Kebangkitan Besar

Kebangkitan Besar

Tuesday, May 8, 2012

Tidak Hanya Sekedar Mendengar







Pdt. Abraham Alex Tanuseputra

“Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.”

(Matius 7:24-27)
Kita percaya bahwa perlindungan Allah sangat sempurna. Dan perlindungan Allah ini telah menjadi bagian dalam kehidupan orang yang percaya kepada Kristus. Berlaku dan tidaknya perlindungan Allah tergantung dari cara kita meresponi akan firman Allah, seperti yang tertulis dalam ayat bacaan di atas. Dimana, orang yang mendengar firman Allah dan melakukannya ia sama dengan orang yang bijaksana.
Tatkala persoalan atau bahaya datang, ia akan tetap berdiri teguh sebab ada kekuatan Allah yang menopangnya. Sedangkan orang yang mendengarkan firman Allah tetapi tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh. Ketika persoalan atau bahaya menerpa dalam kehidupannya, ia mengalami penderitaan yang cukup hebat, dan pada akhirnya meninggalkan Tuhan (lepas dari perlindungan Allah).
Saudara, firman Tuhan tidak hanya sekedar kita dengar, baca atau dimengerti saja. Sebab apabila hanya kita dengar dan dimengerti saja, maka tidak ada bedanya dengan orang farisi atau para ahli Taurat. Dimana mereka cukup fasih mengenai firman Tuhan tetapi untuk aplikasinya “nol”. Dan mengenai hal ini pernah disinggung oleh Tuhan Yesus, kataNya : “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran” (Matius 23:27).

Lalu bagaimana sikap kita supaya firman Tuhan dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, yang pada akhirnya kita dapat mencapai posisi sebagai orang yang bijaksana ? Hal yang pertama adalah : kita tidak hanya sekedar membaca atau mendengarkan firman Tuhan, tetapi kita harus sampai mendapatkan wahyu (revelation) dari apa yang kita terima. Dan setelah kita mendapatkan wahyu, maka harus kita rekam dalam hati kita, supaya kita mempunyai inspirasi. Dan inspirasi ini harus direalisasikan dalam kehidupan kita melalui pimpinan daripada Roh Kudus yang disebut dengan iluminasi (perwujudan daripada inspirasi). Sehingga pada akhirnya kita akan memiliki wisdom (hikmat) dan bertindak sebagai orang yang bijaksana.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering temui berapa banyak orang yang mengaku dirinya sebagai anak Tuhan, tetapi hidupnya tidak ada bedanya dengan orang yang tidak mengenal Tuhan. Memang, mereka rajin datang ke gereja atau mengikuti seluruh kegiatan gereja. Tetapi tak satupun firman Tuhan yang mereka terima menjadi rhema dalam hidupnya, sehingga Kekristenannya tidak mengalami pertumbuhan. Semuanya ini disebabkan karena kurang adanya perhatian yang serius terhadap firman Allah, seperti yang tertulis dalam Ayub 33:14-18 “Karena Allah berfirman dengan satu dua cara, tetapi orang tidak memperhatikannya.
Dalam mimpi, dalam penglihatan waktu malam, bila orang nyenyak tidur, bila berbaring di atas tempat tidur, maka Ia membuka telinga manusia dan mengejutkan mereka dengan teguran-teguran untuk menghalangi manusia dari pada perbuatannya, dan melenyapkan kesombongan orang, untuk menahan nyawanya dari pada liang kubur, dan hidupnya dari pada maut oleh lembing.”  Dan tidak heran jikalau orang tersebut tidak pernah mengalami mujizat dalam hidupnya. Jadi wahyu (revelation) ini sangat penting dalam kehidupan orang beriman, sebab firman Tuhan dalam Amsal 29:18a juga mengatakan : “Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat,  . . . .”. Dalam bahasa aslinya bahwa kata “liar” ini adalalah “ paw-rah' “ yang berarti binasa (perish) atau tidak adanya perlindungan (uncover). Untuk itu, kita tidak dapat main-main dalam Kekristenan. Apalagi saat ini kita berada pada pengujung akhir jaman, dimana segala sesuatu tidak menentu dan tidak dapat diprediksikan dengan kepandaian manusia, kecuali dengan wahyulah kita dapat berdiri kokoh.

Saudara, ketika kita mulai sungguh-sungguh rindu untuk melakukan kehendak Tuhan, maka seperti apa yang tertulis dalam Kisah Para Rasul 2:17 akan digenapi dalam kehidupan kita sebagai orang percaya. Memang, untuk melakukan wahyu yang telah kita terima dari Tuhan itu tidak gampang karena memerlukan ketaatan, sedangkan apa yang kita terima dari Tuhan untuk dilakukan kadang-kadang sangat bertentangan dengan keinginan daging kita; bahkan seringkali tidak masuk akal untuk kita lakukan. Tetapi apabila kita mengetahui pikiran Tuhan maka kita akan melakukan apa yang menjadi kehendakNya. Lalu, bagaimana kita dapat mengetahui pikiran Tuhan ? Dalam I Korintus 2:10-11 dijelaskan bahwa : “Karena kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh, sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah. Siapa gerangan di antara manusia yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri manusia selain roh manusia sendiri yang ada di dalam dia? Demikian pulalah tidak ada orang yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri Allah selain Roh Allah. Jadi, melalui pimpinan Roh Kudus maka kita dapat mengetahui pikiran Allah. Sedangkan orang yang tidak sungguh-sungguh dalam Tuhan, tidak akan pernah mengetahui pikiran Allah, karena firman Tuhan berkata : “Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani” (I Korintus 2:14)

Saudara, melalui beberapa penjelasan diatas, biarlah kita semakin haus dan lapar akan kebenaran firman Tuhan, agar kita mendapatkan wahyu dari Tuhan untuk dilakukan dalam kehidupan kita sehari-hari dan menjadi gaya hidup kita. Dan pada akhirnya kita akan menjadi orang yang bijaksana atau berhikmat. Dan apakah keuntungan menjadi orang yang berhikmat ? Amsal 3:13-18 berkata : “Berbahagialah orang yang mendapat hikmat, orang yang memperoleh kepandaian, karena keuntungannya melebihi keuntungan perak, dan hasilnya melebihi emas. Ia lebih berharga dari pada permata; apa pun yang kauinginkan, tidak dapat menyamainya. Umur panjang ada di tangan kanannya, di tangan kirinya kekayaan dan kehormatan. Jalannya adalah jalan penuh bahagia, segala jalannya sejahtera semata-mata. Ia menjadi pohon kehidupan bagi orang yang memegangnya, siapa yang berpegang padanya akan disebut berbahagia.”  

Amin.

Rahasia Di Balik KematianNya





Pdt. Abraham Alex Tanuseputra

Pelayanan Tuhan Yesus dimulai saat di padang gurun. Dia telah dicobai iblis sebanyak tiga kali, namun Dia telah benar-benar sanggup menguasai diriNya, sampai pelayananNya di taman Getsemani. Pengalaman Tuhan di taman Getsmani adalah “Obey The Lord” mutlak (Taat terhadap kehendak Allah). Memang, secara daging Tuhan Yesus saat di taman Getsmani sempat mengatakan : “Bapa kalau boleh cawan ini berlalu, tetapi bukan kehendakKu yang terjadi, melainkan kehendakMu yang terjadi.” Hal ini dilakukanNya beberapa kali sampai malaikat Allah turun menguatkan Dia. Selain ketaatan, Ia juga merasakan takut terhadap kematian yang akan segera Dia hadapi. Disini ada ketaatan yang mutlak, sampai Ia mati di atas kayu salib.

Kematian Tuhan Yesus mengandung pengertian yang luar biasa. Banyak orang berpengertian bahwa kematian Tuhan Yesus hanya untuk menebus dosa saja, padahal sebenarnya memiliki arti yang lebih dalam lagi. Untuk lebih jelas lagi, kita akan membaca Ibrani 9:16-18 “Sebab di mana ada wasiat, di situ harus diberitahukan tentang kematian pembuat wasiat itu. Karena suatu wasiat barulah sah, kalau pembuat wasiat itu telah mati, sebab ia tidak berlaku, selama pembuat wasiat itu masih hidup. Itulah sebabnya, maka perjanjian yang pertama tidak disahkan tanpa darah.”

Apabila kita perhatikan ayat di atas, maka kematian Yesus Kristus ada hubungannya dengan wasiat yang diberikan kepada kita. Mungkin timbul bertanya dalam diri kita : “apa yang Tuhan Yesus miliki sehingga Ia memberikan wasiat kepada kita ?”. Memang, tujuan utama Tuhan Yesus mati adalah untuk menebus dosa kita, tetapi disisi lain Ia hendak melepaskan suatu wasiat. Karena dengan kematianlah maka surat wasiat itu dapat dikatakan sah, tetapi apabila seseorang yang memberikan suatu wasiat belum mati, maka wasiat itu belum sah. Sedangkan yang memberi wasiat kepada kita sangat unik sekali, karena Ia telah mati dan pada hari yang ketiga Ia bangkit. Lalu apakah wasiat itu tidak sah lagi ?, tidak !. Karena kebangkitanNya mempersiapkan kita pada kehidupan yang kekal.
Kalau demikian, betapa kayanya kita semua yang mendapat anugerah yang luar biasa. Tetapi kalau kita hanya menjadi orang Kristen yang bertumbuh lambat (tidak pernah dewasa) dan tidak mengerti hal ini maka kita tidak akan menikmati berkat ini.

Kuasa kekayaan, hikmat, kekuatan, hormat dan puji-pujian ini sebenarnya sudah dijanjikan oleh Allah kepada Abraham dan keturunannya, meskipun untuk mendapatkan penggenapannya harus mengalami berbagai macam tantangan. Tetapi kita akan melihat salah satu contoh keturunan Abraham yang mendapat hak waris secara langsung dari Allah, yaitu Yakub. Yakub memang tidak menerima warisan secara siklus, seperti yang Ishak terima dari Abraham. Tetapi Tuhan memberikan berkat secara luar biasa kepada Yakub, yaitu dua pasukan yang besar. Padahal ketika Yakub keluar dari rumah, ia hanya membawa sebuah tongkat. Namun melalui tongkat inilah setiap orang dapat membaca riwayat Yakub. Karena, setiap kali Yakub bertemu dengan Tuhan atau mengalami pertolongan Tuhan, ia selalu mengukir kisah perjalanannya pada tongkat itu (Kejadian 32:9-10).

Lalu siapa saja yang berhak menerima hak waris dari Allah ?
1. Mereka Yang Disebut Sebagai Anak.

Supaya kita disebut sebagi anak Allah, maka kita harus percaya kepada Tuhan Yesus. Karena ketika pertama kita percaya kepada Kristus; maka kita telah mendapat meterai dari Roh Kudus. Dan Roh itulah yang bersaksi bersama-sama roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah, . . . . . (Roma 8:16-17). Dan jikalau kita adalah milik Kristus, maka kita juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah (Galatia 3: 29). Lalu, apakah meterai Roh itu cukup bagi kita ? tidak. Kita perlu dibaptis dalam roh. Karena baptisan Roh Kudus mengandung arti bahwa kita sedang masuk dalam sengsara Kristus dan dibangkitkan bersama Kristus, agar terjadi kelahiran baru. Melalui manusia baru inilah kita berhak memiliki hak waris tersebut. Dan apakah cukup hanya sampai dibaptis Roh Kudus ?, tidak. Karena kita perlu dipenuhi oleh Roh Kudus.
Tatkala kita dipenuhi Roh Kudus, maka keluarlah buah-buah roh dalam kehidupan kita yang pada akhirnya kita senantiasa diurapi oleh Roh Kudus. Dan salah satu ciri orang yang dipenuhi serta diurapi oleh Roh Kudus adalah ia memiliki kerendahan hati, penguasaan diri dan hidup taat terhadap kehendak Allah. Karena tanpa kerendahan hati, penguasaan diri dan taat terhadap kehendak Allah, maka tidak mungkin kita akan menerima warisan tersebut (Mazmur 37:11,22,29 &34; Filipi 2:5-9).
2. Mereka Yang Hidup Dalam Roh (Roma 8:17-19)
Orang yang hidup dalam Roh, setiap langkah-langkah kehidupannya senantiasa dipimpin oleh Roh Kudus dan bukan dikuasai oleh keinginan daging. Dan orang yang hidupnya dikuasai oleh keinginan daging tidak akan melihat kehidupan karena keinginan daging adalah mati, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera. Selain itu keinginan daging merupakan perseteruan dengan Allah. Jadi mana mungkin orang yang hidup menurut keinginan daging dapat disebut sebagai ahli waris kerajaan Allah, sedangkan yang memberi hak waris adalah Allah.
Memang hidup menurut Roh itu sangat menderita buat daging kita, tetapi penderitaan inilah yang membuat kita berhenti untuk berbuat dosa, seperti yang tertulis dalam I Petrus 4:1 ”Jadi, karena Kristus telah menderita penderitaan badani, kamu pun harus juga mempersenjatai dirimu dengan pikiran yang demikian, -- karena barangsiapa telah menderita penderitaan badani, ia telah berhenti berbuat dosa.
3. Mereka Yang Hidup Dalam Kedewasaan (Galatia 4:1-3)
Setiap anak berhak untuk mendapatkan warisan, tetapi dengan syarat : anak tersebut harus sudah akil balig atau dengan kata lain anak tersebut sudah dewasa. Karena apabila anak tersebut belum dewasa, maka anak tersebut masih dibawah perwalian. Demikianlah Kekristenan kita, apabila Kekristenan kita belum mengalami kedewasaan, maka kita belum layak untuk menerima warisan itu. Dan orang yang Kekristenannya belum dewasa memiliki kecenderungan untuk melakukan dosa, karena mereka masih terpengaruh oleh roh-roh dunia.

Oleh sebab itu marilah kita semakin giat dalam mengikut Tuhan, dengan menaruh kepercayaan kita sepenuhnya kepada Kristus dan hidup menurut kehendak Roh untuk menuju Kekristenan yang dewasa. Agar segala apa yang dijanjikan oleh Tuhan akan tergenapi dalam kehidupan kita, Amin.

Tuesday, May 1, 2012

Tetaplah Setia





Pdt. Abraham Alex Tanuseputra

Ayat Bacaan: Lukas 16:10-13 Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya? Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu?
Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.
Berbicara mengenai kesetiaan maka kita tidak lepas dari unsur-unsur yang terkandung di dalam kesetiaan itu sendiri, yaitu : ketekunan, kesabaran dan dedikasi. Sifat setia itu memiliki nilai yang tinggi, bahkan melebihi kekayaan, seperti yang tertulis dalam Amsal 19:22 : “Sifat yang diinginkan pada seseorang ialah kesetiaannya; lebih baik orang miskin dari pada seorang pembohong.”

Saudara, firman Tuhan jelas menegaskan bahwa : "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.” (Lukas 16:10). Janji ini bukanlah sekedar untuk menghibur hati kita, tetapi janji ini merupakan hal yang perlu kita buktikan dalam kehidupan kita. Memang untuk mencapai perkara yang besar tidak semudah kita membalikkan telapak tangan, tetapi perlu perjuangan. Karena dari sinilah akan terlihat apakah kita setia atau tidak, karena bagi Tuhan tidak ada sesuatu yang sulit untuk memberkati kita, tetapi Tuhan ingin melihat sejauh mana kesetiaan kita kepada Dia.

“Successful Bethany Families” merupakan pengalaman yang Tuhan berikan kepada kita dalam pelayanan sebelumnya. Kita percaya, bahwa Tuhan tetap memberikan keberhasilan sampai hari ini. Tetapi ingat, janganlah kita langsung berdoa untuk sukses, tetapi berdoalah untuk “faithfulness”/setia. Sukses adalah akibat dari kesetiaan. Kita harus setia kepada Allah kita, Tuhan Yesus Kristus. Kita semua ingin pelayanan kita berhasil. Kalau kita setia dalam perkara kecil, maka Tuhan memberikan kita perkara yang besar. Kalau kita tidak benar dalam perkara yang kecil, maka kita juga tidak benar dalam perkara yang besar.

Sejak kita diselamatkan maka kita banyak mengalami mujizat. Kita percaya bahwa Roh Kudus tinggal dalam hidup kita. Dengan berkembangnya iman yang ada dalam hidup kita, maka hal itulah yang membuat kita berharap kepada Dia, termasuk dalam hal kebutuhan fisik; dan pada akhirnya kita diberkati. Karena kita percaya kepada Allah, maka Ia memberi kepercayaan kepada kita, dimulai dari hal yang kecil. Masing-masing kita sudah dipercaya Tuhan. Bukan hanya kita yang berharap kepada Tuhan, tetapi Tuhan juga mengharapkan kita untuk melakukan perkara-perkara yang lebih besar lagi. Untuk itu, kesetiaan kita harus memiliki muatan iman, harap, dan kasih.

Pada tahun 2000, saya (Pdt. Abraham Alex T.) menerima faximile dari Yerusalem, yang berkata, bahwa “Kalau engkau setia dalam perkara kecil, maka Tuhan akan memberikan perkara yang lebih besar. Bahkan engkau akan menerima yang terbesar.” Waktu itu saya berpikir bahwa cukup hanya dengan membangun Graha Bethany Nginden saja. Tetapi Tuhan ingin menunjukkan sesuatu yang tidak pernah timbul dalam hati saya maupun saya bayangkan. Tuhan mau supaya saya melakukan perkara yang terbesar dan bukan besar saja. Ini menjadi suatu pemikiran dalam hati saya untuk melakukan perkara yang lebih besar lagi. Puji Tuhan, kalau Tuhan menuntun untuk membangun Graha Bethany Nginden, maka untuk Menara Jakarta, Tuhan pasti membuka jalan. Sampai hari ini banyak mujizat dan perkara besar yang kami alami dalam hidup ini.

Tuhan menghendaki agar kita tetap setia. Berdoalah agar kita tetap setia. Kalau kita setia kepada Tuhan, maka kita mulai diberikan kepercayaan oleh Tuhan walaupun didahului dengan perkara yang kecil. Dan apabila kita tetap setia, maka perkara yang lebih besar lagi akan diberikan Tuhan. Tuhan juga menghendaki agar kita tetap setia kepada Dia untuk jangka pendek, jangka panjang, dan jangka kekal selama-lamanya. Tuhan ingin agar di dunia ini kita menjadi milik-Nya demikian juga di sorga yaitu untuk selama-lamanya.

Lalu, bagaimana jikalau kita jauh dari kesetiaan ? firman Tuhan mengingatkan : “Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?” (Lukas 16:11). Mamon adalah gambaran sesuatu yang kecil, sesuatu yang dapat lenyap (tidak kekal). Bahkan sifat mamon itu tidak jujur karena dia dapat berubah-ubah, dan pengaruhnya sangat buruk. Karena mamonlah seseorang dapat menjadi sombong (musuh Allah), arogan dan lain sebagainya. Dan sebagai salah contoh yang perlu kita ingat adalah kisah daripada Lucifer, dimana Allah sebenarnya ingin menjadikan Lucifer menjadi tangan kanan-Nya untuk proyek Kerajaan Allah. Tetapi sayang, Lucifer tidak setia sehingga dia harus mengalami kegagalan. Saat gagal itu, maka dia dibuang. Proyek Allah pada waktu itu menjadi “gagal”.
Sepertiga malaikat yang ada di sorga telah dirusak dan diseret oleh Lucifer. Akhirnya Tuhan memperbaiki lagi alam semesta ini dengan menciptakan langit, bumi, terang dan lain sebagainya. Lalu Allah menciptakan Adam dan Hawa. Allah berharap mereka beranak cucu dan memenuhi bumi. Allah berjanji memberkati mereka. Karena pengalaman-Nya dengan Lucifer, Allah menguji Adam dan Hawa. Merekapun gagal dalam kesetiaan dan diusir dari Taman Eden. Dan pada waktu zaman Nuh, Allah kesal dan membinasakan manusia, kecuali Nuh dan keluarganya.
Allah telah mengingat Nuh karena Nuh adalah orang yang setia dalam kesalehannya. Sehingga pada akhirnya anak cucu Nuh menjadi semakin banyak, namun sayang, dalam generasi berikutnya mereka mendirikan Babel. Dan pada akhirnya Babel dihancurkan oleh Tuhan, karena mereka tidak setia lagi kepada Tuhan. Mereka mencoba melawan Allah dengan kesatuan mereka. Dan pada generasi berikutnya Allah mencari orang yang tetap setia kepadaNya dan dapat dipercaya, maka Salomo dipercaya dengan hikmat dan kekayaan yang luar biasa, tetapi ia sendiri tidak bisa dipercaya. Mamon yang ada pada Salomo tidak disertai dengan kejujuran terhadap Allah dan terhadap dirinya sendiri, sehingga Salomo mengobral mamon dengan istri dan gundik yang banyak.

Saudara, dari sekian banyak pengalaman-pengalaman telah tampak adanya suatu kegagalan, tetapi ada satu proyek Tuhan yang tidak gagal, yaitu Tuhan Yesus Kristus. Sampai di atas kayu salib, Dia tetap setia. Dia tidak pernah berubah dulu sekarang dan selamanya. Dia bukan mamon yang tidak jujur, Dia yang jujur dan berhasil dan tidak pernah gagal. Berpautlah kepada Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat kita. Kita beriman, berharap dan mengasihi Tuhan Yesus Kristus yang tidak berubah dulu, sekarang dan selamanya.

 Amin.

Bagaimana Posisi, Kondisi & Fungsi Kita ?






Pdt. Abraham Alex Tanuseputra

Ayat Bacaan : Bilangan 16:1-5

Dalam ayat bacaan di atas telah menceritakan kisah mengenai pemberontakan daripada Korah bersama teman-temannya. Mereka tidak menyadari bahwa Allah membawa bangsa Israel untuk keluar bersama-sama dari tanah Mesir, melintasi laut Kolsom, menikmati manna di padang gurun dan mengalami banyak mujizat, namun Korah dan teman-temannya yang termasuk orang-orang pintar merasa tidak puas dengan kepemimpinan daripada Musa dan Harun. Padahal Musa adalah seorang nabi yang dipilih oleh Tuhan sendiri untuk membawa bangsa Israel keluar dari tanah perbudakan yaitu Mesir menuju tanah Perjanjian yaitu Kanaan.

Sebenarnya Korah beserta teman-temannya tahu bahwa Allah ada di tengah-tengah mereka, tetapi Korah mempunyai motifasi yang lain sehingga melakukan pemberontakan; hal ini sama dengan Korah memberontak terhadap Tuhan. Dan akibat dari pemberontakan tersebut maka tanah terbuka lebar, sedangkan Korah dan teman-temannya masuk dalam tanah yang terbuka itu, kemudian tanah itu tertutup kembali, sehingga mereka terkubur hidup-hidup.
Melalui kisah ini kita akan menemukan suatu nilai kebenaran yang akan membawa kita untuk hidup sesuai dengan kehendak Allah, terutama pada ayat ke 5. Dimana pada ayat tersebut berbicara tentang posisi, kondisi dan fungsi.

Dengan demikian kita akan belajar mengenai apa yang dimaksud dengan posisi, kondisi dan fungsi :

1. Posisi

Apakah posisi kita tetap menjadi kepunyaan Tuhan atau tidak ?
Seperti yang kita ketahui bahwa ketika seseorang percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan juru selamat maka saat itu orang tersebut telah lahir baru dan menjadi kepunyaan Allah; termasuk menjadi baitNya, seperti yang tertulis dalam I Korintus 6:19-20 ”Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, -- dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!”

Untuk itu perlu kita ingat baik-baik bahwa kita telah dibeli dengan harga yang lunas dan hanya dalam Kristus ada penebusan. Dengan demikian, apabila kita sudah menjadi milikNya maka kita disebut sebagai anak-anak Allah. Dan apabila kita sebagai anak Allah, tentunya hidup kita dipimpin oleh Roh Allah dan bukan hidup menurut kehendak kita sendiri. Sebab firman Tuhan berkata : “Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah” (Roma 8:14). Selain itu, jikalau kita sebagai anak Allah maka kita akan menerima kuasa; seperti yang tertulis dalam Yohanes 1:12,”Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya.”
Oleh karena itu, jangan kita takut atau kuatir dalam menjalani hidup ini sebab kerajaan sorga telah turun atas kita sekalian, sehingga kita berada dalam kerajaan AnakNya; seperti yang tertulis dalam Kolose 1:13 ”Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih.”  Walaupun demikian, masih banyak orang yang ragu-ragu tentang hal ini. Banyak orang yang merasa miskin, minder atau tak dapat berbuat apa-apa. Hal ini menunjukkan bahwa orang tersebut tidak menghargai posisinya sebagai anak Allah. Apakah kita termasuk diantara mereka ?

Kita sebagai anak tentunya terus bertumbuh sehingga kita menjadi mempelai Kristus yang pada akhirnya seperti yang dikatakan dalam  Efesus 5:31-32. Hubungan Kristus dengan jemaat seperti suami-istri. Janganlah kita menjadi anak yang terhilang. Tetapi menjadi anak yang sudah kembali kepada kepunyaan Allah. Atau jangan sampai kita seperti tunangan yang kehilangan kasih mula-mula. Janganlah kita memadamkan Roh, mendukakan Roh, terlebih menghujat Roh, supaya kita tidak seperti Korah yang tidak ada ampun. Oleh sebab itu, apa yang telah kita awali oleh Roh janganlah kita akhiri dengan daging, supaya kita sekali selamat tetap selamat selamanya. Salah satu contoh yang buruk adalah Saul. Dimana Saul adalah orang yang diurapi Tuhan, tetapi tatkala Daud muncul, Saul mulai cemburu dan berusaha untuk membunuh Daud, sehingga pada akhir hidup Saul, dia tidak dikenal oleh Tuhan, dan hidupnya berakhir sangat mengenaskan.

2. Kondisi

Apakah kondisi kita tetap hidup dalam kekudusan atau tidak ?
Firman Tuhan berkata dalam Ibrani 12:14 ”Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan.” Berapa banyak orang yang melayani pekerjaan Tuhan tetapi masih hidup dalam kubangan dosa. Mereka tidak dapat melepaskan diri dari ikatan dosa jenis. Tetapi firman Tuhan mengajarkan bahwa dosa jenis hanya bisa dikalahkan oleh doa dan puasa (Matius 17:21). Dan apabila seseorang melayani Tuhan tetapi masih tetap melakukan dosa, maka orang tersebut akan mengalami suatu keadaan yang ironis, seperti yang tertulis dalam Matius 7:22-23 ”Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” Oleh sebab itu, biarlah kita tetap hidup dalam kekudusan dan melakukan kehendak Allah sampai akhir hidup kita.


3. Fungsi

Apakah kita masih berfungsi sebagai imam yang membawa umat Tuhan; baik itu keluarga, kelompok FA ataupun jemaat untuk berfellowship dengan Tuhan ?
Firman Tuhan berkata dalam I Petrus 2:9-10 ” Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib: kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan.”
Pada jaman purba sama dengan jamam perjanjian baru. Tuhan mengangkat kita menjadi imamat yang rajani. Kita berfungsi sebagai imam. Seorang imam berfungsi untuk melakukan perkara-perkara yang besar maupun kecil. Dengan diangkatnya kita sebagai imam maka kita dapat bergaul karib dengan Tuhan. Roh Kudus telah memfungsikan kita untuk melakukan perkara yang besar. Dan kalau Tuhan bisa memfungsikan saya (Pdt. Alex T.) maka Tuhanpun akan memfungsikan kita semua.  

Amin.

Kita Membutuhkan Tuhan

Pdt. Abraham Alex Tanuseputra 

Setiap orang yang masih tinggal di muka bumi ini, tentunya mengalami berbagai macam persoalan yang berbeda-beda, termasuk saya (Pdt. A. Alex Tanuseputra). Dan selama saya mengikut Tuhan, banyak terjadi gelombang dalam kehidupan saya, tetapi saya tetap membutuhkan Dia sebagai penolong yang ajaib.

Salah satu contoh : Ketika saya membangun beberapa gereja di Mojokerto, saya benar-benar membutuhkan Tuhan sehingga pembangunan itu berhasil. Namun yang perlu disayangkan adalah ketika saya berhasil dan selesai membangun gereja, saya mulai kendor dan mulai tidak membutuhkan Tuhan lagi. Dan ketika saya (Pdt. A. Alex Tanuseputra) pindah ke Surabaya, saya berada dalam kondisi nol. Namun saat saya membangun gereja Bethany Manyar saya membutuhkan Tuhan. Dan dalam waktu 7 tahun, pembangunan gereja Bethany Manyar telah selesai. Lalu saya mulai kendor dan tidak berdoa lagi sehingga saya mengalami berbagai gelombang. Dan puji Tuhan, Allah mempercayakan saya untuk membangun Bethany Nginden. Dalam pembangunan gereja Bethany Nginden saya mengalami berbagai pergumulan, apalagi saat membangun sempat dilanda krisis moneter sehingga biaya untuk pembangunan sangat meningkat, belum termasuk tantangan dari luar. Tetapi saat itulah saat kembali membutuhkan Tuhan, sehingga pembangunan gereja Bethany Nginden selesai. Setelah pembangunan gereja Bethany Nginden selesai, maka saya mulai kendor lagi, sehingga banyak persoalan datang. Dan disitulah Allah mempercayakan saya untuk membangun Menara Doa Jakarta. Dalam kondisi perekonomian seperti ini untuk Menara Doa dengan dana triliunan itu sangat mustahil, tetapi saya percaya ketika kita membutuhkan Tuhan maka tidak ada sesuatu yang mustahil, sebab Dia adalah Allah yang luar biasa. Begitu pula ketika saya sakit, saya sangat membutuhkan Tuhan sebab saya sadar tanpa Tuhan, maka saya tidak dapat berbuat apa-apa.

Dari serentetan kisah perjalanan hidup saya di atas intinya adalah bahwa kita harus senantiasa membutuhkan Tuhan dalam berbagai keadaan; baik dalam keadaan sukses maupun saat mengalami pergumulan, karena itu merupakan kerinduan Tuhan agar umatNya membutuhkan Dia. Dan oleh kemurahan Tuhan sehingga sampai saat ini saya masih melayani Tuhan.

Ada beberapa ciri yang membuktikan bahwa seseorang itu membutuhkan Tuhan :
1. Berdoa
Dalam Roma 8:16-17, disebutkan bahwa Roh itu bersaksi dengan roh kita pada waktu kita berdoa. Untuk itu apabila kita membutuhkan Tuhan maka kita harus berdoa, agar kita menerima janji Tuhan sebagai ahli waris. Sedangkan bagi orang yang berada di luar Tuhan tidak ada jaminan atas segala doa yang sudah dipanjatkan, karena mereka bukan ahli waris kerajaan Allah. Dan ketika kita berdoa, saya (Pdt. A. Alex T.) senantiasa mengajak jemaat berdoa dalam bahasa roh. Ada alasan yang mendasar mengapa saya mengajak berdoa dengan bahasa roh. Hal ini dapat kita lihat dalam I Korintus 14:2 ”Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, tidak berkata-kata kepada manusia, tetapi kepada Allah. Sebab tidak ada seorangpun yang mengerti bahasanya; oleh Roh ia mengucapkan hal-hal yang rahasia.” Jadi orang yang berbahasa roh itu sedang berkata-kata dengan Tuhan, dan hal ini bisa dilakukan di setiap waktu. Orang yang berdoa dengan bahasa roh maka orang tersebut membangun dirinya sendiri dalam pengertian bahwa dia sangat membutuhkan Tuhan dan meyakini bahwa Tuhan adalah Imanuel, dan jemaat yang membutuhkan Tuhan, pasti jemaat tersebut suka berdoa. Dan apabila kita berdoa maka Tuhan akan memenuhi segala apa yang menjadi kebutuhkan kita. Saudara, ketika kita tunduk kepala dan berdoa, maka kita sedang masuk alam roh dan Roh Kudus akan membantu kita dalam segala keluhan kita yang tidak terucapkan (Roma 8:26). Oleh karena itu mariah kita merubah kehidupan kita supaya suka berdoa.

2. Membaca Firman Tuhan
Dalam Injil Yohanes 15:7 menjelaskan bahwa orang yang tinggal dalam Tuhan dan Tuhan tinggal di dalam dia maka apa saja yang mereka minta, Tuhan akan genapi. Jadi kita tidak cukup berdoa saja tetapi firmanNya harus tinggal dalam kita melalui pembacaan firman Tuhan; dan terlebih itu kita tinggal dalam kebenaran firman Tuhan. Dalam ayat lain juga disebutkan : ”Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung.” Selain itu, ketika kita membaca firman Tuhan maka disitulah kita mengerti dan memiliki pikiran Kristus, yaitu pikiran yang tidak terselami oleh pikiran manusia karena pikiran itu di luar logika manusia; misalnya : lima roti di tambah dua ekor ikan telah sanggup memberi makan lima rimu orang, orang buta sejak lahir bisa melek, dan juga kisah tentang Lazarus, meskipun ia sudah meninggal 4 hari tetapi dapat dibangkitkan kembali oleh Yesus. Kalau kita membaca firman Tuhan maka akan muncul visual (gambaran) dan Roh yang ada dalam diri kita akan bekerja, sehingga apa yang kita bayangkan akan terwujud asalkan kita tidak meninggalkan iman, karena kita harus terus bertumbuh dalam pengharapan. Terlebih itu, hidup kita harus ada muatan kasih, karena hidup kita akan terarah sesuai dengan kehendakNya.

3. Melayani Tuhan Orang yang membutuhkan Tuhan tentunya juga melayani Tuhan
Roma 12:1 berkata, ” . . . supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Jadi apabila kita membutuhkan Tuhan maka kita harus aktif melayani untuk memenangkan jiwa. Namun bukan berarti kita tidak bekerja; karena yang dimaksud disini adalah selain kita bekerja kita juga harus melayani Tuhan sesuai dengan talenta yang sudah dipercayakan Tuhan kepada kita. Dan perlu kita ketahui bahwa berkat Tuhan itu akan kita terima apabila kita membutuhkan Tuhan.

Saudara, apabila kita membaca di dalam Mazmur 63:2, maka kita temukan kehidupan raja Daud mengalami seperti yang kita alami. Dari kecil ia membutuhkan Tuhan sebab ia sering menghadapi bahaya. Ketika ia menggembalakan domba, ia harus berhadapan dengan singa, beruang, tetapi semuanya dapat dikalahkan. Di dalam diri Daud ada kekuatan ilahi. Dan pada waktu ia sukses, orang lain mulai iri hati kepadanya yaitu Saul. Tetapi Daud tetap membutuhkan Tuhan, dan ia semakin sungguh-sungguh mendekat dengan Tuhan dan memegang janji Tuhan sampai ia menjadi raja. Dan ketika ia menjadi raja, maka mengalami banyak kemenangan demi kemenangan. Tetapi suatu saat ia tidak pergi berperang melainkan menikmati segala keberhasilannya, sedangkan seluruh pasukannya bertempur, akhirnya ia jatuh dalam dosa ketika melihat Batsyeba sedang mandi. Kemudian ia bertobat dan dipulihkan lagi kehidupannya oleh Tuhan. Namun pada akhirnya ia jatuh kembali dalam dosa ketika ia mulai menghitung jumlah pasukannya. Jadi intinya bahwa setiap umat pilihan Tuhan harus senantiasa membutuhkan Tuhan.

Oleh sebab itu biarlah roh, jiwa dan tubuh kita dapat dibuktikan bahwa kita sangat membutuhkan Tuhan. Amin.

Wednesday, March 28, 2012

Kodrat Ilahi



Pdt. Abraham Alex Tanuseputra

"Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya."
(Matius 7:24-27)

Setiap orang Kristen yang sudah menerima Yesus sebagai Juruselamat, lahir baru dan sudah dibaptis, harus menyadari bahwa di dalam dirinya ada kekuatan ilahi atau kondrat ilahi. Dan hal ini telah ditegaskan oleh rasul Paulus melalui suratnya yang ditujukan kepada jemaat di Korintus, yang bunyinya : ”Tidak tahukah kamu bahwa tubuhmu adalah rumah Roh Kudus” (I Korintus 3:16; I Korintus 6:19). Untuk itu kita patut bangga dan mengucap syukur senantiasa karena Roh Allah telah manunggal dalam kehidupan kita. Bahkan raja Daud berkata : “Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku!” (Mazmur 51:13).

Ayat ini menunjukkan bahwa betapa berharganya Roh Allah itu, karena Roh Allah merupakan sumber dari segalanya. Dan dalam ayat ini telah tersirat bahwa Daud rela kehilangan segala apa yang dia miliki asalkan Roh Tuhan tidak diambil daripadanya; hal ini terlihat dari apa yang difokuskan oleh Daud yaitu Roh Tuhan, dan bukan kerajaan atau kekayaan maupun yang lainnya. Dan apabila kita menengok kebelakang mengenai pekerjaan Roh Kudus khususnya pada masa penciptaan dunia, maka kita akan kagum akan kedahsyatannya, dimana saat itu Roh Kudus ada di permukaan air waktu penciptaan bumi ini karena bumi ini sedang kacau balau dan iblis dicampakkan ke bumi. Bumi menjadi campur baur dan rusak.

Sepertiga malaikat Tuhan mengikuti iblis. Tetapi Tuhan memperbaiki bumi ini. Roh Allah ada di permukaan air, lalu Allah berfirman untuk menciptakan bumi ini. Memang pada waktu itu seperti zaman penciptaan, sebenarnya penciptaan kembali, karena sebelumnya ada suatu zaman. Dunia diperbaiki dengan firman Allah, karena bumi telah dirusak oleh iblis. Dan saat itu jadilah yang diciptakan oleh Allah. Ini terjadi karena ada Roh Kudus dan firman Allah. Dan sekarang Roh Kudus ada di permukaan air, yaitu tubuh ini, karena tubuh manusia terdiri dari 80% air, yaitu darah/jiwa ini. Roh Allah merupakan satu kodrat ilahi yang hendak berkarya secara luar biasa. Dan ini baru bisa terjadi dalam hidup kita kalau kita mendengar firman Allah dan melakukannya.

Saudara, melalui sedikit ulasan diatas membuktikan bahwa Roh Kudus adalah harta atau kodrat ilahi yang akan berfungsi dan berkarya di dalam hidup kita. Dan ayat bacaan diatas menjadi landasan bagi pemahaman kita terhadap berfungsinya maupun berkaryanya kodrat ilahi yang ada di dalam kehidupan kita. Kodrat ilahi akan berfungsi apabila kita melakukan firman Tuhan (Matius 7:24-25), dan begitu sebaliknya, bahwa kodrat ilahi itu tidak berfungsi apabila kita tidak melakukan kehendak Tuhan (Matius 7:26-27). Selain itu, perlu kita ketahui pula bahwa kita mendapatkan kodrat ilahi semata-mata oleh karena kasih dan anugerahNya; seperti yang tertulis dalam 2 Petrus 1:3-4 : ”Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib. Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia.”

Sedangkan pada ayat selanjutnya (2 Petrus 1:5-10); apabila dikolaborasikan dengan ayat bacaan diatas maka kita akan menemukan nilai kebenaran yaitu bahwa saat kita membangun rumah harus dimulai dengan iman, lalu kebajikan, pengetahuan, penguasaan diri, ketekunan, kesalehan, kasih akan saudara-saudara, dan kasih akan semua orang.

Untuk lebih detailnya, mari kita bahas satu persatu mengenai syarat dalam membangun rumah (rumah rohani). Yang pertama yaitu dengan iman. Dimana iman itu ada atau timbul dalam kehidupan kita apabila kita senantiasa mendengarkan firman Tuhan, seperti yang tertulis dalam Roma 10:17 berkata : “Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” Sebab firman Allah telah diwujudkan melalui peristiwa kehidupan seseorang, seperti Musa, Daud dan lainnya. Di dalam firman Tuhan banyak dicatat tentang mujizat yang Tuhan lakukan, baik itu dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru. Semua itu adalah kodrat ilahi dan bukan oleh kekuatan manusia.

Kalau kita membaca firman Allah, maka pekerjaan Roh Kudus yang dicatat dalam Alkitab dapat terjadi dalam kehidupan kita pula, khususnya sebagai orang yang dipanggil dan dipilih oleh Tuhan. Dan Firman Allah tidak boleh hanya sebagai kepercayaan/iman saja, tetapi harus nyata dalam perbuatan (Yakobus 2: 17-22). Perbuatan yang didalamnya terkandung kebajikan ini tidak tidak hanya dilakukan oleh seorang imam atau nabi saja, tetapi semua umat Tuhan harus melakukannya. Seperti halnya Yunus yang bertobat dan melakukan perintah Tuhan. Setelah melakukan firman Allah maka kodrat ilahi yang ada dalam dirinya bekerja secara luar biasa, dimana melalui pemberitaannya maka satu kota (Niniwe) bertobat.


Saudara, ketika kodrat ilahi berfungsi dalam hidup kita, dan berjalan seiring dengan waktu yang di dalamnya diwarnai dengan berbagai macam pencobaan demi pencobaan, maka dari situlah akan timbul pengalaman/pengetahuan, yang pada akhirnya akan membawa kita hidup dengan penguasaan diri; misalnya saat kita menghadapi persoalan maka kita tidak panik lagi. Sebagai contoh yang nyata adalah kisah daripada rasul Paulus; dimana telah diungkapkan melalui suratnya yang ditujukan kepada jemaat di Korintus, bunyinya : “Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami” (II Korintus 4:8-10).

Selain penguasaan diri, dalam diri kita dituntut pula adanya ketekunan, karena tanpa ketekunan maka kita tidak akan mendapatkan apa-apa. Sebagai gambaran adalah seorang petani. Mereka tidak akan panen apabila tidak sabar atau tekun dalam merawat dan menantikan tanaman yang ia tanam, karena segala sesuatu ada waktunya. Firman Tuhan berkata : “Seorang petani yang bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil usahanya” (II Timotius 2:6). Dan besar kecilnya panen mereka tidak lepas dari hukum tabur tuai, yaitu “Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga” (II Korintus 9:6). Dan selanjutnya adalah : bagi orang yang bertekun di dalam Tuhan maka orang itu akan hidup dalam kesalehan; yang pada akhirnya kodrat ilahi yang ada di dalam dirinya akan senantiasa memelihara orang tersebut baik di dalam dunia maupun sampai pada hidup yang kekal.
Oleh karena itu, janganlah kita sia-siakan kesempatan yang ada.

Biarlah kodrat ilahi yang telah dianugerahkan dalam kehidupan ini, senantiasa berfungsi untuk melakukan pekerjaan yang besar. Karena pondasi ini sebenarnya tercakup dalam iman, harap dan kasih.

Amin.

Wednesday, March 14, 2012

Wasiat



Pdt. Dr. Abraham Alex Tanuseputra

“Sebab di mana ada wasiat, di situ harus diberitahukan tentang kematian pembuat wasiat itu. Karena suatu wasiat barulah sah, kalau pembuat wasiat itu telah mati, sebab ia tidak berlaku, selama pembuat wasiat itu masih hidup.”
(Ibrani 9:16-17)

Pada ayat bacaan di atas terdapat kata “Wasiat”.
Wasiat adalah sebuah janji; sedangkan yang memberikan wasiat itu adalah Allah. Dan perlu kita ketahui bahwa wasiat ini baru berlaku kalau yang memberi wasiat ini telah mati.

Memang, Allah tidak pernah mati, karena Dia kekal, tetapi Dia bisa memberikan warisan kepada kita dengan jalan memberikan Yesus yang adalah Tuhan telah menjadi manusia. Pada saat Dia mati (walaupun pada hari yang ketiga Dia telah bangkit) Allah memberikan wasiat kepada kita, selain itu Allah mengangkat kembali manusia menjadi anak-anak Allah. Ini berlaku bagi yang percaya kepada-Nya.

Wahyu 5:6-12 menyatakan bahwa Allah itu memiliki segala-galanya, khususnya pada ayat 12 telah dikatakan : "Anak Domba yang disembelih itu layak untuk menerima kuasa, dan kekayaan, dan hikmat, dan kekuatan, dan hormat, dan kemuliaan, dan puji-pujian!". Sejak Yesus mati di atas kayu salib wasiat di atas tersebut diberikan bagi kita selaku anak-anakNya. Hal ini dapat kita ketahui dalam Roma 8:16-17 yang berkata, “Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” Menderita bersama-sama dengan Tuhan merupakan sesuatu hal yang tidak enak untuk daging. Kata yang lebih tepat untuk kata “menderita” adalah “prihatin.” Ini berarti mau tidak mau kita harus berjalan di jalan yang sempit, menderita bersama dengan Kristus. Namun ujungnya menuju kebahagiaan yang tidak terlukiskan. Selain itu penderitaan yang kita alami tidak sebanding dengan kemuliaan dan kebahagiaan yang akan kita terima.

Wasiat di dalam Yesus dihubungkan dengan pengertian “berkat Allah yang diberikan kepada Abraham.” (Galatia 3:26-29). Apabila kita melihat siklus sebuah kehidupan khususnya dari Abraham, Ishak dan Yakub, maka disana dipenuhi dengan bukti-bukti iman. Yang perlu kita perhatikan adalah bukan hanya berkat yang diterima Abraham saja, tetapi siklusnya. Setelah Abraham, Ishak diberkati, lalu diturunkan kepada Yakub. Memang secara fisik Ishak tidak memberikan apa-apa kepada Yakub, tetapi berkat yang dari Tuhan tetap terjadi dalam kehidupan Yakub. Ini merupakan siklus turun-temurun. Hal ini juga berlaku bagi kehidupan orang yang percaya kepada Kristus, termasuk saudara semua. Berapa banyak orang mengalami masa kejayaan namun setelah meninggal dunia, anak-anaknya hidup penuh penderitaan. Hal ini disebabkan karena mereka tidak berada dalam sebuah siklus kehidupan seperti yang dilakukan oleh Abraham, Ishak dan Yakub. Sebagai contoh yang gamblang adalah bangsa Israel. Tatkala orang Israel menyembah Tuhan dengan baik, maka kota Yerusalem mendapatkan damai sejahtera. Klimaksnya pada saat pemerintahan Daud dan Salomo. Tetapi saat orang Israel tidak mengikuti siklus yang dilakukan nenek moyangnya, maka Yerusalem hancur dan dijajah oleh banyak bangsa. Saat mereka bertobat dibangun kembali dan saat mereka tidak taat, maka dijajah kembali. Ini berlangsung terus menerus, hingga Yerusalem memiliki pondasi yang berlapis-lapis. Yerusalem adalah kota yang kekal. Ini merupakan gambaran bagi kita kepada Yerusalem yang kekal. Kalau Yerusalem kita di dunia ini baik, maka Yerusalem yang di sorga pasti juga baik.

Hari-hari ini, memang Tuhan sedang mengembalikan Yerusalem, tetapi ibadah mereka belum pulih secara keseluruhan. Tetapi kita adalah keturunan Abraham di dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Tanpa Yesus, berkat Allah tidak bisa turun kepada kita. Karena Yesus, semua berhak menjadi anak-anak Allah yang menerima wasiat dari-Nya. Untuk itu kita tidak bisa meninggalkan siklus yang pernah dilakukan oleh tokoh-tokoh pergerakan Kristen yang berkembang sampai sekarang. Apa yang dilakukan Abraham dilakukan oleh Ishak, seperti yang tertulis dalam Kejadian 26:12-13, ”Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati Tuhan. Dan orang itu menjadi kaya, bahkan kian lama kian kaya, sehingga ia menjadi sangat kaya.” Memang tidak mudah untuk melakukan siklus ini secara turun-temurun, tetapi kalau orang kembali kepada siklusnya, maka berkat Tuhan akan turun dengan luar biasa. Setiap orang memiliki siklus ini. Jangan sampai kita melupakan siklus itu, karena apabila kita melupakannya maka yang akan terjadi dalam kehidupan kita seperti yang tertulis dalam Pengkhotbah 1:11, ”Kenang-kenangan dari masa lampau tidak ada, dan dari masa depan yang masih akan datangpun tidak aka nada kenang-kanangan pada mereka yang hidup sesudahnya.” Ini merupakan peringatan bagi kita.

2 Korintus 9:10-11 berkata, “Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu; kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kami.” Menabur bukan berarti berbicara masalah uang saja. Ini suatu siklus, kenangan yang lama ada dan yang akan datang lebih ada lagi. Hidup kita ini sangat berguna untuk ini.

Matius 25:14-30 berbicara tentang seorang tuan yang mempercayakan talenta-talentanya kepada hamba-hambanya. Ada yang menerima 5, 4, 3, 2, 1 talenta. Yang diberi 5 sampai 2 dikembangkan, tetapi yang menerima 1 talenta tidak mengembangkannya. Justru yang diberi 1 talenta menganggap tuannya kejam. Orang tersebut diberi 1 talenta saja tidak bisa mengembangkan, apalagi diberi banyak. Oleh karena itu berapapun talenta yang dipercayakan kepada kita, seharusnya kita kembangkan, supaya hal yang buruk tidak kita alami, seperti yang tertulis dalam Matius 25:30 berkata, “Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi."

Untuk itu, marilah kita kembali kepada silklus, menabur dan menuai. Memang terasa berat, tetapi apabila kita mau melakukannya maka kita akan dimuliakan bersama dengan Kristus. Walaupun kita mengalami banyak tantangan, tetapi kita tetap diberkati oleh Tuhan.

Amin