Kebangkitan Besar

Kebangkitan Besar

Monday, June 18, 2012

Tetap Memelihara Hubungan Dengan Tuhan







Pdt. Abraham Alex Tanuseputra

”Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah” (Roma 8:16)
Berbahagialah setiap kita yang percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan juru selamat, sebab ia akan disebut sebagai anak-anak Allah. Kalau dahulu yang disebut sebagai anak-anak Allah hanya, Abraham, Ishak dan Yakub (Israel) saja. Namun dalam perkembangan selanjutnya Israel menolak Yesus, akhirnya mereka “dipotong.” Ibarat pohon zaitun yang dipotong dari pokoknya. Dengan demikian maka kita adalah carang liar yang mulai dicangkok pada pokok zaitu yang penuh getah, karena kita telah menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan juru selamat. \

“Getah” merupakan gambaran kekayaan Allah yang akan kita terima. Untuk itu kita yang telah dicangkokkan dan sudah berbuah harus berhati-hati, karena kita diselamatkan semata-mata oleh karena kemurahan Allah, sedangkan Israel diselamatkan oleh karena mereka adalah kekasih Allah. Berhubung Israel menolak Tuhan maka mereka dipotong dan kita yang menerimanya dapat melekat pada pokok zaitun (Roma 11:17-23). Oleh sebab itu kita harus menghargai kemurahan Tuhan ini dan menghormati Tuhan dengan apa yang kita alami sampai hari ini.

Kita harus belajar bagaimana di dalam diri kita keluar aliran-aliran hidup. Kita percaya bahwa Roh Kudus ada di dalam diri kita yang merupakan harta di dalam bejana tanah liat (2 Korintus 4:7). Tuhan tidak mau kita menjadi anak yang “terhilang” dan juga bukan seperti anak “sulung” yang sudah berada di rumah Bapa tetapi tidak menikmati kekayaan Bapanya. Apabila hak waris sudah ada pada kita, maka cepat atau lambat Tuhan pasti memberkati kita, namun jangan lupa memperhatikan hidup kita setiap harinya untuk tetap selalu bersyukur kepada-Nya, walaupun tubuh bertambah lemah, tetapi batiniah kita dibaharui setiap hari.

Kita harus tahu apa itu berkat rohani dan juga berkat jasmani. Yang kelihatan itu bersifat sementara, tetapi yang tidak kelihatan kekal selama-lamanya. Ingat, jangan sampai kita ditebang oleh karena kedegilan dan kesombongan kita. Sejarah Perjanjian Lama bisa menjadi bagian hidup kita. Kita harus tahu kapan Abraham, Ishak, dan Israel diberkati dan kapan mereka tidak diberkati. Yerusalem di bumi ini merupakan gambaran hidup kita. Yerusalem selalu ingin dihancurkan oleh musuh-musuhnya. Dan terkadang Israel/Yerusalem merusak dirinya sendiri. Daud yang berbuat dosa menjadikan hidupnya dan kerajaan Israel hancur. Tetapi Yerusalem mengalami damai sejahtera saat dia beribadah dengan baik.
Suatu saat Nebukadnezar menjadi penguasa yang sangat besar pengaruhnya di bumi ini. Tetapi ia menjadi sombong dan membuat patung untuk disembah (Daniel 4:20-23). Nebukadnezar adalah seorang yang seharusnya mengucap syukur kepada Tuhan. Ia lupa diri dan akhirnya dia ditebang, tetapi untung tunggulnya masih ada. Nebukadnezar menjadi sama dengan binatang yang makan rumput sampai dengan tujuh masa. Baru setelah bertobat, ia dikembalikan ke asalnya (Daniel 4:28-37).

Sejarah  di atas berbicara tentang keangkuhan dan pertobatan. Kita harus menjaga agar tetap dalam posisi menjadi anak Allah dan diberkati. Jangan sampai kita dipotong dari pokok zaitun tersebut. Jangan karena kekilafan kita dan jatuh dalam dosa, lalu kita dipotong seperti Nebukadnezar yang hilang ingatan dan makan rumput.
Hari-hari ini adalah hari-hari terakhir. Kita ingin mendapatkan Kerajaan Surga yang kekal itu. Mungkin  saat ini kita merasakan urapan Tuhan yang luar biasa, tetapi ingat jangan sampai kita jatuh. Kita yang suka berdoa, jauh lebih aman dibandingkan yang tidak suka berdoa. Tariklah seluruh isi keluarga kita untuk berdoa. Jagalah rumah tangga kita agar tetap utuh. Kita memang diberkati dengan cukup tetapi jangan menjadi serakah. Kaya itu ada maknanya, tetapi jangan sampai kita diperhamba oleh harta itu. Yang penting Yerusalem kita menjadi sejahtera. Orang-orang zaman purba tidak pernah putus asa untuk menetap pada pokok zaitun. Demikian juga dengan kita jangan sampai kita meninggalkan kasih mula-mula.

Kita perlu memelihara hubungan kita dengan Tuhan. Wahyu 6:6 berkata, “Dan aku mendengar seperti ada suara di tengah-tengah keempat makhluk itu berkata : Secupak gandum sedinar, dan tiga cupak jelai sedinar. Tetapi janganlah rusakkan minyak dan anggur itu.” Ini menggambarkan dunia yang bertambah buruk, tetapi keadaan anak-anak Allah justru bertambah baik dan akan terjadi penuaian yang besar. Untuk itu “anggur” dan “minyak” jangan dirusak. Kisah Para Rasul 2:37 berkata, “Ketika mereka mendengar hal itu hati mereka sangat terharu, lalu mereka bertanya kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain : Apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?" Jawab Petrus kepada mereka: "Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.” Hanya dengan bertobat kita akan menerima Roh Kudus. Untuk itu hargai perjamuan kudus, yaitu tubuh dan darah Yesus, yang setiap kali kita lakukan.

Roma 11:25  berkata, “Sebab, saudara-saudara, supaya kamu jangan menganggap dirimu pandai, aku mau agar kamu mengetahui rahasia ini: Sebagian dari Israel telah menjadi tegar sampai jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain telah masuk.” Jangan sampai kita yang masuk hitungan “jumlah” tersebut lalu dipotong dan digantikan orang lain. Tetapi kita percaya, sekali kita dicangkokkan, maka kita akan dicangkokkan sampai selama-lamanya. Hari-hari ini kita harus lebih berjaga-jaga. Kita tidak bisa bermain-main lagi dalam ibadah kita. Kita percaya bahwa sampai hari ini jasmani dan rohani kita tetap terpelihara semata-mata oleh kasih karunia Tuhan.

Demikian juga, hari-hari ini terjadi transformasi hanya dengan “simple Gospel” yaitu penginjilan hanya dengan hal-hal sederhana, yaitu penebusan tubuh dan darah Kristus dan urapan Roh Kudus. Oleh sebab itu persiapkan dirimu dan tetap melekat pada “pokok zaitun,” sebab kegerakan masal akan terjadi yaitu adanya penuaian besar-besaran. Dan apabila kita lepas atau dipotong dari “pokok zaitun” maka kita tidak akan melakukan maupun menikmati tuaian yang besar. Sebab itu jangan keraskan hati, tetapi bertobatlah sebab kerajaan Allah sudah dekat.  

Amin.

Tuesday, June 12, 2012

Citra Diri Anak Allah







Pdt. Abraham Alex Tanuseputra

I Yohanes 3:1-2
“Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia.
Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.”
Kalau kita memperhatikan ayat yang telah kita baca diatas, disitu dijelaskan bahwa oleh kasih karuniaNya yang besar maka kita layak disebut sebagai Anak Allah. Dan apabila kita sudah menjadi anak-anak Allah, maka di dalam diri kita harus ada perbedaan terhadap orang-orang yang belum mengenal Allah. Sebab saat kita percaya pada Tuhan Yesus, maka kita telah dilahirkan kembali dan citra Allah ada pada kita (Yohanes 3:5). Dan sebagai tanggungjawab kita adalah memelihara dan membuktikan bahwa kita adalah benar-benar anak Allah.

Ketika Tuhan Yesus berpuasa selama 40 hari, Dia telah dicobai oleh iblis. Tetapi Dia telah menang atas pencobaan yang dilancarkan oleh iblis. Mengapa Dia bisa menang atas pencobaan ?. Dia menang karena Dia telah mematikan kedaginganNya ketika dalam wujud seorang manusia. Bukti bahwa Dia telah mematikan kedaginganNya yaitu saat Dia dicobai untuk merubah batu menjadi roti.

Tuhan Yesus melawannya dengan firman. Tuhan Yesus merasa lapar setelah berpuasa dan Ia membutuhkan makanan, tetapi bukan berarti Dia harus memaksakan diri untuk memenuhi kebutuhannya dengan cara menuruti keinginan iblis, namun Dia lebih taat terhadap apa yang menjadi kehendak Bapa di sorga. Dia tahu bahwa manusia hidup bukan oleh roti saja atau sesuatu jasmani, tetapi oleh setiap firman yang keluar dari mulut Allah, dalam artian bahwa kita dapat hidup oleh perkara-perkara rohani. Dari kisah di atas menyatakan bahwa Tuhan Yesus ingin menunjukkan bagaimana kita menjadi anak-anak Allah.

Oleh sebab itu kita harus mampu menunjukkan citra diri kita sebagai anak-anak Allah, seperti yang diteladankan oleh Tuhan Yesus. Dan janganlah kita kecil hati dan merasa tidak mampu melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan. Tetapi percayalah bahwa kita mampu melakukan kehendak Tuhan karena Roh Kudus yang tinggal dalam diri kita memiliki kemampuan yang luar biasa.
Kita lihat Adam dan Hawa, ketika mereka mendapat hembusan nafas Allah maka mereka memiliki kuasa dan urapan, sehingga kemuliaan Allah memenuhi Adam dan Hawa. Demikian dalam kehidupan kita, apabila sudah ada kuasa Allah melalui karya Roh Kudus maka kita harus menjaganya supaya citra diri sebagai anak Allah tidak jatuh. Sebab apabila citra diri anak Allah jatuh maka citra diri kita menjadi rendah seperti binatang, contohnya orang yang mempercayai tentang horoskop atau sio. Mereka menyamakan dirinya dengan binatang sesuai lambang-lambang horoskop atau sio tersebut.

Orang yang mempercayai horoskop atau sio pasti memiliki kecenderungan untuk tidak bergantung   kepada Tuhan tetapi bergantung kepada nasib sesuai dengan horoskop atau sio mereka. Tetapi kita sebagai anak Allah tentunya tidak percaya pada nasib karena Allah yang kita sembah di dalam nama Tuhan Yesus mempunyai rancangan yang indah dan sanggup memenuhi segala kebutuhan kita. Dalam Injil Matius berkata : "Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, . . . . .” (Matius 6:25-26). Hal inilah yang membuat kita tidak punya alasan untuk kuatir akan hidup ini. Kita lihat contoh yang lain yaitu kisah perjalanan bangsa Israel yang telah melakukan perjalanan selama 40 tahun menuju tanah perjanjian, mereka tidak pernah mengalami kelaparan walaupun perjalanan mereka melintasi daerah yang kering yaitu padang gurun, tetapi buktinya mereka dipelihara Tuhan walaupun mereka dalam jumlah yang sangat besar.

Begitu pula kita, mungkin saat ini mengalami pergumulan yang sangat berat. Maka tetap percayalah bahwa Tuhan tidak sekali-kali meninggalkan kita selama kita menjaga citra diri sebagai anak Allah. Bahkan, meskipun di negeri ini telah mengalami krisis yang hebat, kita harus tetap yakin bahwa Allah sanggup memelihara kita. Tetapi apabila dalam diri kita muncul kekuatiran walaupun kecil, maka janji-janji Allah tidak akan tergenapi dalam diri kita, karena firman Tuhan berkata : . . . . sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin. Dan lebih tegas lagi di dalam Matius telah dikatakan : “Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? . . . ” (Matius 6:27-30).

Dengan demikian, bahwa kekuatiran akan membawa keadaan kita semakin terpuruk dan tidak menunjukkan citra diri kita sebagai anak Allah. Oleh sebab itu, janganlah kita membatasi diri dengan melihat keadaan atau latar belakang kita, karena bagi Tuhan tidak ada sesuatu yang mustahil. Memang meyakini hal ini tidak semudah kita membalikkan telapak tangan kita, karena seringkali pikiran kitalah yang berbicara, bahwa kita tidak mungkin dapat meraih apa yang sudah dijanjikanNya. Oleh karena itu firman Tuhan menasehatkan kita, seperti yang tertulis dalam surat Paulus kepada jemaat di Filipi, yang berbunyi : “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, . . . . ” (Filipi 2:5-11)

Jadi, supaya kita tidak dibatasi oleh pikiran kita sendiri, maka kita harus menggunakan pikiran Kristus Yesus, karena dengan menggunakan pikiran Kristuslah, kita akan mendapatkan janji-janji Tuhan dan predikat sebagai imamat yang rajani benar-benar nyata dalam kehidupan kita. Dan apabila saat ini kita sedang mengalami masalah janganlah kita mengeluh, karena Tuhan akan menunjukkan kuasaNya. Sebab tangan Tuhan tidak kurang panjang untuk menolong kita dan pendengaranNya tidak kurang tajam untuk mendengarkan doa kita. Dan jikalau hingga saat ini persoalan kita belum selesai, maka janganlah kita cemas dan takut sebab Allah tidak memberi roh perbudakan yang membuat kita takut tetapi Dia memberikan RohNya yang kudus yang membawa kita hidup dalam kemenangan (Roma 8:15-17).  

Amin.

Monday, June 4, 2012

Tetaplah Bertumbuh di Dalam Tuhan!







Pdt. Abraham Alex Tanuseputra

“Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya. Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya.”
Matius 13:31-32
Setiap perumpamaan tentang Kerajaan Sorga selalu mengajar kita mengenai bagaimana agar kita dapat masuk dalam kerajaan Allah, baik Kerajaan Allah di bumi, maupun yang akan datang (Matius 6:10,33). Dan masuk ke dalam Kerajaan Allah sepertinya kita kembali ke Taman Eden, dimana kita berada dalam naungan Kerajaan Allah.

Seseorang yang akan masuk dalam Kerajaan Allah, digambarkan dengan adanya suatu benih yang ditanam di tanah yang subur, lalu mulai berakar dan bertunas, kemudian bertumbuh besar dan selanjutnya menghasilkan buah. Penggolongan orang-orang yang akan masuk ke dalam kerajaan Allah akan dilihat dari “pohon”nya. Apabila pohon tersebut bertumbuh semakin lama semakin besar, maka selanjutnya muncul pertanyaan, yaitu : apakah pohon tersebut sudah berada dalam pertumbuhan yang benar ? Karena pada saatnya nanti ada berbagai macam gangguan/tantangan sejalan dengan pertumbuhan pohon tersebut. Selain itu gangguan tersebut tidak hanya ada pada masa pertumbuhan saja, tetapi pada saat panenpun gangguan itu ada, bahkan semakin besar. Hal ini merupakan gambaran kehidupan orang-orang percaya yang sedang mengalami pertumbuhan rohani. Dan saat ini kita akan melihat gangguan/halangan-halangan dari pertumbuhan pohon tersebut, diantaranya :


1. Keadaan “tanah” (Matius 13:3-9). Keadaan tanah sangat menentukan pertumbuhan daripada suatu tanaman. Demikianlah keberadaan hati manusia yang digambarkan sebagai tanah, akan menentukan pertumbuhan daripada kerohanian seseorang. Dan keadaan hati manusia itu beraneka ragam. Adapun keanekaragaman hati manusia itu seperti : “tanah dipinggir jalan.” Tatkala benih itu ditabur maka burung-burung segera datang dan memakannya sampai habis karena keberadaan benih tersebut sungguh terabaikan. Demikianlah hati manusia yang selalu mengabaikan benih (firman Tuhan) yang sedang ditaburkan. Mereka telah sibuk dengan urusannya masing-masing seperti keadaan lalu lintas yang padat.
Oleh karena itu, hindarilah posisi hati yang seperti ini. Selanjutnya, hati manusia itu seperti “tanah yang berbatu-batu.” Ketika benih itu ditaburkan, maka benih itu bertumbuh dengan cepat, tetapi ketika matahari terbit maka layulah benih yang sedang bertumbuh itu dan bahkan menjadi kering. Hal ini terjadi oleh karena benih yang bertumbuh itu tidak berakar. Untuk itu, kita sebagai orang yang percaya biarlah semakin berakar dalam Kristus sebab firman Tuhan menasehatkan kepada kita : “Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur” (Kolose 2:7).
Dengan berakarnya kita di dalam Dia, maka pada saat pencobaan/halangan datang dalam kehidupan ini, kita sanggup mananggungnya di dalam Dia. Kemudian, hati manusia itu digambarkan seperti “tanah yang penuh dengan semak duri.” Dimana saat benih itu ditaburkan, maka benih itu mulai bertumbuh, tetapi dalam pertumbuhan dari benih itu mendapat himpitan dari semak duri, sehingga benih yang sedang betumbuh itu tidak dapat menghasilkan buah. Begitupula hati manusia yang dipenuhi dengan kekuatiran, mereka tidak akan mengalami pertumbuhan maupun berbuah secara rohani. Dan Firman Tuhan yang terdapat dalam Matius 6:25, berkata : “Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?”
Dari beberapa contoh gambaran daripada keadaan tanah diatas telah menasehatkan kepada kita, supaya hati kita tidak termasuk dalam bilangan keadaan tanah tersebut; karena kesemuanya itu merupakan penghalang daripada pertumbuhan rohani kita, walaupun nilai dari semua benih itu adalah sama baiknya. Tetapi biarlah hati kita menjadi tanah yang subur dan siap untuk ditaburi benih (firman Tuhan). Karena pada saatnya nanti benih itu akan bertumbuh, berakar dan pada akhirnya berbuah, sehingga segala sesuatu yang layak kita terima akan dilimpahkan kepada kita.

2. Adanya“ilalang” (Matius 13:24-30). Biasanya musuh kita (iblis) memakai orang-orang yang tidak mendapat kemurahan Tuhan oleh karena mereka tidak berada dalam kebenaran firman Tuhan; selain itu mereka berada tidak jauh dari tempat dimana kita berada. Orang-orang semacam itu hatinya tidak memiliki keinginan untuk bertobat. Segala yang dikerjakannya selalu menyakiti kita sebagai orang-orang yang percaya sungguh-sungguh kepada Kristus. Tetapi pada saatnya nanti, Tuhan akan menghakimi orang-orang seperti ini. Kita akan melihat bahwa banyak orang-orang Kristen yang tampaknya baik, tetapi sebenarnya mereka adalah ilalang. Untuk itu, kalau kita mau bertumbuh sampai panen, maka kita harus sabar dalam menanggung segala sesuatu. Sebab Tuhanlah yang akan menghukum mereka, dan itu bukanlah urusan kita karena penghakiman adalah haknya Tuhan.

Memang, sementara keduanya sedang bertumbuh, masih belum ada bedanya antara gandum dan ilalang, tetapi pada saatnya nanti akan dapat diketahui mana yang ilalang dan mana yang gandum yaitu ketika masa panen; dimana saat itu akan terjadi suatu peristiwa seperti kisah yang tertulis dalam Lukas 12:49-53, bahwa akan ada pertentangan-pertentangan. Dan bagi kita yang tahu akan kebenaran harus mengambil sikap yang tenang saat mengahadapi seperti itu. Sebab yang pasti, diantara mereka ada  yang gandum dan ada yang ilalang. Sedangkan kalau keduanya adalah gandum maka tidak akan terjadi pertentangan atau gesekan.
Dari beberapa penjelasan diatas biarlah boleh menggugah kerohanian kita dalam menjelang kedatangan Tuhan yang kedua kalinya. Dimana hati kita dituntut untuk menjadi tanah yang subur dan kita tidak masuk bilangan para ilalang tetapi kita masuk dalam bilangan gandum yang sedang menghasilkan buah. Agar pada akhirnya nanti kita akan dipermuliakan bersama-sama dengan Kristus.

Amin.

Friday, June 1, 2012

Tetap Menantikan Tuhan







Pdt. Abraham Alex Tanuseputra

Mazmur 40:2-4 “Aku sangat menanti-nantikan TUHAN; lalu Ia menjenguk kepadaku dan mendengar teriakku minta tolong. Ia mengangkat aku dari lobang kebinasaan, dari lumpur rawa; Ia menempatkan kakiku di atas bukit batu, menetapkan langkahku, Ia memberikan nyanyian baru dalam mulutku untuk memuji Allah kita. Banyak orang akan melihatnya dan menjadi takut, lalu percaya kepada TUHAN.
Sejak Tuhan Yesus naik ke surga sampai hari ini, orang Kristen tetap menanti-nantikan Tuhan. Istilah menanti-nantikan adalah suatu rangkaian daripada ibadah. Contoh yang sederhana misalnya, doa kita belum dijawab oleh Tuhan, maka kita menanti-nantikan jawabannya, atau misalnya kita belum diurapi maka kita menantikan urapan Roh Kudus. Orang yang menanti-nantikan Tuhan pasti cepat atau lambat akan menerima jawaban dari Tuhan, asalkan kita menantikannya dengan sabar dan setia. Dalam menanti-nantikan Tuhan tidak hanya sekedar saat kita membutuhkan pertolonganNya, tetapi kita menanti-nantikan Tuhan juga terhadap kedatanganNya yang kedua kali. Dalam hal penantian kedatangan Tuhan tidak hanya dilakukan oleh kita saja, tetapi dilakukan juga oleh bangsa-bangsa lain, khususnya bangsa Israel. Namun ada perbedaan antara kita dengan bangsa Israel. Dimana bangsa Israel saat ini sedang menantikan kedatangan Mesias, padahal Mesias sudah datang ke dunia ini dua ribu tahun yang lalu yaitu Yesus Kristus. Mereka benar-benar tidak tahu bahwa Mesias sudah datang, dan Ia akan datang kembali untuk menjadi hakim yang adil.

Lalu bagaimana dengan orang-orang yang sudah mati, apakah mereka termasuk orang yang menantikan Tuhan ? ya. Sebab dalam I Tesalonika 4:16 dikatakan : “Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit.” Hal ini menunjukkan bahwa sementara sangkakala Allah belum berbunyi, maka orang yang sudah mati berada dalam penantian. Dan jikalau orang yang sudah mati akan dibangkitkan pada saat sangkakala Allah berbunyi, lalu bagaimana dengan orang yang masih hidup ?. Bagi orang yang masih hidup akan diangkat hidup-hidup seperti Henokh dan Elia. Dari pernyataan ini mungkin kita bisa berkata : “ini adalah janji khayalan.” Tetapi perlu kita ketahui bahwa segala sesuatu yang difirmankanNya pasti akan digenapi. Selain itu sejarah membuktikan bahwa mereka yaitu Henokh dan Elia telah diangkat hidup-hidup. Memang, untuk menggapai iman seperti ini sangat sukar, tetapi kita harus percaya bahwa kuasaNya tidak berubah sampai selama-lamanya. Dalam hal penantian, gereja diumpamakan sebagai istri, sedangkan Kristus diibaratkan sebagai kepala atau suami. Antara suami dan istri tentunya saling menantikan untuk dapat senantiasa bergaul. Demikianlah hubungan kita dengan Tuhan. Tidak hanya kita yang menantikan Tuhan, tetapi Tuhan juga yang menanti-nantikan kita.

Bagaimanakah semangat Tuhan dalam menantikan kita ? semangat Tuhan dalam menantikan kita itu seperti sebuah kisah yang terdapat dalam Lukas 15:20 “. . . . . Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.” Dari sini kita tahu bahwa orang yang saling menanti-nantikan itu memiliki muatan kangen atau kerinduan, selain ada muatan kasih. Demikian halnya dengan ibadah; bahwa ibadah itu harus ada muatan kerinduan. Dan untuk lebih jauh lagi, kita melihat kerinduan Allah terhadap kita tidak sekedar ingin bertemu, tetapi lebih dari itu Ia ingin kita berada dimana Ia berada seperti yang tertulis dalam Yohanes 14:3 “Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada.”
Jadi menanti-nantikan Tuhan pada setiap jam, menit bahkan detik merupakan sesuatu yang indah sekali, tetapi menanti-nantikan kedatangan Tuhan yang kedua kali itu, kita perlu melihat peta jaman. Didalam Injil Matius 24:32, dikatakan : ““Tariklah pelajaran dari perumpamaan tentang pohon ara: Apabila ranting-rantingnya melembut dan mulai bertunas, kamu tahu, bahwa musim panas sudah dekat. Demikian juga, jika kamu melihat semuanya ini, ketahuilah, bahwa waktunya sudah dekat, sudah di ambang pintu. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya angkatan ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya ini terjadi. Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.”

Apa yang dimaksud dengan “tariklah dari perumpamaan pohon ara ?”. Untuk dapat mengetahui maksud dari ayat ini, maka kita harus tahu sejarah dari Israel. Dimana klimaks daripada Israel hanya sampai pada jaman Salomo. Setelah Salomo negara itu hancur, maka raja Nebukadnesar menguasainya, kemudian Darius, Alexandri, dan sampai pada akhirnya bangsa Roma yang masuk, sehingga Israel tidak punya negara lagi. Dan ketika Tuhan Yesus berada di dunia, murid-muridNya sempat bertanya : “apakah Engkau akan memulihkan kerajaan Israel pada waktu ini ?”. Lalu Yesus menjawab : ”tidak perlu engkau tahu”. Jadi kerajaan Israel tidak dibangun pada waktu Tuhan Yesus ada dunia, sebab apabila kerajaan Israel dibangun atau dipulihkan pada jaman Tuhan Yesus, maka kita tidak ada kesempatan untuk mendapat kasih karuniaNya. Dan sementara Israel belum dipulihkan Injil tetap diberitakan baik di Yerusalem, Yudea, Samaria bahkan sampai ke ujung bumi, karena hal ini merupakan Amanat Agung Tuhan Yesus. Israel dipulihkan oleh Tuhan justru pada dua ribu tahun kemudian yaitu tahun 1949, dimana negara Israel mulai muncul dengan klimaks kesukaran yang luar biasa pada waktu di Jerman. Ketika itu enam juta orang Israel dibantai, dimasukkan gas, dibunuh, ditembak. Setelah kejadian itu berlangsung, maka Tuhan mulai memulihkan keadaan Israel. Pada tahun 1949 yang lalu tunas (Israel) ini telah muncul, sebagai gambaran pohon ara yang sudah ditebang, dan kini mulai bersemi dan berkembang.

Dan apabila saat ini kita sedang mendengar deru perang, bencana alam, gempa bumi,  kelaparan dan kejadian-kejadian yang menghebohkan, maka perlu kita ketahui bahwa semuanya itu merupakan awal dari penderitaan menjelang zaman baru, tetapi bagi mereka yang tetap bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat, dan setelah Injil Kerajaan Allah sudah diberitakan di seluruh dunia dan menjadi kesaksian bagi bangsa, maka barulah tiba kesudahannya (Matius 24:6-14)
Oleh sebab itu janganlah kita undur dari iman kita karena kita termasuk orang yang akan masuk dalam kehidupan yang kekal. Marilah kita senantiasa menanti-nantikan Tuhan, karena orang yang menanti-nantikan Tuhan akan mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah. 

Amin









Monday, May 28, 2012

Milikilah Gaya Hidup Yang Berbeda










Pdt. Abraham Alex Tanuseputra

“Aku datang segera. Peganglah apa yang ada padamu, supaya tidak seorangpun mengambil mahkotamu.”
(Wahyu 3:11)
Ketika kita menerima Yesus sebagai Tuhan dan juru selamat, maka saat itu kita masuk dalam bilangan orang-orang yang diselamatkan. Dan jangan sekali-kali terlintas dalam pikiran kita untuk melepaskan keselamatan itu demi kekayaan, harta, kedudukan maupun jabatan. Sebab keselamatan merupakan anugerah dari Allah yang tidak dapat diganti dengan harta atau kekayaan termasuk dunia ini, melainkan dengan darah yang mahal yaitu darah Kristus.
Seperti firman Tuhan katakan di dalam Injil Matius 16:26 “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya ? kata “kehilangan nyawa” juga mengandung pengertian “kehilangan keselamatan”. Agar keselamatan tetap ada dalam kehidupan kita, maka kita harus mempertahankan gaya hidup/lifestyle kita sebagai orang yang percaya kepada Kristus. Dan gaya hidup kita sebagai orang percaya sangat berbeda dengan gaya hidup orang dunia (orang yang belum mengenal Kristus).
Apabila kita mempelajari sejarah gereja, maka kita tahu bahwa pada gereja mula-mula telah mengajarkan bagaimana kita hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Sehingga pada jaman kisah para rasul telah nyata bahwa gereja berkembang secara luar biasa atau dengan kata lain “gereja mengalami kesuksesan”. Dan jikalau gereja diberkati, maka jemaatnya pasti diberkati atau sebaliknya, apabila jemaat diberkati maka gereja pun diberkati. Tetapi sayang, suatu saat Kekristenan mulai tidak murni lagi, dan gereja mulai kehilangan gaya hidup yang sesuai kehendak Tuhan. Pada jaman pemerintahan kaisar Roma yang telah menjadi Kristen, mulai berpolitik dalam negara. Kaisar telah memaksa seluruh rakyatnya untuk menjadi Kristen, sehingga bukan Injil yang diberitakan ataupun urapan Roh Kudus tetapi maksud-maksud tertentu yaitu mencari keuntungan sendiri. Dan saat itulah gereja mengalami stagnasi dan tidak berkembang lagi dan saat itu pula gereja berada dalam abad kegelapan.
Tetapi dengan berjalannya waktu telah muncul satu sosok yang bernama Martin Luther. Dia telah menemukan kebenaran Firman Tuhan dan ia mulai protes terhadap keadaan gereja yang tidak karuan. Dan protesnya telah dikenal dengan pro-Testament, yaitu kembali kepada Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Mulai sejak itu telah muncul pembaharuan-pembaharuan dalam gereja sehingga muncul gereja reform dan lain-lain.
Berdasarkan sejarah masa lalu, maka jangan sampai hidup kita sebagai orang Kristen mengalami seperti pada abad kegelapan. Bukankah keadaan dunia saat ini semakin gelap, untuk itu marilah kita semakin bercahaya di tengah-tengah kegelapan itu, yaitu dengan memiliki gaya hidup seperti gaya hidup gereja mula-mula, antara lain :


Suka berdoa (Kisah Rasul 1:14)

Dalam Kisah Rasul 2 telah diceritakan bahwa pada waktu mereka berdoa terjadi lawatan Allah yang luar biasa, dan kejadian tersebut dikenal pada umumnya hari Pentakosta. Sejak saat itu jemaat Tuhan semakin hari semakin bertambah, dan kesemuanya itu diawali dengan doa. Demikian halnya dengan keberhasilan atau kesuksesan yang akan kita raih atau sudah kita raih adalah karena adanya gaya hidup berdoa. Dan apabila gereja itu tidak berdoa lagi, maka gereja itu pasti akan mati.
Sebagai seorang Kristen harus hidup berdoa senantiasa didalam Roh. Artinya hidup kita tidak pernah lepas dari Tuhan. Kalau kita sering berdialog dengan Tuhan, maka hubungan kita dengan-Nya pasti baik juga. Kisah Rasul 2:42 berkata, “Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.” Dan bagi seorang istri atau suami atau anak yang tidak pernah berdoa, maka jangan pernah berharap keluarganya percaya kepada Tuhan Yesus dan dipulihkan. Kita percaya bahwa Allah kita adalah maha pengasih dan pemurah kalau kita semakin dekat, maka Dia akan semakin dekat pula kepada kita.

Senantiasa haus untuk membaca Firman Tuhan (Kisah Rasul 2:42)

Kerinduan untuk membaca dan merenungkan firman Tuhan diawali dengan doa. Dan apabila kita tekun untuk menyelidiki firman Tuhan dan merenungkannya, maka Allah akan menyingkapkan rahasia-rahasia ilahi (1 Korintus 4:1). Dan selanjutnya kita akan gemar melakukan apa yang telah difirmankannya, dengan demikian apa yang tertulis dalam Mazmur 1:2-3 menjadi kenyataan dalam kehidupan kita. Sebab semakin kita membaca Firman Tuhan, maka semakin kaya kita dengan janji-janji Tuhan. Dan janji-janjiNya pasti akan digenapi dalam kehidupan kita sebab Ia tidak pernah lalai akan janji-janjiNya (II Petrus 3:9). Kalau kita benar-benar percaya tentang perjanjian ini, walaupun kita ini hanya menerima setetes saja, maka percayalah bahwa kekayaan dan kuasa Tuhan tidak terbatas. Di Korea ada kegerakan orang membaca firman Tuhan, di manapun mereka berada, di kantor, di sekolah, mereka membawa Alkitab dan membacanya. Kita lihat bahwa Korea adalah bangsa yang diberkati Tuhan, walaupun sempat mengalami krisis tetapi Tuhan segera memulihkan keadaan mereka.


Suka menabur (Kisah Rasul 2:45)

Jikalau kita saat ini dibawa Tuhan pada satu tingkat untuk diberkati, maka satu hal yang harus kita perhatikan yaitu kita tetap menabur. Sebab apabila kita tidak menabur lagi, maka kita akan mengalami stagnasi bahkan grafiknya justru semakin menurun. Karena pelipatgandaan akan terjadi dalam kehidupan kita ketika sedang menabur. Kita menabur tidak hanya digereja saja, tetapi juga pada orang-orang miskin, karena firman Tuhan dalam Injil I Yohanes 3:17 telah berkata : “Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?. Dan selain itu, jikalau kita menabur, maka kita harus menabur di tempat yang subur, dalam pengertian segala yang kita tabur dapat dipergunakan untuk kemuliaan nama Tuhan.

Mendirikan Mezbah Bagi Tuhan (Kisah Rasul 2:47)

Persembahan yang kita berikan kepada Tuhan harus disertai dengan hati yang memuji dan menyembah Allah. Pujian dan penyembahan harus menjadi gaya hidup kita, sebab Allah bertahta atas puji-pujian, seperti yang tertulis dalam Mazmur 22:4, bunyinya: “Engkaulah Yang Kudus yang bersemayam di atas puji-pujian orang Israel.” Selain itu, di dalam pujian ada kelepasan, seperti kisah yang terdapat didalam Kisah Para Rasul 16:25-26. Dimana ketika Paulus dan Silas memuji Tuhan maka terbukalah belenggu mereka dan pintu penjarapun juga terbuka.
Saudara, pada pengujung akhir jaman ini marilah tetap memiliki gaya hidup yang sesusai dengan kehendak Tuhan supaya kita dapat tampil beda di tengah-tengah orang yang belum mengenal Tuhan.

Amin.


KehadiranNya Melenyapkan Kekuatiran







Pdt. Abraham Alex Tanuseputra

Ayat Bacaan : Matius 6:25-34
".. Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.
Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari..."
Judul perikop dari bacaan di atas mengenai hal kekuatiran. Dan di dalam bacaan tersebut menasehatkan supaya kita tidak kuatir atas kehidupan kita, karena kuatir akan merugikan diri sendiri. Ketika seseorang mulai kuatir maka secara tidak sadar orang tersebut menghambat dirinya untuk mengalami peningkatan atau kemajuan, bahkan keadaannya semakin buruk. Selama saya (Pdt. Abraham Alex T.) melayani Tuhan, saya percaya bahwa kerajaan surga bisa turun ke bumi dan pemeliharaannya sungguh nyata dalam kehidupan saya. Seperti halnya Musa ketika memimpin bani Israel keluar dari Mesir menuju tanah perjanjian, mereka harus melintasi padang gurun.  Seperti yang kita ketahui bahwa di padang gurun tidak ada air, tumbuh-tumbuhan ataupun hujan.
Tetapi selama 40 tahun di padang gurun mereka tetap dipelihara Tuhan. Makanan disediakan Tuhan berupa mana, dan apabila mereka butuh daging, Tuhan sediakan berupa burung puyuh, demikian pula air juga disediakan Tuhan. Walaupun demikian mereka tidak pernah mengucap syukur kepada Tuhan, justru mereka selalu bersungut-sungut dan kuatir atas hidupnya. Mereka merasa lebih nyaman tinggal di Mesir, padahal di Mesir mereka menjadi budak yang kehilangan harkat dan martabatnya sebagai umat pilihan Tuhan. Ketika mereka berada di padang gurun, kekuatiran dan ketakutan membelenggu hidupnya, meskipun Allah sudah menyatakan mujizatNya sepanjang perjalanan mereka.

Saudara, mungkin kita pernah atau sedang mengalami seperti yang dialami oleh bangsa Israel yaitu berada ”di pandang gurun.” Ingatlah bahwa Tuhan tetap beserta dengan kita, dan janganlah kita kuatir atas kehidupan kita, sebab firman Tuhan menasehatkan kita : ”Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Matius 6:33). Kalau kita mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya dengan kata lain kita mencari Tuhan atau berdoa maka disitulah kita sedang mengundang sorga untuk turun ke bumi, seperti yang tertulis dalam Matius 6:10, ” datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.”
Setiap orang percaya kepada Yesus Kristus, dibaptiskan pasti selamat, sebab di bawah kolong langit tidak ada nama yang memberikan keselamatan kecuali nama Yesus. Sejak kita percaya kepada Yesus Kristus kita boleh mengalami/menikmati kerajaan sorga. Apabila kita taat kepada Tuhan maka Tuhan memelihara kita, oleh sebab itu janganlah kita kuatir.
Apabila Tuhan menunjuk suatu tempat baik di sorga maupun dibumi sebagai tempat kediamanNya maka disitulah ada urapan Allah dan tempat tersebut menjadi makmur, sebab dimana Tuhan hadir maka disitu ada kesejahteraan. Lalu, ”dimana Tuhan hadir ?” di padang gurun, di Israel, di Yerusalem. Saat Daud mempunyai cita-cita membangun bait Allah tetapi dia tidak sampai menyelesaikannya, sehingga yang menyelesaikan adalah Salomo. Dengan demikian Salomo diberkati secara luar biasa, sampai tidak ada raja yang megah dan mulia seperti Salomo. Untuk itu perlu kita mengerti bahwa ketika Tuhan berkenan di tempat dimana Tuhan tinggal maka tempat itu menjadi makmur. Dan saat ini Allah di tengah-tengah kita sebab kita adalah bait Allah (I Korintus 6:19-20).
Kerajaan Allah seperti seorang perempuan mengambil tepung yang diberi ragi. Walaupun ragi itu sedikit tetapi sanggup mengkamirkan seluruh adonan. Demikianlah satu orang dipenuhi Roh Kudus maka semua orang dipenuhi Roh Kudus. Satu orang diselamatkan maka seisi rumah diselamatkan. Begitu pula dengan rumah tangga kita. Apabila seisi rumah kita membuka mezbah bagi Tuhan maka disanalah Tuhan hadir. Hal itu kita kerjakan di bumi tetapi keadaannya sama seperti di sorga. Apabila kita melibatkan Tuhan dan mengandalkan kekuatan Roh Kudus dalam kehidupan kita maka kita akan melakukan perkara yang besar. Dan apa yang menjadi doa Paulus seperti yang tertulis dalam Efesus 3:14-21 akan menjadi kenyataan dalam kehidupan kita.

Kesaksian : Pada tahun 1971 anak saya lahir tetapi saya tidak ada biaya akhirnya saya bawa ke bidan kampung. Dan saat itu saya tidak ada biaya untuk membawa ke dokter, padahal saat itu anak saya lahir dalam kondisi sungsang. Akhirnya setelah dia lahir sempat kekurangan oksigen sehingga mengalami gangguan pada otaknya atau dapat dikatakan anak itu lahir dalam kondisi cacat. Padahal saya ini seorang hamba Tuhan yang sering berkhotbah bahwa anak-anak Tuhan pasti hidupnya diberkati, sedangkan anak saya lahir dalam kondisi cacat. Tetapi dari sinilah Tuhan mengajar saya mengenai perkara-perkara yang luar biasa. Dan sampai usia lima tahun anak saya masih belum bisa bicara, tetapi saat itu timbul pertanyaan, “mengapa anak saya masih belum bisa bicara ?” dan saat itu Tuhan bertanya, “dimanakah alamatKu ?” saya jawab : “ada dalam kerajaan sorga, duduk di sebelah kanan Allah Bapa.” Tetapi Tuhan menjawab, “alamatKu ada di dalam dirimu.” Seperti yang firman katakan, “bahwa tubuhmu adalah bait Allah.”
Lalu saya berkata, “Tuhan aku tidak bisa melayaniMu lagi sebab anak saya cacat, karena nanti saya tidak akan menjadi berkat bagi orang lain.” Tetapi Tuhan berkata, “cipta dia.” Lalu saya bertanya kepada Tuhan, “Bagaimana anak yang sudah umur lima tahun bisa dicipta.” Tetapi Tuhan berkata, bukankah aku ada dalam dirimu ?”. Dengan demikian dalam diri telah dibukakan dan mendapat pengertian bahwa di dalam diri kita ada kuasa untuk mencipta. Dan saat itu saya mulai mencipta anak saya dalam doa untuk menjadi normal, walaupun setelah saya berdoa anak saya masih belum sembuh atau pulih, tetapi saya tetap percaya, sehingga dalam tiga bulan anak saya sudah bisa berjalan tetapi saya belum mendoakan dia untuk bicara, dan akhirnya saya berdoa supaya dia bisa bicara.

Saudara, dari sinilah kita akan belajar bagaimana dampak kehadiran Tuhan dalam kehidupan kita. Seperti halnya pada waktu bumi dalam keadaan campur baur dan Tuhan hadir maka segalanya menjadi sempurna, demikianlah dalam kehidupan kita apabila Dia hadir dalam kehidupan maka kehidupan kita akan menjadi sempurna.

 Amin.

Monday, May 21, 2012

Hidup Dalam Rencana Tuhan







Pdt. Abraham Alex Tanuseputra
“Tetapi barangsiapa bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan. Sebab bukan orang yang memuji diri yang tahan uji, melainkan orang yang dipuji Tuhan.”
II Korintus 10:17-18

Saudara, perlu kita ketahui bahwa iman dan ambisi itu perbedaannya tipis sekali; dan hal ini berkaitan dengan kehidupan manusia, khususnya kehidupan orang Kristen. Iman itu mencipta (create a vision), tetapi apabila iman itu mulai tercampur dengan ambisi, maka visi yang hendak kita capai akan berubah menjadi cita-cita pribadi, diantaranya mengumpulkan kekayaan sebanyak-banyaknya, bangga terhadap diri sendiri, mencari popularitas dan yang pada akhirnya akan menjadi manusia sombong. Selain itu, iman yang tercampur dengan ambisi akan menghasilkan buah-buah  yang tidak baik, misalnya buah pertengkaran, perceraian atau perpisahan dan lain sebagainya. Sedangkan, apabila iman saja yang bekerja dalam kehidupan orang percaya dan tidak tercampur dengan ambisi, maka visi yang hendak kita raih akan sejalan dengan kehendak Tuhan. Selain itu, apabila kita tetap dalam iman, maka kita akan tetap aman.

Allah kita adalah sang penjunan yang membentuk kehidupan manusia, khususnya orang-orang percaya untuk menjadi sesuatu yang indah dan berharga menurut pemandanganNya. Dan saat ini kita akan melihat beberapa contoh tokoh Alkitab yang mengalami pembentukan di tangan sang penjunan (Allah). Misalnya Yusuf (Kejadian 37); Yusuf adalah anak yang paling disayang oleh ayahnya yaitu Yakub. Walaupun Yusuf masih muda, tetapi ia mendapat kepercayaan dari orang tuanya untuk mengawasi saudara-saudaranya yang lain; selain Yusuf dapat dipercaya, ia juga memiliki budi pekerti serta kerohanian yang baik.
Walaupun Yusuf memiliki kerohanian yang baik, tetapi ia juga mempunyai ambisi. Ambisi daripada Yusuf telah tampak ketika ia menceritakan mimpinya pada saudara-saudaranya.

Adapun isi mimpi yang diceritakan oleh Yusuf adalah sebagai berikut : ketika mereka sedang di ladang mengikat berkas-berkas gandum, lalu bangkitlah berkas Yusuf dan tegak berdiri; kemudian datanglah berkas-berkas saudaranya untuk mengelilingi dan menyembah kepada berkas Yusuf. Setelah mendengar apa yang telah diceritakan oleh Yusuf maka saudara-saudaranya semakin benci kepadanya. Apalagi ia menceritakan tentang mimpinya yang lain yaitu bahwa telah tampak matahari, bulan dan sebelas bintang sujud menyembah kepada Yusuf. Maka saudara-saudaranya semakin benci kepadanya, bahkan sampai ayah Yusuf menegornya. Memang, Tuhan memiliki rencana untuk membuat Yusuf sukses; tetapi Tuhan tidak ingin ambisi daripada Yusuf muncul dalam kehidupannya. Oleh karena itu Allah mengijinkan persoalan datang menimpa Yusuf, baik itu dimasukkan ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya, kemudian dijual untuk dijadikan budak orang Mesir, difitnah oleh istri Potifar, dimasukkan kedalam penjara dan persoalan yang lain sampai pada akhirnya ia menjadi orang kedua dalam pemerintahan Firaun di negeri Mesir. Melalui kisah Yusuf ini, maka kita dapat memetik suatu pelajaran yang luar biasa.
Dimana selama 13 tahun Yusuf mengalami barbagai macam penderitaan, tetapi iman daripada Yusuf tetap berjalan terus dalam kehidupannya. Memang, hal ini tidak mudah untuk dilakukan karena membutuhkan waktu yang cukup panjang. Tetapi apabila iman kita tetap berjalan terus walaupun mengahadapi tantangan seperti yang dialami oleh Yusuf, maka ketahuilah bahwa Tuhan sedang mematikan segala ambisi kita dan Tuhan akan mengangkat serta memuliakan kita.

Contoh yang lain adalah : kisah tentang Musa. Musa adalah seorang Ibrani yang diambil oleh Putri Firaun, kemudian dididik secara kerajaan Firaun; baik itu diberi pendidik yang baik khususnya tentang tata negera dan dilatih untuk berperang, selain mendapat perawatan sedemikian rupa. Dari didikan mereka, maka dalam diri Musa muncul suatu ambisi untuk menjadi orang yang berkuasa.
Walaupun dia memiliki ambisi, tetapi ia juga diberi iman oleh Tuhan, sehingga hatinya terbeban untuk membebaskan bangsanya yaitu bangsa Israel yang diperhamba oleh Firaun. Suatu saat Musa melihat orang Mesir yang menjadi mandor dalam pembangunan itu telah memperlakukan orang Israel secara tidak wajar, maka Musa bermaksud menolong orang Israel itu dengan cara membunuh mandor tersebut. Tetapi tindakannya itu diketahui oleh beberapa orang Israel, sehingga pada saat orang Israel sedang berkelahi dan Musa mendekati untuk melerainya dan memberi nasehat, maka orang Israel tersebut menjawab : “apakah engkau mau membunuh kami seperti engkau membunuh orang mandor itu ?”. Mendengar jawaban orang Israel maka takutlah Musa karena tindakannya diketahui orang lain. Akhirnya Musa lari ke rumah Yitro untuk menggembalakan kambing domba selama 40 tahun, yang disertai dengan berbagai macam tantangan. Maka selama itulah ambisi Musa yang kuat telah diruntuhkan, sampai pada akhirnya Musa bertemu dengan Tuhan secara pribadi melalui semak belukar yang tampak terbakar. Dari sekian lama persoalan yang dialami oleh Musa telah diijinkan oleh Tuhan, karena Tuhan sedang mempersiapakan Musa untuk melakukan perkara yang besar.

Contoh yang lain adalah kisah nabi Elia. Nabi Elia memiliki kuasa Allah yang luar biasa. Ia telah melakukan berbagai macam mujizat termasuk menghancurkan 450 nabi baal. Tetapi, walaupun demikian Allah tetap mengijinkan Elia mengalami ketakutan yang luar biasa ketika sedang menghadapi Izebel. Dimana Izebel hendak membunuh Elia; sehingga akhirnya Elia ingin mati saja setelah mendengar ancaman dari Izebel. Dari kejadian ini Tuhan mempunyai maksud yang indah atas diri Elia yaitu Tuhan ingin mematikan ambisi dan kesombongan daripada Elia, agar Elia tetap berjalan dengan imannya dan kuasa Tuhan tetap dinyatakan.
Dari beberapa contoh diatas masih terdapat contoh-contoh yang lain, misalnya Abraham, Ruth dan lain sebagainya; mereka adalah tokoh-tokoh iman yang perlu kita teladani.
Dan melalui beberapa penjelasan diatas maka dapat kita simpulkan bahwa segala sesuatu yang sedang terjadi dalam kehidupan kita pasti ada rencana yang indah, walaupun harus kita harus mengalami berbagai macam pergumulan. Sebab Allah lebih tahu, mana yang terbaik bagi kita sesuai dengan rencana dan kehendakNya, seperti pelajaran dari pekerjaan tukang periuk yang tertulis dalam kitab Yeremia 18; disana telah disebutkan “. . . . . maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya.

 Amin.