada kita (Baca: Mazmur 139:6-12). Roh Kudus sudah manunggal dengan kehidupan kita sehingga kemanapun kita pergi, Dia selalu berada dalam hidup kita. Tetapi seringkali kita tidak hormat, setia, dan rindu kepada Roh Kudus. (Baca: Kidung Agung 5:2-8). Tuhan datang dengan mengetuk pintu, tetapi sang kekasih tidak menanggapinya. Tiba-tiba dia sadar, lalu membuka pintu, ternyata Tuhan sudah pergi. Kekasih ini lalu mencari Tuhan, tetapi tidak menemuinya. Artinya, kesabaran Tuhan ada batasnya. Kalau Roh Kudus sudah meninggalkan gereja Tuhan, maka sekalipun kita menjerit mencarinya, maka tidak akan menemukannya.

Oleh karena itu dalam kidung agung dituliskan “-- Taruhlah aku seperti meterai pada hatimu, seperti meterai pada lenganmu, karena cinta kuat seperti maut, kegairahan gigih seperti dunia orang mati, nyalanya adalah nyala api, seperti nyala api TUHAN! Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta, sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya. Sekalipun orang memberi segala harta benda rumahnya untuk cinta, namun ia pasti akan dihina.” (Kidung Agung 8:6-7)

Amin.

Thursday, February 23, 2012

Tetap Berdiri Teguh



Pdt. Abraham Alex Tanuseputra

“Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia”.
(I Korintus 15:58)

Kata teguh dalam bahasa aslinya berarti setia. Pengertian daripada setia yaitu adanya komitmen yang tinggi. Sedangkan dalam kata komitmen itu sendiri mengandung suatu visi. Demikian halnya dengan Yesus ketika diutus ke dalam dunia ini kehidupanNya penuh dengan komitmen dan Dia tidak sekedar menjalankan perintah Bapa tetapi atas dasar visi yang telah Dia terima. Visi yang Dia kerjakan tidak pernah tergoyahkan meskipun harus menghadapi resiko yang besar. Walaupun muridNya rela mati untuk menggantikan kematianNya di atas kayu salib namun Yesus tetap komitmen dengan visi yang Dia terima. Setiap orang percaya kepada Yesus dalam hidupnya akan muncul suatu visi baru. Kalau Yesus mendapat visi untuk mati sesaat, tetapi kita yang percaya kepada Yesus akan lahir baru sebagai imamat yang rajani. Untuk itu janganlah kita goyah saat menghadapi berbagai pencobaan karena kita sebagai imamat yang rajani. Saat ini kita bukanlah manusia yang terpuruk tetapi umat yang diberkati dan dipulihkan. Memang ditengah perjalanan hidup ada banyak tantangan tetapi kita harus mengambil suatu keputusan yang sesuai dengan Firman Allah maka kemenangan demi kemenangan akan kita terima, sebab apabila Allah dipihak kita, siapakah lawan kita.

Supaya kita tetap teguh maka harus bersatu dengan Kristus. Setiap orang yang tetap melekat pada Tuhan sebagai pokok anggur akan tetap berbuah di dalam Dia. Dalam mengambil suatu keputusan perlu adanya sikap yang disiplin. Sebab apabila kita mengambil keputusan dengan ceroboh maka persoalan besar yang akan kita tuai, sedangkan apabila kita melangkah dengan kedisiplinan maka dalam jangka panjang kita akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Mungkin kita pernah mengalami kegagalan akibat tidak disiplin dalam menjalankan visi, tetapi biarlah kita kembali pada keputusan yang sesuai dengan Firman Allah. Apabila saat ini kita mengalami keadaan yang terpuruk, maka hal yang pertama kita lakukan adalah interopeksi diri. Apakah kita sudah keluar dari visi atau sudah menyeleweng dari kehendak Tuhan. Sebagai pedoman untuk interopeksi diri kita adalah firman Tuhan. Apabila hidup kita tidak sesuai dengan firman Tuhan itu berarti kita sudah keluar dari visi yang Tuhan berikan.

Kalau kita mengalami kemerosotan dalam hidup ini ataupun diberkati; baik dalam hal pekerjaan, keluarga maupun usaha yang semakin berkembang, itu merupakan tanda bahwa diri kita sedang diuji, apakah goyah atau tidak dalam menjalankan visi yang kita terima. Langkah demi langkah Allah membuktikan kuasaNya. Apabila saat ini kita meniliti diri sendiri mengalami banyak tantangan, maka sadarilah bahwa kita akan mendapatkan mujizat dari Allah asalkan tidak goyah. Semakin besar cobaan yang kita alami maka semakin besar pula mujizat yang akan kita terima (Yakobus 1:2-6). Saat kita mengalami cobaan janganlah cepat mengambil keputusan dengan kekuatan kita sendiri. Orang yang mengandalkan diri sendiri akan terkutuk, seperti yang tertulis dalam Yeremia 17:5, “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!”

Segala sesuatu pasti ada waktunya karena Tuhan merindukan kita memiliki iman yang matang. Dalam melayani Tuhan kita harus tetap menyala-nyala karena hal ini akan membuat kita tetap teguh dalam mengiring Dia. Lalu yang menjadi pertanyaannya adalah : bagaimana seseorang dapat terus menyala-nyala dalam melayani Tuhan ? Setiap orang yang memiliki Roh Kristus maka dia akan tetap menyala-nyala dalam melayani Tuhan seperti halnya Tuhan Yesus saat berada di dalam dunia untuk mengemban tugasNya. Dia tidak pernah loyo, putus asa maupun frustrasi dalam menjalankan misiNya, walaupun banyak rintangan yang dihadapi oleh Yesus, namun semuanya itu tidak membuat surut semangat Yesus, sebab di dalam diri Yesus ada Roh Kudus yang membuat Dia menyala-nyala dalam menjalankan pekerjaan Bapanya, bahkan sampai di atas kayu salibpun Dia tetap mau mengampuni orang yang menganiayaNya. Hal ini tidak mudah untuk dilakukan tetapi oleh karena ketaatanNya kepada Bapa maka Ia berhasil untuk menyelesaikannya.

Demikian dengan kita, janganlah kita putus asa, loyo maupun frustrasi sebab kita sebagai anak-anak Tuhan ditetapkan sebagai pemenang seperti yang tertulis dalam I Yohanes 5:4, “sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita.”
Diantara tokoh-tokoh yang ada dalam dunia ini semua rohnya telah mengalami kegagalan, tetapi hanya ada satu tokoh yang tidak gagal yaitu Yesus Kristus. Dan setiap orang yang percaya pada Yesus akan berhasil karena di dalam dirinya ada Roh Kristus. Roh Kristus tidak pernah gagal karena Roh Kristus merupakan energon/energi yang luar biasa. Oleh sebab itu janganlah sekali-kali kita mendukakan Roh Kudus yang sudah dimeteraikan dalam hati kita, dan jangan memadamkan Roh yang sedang bekerja dalam hidup kita, apalagi menghujat. Dan perlu kita ketahui bahwa yang memberi kemampuan/kesanggupan untuk melakukan perkara yang besar adalah Roh Kudus. Untuk itu jangan sekali-kali seseorang memegahkan diri atas dirinya sendiri, sebab hal itu sama dengan kesombongan. Sedangkan orang yang sombong adalah musuh Allah. Dan kesombongan itu sendiri akan mendahului kehancuran.

Saudara, sekali lagi firman Tuhan menasehatkan supaya kita tetap teguh dan tidak terpengaruh oleh keadaan sekitar kita. Sebab orang yang mudah terpengaruh seperti kapal di tengah lautan yang diombang-ombang ambingkan oleh gelombang laut. Kalau kita tetap teguh maka kita akan dipercaya oleh Tuhan mulai dari perkara yang kecil sampai perkara yang besar, seperti yang tertulis dalam Lukas 16:10, “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.”

Kalau kita berhasil saat ini itu merupakan hasil karya daripada Roh Kudus. Untuk itu tetaplah berdiri dengan teguh sebab Roh yang ada dalam diri kita lebih besar daripada roh yang ada di dalam dunia ini.

Amin

Wednesday, February 22, 2012

Mezbah Abraham



Pdt. Abraham Alex Tanuseputra

“Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah (Galatia 3:29).

Ketika seseorang menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, maka orang tersebut menjadi milik Kristus. Dan orang yang menjadi milik Kristus berhak menerima janji Allah seperti yang diberikan kepada Abraham karena kita termasuk keturunan Abraham. Perlu diketahui bahwa dalam firman Tuhan telah terkandung suatu janji dan hukum/perintah. Janji yang dimaksud disini adalah janji berkat. Sekarang kita akan melihat berkat apa yang diterima Abraham, dan apa yang telah dilakukan Abraham. Kita perlu mempelajarinya supaya berkat-berkat yang dijanjikan kepada Abraham-pun boleh kita terima secara nyata dalam hidup kita.

Firman Tuhan berkata : ”Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, . . . .” (Ibrani 11:8-10). Dari ayat tersebut kita melihat bahwa ada suatu rencana Allah bagi kita. Pada waktu Abraham tinggal di tanah yang asing, Tuhan punya rencana untuk Abraham. Bahkan bukan hanya untuk di dunia ini tetapi hidup yang kekal. Oleh sebab itu ada Abram, manusia jasmani dan ada Abraham manusia rohani. Abraham inilah manusia roh yang direncanakan Allah mendapatkan hidup yang kekal. Manusia jasmani pada akhirnya akan roboh, tetapi jika saat itu tiba bagi kita maka kita tidak perlu takut, sebab manusia rohani kita tahu tujuan yang pasti yaitu mendapatkan hidup kekal selama-lamanya. Dan setiap kita yang rindu untuk masuk di dalam rencana Allah baik dalam hidup di dunia ini maupun untuk yang akan datang, biarlah kita mau belajar dari apa yang sudah dilakukan oleh Abraham.

Di dalam Alkitab kita menemukan adanya mezbah-mezbah yang dibangun oleh Abraham. Mezbah adalah berbicara tentang ibadah. Di dalam ayat-ayat yang akan kita lihat nanti, kita menemukan adanya empat mezbah. Mengapa ada empat mezbah? Karena ibadah itu bertumbuh. Seperti seorang anak yang mengenal orang tuanya, dia tidak lahir langsung mengenali orang tuanya, tetapi anak itu bertumbuh selangkah demi selangkah untuk mengenali orang tuanya dengan baik.

Adapun empat mezbah yang telah didirikan oleh Abraham:

a. Mezbah Yang Didirikan Dekat Sikhem (Kejadian 12:1-7)
Mezbah adalah ibadah, dan diatas mezbah selalu ada korban. Di dalam ibadah harus ada yang dikorbankan. Dari kisah Abraham yang dipanggil Allah ini, kita bisa belajar bahwa Abraham telah mempersembahkan korban. Mengapa Abraham dipanggil dari sanak saudaranya? Karena sanak saudara Abraham hidup dalam sistem dunia. Sistem dunia adalah “kalau tidak berkeringat, tidak korupsi, tidak membunuh, tidak merampok… maka tidak bisa hidup”. Dunia kegelapan mem-back up cara hidup sanak saudara Abraham. Abraham ditunjuk Tuhan untuk meninggalkan sistem dunia dan pergi ke suatu tempat.

Dalam hidup ini kita belajar, kita sekolah dan belajar keahlian. Hal ini memang tidak salah, tetapi jika kita beranggapan bahwa kalau tidak berpeluh dan berkeringat maka kita tidak bisa makan, maka ini salah. Hal ini berarti bahwa kita masih terikat pada sistim dunia. Allah mengajar kita untuk berubah dari sistem dunia menuju sistem berkat. Sikhem berarti bahu. Abraham mendirikan mezbah di dekat sikhem, karena dia tidak lagi memakai sistem dunia. Dia telah mengambil keputusan untuk menaruh segala beban hidupnya di atas bahu Allah dan tidak lagi mengandalkan kekuatan sendiri. Demikian juga seharusnya kita. Jangan mengandalkan kekuatan sendiri, tetapi taruhlah segala beban di bahu Yesus Kristus. Sebab bahu Yesus Kristus adalah bahu yang kuat, perkasa dan disana ada kuasa yang hebat. (Yesaya 9:5).

b. Mezbah Yang Didirikan Dekat Betel (Kej. 12:8)
Betel adalah berbicara tentang rumah Allah. Abraham mulai menghormati Allah. Dia mengorbankan kedagingannya menjadi rumah Allah. Siapa yang menghormati Allah dia tidak akan mendukakan, melawan atau menghujat Roh Kudus. Dan barangsiapa menghormati Allah, seperti Obed Edom yang menerima Tabut Allah di rumahnya dan menghormati Allah, maka hanya dalam waktu tiga bulan dia diberkati Allah dengan luar biasa. Mari kita juga menghormati Allah dengan tidak mendukakan, melawan atau menghujat Roh Kudus.

c. Mezbah Yang Didirikan Dekat Hebron (Kej. 13:18)
Pada waktu Abraham keluar dari sanak saudaranya, ternyata ada Lot yang ikut. Kalau kita teliti kebenaran Alkitab, kita akan menemukan bahwa ternyata Lot tidak pernah mendirikan mezbah. Jadi dia hanya numpang Abraham. Sekalipun hanya numpang, ternyata Lot juga menjadi kaya. Tetapi perhatikan, ternyata ada waktunya Allah membuat pemisahan. Dan ketika tiba waktunya untuk memilih, Lot memilih berkemah di dekat Sodom. Sodom adalah sebuah kota duniawi yang moralnya rusak. Lot ternyata memilih untuk kembali ke sistem dunia. Dia telah memulai dengan roh tetapi mengakhiri dalam daging. Akhir keluarga Lot, istrinya menjadi tiang garam dan dua anak wanitanya bermoral rusak, yaitu berselingkuh dengan ayahnya sendiri sebagai akibat dari pengaruh Sodom.
Hebron artinya damai sejahtera. Abraham memilih untuk tidak bertengkar, dia memilih damai sejahtera. Selanjutnya setiap langkah Abraham disertai dan diberkati Allah dengan luar biasa.

d. Mezbah Yang Didirikan Di Gunung Moria (Kejadian 22:1-2)
Ishak adalah anak yang sangat dicintai Abraham. Bahkan Abraham tentu mencintai Ishak lebih dari segala hartanya, karena Ishak didapatkan pada masa tuanya setelah sekian tahun lamanya diharapkan. Namun demikian di mezbah di Gunung Moria dia mengorbankan Ishak. Gunung Moria adalah Gunung Allah. Di Gunung Moria ini Abraham membuktikan diri bahwa dia mencintai Allah lebih dari segala-galanya, termasuk lebih dari yang paling dicintai dalam hidupnya. Tuhan juga menghendaki agar kita mencintai Dia lebih dari segala-galanya. Apakah hal ini merugikan Abraham? Ternyata tidak. Di dalam Kejadian 22:14 terbukti bahwa jika kita mencintai Tuhan lebih dari segalanya, maka segala-galanya disediakan Tuhan.
Perhatikan, dari keempat mezbah tersebut di atas kita bisa melihat bahwa mezbah di Sikhem adalah berbicara tentang iman, mezbah di Betel dan Hebron adalah berbicara tentang harap, sedangkan mezbah di Guning Moria adalah berbicara tentang Kasih.

Untuk itu mari kita teladani Abraham yang medirikan empat mezbah untuk diterapkan di dalam kehidupan ibadah kita! Tentu berkat Abraham akan mengalir juga dalam kehidupan kita.

Amin.

Monday, February 13, 2012

Biji Mata Tuhan Yang Dicintai



Pdt. Abraham Alex Tanuseputra

Seorang budak tidak mempunyai hak atas dirinya sendiri, sekaligus tidak dapat melihat akan masa depan. Demikianlah yang dialami oleh bangsa Israel ketika berada di tanah perbudakan (Mesir), mereka mengalami penderitaan yang luar biasa, selain kehilangan jati dirinya. Mereka tidak menyadari bahwa apa yang sedang mereka alami disebabkan oleh perbuatan mereka yaitu memberontak terhadap ketetapan Tuhan. Walaupun demikian, Tuhan tidak pernah membiarkan mereka untuk tetap hidup dalam penderitaan, sebab Tuhan telah menetapkan suatu rancangan bagi umatNya yaitu rancangan damai sejahtara dan bukan rancangan kecelakaan. Dan sejauh ini bangsa Israel tidak pernah memahami dan menyelami betapa besar kasih Tuhan. Mereka cenderung untuk menuruti keinginannya sendiri ketimbang menuruti kehendak Tuhan.

Saudara, kali ini kita akan melihat betapa besar pembelaan Tuhan terhadap bangsa Israel (termasuk kita sebagai bangsa Israel secara rohani) ketika mengalami berbagai macam aniaya baik itu secara jasmani maupun rohani karena kita adalah biji mataNya; seperti yang tertulis dalam Zakharia 2:8 (Pernyataan Tuhan) “Sebab beginilah firman TUHAN semesta alam, yang dalam kemuliaan-Nya telah mengutus aku, mengenai bangsa-bangsa yang telah menjarah kamu -- sebab siapa yang menjamah kamu, berarti menjamah biji mata-Nya”. Disisi lain, Tuhan juga menyatakan pemeliharaanNya terhadap umatNya yang sedang mengalami pergumulan, walaupun kerapkali umatNya mengecewakanNya. Sebab Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang setia, Ia tidak pernah mengingkari akan janjiNya dan Dia tidak pernah dibatasi oleh ruang dan waktu, sehingga Dia dapat melindungi kita, seperti yang tertulis dalam Ulangan 32:10 “Didapati-Nya dia di suatu negeri, di padang gurun, di tengah-tengah ketandusan dan auman padang belantara. Dikelilingi-Nya dia dan diawasi-Nya, dijaga-Nya sebagai biji mata-Nya.”

Saudara, walaupun orang percaya diposisikan sebagai biji mata Tuhan yang senantiasa dijaga, dipelihara dan dilindungi, tetapi tidak sedikit orang percaya yang berusaha untuk lari dari rencana Tuhan dan menentukan jalannya sendiri, sehingga mereka jatuh dalam berbagai pencobaan. Tetapi saat ini kita akan belajar dari kehidupan Daud. Meskipun Daud adalah seorang raja yang diurapi dan diberkati secara berlimpah, namun ia tetap bergantung kepada Tuhan, sebab ia menyadari bahwa di luar Tuhan manusia tidak dapat berbuat apa-apa. Sehingga dalam doanya, Daud berkata : “Peliharalah aku seperti biji mata, sembunyikanlah aku dalam naungan sayap-Mu.”(Mazmur 17:8).
Hal ini menunjukkan betapa terbatasnya manusia itu. Dan seandainya ada seseorang yang kaya raya, memiliki kedudukan atau jabatan yang tinggi, memiliki rumah yang megah bagaikan istana dengan dilengkapi para penjaga, tetapi kalau tidak hidup melekat pada Tuhan maka sia-sialah segala apa yang ia miliki, sebab firman Tuhan berkata : “Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga. Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah -- sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur.”(Mazmur 127:1-2)

Oleh karena itu janganlah kita menolak untuk dicintai Tuhan, sebab kita adalah biji mataNya. Dan apabila kita tetap menolak atau tidak menganggap cinta daripada Tuhan, maka kita akan mengalami seperti yang dialami oleh gadis Sulam (Shulamite). Shulamite adalah gadis yang sederhana, dan ia adalah pekerja kebun anggur milik Salomo. Dari kisah ini telah diceritakan bahwa Salomo telah jatuh cinta kepada Shulamite walaupun kedudukan diantara keduanya sangat jauh berbeda. Dimana posisi Salomo adalah seorang baginda raja yang diurapi dan diberkati, sedangkan Shulamite adalah pekerja kasar, bahkan dapat dikata “tidak ada harganya” dibanding dengan Salomo. Lalu bagaimana menyamakan posisi dari orang yang biasa untuk naik step by step (langkah demi langkah) supaya setara dengan Salomo, bahkan sampai menjadi permaisuri raja ? Pada waktu Salomo menyatakan cintanya kepada Shulamite, ia harus menyamar menjadi seorang gembala dengan membawa domba ke kebun anggur, sehingga ia dapat bertemu dengan Shulamite. Dan sementara waktu berjalan, hidup daripada Shulamite mulai mengalami perubahan. Dimana dia mendapat banyak hadiah dari Salomo sebagai tanda cintanya kepada Shulamite. Dan ketika kehidupan Shulamite sudah menjadi mapan, maka mulai ada sedikit perubahan dalam hal kesetiaan.

Tatkala Salomo hendak bertemu dengan Shulamite pada malam hari karena rindu bertemu dengan Shulamite, namun Shulamite enggan menemuinya karena ia mau tidur. Tetapi Salomo tetap mengetuk pintu rumahnya, dan pada akhirnya Salomo harus pergi karena kedatangannya tidak diharapkan. Setelah Salomo pergi, Shulamite mulai sadar dan bergegas untuk membukakan pintu, tetapi kekasihnya telah pergi.
Saudara, bukankah Yesus Kristus itu raja segala raja yang menjadi manusia dan sebagai gembala yang baik sehingga Dia dapat bertemu dengan kita. Dan apabila saat ini Tuhan sedang mengetuk pintu hati kita, maka janganlah kita enggan untuk membukanya dan mempersilahkan Dia masuk, sebab ketika Dia masuk dalam hati kita, maka Dia akan merubah kehidupan kita bahkan apa yang tidak pernah kita dengar maupun kita lihat, bahkan tidak pernah timbul dalam hati kita akan dinyatakan oleh Tuhan. Percayalah bahwa Tuhan sedang mengangkat kita menjadi calon permaisuri (mempelai Kristus) step by step. Memang untuk mencapai derajat yang sama itu tidak mudah karena perlu waktu. Namun yang jelas suatu saat derajat kita akan sama dengan mempelai laki-laki.

Tetapi sementara waktu berjalan, janganlah kesetiaan kita berubah, walaupun kita diberkati secara berlimpah-limpah. Karena yang utama adalah kita dibawa pada tingkat kedewasaan yang pada akhirnya kita layak untuk menjadi mempelai Kristus. Dan apabila saat ini kita diberkati Tuhan maka kita perlu memuliakan Tuhan dengan harta kita, dan jangan sampai kita mulai mencintai harta kita lebih daripada Tuhan, sebab firman Tuhan berkata : “Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (Matius 6:24)

Melalui beberapa uraian diatas, biarlah kita semakin giat dan sungguh-sungguh di dalam Tuhan supaya tingkat kerohanian kita semakin hari semakin meningkat sampai mencapai kedewasaan penuh, sehingga kita berkenan menjadi mempelai Kristus.

Dan jikalau dalam perjalanan hidup kita mengalami banyak rintangan atau pergumulan, janganlah kita kuatir sebab kita adalah biji mata Tuhan yang dicintai.

Amin.

Thursday, January 26, 2012

PertolonganNya Tidak Pernah Terlambat



Pdt. Dr. Abraham Alex Tanuseputra

Ayat Bacaan: Markus 5:21-43

Masihkah mujizat Allah terjadi hingga saat ini ?
Sebuah pertanyaan yang kerapkali timbul dalam hati orang yang mengaku dirinya Kristen ketika menghadapi persoalan yang tak kunjung padam maupun sedang mengalami jalan buntu. Dan kali ini kita akan melihat kisah yang terdapat dalam Alkitab yang menceritakan tentang dua orang yang mengalami persoalan selama bertahun-tahun dan menghadapi jalan buntu.

Mujizat yang pertama adalah orang yang mengalami sakit pendarahan selama dua belas tahun telah disembuhkan dan yang kedua adalah anak Yairus dibangkitkan dari kematian. Dari sekian banyak orang yang datang kepada Yesus, hanya dua orang yang mengalami mujizat. Padahal semua orang yang mengerumuni Yesus juga membutuhkan suatu pertolongan, tetapi mereka tidak menyadari bahwa diri mereka perlu ditolong. Mereka lebih suka untuk menonton atau ikut-ikutan saja daripada mengalami sendiri. Hal ini disebabkan karena mereka menganggap bahwa dirinya memiliki kemampuan.

Untuk itu, jangan sampai kita seperti orang banyak yang datang kepada Yesus, yang hanya menonton atau ikut-ikutan, tetapi biarlah kita belajar seperti dua orang yang mengalami mujizat dari Tuhan. Mungkin saat ini ada persoalan yang telah tampak di depan kita atau ada yang belum, namun yang jelas bahwa suatu saat di depan kita ada peristiwa yang tidak dapat kita atasi dengan kekuatan kita sendiri dan kita mengalami jalan buntu (deadlock). Tetapi apabila kita datang kepada Tuhan Yesus seperti dua orang ini, maka segala persoalan kita akan terselesaikan.
Dari peristiwa yang telah kita baca, maka kita akan menemukan nilai kebenaran yang terdapat dalam perikop ini, diantaranya :

Pertama, Yairus adalah seorang kepala rumah ibadat yang sedang mengalami persoalan yang cukup serius, karena anaknya sakit keras dan hampir mati (sekarat). Dan apabila ditinjau dari status sosial ia adalah seorang rohaniawan, maka tentunya ia tahu tentang hal theologia (ilmu ketuhanan), tetapi tatkala ia mendengar tentang nama Yesus atau tentang Injil Kristus yang selalu menyatakan bahwa Allah telah menjadi manusia, yang bernama Yesus, maka datanglah Yairus kepada Yesus dan tersungkurlah Yairus di depan Yesus, lalu menyembahNya (ayat 22). Mengapa Yairus tersungkur didepan Yesus ? Karena ia tahu, bahwa ia sedang menghadap Allah yang menciptakan langit dan bumi. Demikianlah yang tertulis dalam Yohanes 1:14 & 18, yaitu bahwa “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. - Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.” Artinya, bahwa barangsiapa yang bertemu dengan Yesus, dia bertemu dengan Allah yang Mahakuasa.

Dari sini kita akan tahu, bahwa persoalan dapat dialami oleh siapa saja, termasuk hamba Tuhan. Walaupun tampak seolah-olah bahwa seorang hamba Tuhan tidak memiliki masalah, atau tampak bahwa hidupnya serba sukses karena Tuhan pasti menolong. Tetapi suatu saat seorang hamba Tuhan bisa terbenam dalam suatu kesukaran dan tidak bisa mengatasinya. Namun apabila dia minta pertolongan kepada Tuhan Yesus, maka Tuhan Yesus turut bersama-sama untuk menyelesaikan persoalannya itu, asalkan didasari dengan iman yang mantap seperti yang dimiliki oleh Yairus. Tetapi berapa banyak orang yang mengaku dirinya percaya kepada Tuhan Yesus namun tidak seratus persen percaya, bahwa Tuhan sanggup menyelesaikan segala persoalan. Bahkan sebaliknya, saat mereka mengalami persoalan mereka justru menjadi panik. Tetapi Tuhan berkata : jangan takut !. Arti kata takut dalam bahasa Yunani, seperti yang tertulis dalam Markus 5:35-36 yang berarti “panik.”.

Memang, terkadang sementara kita berjalan bersama Yesus, keadaan tidak bertambah baik, seperti yang dialami oleh Yairus. Dan hal ini bukan berarti kita semakin menderita apabila berjalan dengan Yesus, tetapi Tuhan ingin menyatakan kuasaNya yang luar biasa. Karena semakin sukar persoalan itu, maka semakin besar mujizat yang dinyatakan Tuhan kepada kita. Untuk itu jangan kuatir dan takut, karena ada mujizat yang akan dinyatakan lebih hebat lagi. Dan apabila persoalan sedang menimpa kita, maka janganlah kita panik. Orang yang panik adalah seperti orang yang tidak bertuhan. Tetapi orang yang penuh Roh Kudus adalah orang yang tidak takut terhadap persoalan, karena mujizat Tuhan pasti terjadi.

Dan apabila saat ini kita mengalami persoalan dan tidak ada jalan keluarnya (deadlock), maka ingatlah bahwa pertolonganNya tidak pernah terlambat. Meskipun kita tidak bertemu dengan Yesus secara fisik, tetapi RohNya yang kudus telah bersama-sama dengan kita. Karena ketika kita berdoa dalam nama Tuhan Yesus, maka Roh Kudus akan memberikan kemampuan kepada kita untuk mengahadapi persoalan serta menyelesaikannya, demikianlah yang tertulis dalam Efesus 1:13-14 yang berbunyi : “Di dalam Dia kamu juga -- karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu -- di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.”

Kedua, seorang wanita yang mengalami sakit pendarahan selama dua belas tahun (Markus 5:25-28). Dua belas tahun bukanlah waktu yang singkat; jangankan dua belas tahun, satu malam saja orang sudah merasakan penat yang luar biasa, apalagi menderita sakit selama dua belas tahun. Tentunya orang akan berputus asa karena tidak tahan mengalami penderitaan terus-menerus; apalagi kekayaannya habis digunakan untuk berobat namun hasilnya “nol besar”. Tetapi saudara, wanita ini tidak putus asa. Dia sungguh percaya bahwa hidup ini masih ada harapan selama mau berusaha. Dan ketika wanita ini mendengar tentang Tuhan Yesus, maka pengharapannya untuk mendapat mujizat semakin kuat. Bahkan dia berkata : “asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” (ayat 28). Dan setelah menjamah jubah Yesus, maka seketika itu juga wanitu tersebut telah sembuh dari penderitaannya (ayat 29).

Jubah berbicara tentang urapan (contoh : Elia & Elisa). Dan urapan itu kita dapatkan saat kita bersekutu dengan Tuhan, karena dalam firman Tuhan juga dikatakan : “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka."(Matius 18:20). Dan jikalau Tuhan hadir ditengah-tengah kita maka urapanNya juga hadir ditengah-tengah kita. Kemudian, apabila kita menerima urapan, maka segala penyakit yang sudah berlangsung selama belasan bahkan puluhan tahun, Tuhan tetap sanggup memberikan kesembuhan dan jawaban atas persoalan kita.

Oleh sebab itu janganlah kita takut atau panik saat mengahadapi persoalan, tetapi biarlah kita tetap memiliki iman yang teguh dan pengharapan yang kuat, sebab pertolonganNya terhadap kita tidak pernah terlambat.

Amin.