Kebangkitan Besar

Kebangkitan Besar

Monday, July 16, 2012

Berdoa dan Berpuasa







Pdt. Abraham Alex Tanuseputra
“Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh. Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera.
Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah.” (Roma 8:5-8)
Kembali lagi kita akan memasuki Doa Puasa Raya selama 40 hari. Hal ini mengingatkan kita tentang kejadian Tuhan Yesus saat melakukan Doa Puasa 40 hari 40 malam. Pada waktu itu Tuhan Yesus yang disebut sebagai anak Allah telah hidup di bumi dengan tubuh manusia. Ia menjadi seperti manusia biasa yang juga dapat merasakan lapar, panas, sakit, sedih dan beberapa hal lainnya, bahkan Dia juga mengalami pencobaan seperti yang biasa kita alami, tetapi Dia tidak pernah berbuat dosa.

Jikalau Yesus disebut sebagai anak Allah maka kita yang percaya kepadaNya juga turut disebut sebagai anak Allah, sebab firman Tuhan berkata : “Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya” (Yohanes 1:12). Dan apabila ayat ini kita korelasikan dengan Roma 8:16-17, maka kita akan mendapatkan pemahaman lebih dalam yang akan membawa kita menuju kedewasaan, sebab pada ayat tersebut dikatakan : “ . . . . . jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.”

Saudara, pada surat Roma pasal 8 yang telah kita baca terdapat kata “menderita”. Mendengar kata tersebut maka semua orang tentunya tidak suka, apalagi mengalaminya. Namun, kata menderita disini mengacu kepada keadaan jasmani kita. Dalam bahasa lainnya (Jawa.Red) berarti “prihatin.” Orang yang prihatin selalu menerima keadaan “penderitaan” jasmaninya (menahan keinginan daging), tetapi selamat. Karena orang yang prihatin itu bisa menguasai dirinya. Seperti yang dikatakan firman Tuhan dalam I Petrus  4:1 : ”Jadi, karena Kristus telah menderita penderitaan badani, kamu pun harus juga mempersenjatai dirimu dengan pikiran yang demikian, -- karena barangsiapa telah menderita penderitaan badani, ia telah berhenti berbuat dosa .”

Melalui beberapa ayat dan sedikit uraian diatas ini akan mengawali pembahasan kita lebih lanjut, tentunya yang berkaitan dengan thema di atas. Karena di dalam doa dan puasa ada hal-hal yang harus kita perhatikan, yaitu seperti yang tertulis dalam Yesaya  58:6-9 “Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri! Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan TUHAN barisan belakangmu. Pada waktu itulah engkau akan memanggil dan TUHAN akan menjawab, engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku! . . . ”

Jadi apabila kita sudah mempersenjatai pikiran seperti yang tertulis dalam I Petrus 4:1, maka kita akan sanggup melakukan doa dan puasa seperti yang dikehendaki Tuhan, dan itu berarti kita sedang mencairkan kuasa/warisan/hikmat Tuhan. Sehingga doa yang diajarkan Tuhan Yesus yaitu Doa Bapa Kami akan menjadi kenyataan dalam kehidupan kita, karena didalamnya terdapat doa tentang kerajaan Allah yang dapat kita miliki sekarang dan sampai selama-lamanya, termasuk warisan Allah juga kita miliki hari ini sampai selama-lamanya. Dan perlu kita ketahui pula bahwa suatu warisan tentu ada perjanjiannya dan juga meterai. Meterai inilah jaminan bagi yang berhak menerima warisan itu, dan meterai itu adalah Roh Kudus; seperti yang tertulis dalam Efesus 1:13-14 berkata, “Di dalam Dia kamu juga -- karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu -- di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.”

Tetapi sayangnya, banyak orang Kristen yang sudah bertahun-tahun mengiring Tuhan, tetapi tidak bisa mencairkan warisan itu. Oleh sebab itu kita perlu interopeksi diri kita masing-masing; mungkin selama ini kita lebih menuruti keinginan diri kita sendiri ketimbang menuruti kehendak Allah, atau kita telah mengabaikan pribadi Allah yaitu Roh Kudus yang ada di dalam diri, dan kita lebih mengandalkan kekuatan manusia. Maka daripada itu, tidak ada kata lain kecuali bertobat dan berbalik kepadaNya. Karena apabila kita renungkan baik-baik maka kita akan mengerti, bahwa orang yang mendapatkan warisan diposisikan Allah untuk mempermuliakan nama Tuhan, karena Tuhan memberikan warisan ini secara rohani dan juga secara jasmani. Kita adalah imam dan raja. Raja artinya secara fisik diberkati, imam berbicara tentang kesuciannya. Kita diangkat  dalam kemuliaan-Nya.

Saudara, di dalam diri kita sebenarnya ada segala kekayaan Allah, tetapi seringkali tidak bisa mengalir keluar. Ini terjadi karena kita ditutupi oleh keinginan nafsu kita sendiri. Dan oleh karena manusia tidak bisa menguasai dirinya sendiri maka akibatnya kuasa yang ada di dalam diri manusia, yang merupakan energi yang luar biasa, tidak tersalurkan. Waktu Tuhan Yesus berpuasa selama 40 hari, ada kuasa Tuhan yang tidak terbatas di dalam diri-Nya. Tetapi seandainya Yesus marah atau benci kepada seseorang, maka kuasa yang ada di dalam diri-Nya tidak bergerak. Untuk itu jangan sampai kita mendukakan Roh Kudus, supaya kuasa Allah akan berfungsi dalam hidup kita.

Yesus memulai pelayanan-Nya dengan berpuasa dan berdoa agar pelayanannya berhasil dan hidupnya tidak terpengaruh oleh hawa nafsunya. Tiga kali Yesus dicobai tetapi Ia berhasil lolos. Bahkan Dia telah mengusir iblis. Di dalam Yesus ada energi yang tidak terbatas. Ia dapat mengubah air menjadi anggur, mencelikkan mata orang buta, menyembuhkan orang yang lumpuh sehingga dapat berjalan, mengusir setan dan mengadakan mujizat yang lainnya, termasuk membangkitkan orang mati. Kuasa Roh Kudus dapat menjadi “cair” apabila tidak terpengaruh oleh hawa nafsu.

Berdoa dan berpuasa merupakan kerelaan, yaitu korban di hadapan Tuhan. Roma 8:5-8 berkata, “Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh. Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera. Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah.” Jadi, kalau kita berdoa, sedangkan hubungan kita dengan Allah tidak cair, maka percuma kita berdoa. Untuk itu, pertama-tama kita harus mencairkan hubungan kita dengan Tuhan yaitu dengan cara hidup kita dipimpin oleh Roh untuk melakukan kehendak Tuhan. Roma 8:9 berkata, “Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus.” Dengan akhir kata bahwa berdoa puasa berarti menghilangkan kedagingan kita, karena dengan demikian maka kuasa Roh Kudus akan nyata, serta mengalir dalam kehidupan kita.  

Amin.

No comments:

Post a Comment