Kebangkitan Besar

Kebangkitan Besar

Saturday, January 12, 2013

Tuaian Yang Besar






Pdt. Abraham Alex Tanuseputra

Ayat Bacaan: 1 Korintus 16:5-9
16:5 Aku akan datang kepadamu, sesudah aku melintasi Makedonia, sebab aku akan melintasi Makedonia. 16:6 Dan di Korintus mungkin aku akan tinggal beberapa lamanya dengan kamu atau mungkin aku akan tinggal selama musim dingin, sehingga kamu dapat menolong aku untuk melanjutkan perjalananku.
16:7 Sebab sekarang aku tidak mau melihat kamu hanya sepintas lalu saja. Aku harap dapat tinggal agak lama dengan kamu, jika diperkenankan Tuhan. 16:8 Tetapi aku akan tinggal di Efesus sampai hari raya Pentakosta, 16:9 sebab di sini banyak kesempatan bagiku untuk mengerjakan pekerjaan yang besar dan penting, sekalipun ada banyak penentang.
Disadari ataupun tidak disadari bahwa segala tindakan, perkataan, gagasan dan sebagainya yang ada pada seseorang selalu ada konsekuensinya. Termasuk keputusan, maupun tindakan yang dilakukan oleh rasul Paulus dalam melayani pekerjaan Tuhan. Paulus melayani Tuhan dari kota satu ke kota lainnya, diantaranya Makedonia, Efesus, Korintus dan banyak kota lainnya. Memang, secara fisik bahwa pelayanan yang dilakukan oleh rasul Paulus itu sangat melelahkan, belum lagi ditambah dengan persoalan-persoalan lainnya. Inilah konsekuensi yang harus diterima oleh rasul Paulus, dan rasul Paulus menyadari akan hal itu. Tetapi semuanya itu tidak melemahkan rasul Paulus dalam melayani Tuhan, justru bagi rasul Paulus hal tersebut sangat menyenangkan sebab melayani Tuhan merupakan suatu kehormatan yang tidak ada bandingnya. Untuk itu ia menulis surat yang ditujukan kepada jemaat di Korintus, katanya : “sebab disini banyak kesempatan bagiku untuk mengerjakan pekerjaan yang besar dan penting, sekalipun ada banyak penentang.”

Rasul Paulus tidak melihat berapa besar tantangan yang akan ia hadapi saat melayani Tuhan, sebab ia hanya memandang upah sorgawi yang akan ia terima. Dan upah sorgawi ini tidak dapat dibandingkan dengan tantangan atau penderitaan yang sedang berlangsung di dunia ini, seperti surat rasul Paulus yang ditujukan kepada jemaat di Roma, yang berbunyi : “Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.” (Roma 8:18)

Saudara, kesempatan yang besar dan penting ini tidak hanya terjadi pada jaman rasul Paulus saja, tetapi kesempatan yang besar dan penting ini juga berlaku bagi jemaat Gereja Bethany Indonesia. Dimana jemaat Bethany juga mendapat kesempatan yang besar untuk ambil bagian dalam pekerjaan Tuhan, untuk menerima tuaian yang besar. Dan Tuhan sudah tidak sabar untuk memberikan tuaian jiwa-jiwa yang besar serta memberkati kita. Dan perlu kita ketahui pula, bahwa saat kita hendak memperoleh tuaian yang besar; kita tidak lepas dari tantangan/resiko yang harus kita hadapi.
Adapun tantangan tersebut meliputi berbagai aspek kehidupan manusia, baik itu secara fisik, hubungan antar sesama, bencana alam dan berbagai macam hal lainnya, terutama dalam perekonomian yang semakin lama semakin memburuk. Sehingga berapa banyak anak-anak Tuhan mulai lemah menghadapi keadaan ini. Untuk itu, marilah kita belajar dari kehidupan rasul Paulus yang pantang menyerah terhadap keadaan yang ada. Walaupun berbagai macam “belalang” (kuasa kegelapan) maupun persoalan hidup menyerang, ia tetap melakukan pekerjaan Tuhan, karena ia tahu bahwa masa penuaian itu telah tiba.

Menabur dan menuai itu merupakan suatu siklus yang tidak pernah berhenti. Dan siklus tersebut tidak pernah dipengaruhi oleh keadaan, asalkan tetap melekat pada pokok yang benar yaitu untuk menghasilkan buah Roh Kudus. Dan apabila gereja berbuahkan daging, maka akan dengan mudahnya belalang akan menghabiskannya, tetapi jikalau buah itu adalah buah Roh Kudus, maka buah Roh itu tidak akan pernah dimakan oleh belalang, dan mereka akan tetap berbuah karena buahnya kekal. Untuk itu jangan coba-coba untuk melepaskan diri dari pokok yang benar, sebab belalang ini sangat ganas, baik buah, batang maupun akarnyapun dimakan. Kalau akarnya sudah dimakan, maka pohon (gereja) itu akan “habis.” Oleh sebab itu kita patut bersyukur, karena meskipun banyak rintangan dan goncangan di gereja kita, tetapi puji Tuhan akar di tempat ini masih segar dan akan bertumbuh lebih kuat lagi dan mengeluarkan suatu getah dan akan ada panen yang lebih besar lagi. Dan hal ini tidak hanya terjadi pada gereja secara umum tetapi juga terjadi pada pribadi lepas pribadi.

Untuk menerima tuaian yang besar, maka ada hal-hal yang perlu diperhatikan supaya tuaian kita tidak dimakan oleh “belalang.” Kita harus tetap berakar dan bertumbuh dalam Kristus. Walaupun banyak tantangan yang sedang menghadang, tetapi jangan lemah, putus asa, bahkan berhenti dalam melayani Tuhan sebab jerih payahmu tidak akan sia-sia. Jikalau Tuhan Yesus dengan susah payah mendidik murid-murid-Nya untuk beriman, maka saat ini pun Dia sedang mendidik kita dari tidak memiliki iman, lalu iman yang kecil, iman yang bertumbuh, iman yang besar, iman yang kuat, dan iman yang sempurna. Memang, pertumbuhan yang demikian ini tidak mudah diterapkan kepada murid-murid Yesus pada waktu itu. Terbukti dalam Injil  Markus 16:9-14 telah dikisahkan bahwa orang yang dekat dengan Yesus tidak percaya akan kebangkitan Tuhan. Bukankah selama 3 tahun murid-murid Yesus melihat keajaiban dan mujizat yang yang dilakukan oleh Tuhan Yesus? Dan untuk lebih jelasnya lagi, maka kita dapat membaca dalam Injil Lukas 24:7-12.
Dimana Magdalena tidak sendirian, karena ada puluhan wanita yang melihat Yesus bangkit dan menceritakannya, tetapi rasul-rasul telah menganggapnya itu adalah omong kosong. Padahal Tuhan Yesus memberitahukan berkali-kali tentang kematian dan kebangkitanNya. Sebenarya waktu diberitahukan tentang kematian dan kebangkitanNya, murid-murid Yesus memiliki reaksi (Matius 16:21-23; 17:22; 20:17; 26:1), tetapi murid-murid Yesus hanya menangkap tentang kematian-Nya saja dan tidak menangkap tentang kebangkitan-Nya. Memang dalam mengikut Yesus ada suatu proses yang kelihatannya selalu kalah pada permulaannya, tetapi perlu kita ingat bahwa segala proses yang kita hadapi selalu ada jalan keluarnya.

Kita harus berpikir positif dalam menghadapi segala sesuatu. Murid-murid Yesus gagal untuk percaya karena pada waktu itu mereka susah untuk ditanami imannya dengan firman Tuhan, sehingga perkara besar dan penting tidak mungkin terjadi. Di dalam Injil Markus 8:14-21 merupakan kisah yang memilukan karena pada waktu itu yang ada dalam perahu mereka hanya 1 ketul roti, dan yang harus diberi makan jumlahnya 13 orang, sehingga hal ini membuat mereka bertengkar, padahal kalau dibandingkan dengan 5 ketul roti dan dua ikan untuk 5000 orang lebih, seperti yang mereka alami sebelumnya. Oleh karena itu, dengan adanya peristiwa ini maka dengan sikap tegas Tuhan Yesus memperingatkan mereka.

Kalau kita melihat peristiwa di atas bukankah tidak jauh dengan kehidupan yang sedang kita jalani saat ini ? Dimana kita kerapkali kurang mempercayai apa yang telah Tuhan katakan, karena kita lebih banyak dipengaruhi oleh keadaan sekeliling kita. Misalnya : Saat ini kita sedang menghadapi suatu keadaan yang sukar, sedangkan firman Tuhan mengatakan bahwa saat inilah kita akan menuai besar-besaran. Hal ini memang bertentangan, tetapi apabila kita meyakini dengan sungguh-sungguh maka apa yang kita yakini itu akan terjadi. Seperti yang Yesus katakana kepada murid-muridNya : ”Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya.”
Saudara, melalui beberapa penjelasan di atas biarlah mengajar kita untuk lebih sungguh-sungguh melayani Tuhan, dengan didasari oleh iman, harap dan kasih  terutama dalam masa penuaian. 

Amin

Friday, January 11, 2013

Persembahkan Yang Terbaik







Pdt. Abraham Alex Tanuseputra
Dalam peringatan hari kelahiran sang juru selamat, beberapa hal yang harus kita pelajari dan pahami melalui kehidupan orang majus. Dimana mereka telah mempersembahkan sesuatu yang terbaik bagi Yesus. Adapun persembahan yang diberikan oleh orang majus kepada Yesus adalah emas, kemenyan dan mur.

1. Emas : emas adalah gambaran dari iman yang murni dan teruji,

seperti yang tertulis dalam I Petrus 1:3-7 “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu. Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir. Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu -- yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api -- sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.”

Apabila saat ini kita sedang mengalami berbagai macam pergumulan yang tak kunjung padam, biarlah kita tetap tabah sebab Allah sedang memurnikan dan menguji iman kita. Dan apabila kita telah lulus dalam menjalani ujian tersebut maka apa yang tidak pernah kita pikirkan atau timbul dalam hati kita akan dinyatakan dalam kehidupan kita yaitu puji-pujian, kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diriNya. Ingatlah bahwa pergumuluan atau ujian yang sedang kita hadapi tidak sebanding dengan anugerah yang akan kita terima. Oleh sebab itu kuatkan dan teguhkanlah hati kita, karena dengan iman yang murni kita akan tetap berkenan kepada Tuhan.


2. Kemenyan : kemenyan adalah gambaran daripada pengharapan.

Setiap orang tentunya memiliki pengharapan; baik orang yang sudah menerima Yesus maupun orang yang belum menerima Yesus. Tetapi pengharapan orang yang diluar Yesus adalah sia-sia (Amsal  10:28), karena semuanya tidak ada kepastian, sedangkan pengharapan anak-anak Tuhan memiliki kepastian, seperti yang tertulis dalam Amsal 23:18 “Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang.”
Pengharapan anak-anak Tuhan adalah sauh yang kuat  yang dilabuhkan sampai di belakang tabir; dimana di belakang tabir terdapat Tabut Perjanjian dengan kata lain bahwa Tabut Perjanjian berada di ruang maha suci. Dan di ruang maha suci harus ada kemenyan yang terus menyala dan memberikan bau yang harum. Demikian halnya dengan kita; walaupun kita akan memasuki tahun yang baru penuh dengan tantangan dan pencobaan atau persoalan yang lainnya, biarlah kita tetap menyembah Tuhan bagaikan kemenyan yang terus menyala. Jangan sampai ada sungut-sungut atau kekecewaan maupun kata-kata negatif yang keluar dari mulut kita, melainkan penyembahan yang menyenangkan hati Tuhan.
Dan biarlah di tahun yang baru tidak ada alasan untuk lari dari Tuhan sebagai ungkapan putus asa kita, tetapi biarlah kita tetap pegang janji Tuhan karena apa yang telah difirmankanNya tidak akan kembali dengan sia-sia, tetapi semuanya akan terlaksana. Sebagaimana janjiNya terhadap Abraham yang disertai dengan sumpah, seperti yang tertulis dalam Ibrani 6:13-20 “Sebab ketika Allah memberikan janji-Nya kepada Abraham, Ia bersumpah demi diri-Nya sendiri, karena tidak ada orang yang lebih tinggi dari pada-Nya, kata-Nya : Sesungguhnya Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan akan membuat engkau sangat banyak. Abraham menanti dengan sabar dan dengan demikian ia memperoleh apa yang dijanjikan kepadanya.
Sebab manusia bersumpah demi orang yang lebih tinggi, dan sumpah itu menjadi suatu pengokohan baginya, yang mengakhiri segala bantahan. Karena itu, untuk lebih meyakinkan mereka yang berhak menerima janji itu akan kepastian putusan-Nya, Allah telah mengikat diri-Nya dengan sumpah, supaya oleh dua kenyataan yang tidak berubah-ubah, tentang mana Allah tidak mungkin berdusta, kita yang mencari perlindungan, beroleh dorongan yang kuat untuk menjangkau pengharapan yang terletak di depan kita. Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir, di mana Yesus telah masuk sebagai Perintis bagi kita, ketika Ia, menurut peraturan Melkisedek, menjadi Imam Besar sampai selama-lamanya.”  Untuk itu, tetaplah bersukacita dalam memasuki tahun baru sebab tahun mendatang adalah tahun penuh kemenangan.



3. Minyak Mur : Minyak mur merupakan gambaran dari kekuatan kasih, walaupun minyak mur itu sendiri memiliki kaitan dengan kematian karena minyak mur digunakan untuk mengurapi orang mati.

Kalau kita membaca dalam Yohanes 19:39, dikatakan : “Juga Nikodemus datang ke situ. Dialah yang mula-mula datang waktu malam kepada Yesus. Ia membawa campuran minyak mur dengan minyak gaharu, kira-kira lima puluh kati beratnya.” Jadi, melalui penjelasan di atas biarlah kasih kita kepada Tuhan tetap untuk selamanya.  Dan kekuatan kasih itu sungguh luar biasa karena firman Tuhan berkata : . . . . karena cinta kuat seperti maut, kegairahan gigih seperti dunia orang mati, nyalanya adalah nyala api, seperti nyala api TUHAN! (Kidung Agung 8:6). Hal ini terbukti bagaimana Tuhan mengasihi kita sampai Ia rela mengorbankan diriNya untuk keselamatan kita. Dan kasih Tuhan telah mengalahkan segalanya seperti yang yang diungkapkan oleh rasul Paulus : “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang ?” (Roma 8:35).

Oleh sebab itu biarlah kita belajar mengasihi Tuhan lebih sungguh-sungguh. Dan dalam mengasihi Tuhan kita akan belajar dari orang majus ini, yaitu iman yang teruji (emas), pengharapan yang panjang sabar (kemenyan) dan kasih yang murni (minyak mur) sebab Dia adalah raja di atas segala raja, dan Dia adalah Anak Allah. Mungkin timbul pertanyaan mengapa Dia disebut Anak Allah ? Kalau kita tarik kebelakang garis keturunan daripada Yesus maka Dia termasuk keturunan Abraham. Ada empat belas keturunan dari Yesus sampai pada jaman pembuangan di Babel, dan dari pembuangan di Babel sampai Daud ada empat belas keturunan.
Dan dari Daud sampai Abraham ada empat belas keturunan, jadi jumlahnya empat puluh dua keturunan yang telah disusun rapi. Lalu ditarik kembali lebih jauh, maka kita tahu bahwa Yesus bukan hanya keturunan Abraham tetapi Ia juga keturunan Adam. Dan yang perlu kita ketahui dan percayai bahwa Yesus adalah Allah yang telah menjadi manusia (Yohanes 1:1-14).
Jadi Yesus bukanlah tokoh agama maupun nabi tetapi Dia adalah Tuhan. Yesus adalah Tuhan yang nyata, oleh sebab itu janganlah kita ragu-ragu, percayalah bahwa Dia adalah Tuhan di atas segala Tuhan dan namaNya suci. Untuk itu persembahkanlah sesuatu yang terbaik bagi Dia.  

Amin.