Kebangkitan Besar

Kebangkitan Besar

Sunday, May 29, 2011

Peliharalah Keselamatanmu

Pdt. Abraham Alex Tanuseputra
Graha Bethany Nginden


Seperti yang telah kita ketahui bahwa keselamatan bukan hasil usaha manusia melainkan anugerah Allah. Sebenarnya kita harus menerima hukuman kekal tetapi oleh karenakasihNya, maka kita di selamatkan melalui perngorbanan Kristus. Keselamatan itu sendiri di berikan kepada kita ketika kita percaya dan mengaku Yesus sebagai Tuhan dan juru selamat; lalu dibaptiskan, yang pada akhirnya terjadilah kelahiran baru. Keselamatan terjadi hanya satu kali saja. Lalu,bagaimana keselamatan ityu terus berlangsung dalam kehidupan kita? perlu ada "maintenance" / pemeliharaan.

Saudara, berapa banyak orang yang mengaku dirinya percaya kepada Yesus, tetapi memandang rendah nilai pengorbanan Tuhan Yesus di atas kayu salib. mereka tidak memelihara ataupun peduli lagi terhadap keselamatan yang telah diberikan Tuhan kepada mereka. Hal ini terbukti dari gaya hidupnya yang tidak mencerminkan sebagai anak Tuhan atau orang yang telah dipindahkan dari kegelapan menuju terang. Jadi sesungguhnya mereka tidak mengerti arti dari pada keselamatan. Oles sebab itu marilah kita belajar bagaimana seharusnya kita memelihara keselamatan yang telah diberikan Tuhan kepada kita.


1. Menghormati Roh Kudus
Firman Tuhan berkata : ”Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu !” (I Korintus 6:20). Dan sejak kita dibeli Tuhan dengan darahNya yang mahal yaitu melalui pengorbananNya di atas kayu salib, maka hidup kita bukan milik kita sendiri tetapi milik Allah; dan Allah menempatkan RohNya dalam hidup kita sehingga tubuh kita menjadi bait Roh Kudus. Untuk itu kita harus menghormati keberadaan Roh Kudus yang tinggal dalam kehidupan kita, dan sebagai landasannya adalah I Korintus 3:16-17. Selain itu kita dipanggil bukan untuk melakukan yang cemar, seperti yang tertulis dalam I Tesalonika 4:7 ”Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus.”

Wujud daripada sikap hormat kita terhadap Roh Kudus, yaitu jikalau kita melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan; dan semuanya itu tidak lepas dari pimpinan Roh Kudus. Dan orang yang hidup dalam Roh tidak akan menuruti keinginan daging, karena ia tahu bahwa hidup menuruti keinginan daging itu sama dengan membangun perseteruan dengan Allah. Mungkin timbul pertanyaan : ”keinginan daging itu seperti apa ?” firman Tuhan berkata : ”Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu -- seperti yang telah kubuat dahulu -- bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.” (Galatia 5: 19-21). Dari segala macam bentuk perbuatan yang tertulis dalam ayat tersebut bukankah sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari ? baik melalui media elektronik maupun media cetak, bahkan kita temui disekeliling dimana kita tinggal.

Lalu, apakah dampaknya apabila kita menghormati dan hidup di dalam Roh Kudus ? Kita akan menemukan kemurahan Allah yang luar biasa, dan hal ini dapat kita lihat dalam 2 Samuel 6:6-19 yaitu kisah tentang Obed Edom. Gambaran Roh Kudus pada waktu itu adalah Tabut Perjanjian. Saat itu Tabut Perjanjian sempat di taruh di rumah Obed Edom selama tiga bulan, dan selama Tabut itu di rumah Obed Edom, ia begitu menghormatinya sehingga selama tiga bulan itu pula Obed Edom dan seisi rumahnya diberkati Tuhan. Demikian pula apabila Roh Kudus tinggal dalam hidup kita atau manunggal dengan kita, maka untuk jangka waktu yang tidak lama kita akan dipulihkan, disembuhkan dan diberkati Tuhan. Waktu Daud memikul Tabut Perjanjian ke Kota Daud, maka kota Daud diberkati Tuhan secara luar biasa.

Mengapa kita harus berdoa? Pada waktu kita berdoa, pasti ada muatan kasih. Hukum yang pertama dalam Matius 12:30-32 menyangkut roh, jiwa dan tubuh. Kerbersamaan mencari Tuhan ini sangat penting. Tubuh – longing God, Jiwa – thirsty God, Roh - I seek. Tidak bisa tubuhnya saja beribadah, atau jiwa saja, tetapi harus dengan Roh. Kalau kita baca Roma 7:16-26, kita mendapatkan bahwa roh, jiwa dan tubuh tidak dapat bersama-sama mencari Tuhan. Rohnya mencari Tuhan, tubuhnya membawa kepada dosa, bahkan jiwanya kadang muncul dengki, iri hati dan pengertian-pengertian lain. Akhirnya timbul kekacauan yang membuat “pemeliharaan itu” terhambat. Dalam keadaan dengki doa kita tidak mungkin dijawab Tuhan.


2. Tetap Melekat Pada Tuhan
Mazmur 63:1-3 berkata, “. . . Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau, jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku rindu kepada-Mu, seperti tanah yang kering dan tandus, tiada berair. Demikianlah aku memandang kepada-Mu di tempat kudus, sambil melihat kekuatan-Mu dan kemuliaan-Mu.” Inilah merupakah ungkapan daripada hati Daud yang sangat merindukan Tuhan. Karena dia tahu bahwa dalam hadirat Tuhan, dia telah mendapatkan segalanya. Dan dari beberapa Mazmur yang telah ditulis oleh Daud telah mengungkapan kerinduannya untuk senantiasa tinggal atau melekat pada Tuhan. Sehingga pada Mazmur 91:14 tertera ungkapan hati Tuhan yang menyatakan : ”Sungguh, hatinya melekat kepada-Ku, maka Aku akan meluputkannya, Aku akan membentenginya, sebab ia mengenal nama-Ku.”

Suatu ketika Daud mengalami persoalan yang begitu berat, maka dia pergi ke padang gurun, dan dia berdoa dan berpuasa untuk mencari Tuhan dengan batinnya, jiwanya bahkan tubuhnya juga rindu akan Tuhan. Dia ingat akan nenek moyangnya pada waktu keluar dari Mesir, Tuhan sanggup memelihara mereka. Mazmur 34:19 berkata, “TUHAN itu dekat (bersama) kepada orang-orang yang patah hati (brokeness), dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.” Dalam dunia ini banyak tindasan, untuk itu carilah Tuhan dengan jiwa yang hancur ( Mazmur 34:7-11).


3. Tetap Menghasilkan Buah
Dalam hal menghasilkan buah sangat berkaitan dengan bagian kedua yang tetap melekat pada Tuhan, sebab di luar Tuhan kita tidak dapat berbuat apa-apa, seperti yang tertulis dalam Yohanes 15:5 “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” Dan dalam Mazmur 1:3 juga dikatakan : “Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.” Dan sebagai aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari adalah kita menjadi berkat bagi orang lain, namun semuanya itu kita kerjakan bukan dalam kondisi tertentu tetapi terus menerus, sebab firman Tuhan menasehatkan : ”Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah” (Galatia 6:9).

Amin

Hidup Sukses di Tengah Kesukaran

Pdt Agus Gunawan

Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja; dimintanyalah kepada pemimpin pegawai istana itu, supaya ia tak usah menajiskan dirinya.
(Daniel 1:8)

Dunia yang kita tinggali saat ini sudah dipenuhi dengan orang-orang yang tidak lagi mengakui dan takut akan Tuhan. Kehidupan yang kita hadapi juga semakin sulit. Akan tetapi jika kita ingin sukses ditengah kesulitan dan kesukaran, kita harus takut akan Tuhan. Ada empat contoh yang dapat kita pelajari dari kehidupan Daniel:

1. Daniel memilih karakter di atas kenikmatan hidup
Saat ini kita hidup di dunia yang mengutamakan kenikmatan makanan, pakaian yang indah, uang dan kemewahan. Akan tetapi jika kita ingin berhasil kita harus mengutamakan karakter kita, yaitu karakter yang berpatokan kepada Tuhan. Daniel tidak meminta agar kesulitan dan masalah dipindahkan dari hadapannya. Tuhan lebih ingin merubah karakter kita daripada keadaan kita. Ada kesulitan yang Tuhan ijinkan untuk terjadi dalam hidup kita agar karakter kita menjadi lebih baik.

2. Daniel memiliki karakter iman, bukan ketakutan
Karakter ketakutan bukan dari Tuhan. Persoalan yang terlalu cepat selesai bukan persoalan yang sebenarnya. Apa yang kita pergumulkan bertahun-tahun itulah persoalan yang sesungguhnya. Dan melalui pergumulan ini Tuhan ingin agar kita memiliki karakter iman, yaitu karakter yang bergantung sepenuhnya kepada Dia.

3. Daniel memiliki karakter kasih, bukan kepahitan
Daniel tidak membenci orang-orang yang menjelekkan dia. Begitu juga dengan Yusuf yang mengasihi dan mengampuni saudara-saudara yang menjualnya. Musa juga mengasihi dan mengampuni orang-orang Israel, meskipun mereka yang menyebabkan dia harus lari dari Mesir.

4. Daniel memilih cinta kepada Tuhan, bukan hidupnya
Daniel mengetahui dengan pasti bahwa peraturan raja tidak bisa diubah dan jika ia terus berdoa kepada Tuhan ia akan jadi santapan singa. Tetapi ia tetap melakukan doanya seperti biasa. Ia lebih memilih cintanya kepada Tuhan daripada hidupnya sendiri.

Kita harus sadar bahwa Tuhan mengasihi kita dan Ia ingin kita memiliki karakter yang baik. Sebagai anaknya kita akan selalu menerima berkat-Nya. Amin.

Tuhan Yesus memberkati

Hukum Berkat

“Lalu Yesus membawa mereka ke luar kota sampai dekat Betania. Di situ Ia mengangkat tangan-Nya dan memberkati mereka. Dan ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke sorga. Mereka sujud menyembah kepada-Nya, lalu mereka pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita. Mereka senantiasa berada di dalam Bait TUHAN dan memuliakan TUHAN”.
( Lukas 24 : 50 – 53 )

Hal terakhir yang Tuhan perbuat ialah memberkati murid-murid-Nya. Sama seperti hal pertama yang Tuhan perbuat setelah menciptakan Adam & Hawa, Alkitab berkata: “Tuhan memberkati mereka”.

Untuk menerima jatah berkat-Nya, berlaku ‘Hukum Berkat’. Di 2 Raja 13:14-18,Yoas Raja Israel harus menghadapi bangsa Aram, maka ia datang pada Elisa untuk minta petunjuk. Singkat cerita, Elisa memberi tahu Yoas: "Ambillah anak-anak panah itu!" Elisa berkata: "Pukulkanlah itu ke tanah!" Lalu Yoas memukulkannya tiga kali, kemudian ia berhenti. Yoas melakukannya, tapi dia tidak bertanya berapa kali panah itu harus dipukulkan ke tanah. Lalu, Elisa menjadi gusar & berkata: "Seharusnya engkau memukul lima atau enam kali! Dengan berbuat demikian engkau akan memukul Aram sampai habis lenyap”. Elisa menjelaskan apa yang seharusnya Yoas lakukan untuk mendapatkan jatahnya secara sempurna. Inilah bagian dimana respon kita diperhitungkan oleh Tuhan.

Yang dihitung bukanlah kebenaran kita sendiri. Tetapi apakah respon kita ini sejalan dengan hati-Nya, itulah yang Tuhan perhitungkan. Saat Tuhan terangkat ke Surga, Dia sudah memberkati kita. Tuhan sudah lakukan bagian-Nya, maka kita harus juga melakukan bagian kita dengan cara meresponi melalui iman & hati yang seirama dengan hati-Nya .

Melalui kematian & kebangkitan-Nya, kita tahu kerinduan hati Tuhan adalah melihat jiwa-jiwa diselamatkan. Jika berkat yang Tuhan berikan, dipakai supaya jiwa-jiwa diselamatkan, sesuai dengan kerinduan hati-Nya. Pastilah Tuhan memberkati kita, sebab itu adalah kerinduan-Nya yang paling dalam atas hidup kita, memberkati kita dengan sempurna.

Iman Seorang Ibu

Pdt Agus Gunawan


Pada hari ibu ini mari kita melihat beberapa tokok wanita yang di catat Alkitab yang dapat kita jadikan panutan dalam kehidupan kita sehari-hari:

1. Yokebet (Keluaran 6:20 & Bilangan 26:59)
Dituliskan di dalam Alkitab bahwa Yokebet adalah istri dari Amran dan ibu dari Harun, Miriam dan Musa. Dia hidup dalam jaman perbudakan di Mesir. Firaun baru muncul dan takut akan jumlah bangsa Israel yang semakin banyak, ia menerapkan berbagai macam aturan dan cara untuk menekan bangsa Israel. Salah satunya adalah dengan memerintahkan semua bidan untuk membunuh bayi-bayi yang baru lahir. Yokebet tidak takut dan menyembunyikan Musa selama tiga bulan. Ia kemudian menaruh Musa di sungai dan ditemukan oleh putri Firaun yang mengambil anak. Putri Firaun kemudian meminta Yokebet untuk merawat Musa dan memberi dia uang. Musa dididik selama kurang lebih enam tahun sebelum ia tinggal di istana Firaun. Kita lihat bahwa iman Yokebet tidak saja menyelamatkan keluarganya, tetapi juga mendatangkan berkat.
Iman seorang ibu menentukan masa depan keluarganya. Selama enam tahun Yokebet mendidik, mengajar dan mendoakan Musa agar ia tahu bahwa Tuhan yang harus ia patuhi dan kasihi adalah Tuhan di atas segala tuhan. Doa Yokebet terus menyertai Musa, sehingga biarpun ia menerima pendidikan terbaik di Mesir ia tetap cinta dan takut akan Tuhan.

2. Eunike (2 Timotius 1:5)
Iman seorang ibu berpengaruh kepada anak-anaknya. Pemberian terbaik seorang ibu adalah iman yang ia miliki dan ajarkan kepada anak-anaknya. Iman Eunike membentuk dan menentukan iman Timotius.

3. Sarah
Iman seorang ibu mengandung dan melahirkan kekuatan dan kuasa yang ajaib. Karena iman Sarah melahirkan anak perjanjian, Ishak

Monday, May 23, 2011

Pengampunan

“Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu."
(Matius 6:14-15)

Dalam doa yg diajarkan Tuhan Yesus di Matius 6, cuma ada 1 penjelasan yaitu tentang mengampuni. Artinya pengampunan adalah hal yg sangat penting utk kita bisa mendapatkan semua jawaban doa kita.

Ada 3 alasan mengapa kita harus mengampuni:

1. Yang membutuhkan pengampunan adalah saya & saudara (Mat 18:21-35). Sering kita sukar mengampuni orang lain, karena kita “LUPA” betapa besar dosa & kesalahan kita yg sudah diampuni oleh Tuhan.

2. Pengampunan dapat menanggalkan beban, seperti sakit hati, kebencian,kesedihan (Ibr 12:1). Tuhan tidak mengingat dosa & kesalahan yg telah diampuni-Nya (Yes 43:25). Jadi mari mengampuni orang lain, seperti Tuhan telah mengampuni dosa kita yg jauh lebih besar. Tanggalkan beban dengan mengampuni orang lain, maka kita bisa menjalankan perintah Tuhan utk berlomba mencapai tujuan.

3. Pengampunan adalah syarat untuk menerima mujizat & jawaban doa (Mat 9:1-8). Tujuan orang lumpuh & temannya datang ke Yesus, untuk menerima kesembuhan bukan pengampunan. Tetapi mengapa Yesus berkata “Dosamu sudah di ampuni”? Ternyata dosa yg diampuni adalah langkah awal yg harus dipenuhi dari proses penyembuhannya. Untuk bisa menerima kesembuhan dosanya harus diampuni terlebih dahulu.

Untuk mendapatkan apa yg kita minta & doakan, haruslah dosa kita diampuni terlebih dahulu, untuk itu haruslah kita mengampuni orang lain.

Mau mendapat jawaban doa? Marilah kita saling mengampuni!

Sunday, May 22, 2011

Perjumpaan Dengan Tuhan

Tetapi Thomas, seorang dari kedua belas murid itu, yang disebut Didimus, tidak ada bersama-sama mereka, ketika Yesus datang ke situ. Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: "Kami telah melihat Tuhan!" Tetapi Thomas berkata kepada mereka: "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya."
(Yohanes 20:24-26)

8 hari kemudian murid-murid berada di rumah itu & Thomas bersama-dengan mereka. Sementara pintu terkunci, Yesus dating & berdiri di tengah mereka, berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!" Maksud Tuhan menjumpai Thomas berbeda dengan maksud Tuhan menjumpai Petrus.

Mari kita renungkan, apa sebenarnya maksud Tuhan menjumpai kita?

1. Memberikan keyakinan dan kepercayaan kepada kita (Yoh. 20:25-27). Thomas yang tadinya tidak percaya, berubah. Waktu kita sedang menikmati hadirat Tuhan,saat itulah kita sedang berjumpa dengan-Nya. Saat Tuhan hadir Ia pasti akan memberikan sesuatu yang kita perlukan. Kuncinya, tetap percaya meski tidak melihat langsung. “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya" (Yoh.20:29).

2. Tuhan ingin kita kembali kepada tujuan semula, sesuai kehendak-Nya (Yoh.20:1-3). Waktu Yesus mati Pertus tidak memiliki pengharapan. Petrus & murid yang lain kembali ke pekerjaan semula. Karena itu ketika Tuhan menjumpai Petrus,pengharapan yang selama ini hilang kembali ia dapatkan, Tuhan menjawab apa yang dibutuhkannya.

Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya. Mari terlibat memperluas Kerajaan Tuhan dan alami: pemeliharan, perlindungan & penyediaan-Nya yang sempurna.

Pergunakanlah Kesempatan Yang Ada

Pdt. Abraham Alex Tanuseputra
Graha Bethany Nginden

“Sebab di sini banyak kesempatan bagiku untuk mengerjakan pekerjaan yang besar dan penting, sekalipun ada banyak penentang.”
(1 Korintus 16:9)

Sebuah kesempatan tidak akan terjadi untuk kedua kalinya, walaupun ada kesempatan yang lain. Namun untuk kesempatan yang sama tidak akan terulang kembali. Dan setiap orang pasti mendapatkan kesempatan dalam hidupnya untuk melakukan perkara-perkara yang berarti, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain, namun yang terutama adalah untuk Tuhan. Sebab setiap manusia yang lahir dalam dunia ini bukan secara kebetulan, tetapi oleh karena rencana dan kehendak Tuhan yang luar biasa.

Salah satu contoh tokoh Alkitab yang mendapat kesempatan dari Tuhan untuk melakukan perkara yang besar dan penting adalah Paulus. Pada mulanya Paulus adalah orang yang seharusnya mendapat murka Allah, karena dia telah menganiaya umat Tuhan. Namun oleh karena kasih Allah, maka Paulus mendapat kesempatan dari Allah untuk bertobat dan masuk dalam rencana Allah yang besar. Lalu, bagaimanakah respon Paulus terhadap kesempatan yang ia terima dari Tuhan ? Paulus meresponi dengan sungguh-sungguh, karena ia menganggap bahwa kesempatan ini merupakan sesuatu yang sangat berharga. Bahkan ia sempat berkata : “apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus” (Filipi 3:7-8). Dari pernyataan Paulus ini menunjukkan bahwa ia merasa sangat beruntung, karena mendapat kesempatan untuk dapat menerima Kristus sebagai Tuhan dan raja, dan ia menganggap bahwa hal ini merupakan segala-galanya bagi dia. Lalu, bagaimanakah dengan kita ? apkah kita juga meresponi dengan sungguh-sungguh atas kesempatan yang Tuhan berikan kepada kita, atau sebaliknya ?

Saudara, kalau kita perhatikan berapa banyak orang Kristen kurang antusias terhadap kesempatan yang Tuhan berikan untuk melakukan perkara yang besar dan penting, bahkan justru banyak yang merasa bahwa diri mereka tidak berharga atau bahkan mereka mensia-siakan kesempatan yang Tuhan berikan hanya untuk mengejar kesenangan duniawi. Hal ini terjadi karena didasari latar belakang mereka yang menganggap bahwa kesempatan yang Tuhan tidak menguntungkan (secara materi). Apabila seseorang sudah merasakan hal yang demikian, berarti orang tersebut tidak menghargai kesempatan yang telah diberikan oleh Allah untuk melakukan perkara yang besar bersama Dia. Memang, setiap orang tidak lepas dari permasalahan, baik itu orang beriman maupun orang orang yang tidak beriman. Lagipula firman Tuhan tidak pernah menjanjikan bahwa hidup kita akan mulus senantiasa, tetapi firman Tuhan berjanji bahwa setiap orang yang bergantung kepada Tuhan akan mendapatkan kekuatan, sehingga mereka sanggup menyelesaikan persoalan yang ada.

Kalau kita melihat sejarah daripada Yehezkiel, maka kita akan mendapatkan suatu pelajaran yang berharga dalam hidupnya yaitu ketika dia berada dalam keadaan terbuang. Banyak hal yang menekan pribadi Yehezkiel yang masih muda. Seolah-olah seperti awan tebal yang terbuat dari tembaga dan tidak dapat ditembus, dan seolah-olah tidak ada kesempatan untuk melakukan sesuatu, yaitu kemerdekaan bagi bangsa Israel. Tetapi puji Tuhan, Yehezkiel memiliki suatu pengalaman dengan Tuhan, sehingga ia bisa menembus tantangan itu. Setiap kesempatan demi demi kesempatan yang telah Tuhan berikan tidak ia sia-siakan, melainkan ia pergunakan dengan sebaik-baiknya tanpa melewatkan satu kesempatan.

Saudara, ada beberapa hal yang membuat Yehezkiel berhasil dalam melakukan pekerjaan yang besar dan penting. Dan keberhasilan itu telah didasari oleh suatu respon yang sungguh-sungguh terhadap kesempatan yang Tuhan berikan. Dan beberapa hal yang dimaksud adalah :

1. Visi.

Yehezkiel memiliki visi yang kuat untuk membebaskan bangsanya. Memang, terkadang keadaan secara fisik bisa menghalangi orang untuk mencapai visi, tetapi Efesus 1:13-14 berkata, “Di dalam Dia kamu juga -- karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu -- di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.” Yang berarti Roh Kudus memberikan jaminan kepada kita untuk mencapai visi tersebut. Oleh karena itu jangan sampai kita memadamkan, mendukakan atau bahkan menghujat Roh Kudus.

2. Mendengar Firman Tuhan.

“Firman-Nya kepadaku: "Hai anak manusia, bangunlah dan berdiri, karena Aku hendak berbicara dengan engkau." (Yehezkiel 2:1) Artinya, Yehezkhiel telah siap mendengar perintah Tuhan. Apabila seseorang sudah mendapat visi, maka Tuhan tidak memberikan mimpi saja, tetapi Dia juga memberi Firman. Dan perlu kita ingat, bahwa langkah-langkah kita bukan lagi langkah keinginan manusia manusia, tetapi langkah yang dikehendaki/ditentukan oleh Tuhan (1 Korintus 2:9-11). Memang, perintah Tuhan terkadang tidak mungkin dapat untuk dilakukan dengan kekuatan manusia, tetapi bagi orang yang memiliki Roh Kudus pasti mengerti pikiran Allah. Selanjutnya, dia akan mendapat hikmat dari Tuhan untuk sanggup melakukan perintahNya.

3. Melakukan perintah Tuhan tepat pada sasarannya.

Yehezkhiel 2:3 berbunyi, “Firman-Nya kepadaku: "Hai anak manusia, Aku mengutus engkau kepada orang Israel, kepada bangsa pemberontak yang telah memberontak melawan Aku. Mereka dan nenek moyang mereka telah mendurhaka terhadap Aku sampai hari ini juga.” Terkadang kita diperintahkan kepada sesuatu yang bertentangan dengan diri kita, tetapi justru itulah yang tepat pada sasarannya. Hal semacam inilah terkadang membuat manusia enggan atau tidak mau meresponi akan kesempatan yang Tuhan berikan walaupun kesempatan tersebut berujung pada suatu keberhasilan.

4. Terus Melangkah (Yehezkiel 2:6-7).

Kalau kita masuk dalam suatu sasaran, kita seringkali patah semangat karena melihat kondisi dan situasi sekeliling kita, tetapi biarlah kita tetap memegang janji Tuhan, serta tetap percaya bahwa dengan kemampuan yang Tuhan berikan, kita akan terus melangkah untuk melakukan kehendakNya walaupun berada di tengah-tengah onak dan duri, sebab Tuhan memberikan kuasa untuk mengalahkannya.

Melalui penjelasan diatas, biarlah kita menjadi lebih bijaksana dalam mempergunakan waktu yang ada, sebab kesempatan tidak bisa diulang kembali. Dan apabila kita benar-benar mempergunakan kesempatan yang Tuhan berikan, maka kita tidak akan mengalami kekecewaan melainkan kita akan memperoleh kebahagiaan.

Amin.