Kebangkitan Besar

Kebangkitan Besar

Saturday, July 2, 2011

Tahun Keemasan

TUHAN berfirman kepada Musa:"Suruhlah beberapa orang mengintai tanah Kanaan, yang akan Kuberikan kepada orang Israel; dari setiap suku nenek moyang mereka haruslah kausuruh seorang, semuanya pemimpin-pemimpin di antara mereka."
(Bilangan 13:1-2)

Seperti visi yang Tuhan sudah berikan pada kita, inilah masa keemasan. Untuk memasukinya, mari kita punyai kemampuan mengintai dan mengamat-amati. Spt perjalanan bangsa Israel, demikian juga perjalanan iman kita. Ada beberapa ujian yg harus kita lalui:

1.Padang Gurun. Ada saatnya Tuhan merubah arah hidup kita & cara hidup kita yang dulu. Biarlah seluruh hidup kita tetap tertuju hanya pada Tuhan. Janganlah kita mengingat-ingat lagi Mesir kita, hidup kita yang lama. Mata kita, tidak hanya melihat pada kenyataan saja tapi lebih dari itu, kita melihat Tuhan yg mampu melakukan lebih dari yang kita pikirkan. Di masa ini, sepertinya semua serba terbatas. Tapi biarlah mata kita terus memandang Tuhan, sampai Ia mengasihani kita.”

2.Tanah dataran atau kota. Setelah melewati padang gurun, dlm perjalanan kita akan bertemu keadaan yang nyaman. Kita harus mengenali tipu daya dan penyesatan dunia. Dalam hal ini nyaman sangatlah berbeda dgn aman. Saat Tuhan bersama kita dalam perahu kehidupan kita, sesungguhnya tetap akan ada goncangan, tapi kita tetap akan aman. Mari kita miliki telinga yang tajam dan lidah yang membangkitkan (Yesaya 50:4).

Kita bisa mendengar suara Tuhan dengan benar dan tepat, kalau kita intim dengan Tuhan. Kita bisa intim,jika kita bergairah dengan Tuhan. Kita bisa bergairah,jika kita memiliki kasih yang mula-mula. Sebagai seorang murid, pada waktu kita memperkatakan sesuatu, biarlah itu akan memberikan semangat baru kepada orang yang letih lesu.

Wahyu 3:21: “Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Aku pun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya”.

Amin?

Menjadi Satu Keluarga Dalam Tuhan

Pdt Agus Gunawan

Kejadian 24 & Yohanes 2

Melalui ayat bacaan di atas, kita boleh mengerti bahwa sebagai gereja kita memiliki cita-cita untuk menjadi satu keluarga dalam Tuhan. Kejadian 24 juga menceritakan satu-satunya perkawinan monogami di Perjanjian Lama, yaitu antara Ishak dan Ribka. Pada saat itu Abraham sudah lanjut usia tetapi ia sadar bahwa ia masih memiliki tanggung jawab untuk mencarikan pasangan bagi Ishak. Mencari pasangan adalah tanggung jawab dari orang tua termasuk gereja dan Tuhan.

Ishak adalah anak Abraham yang adalah orang terkaya pada jaman itu, akan tetapi ia tidak menggunakan kekayaan bapanya untuk keuntungan pribadi dengan menjalin hubungan dengan gadis-gadis pada jaman itu. Ishak sadar betul bahwa yang bisa memilihkan pasangan bagi dia adalah bapanya sendiri.

Yang bisa kita pelajari dari kehidupan Ishak adalah yang membedakan kita anak-anak Tuhan dengan dunia. Sebagai anak Tuhan, kita menentukan terlebih dahulu orang yang kita pilih untuk kemudian kita berkomitmen dan belajar untuk mencintai orang tersebut. Berbeda dengan dunia yang mencoba untuk mengenal dahulu dan jika cocok baru berkomitmen.

Kemudian dalam Yohanes 2, dituliskan tentang mujizat pertama yang dilakukan oleh Yesus yaitu mengubah air menjadi anggur. Yesus ingin mengajarkan kepada kita bahwa kehidupan pernikahan kita haruslah seperti anggur yang semakin lama semakin manis

Pada Hari Itu 3000 Orang Dimenangkan Bagi Tuhan

Pdt Agus Gunawan

Pentakosta adalah hari lahirnya gereja, karena pada waktu itu Yesus berkata kepada murid-muridnya bahwa Ia akan mengirimkan teman/kuasa yang akan datang atas mereka. Ketika mereka menerima Roh Kudus, mereka diurapi dan mulai berkata-kata dengan bahasa-bahasa yang baru. Pada hari itu 3000 orang dimenangkan bagi Tuhan. Ada empat kuasa yang kita terima ketika kita dipenuhi oleh Roh Kudus:

1. Kuasa untuk mengontrol lidah
Roh Kudus turun dalam bentuk lidah api. Ini melambangkan bahwa Tuhan mau kita memiliki kuasa untuk mengendalikan lidah kita dan hanya dengan kuasa dari Roh Kudus kita akan dapat mengendalikan lidah kita.

2. Kuasa untuk bernubuat
Mari kita membiasakan diri kita untuk memperkatakan firman yang penuh kuasa dari Tuhan tentang kehidupan kita di masa depan. Dengan kuasa dari Roh Kudus kita akan bisa berbicara tentang hal-hal besar dan ajaib yang Tuhan akan lakukan dalam hidup kita.

3. Kuasa untuk bermimpi
Roh Kudus memberikan kita kuasa bukan hanya untuk bermimpi akan anugerah Tuhan, tetapi bahkan kemampuan untuk mengetahui mimpi seperti yang dialami oleh Daniel. Orang-orang sakti pada jaman itu tidak ada yang bisa mengetahui mimpi dari Nebukadnezar dan sebagai hukuman mereka dipenggal dan rumahnya dihancurkan sampai menjadi puing. Ini menggambarkan apa yang akan kita alami jika kita kehilangan kuasa untuk bermimpi. Jika kita kehilangan kemampuan untuk bermimpi akan masa depan, maka kita akan kehilangan kuasa untuk masa sekarang. Tokoh-tokoh di Alkitab yang dapat kita jadikan contoh adalah Yusuf yang tidak kehilangan mimpinya ketika dia harus menunggu selama lebih dari 20 tahun, demikian juga dengan Abraham. Contoh lain adalah Yusuf Arimatea yang mengijinkan tubuh Yesus untuk dibaringkan di makam yang dia persiapkan untuk dirinya sendiri. Yusuf Arimatea percaya bahwa Yesus akan bangkit.

4. Kuasa untuk melakukan mujizat
Dengan Roh Kudus yang ada dalam kita, maka kita akan menerima juga kuasa untuk melakukan mujizat.

Tuhan Yesus memberkati.

Rendah Hati & Takut Akan Tuhan

“Ganjaran kerendahan hati dan takut akan TUHAN adalah kekayaan, kehormatan dan kehidupan.”
(Amsal 22:4)

Pada mulanya, Daud hanyalah penggembala kambing-domba. Tidak ada yang orang yang menganggapnya, bahkan ayah dan saudara-saudaranya. Alkitab berkata: Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati. Karena hatinya, Tuhan mengangkat Daud menjadi raja Yehuda bahkan raja atas seluruh Israel. Bahkan sampai hari ini raja Daud adalah orang yang paling dihormati oleh bangsa Israel. Tuhan berkata tentang Daud: “Aku telah menemukan Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendak-Ku!”
Kehendak Tuhan yang manakah yang dilakukan oleh Daud sehingga dia begitu disayangi oleh Tuhan? Ternyata Kisah Para Rasul 13:36 berkata, “Sebab Daud melakukan kehendak Allah pada zamannya ...” Daud tidak melakukan kehendak Allah pada zaman sebelumnya, tetapi pada zamannya. Setiap hari Daud datang merendahkan dirinya ke hadapan Tuhan dengan hormat dan takut serta memperhatikan perintah-perintah Tuhan dan kehendak-Nya. Daud selalu menuruti perintah-Nya, meskipun ada yang kelihatannya tidak masuk akal atau kontroversial.

Mungkin kita bertanya, “Mengapa masalah saya ini tidak segera selesai? Jawabannya, mari jangan lagi kita bersandar kepada pengertian sendiri dan jangan menganggap bahwa diri kita ini bijak. Tuhan mau kita seperti Daud yang merendahkan diri dan hati kita dengan hormat dan takut kepada kehendak-Nya.

Amsal 3:5–8 berkata,”Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu. Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan; itulah yang akan menyembuhkan tubuhmu dan menyegarkan tulang-tulangmu.”

Amin?

Rahasia Menantikan Tuhan

Pdt.Prof.DR. Abraham Alex T. Ph.D

Habakuk 2:1-5

Pada saat bangsa Israel berada dalam kesesakan, Habakuk selaku seorang nabi telah menjadi perantara antara Tuhan dengan bangsa Israel, dan ia berkata : ”Aku mau berdiri di tempat pengintaianku dan berdiri tegak di menara, akau mau meninjau dan menantikan apa yang akan difirmankanNya kepadaku, dan apa yang akan dijawabNya atas pengaduanku.” Ia senantiasa menantikan firman Tuhan dan jawaban Tuhan untuk dapat disampaikan kepada bangsa Israel agar hati bangsa Israel tetap kuat dalam menghadapi pergumulan yang sedang terjadi.

Saudara, arti dari kalimat “berdiri di tempat pengintaianku dan berdiri tegak di menara” adalah ia membawa segala pergumulan dan menantikan Tuhan dalam doa. Ia berusaha mencari wajah Tuhan dan kehendakNya lewat doa. Habakuk tidak jemu-jemu dalam menantikan jawaban Tuhan sebab ia telah menerima segala janji Tuhan, dan ia yakin apabila Tuhan berjanji pasti akan digenapi, seperti yang tertulis dalam II Petrus 3:9, ”Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.”

Lalu, bagaimana dengan kita, apakah kita saat ini sedang menantikan jawaban dari Tuhan atas pergumulan kita ? Jika ya, marilah kita naik ke “menara doa” yaitu masuk dalam doa, sebab ketika kita menantikan Tuhan dalam doa,maka kita akan mendapatkan tiga hal diantaranya :

1.Revelation (Wahyu)
Apabila kita membaca dalam I Korintus 12:1-11, maka kita akan temukan salah satu dari ketiga hal tersebut di atas. Pada ayat 3 dijelaskan bahwa seseorang dapat menyebut bahwa Yesus adalah Tuhan karena di dalam orang tersebut ada Roh Allah, dan orang yang mendapat karunia bernubuat atau wahyu itupun oleh karena karunia Roh. Jadi betapa pentingnya seseorang mendapatkan wahyu dari Tuhan, karena wahyu merupakan firman yang langsung disampaikan melalui Roh Kudus. Untuk itu apabila kita saat ini sedang dalam pergumulan, maka janganlah kita semakin menjauh dari Tuhan dan mulai mengandalkan kekuatan kita sendiri, sebab firman Tuhan menasehatkan, ”Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!” (Yeremia 17:5). Tetapi justru kita semakin dekat dengan Tuhan untuk mendapatkan wahyu dari Tuhan. Dan orang yang menanti-nantikan Tuhan akan mendapatkan kekuatan baru. Memang, sementara kita menunggu sangat dibutuhkan kesabaran. Sebab tanpa kesabaran seseorang tidak akan mendapatkan apa yang dirindukannya.

2. Wisdom (Hikmat)
Pada saat kita berdoa kepada Tuhan, maka kita akan mendapatkan hikmat. Dan hikmat yang kita dapatkan bukanlah hikmat yang dari dunia melainkan hikmat dari Tuhan, seperti yang tertulis dalam I Korintus 2:6-9, ”Sungguhpun demikian kami memberitakan hikmat di kalangan mereka yang telah matang, yaitu hikmat yang bukan dari dunia ini, dan yang bukan dari penguasa-penguasa dunia ini, yaitu penguasa-penguasa yang akan ditiadakan. Tetapi yang kami beritakan ialah hikmat Allah yang tersembunyi dan rahasia, yang sebelum dunia dijadikan, telah disediakan Allah bagi kemuliaan kita. . . . . . ”
Lalu, bagaimana kita dapat mengetahui bahwa kita telah menerima hikmat dari Tuhan. Saudara, ketika kita percaya bahwa Yesus adalah Tuhan maka di dalam diri kita ada Roh Allah. Dan apabila Roh Allah ada di dalam diri kita, maka kita akan memiliki pikiran Kristus, selain memiliki pikiran diri sendiri. Jikalau kita perhatikan dalam kehidupan sehari-hari maka kita akan melihat bahwa pada saat manusia mengajar manusia, maka itu pikiran manusia, sedangkan apabila Roh Allah ada di dalam hamba Tuhan, maka yang diajarkan oleh hamba Tuhan itu adalah pikiran Allah. Selanjutnya, apabila kita fokus kepada Tuhan dan mempersilahkan Roh Kudus berkuasa dalam kehidupan kita maka Roh Kudus itu akan memunculkan pikiran Allah, sehingga kita semua mendapat pikiran Allah / Wisdom (Hikmat). Itulah yang sulit diterima oleh orang dunia, sebab mereka tidak menerima Roh Allah. Oleh sebab itu, kita perlu banyak berdoa supaya kita semakin sensitif terhadap Roh Allah yang senantiasa memberikan input mengenai pikiran Allah. Dan tentunya pikiran Allah itu tidak dapat diterima dengan akal manusia, melainkan dapat diterima dengan iman.

3. Power (Kuasa)
Roh Allah itu bisa memunculkan kuasa dalam kehidupan kita, sehingga apa yang tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah dilihat oleh mata maupun timbul dalam hati kita akan disediakan bagi mereka yang mengasihi Dia. Pikiran Allah menciptakan iman yang dapat mengadakan mujizat.
Pada permulaan tahun 2008, saya (Pdt. A. Alex Tanuseputra) berdoa dan Tuhan memunculkan dalam pikiran saya bahwa waktu ini adalah harvest time (masa penuaian). Hal ini dapat dilihat dari siklus yang telah kita alami mulai tahun 1977,1987, 1997 dan 2007. Dimana melalui siklus ini kita mendapatkan suatu pemahaman mengenai hukum tabur tuai. Dari sekian lama perjalanan dalam melayani Tuhan, Dia telah menunjukkan kuasaNya yang luar biasa yaitu kuasa yang tidak dapat dipahami oleh pikiran manusia. Dan perlu kita perhatikan bahwa kita tidak dapat memaksakan masa penuaian itu, sebab tuaian kita tergantung dari apa yang kita tabur. Firman Tuhan itu datang dalam kehidupan kita namun belum nyata, tetapi Tuhan berjanji bahwa suatu hari pasti akan digenapi. Pada waktu kita menunggu jawaban dari Tuhan, waktunya tidak akan berlambat-lambat seperti yang dialami oleh Habakuk ketika menantikan jawaban Tuhan. Pada waktu firman Tuhan memerintahkan saya (Pdt. A. Alex Tanuseputra) untuk mengambil proyek Menara Jakarta itu merupakan nubuatan, dan didalamnya ada hikmat dan kuasa yang bekerja dalam kehidupan saya. Saya menunggu lama terwujudnya Menara Jakarta. Firman Tuhan akan dinyatakan meskipun hal itu mustahil untuk dikerjakan manusia. Pada waktu menunggu, saya senantiasa memperkatakan kata-kata iman. Memang orang yang tidak tahu telah menilai bahwa saya sombong. Dan itu merupakan ujian bagi saya. Sebab saya yakin bahwa orang benar akan melihat mujizat Tuhan. Saya harus hati-hati terhadap perkataan maupun tingkah laku saya. Demikian seperti yang saya alami dalam membangun Bethany Nginden, saya harus menantikan selama 13 tahun dengan berbagai pergumulan yang harus saya hadapi. Tetapi itu semua tidak menyurutkan semangat saya dalam melaksanakan perintah Tuhan, sebab saya yakin bahwa bersama Tuhan akan melakukan perkara-perkara yang besar. Memang kata-kata iman dengan kesombongan itu memang tipis. Tetapi kalau kita benar-benar berlaku tulus di hadapan Tuhan maka kita akan melihat kuasa Tuhan dinyatakan.

Amin

Friday, July 1, 2011

Perhatikan Apa Yang Engkau Tabur


Pdt.Prof.DR. Abraham Alex T. Ph.D

Kita semua tentunya ingat salah satu pelajaran yang kita dapatkan di Sekolah Dasar maupun Sekolah Menengah Pertama mengenai pelajaran ilmu alam, baik itu hukum Archimedes, hukum aksioma. Dan ada satu hukum alam yang tidak dapat dibanta, kecuali ada ditangan Tuhan sendiri yang bisa mengubah sebab mujizat yang terjadi dalam Alkitab kadang bertentangan dengan hukum ini. Tetapi satu hukum yang sangat dikomform oleh Tuhan yaitu terdapat dalam Yohanes 12:24 ” . . . Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.”

Hukum alam ini ada hubungannya dengan kehidupan walaupun itu tumbuh-tumbuhan tetapi ada kaitannya dalam kehidupan kita. Contoh : satu biji jagung dilempar ke tanah, maka dalam waktu satu dua minggu kita tidak melihat apa-apa tetapi minggu berikutnya muncul tunas dan selanjutnya tumbuhan jagung ini menjadi besar bahkan dalam waktu 3 bulan maka satu biji jagung ini menghasilkan beberapa buah, bahkan kita malas untuk menghitung jumlah biji jagung yang telah dihasilkan. Dan Tuhan mengkaitan hukum ini ke dalam kehidupan kita seperti yang tertulis dalam Galatia 6:7-10 ” . . . Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya, . . .” Orang yang tidak pernah menabur maka tidak ada sesuatu yang dilipatgandakan. Hal ini tidak berbicara soal meteri saja tetapi yang lebih utama adalah hal rohani. Oleh karena itu marilah kita menabur selama masih ada kesempatan. Kita akan menerima hasil yang lebih besar dari apa yang kita tabur. Contoh : apabila kita menabur angin maka kita akan menuai badai. Kalau kita memilih jalan yang baik yaitu jalan Tuhan maka kita akan menuai sesuatu yang baik pula dan itu dilipatgandakan Tuhan. Oleh karena itu Tuhan berkata:Jangan sesat sebab Tuhan tidak dapat dipermainkan.
Kalau kita baca Galatia 5:22-23, maka kita akan temukan sesuatu yang kita tuai yaitu buah roh. Buah roh yaitu kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.

Perlu kita ketahui bahwa orang tidak dapat menipu diri sendiri bahwa apakah kehidupan itu penuh dengan kasih, kemurahan (sesuatu yang baik) atau justru di masa tua kita tidak menuai sesuatu yang baik. Memang ada persoalan-persoalan lain tetapi ini adalah suatu hukum. Untuk itu apabila kita masih ada kesempatan maka kita harus menanam. Langkah kita adalah langkah yang positif sehingga apa yang kita tanam adalah sesuatu yang baik. Hukum ini tidak bisa ditentang mau tidak mau terjadi dalam kehidupan. Buah yang baik membawa kita pada suatu kebebasan dalam suatu hukum sebab tidak ada hukum yang bisa menuduh kehidupan kita. Kita semua menerima janji-janji dari Tuhan. Keselamatan tidak hanya di dunia saja tetapi sampai pada kehidupan yang kekal.

Saudara, kita harus memperhatikan apa yang kita tanam. Hukum karma itu luar biasa, tetapi dalam nama Yesus hal itu bisa dirubah sebab dalam nama Yesus ada pengampunan. Perlu disadari bahwa dosa yang telah ditanam orang tua, maka kutuk itu bisa sampai pada kita, tetapi puji Tuhan pada saat ini kita sudah menerima kemurahan Tuhan, sehingga karma yang jelek itu tidak ada lagi. Tetapi mulai saat ini kita mulai menanam yang baik karena tanaman yang buruk sudah putus oleh darah Kristus. Sedang orang di luar Tuhan masih menuai taburan nenek moyangnya.
Dalam II Timotius 2:6 dikatakan bahwa seorang petani yang bekerja keras haruslah yang pertama kali menikmati hasilnya. Dan seorang petani tidak boleh sekedar menanam tetapi harus bekerja dengan keras untuk menghasilkan yang baik. Suatu saat seseorang akan kehilangan kesempatan apabila orang tersebut tidak mempergunakan kesempatan yang ada. Pertama kali saya bertobat, saya tidak membiarkan kesempatan saya untuk menabur hilang begitu saja, tetapi saya gunakan kesempatan itu sebaik-baiknya sehingga saya mengalami seperti saat ini. Kita sukses tidak hanya dalam dunia ini tetapi sampai selamanya yaitu pada kehidupan yang kekal. Saya (Pdt. Abraham Alex T.) ingat kisah nenek saya yang sakit, dan kondisinya tampaknya tidak ada harapan, tetapi ada dua anak anggota koor memanggil hamba Tuhan. Kemudian hamba Tuhan itu berdoa dan tumpang tangan. Lalu nenek saya bangun dan bercerita bahwa ia bermimpi harus minum segelas susu lalu dia minum, dan sejak itu ia sembuh. Setelah nenek saya sembuh maka kakek saya bertobat dan langsung membangun gereja Pentakosta di Jl. Sentanan Mojokerto. Dan melalui satu gereja menjadi belasan gereja. Kemudian apa yang dilakukan oleh kakek saya dilanjutkan oleh ibu saya. Selanjutnya kakek saya pindah ke Surabaya bertemu dengan Pdt. Ishak Leo dan disitulah kakek saya menabur. Demikian halnya dengan apa yang saya lakukan. Saya membangun 14 gereja di Mojokerto. dan lima tahun kemudian saya menuai di Surabaya, selanjutnya saya menabur lagi dan seterusnya. Kalau kita menabur baik maka tanaman kita menjadi baik. Walaupun banyak badai maupun ulat yang mulai ada pada pohon itu tetapi kita percaya apabila tanamana kita baik maka pohon itu akan tetap hidup dan berbuah. Selain bekerja keras, apabila kita mengharapkan tuaian yang besar maka tanaman yang kita tanam harus besar pula, seperti yang tertulis dalam II Korintus 9:6.

Saudara, setelah ibu saya menabur beberapa gereja dan semua anak-anaknya sudah berkeluarga; suatu saat ia berkata “tugasku sudah selesai dan anak-anakku sudah dewasa, sekarang waktunya aku pulang.” Lalu pembantu saya berkata, “jangan ngomong begitu bu, itu tidak baik.” Selanjutnya ibu saya berkata, “aku harus pulang, karena aku percaya apabila aku dipanggil Tuhan, anak-anakku akan diberkati Tuhan.” Kemudian ibu saya pulang ke rumah kakak saya yang menjadi dokter di Jl. WR. Supratman. Dan jam 10.00 WIB, ibu saya tidur sampai jam 18.30 WIB, kemudian saya datang ke rumah kakak saya, lalu ibu saya pamit dan tidak lama kemudian ibu saya dipanggil Tuhan. Dan apa yang dikatakan oleh ibu saya, sekarang telah terbukti bahwa saya diberkati. Dan setelah saya diberkati saya tidak tinggal diam, tetapi saya harus menabur terus, karena saya percaya bahwa sampai keturunan ke tujuh anak cucu saya akan diberkati. Oleh sebab kita sebagai umat Tuhan yang diberkati marilah kita perhatikan jumlah yang kita tabur. Biarlah kita menabur apa yang ada pada kita, dan jangan sampai kita berusaha membuat ada untuk dapat ditabur yaitu dengan cara hutang supaya kita bisa menabur (II Korintus 8:12). Kita percaya bahwa Tuhan memberikan benih setiap kita. Dan apabila kita menaburnya maka kita akan menuai, selanjutnya jikalau kita sudah menuai janganlah kita tinggal diam tetapi marilah kita terus menabur. Firman Tuhan berkata, ”Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati TUHAN” (Kejadian 26:12). Jangan merasa puas terhadap keadaan kita saat ini tetapi marilah kita tetap menabur dan menuai. Dan saat kita menabur jangan seperti gambling (judi) tetapi kita menabur dengan ketulusan hati. Apabila kita membaca I Korintus 3:6 maka disitu dijelaskan bahwa Allah yang memberi pertumbuhan dari apa yang kita tabur. Untuk itu hubungan kita dengan Tuhan jangan sampai lepas. Sebab apabila kita lepas maka apa yang kita tanam akan sia-sia sebab kita tidak akan pernah menuai. Oleh sebab itu janganlah kita berhenti untuk menabur, karena semuanya ada waktunya yaitu menuai secara luar biasa.

Amin.

Hidup Dalam Penguasaan Diri Dan Ketaatan

Pdt.Prof.DR. Abraham Alex T. Ph.D
Graha Bethany Nginden

“Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus.”
I Korintus 11:1


Saudara, apabila kita membaca ayat di atas yang merupakan pernyataan daripada Paulus, maka kita mengetahui bahwa pengiringan Paulus kepada Tuhan sungguh-sungguh mantap. Kata “jadilah pengikut” bukan berarti Paulus ingin menguasai orang yang diajarnya atau supaya dirinya dikultuskan, tetapi ia ingin setiap orang yang diajarnya benar-benar meneladani apa yang ia lakukan seperti halnya ia telah meneladani pribadi Kristus. Oleh karena itu, hal utama yang akan kita bahas disini adalah menjadi pengikut Kristus dan bukan pengikut Paulus.

Dan disini kita akan sedikit belajar bagaimana Paulus mengikut Kristus. Paulus tetap rendah hati dalam mengikut Kristus, walaupun ia memiliki latar belakang pendidikan yang tinggi dibanding dengan orang lain. Selain itu, ia menyadari bahwa dihadapan Tuhan dirinya tidak ada apa-apanya dan juga ia tidak menganggap bahwa dirinya adalah seorang pemimpin, sebab ia meyakini perkataan Tuhan Yesus yang tertuang dalam Injil Matius 23:8-11 : “Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Dan janganlah kamu menyebut siapa pun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias. Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.

Jelas disini bahwa Tuhanlah pemimpin kita; walaupun Paulus sempat mengatakan “ikutlah aku sama seperti aku mengikut Kristus” itu bukan berarti bahwa Paulus dapat disebut pemimpin, karena firman Tuhan berkata : “jangan seorangpun menyebut dirinya pemimpin atau bapa.” Seandainya Paulus menempatkan dirinya sebagai pemimpin maka pada generasi berikutnya akan mengalami polusi secara rohani. Jadi pemimpin yang satu-satunya adalah Kristus.

Lalu bagaimanakah cara pemimpin kita (Tuhan Yesus) dalam memimpin dunia ini ? Ada beberapa hal yang dimiliki dan menjadi bagian dalam hidupNya, untuk memimpin dunia ini.

Yang pertama adalah Penguasaan Diri.

Ketika Ia memulai pelayananNya di bumi ini, Ia telah belajar mengenai penguasaan diri. Salah satu contoh, yaitu : tatkala Ia dicobai oleh iblis di padang gurun sebanyak tiga kali, Ia telah sanggup mengalahkan cobaan itu. KesanggupanNya dalam mengalahkan cobaan itu dikarenakan ia telah belajar akan penguasaan diri, yaitu melalui puasa selama 40 hari (Matius 4:1-11). Memang Yesus itu lahir dari Roh dan firman, tetapi ia terdiri dari daging juga. Tuhan Yesus mengerti bahwa dengan penguasaan diri, maka cobaan iblis yang memancing hawa nafsunya untuk melakukan dosa dapat dikalahkan. Dan perlu kita tahu bahwa Roh Allah dapat bekerja dengan leluasa apabila penguasaan diri ada dalam diri kita dan keinginan daging telah ditaklukkan. Memang, secara tidak sadar kadang-kadang muncul pertanyaan : “Mengapa Roh Allah tidak dapat bekerja secara luar biasa, apakah metode-metode atau program yang kita lakukan kurang bagus ?. Roh Allah tidak bekerja secara luar biasa bukan karena metode atau program yang kurang bagus, tetapi semuanya itu disebabkan oleh karena kita masih hidup dalam kedagingan dan hawa nafsu. Oleh karena itu, saat kita sedang berpuasa untuk melatih penguasaan diri kita, maka Roh Allah itu akan muncul dan bekerja secara luar biasa. Namun berapa banyak orang justru memadamkan atau mendukakan Roh dengan kedagingannya. Jadi kalau kita mengikut Kristus, dan Roh Allah berkuasa dengan sepenuhnya atas kita, maka kita akan sanggup melakukan perkara yang besar. Sebab semakin kita hidup dalam penguasaan diri maka Roh Allah semakin muncul dalam kehidupan kita dan kuasa Tuhan akan bekerja tanpa batas. Apabila kita menggunakan pedoman penguasaan diri maka segala karunia buah-buah Roh Kudus akan muncul dengan subur. Dan apa artinya kita berpendidikan tinggi tanpa adanya penguasaan diri dalam hidup kita. Dan ini bukan berarti kita tidak boleh berpendidikan tinggi, tetapi yang dimaksud disini adalah : penguasaan diri merupakan prioritas utama.

Hal yang kedua adalah Taat Terhadap Kehendak Tuhan (Obey The Lord)

Selain penguasaan diri, ada hal yang tidak kalah pentingnya yaitu ketaatan. Kita semua tahu bahwa manusia pertama kali jatuh dalam dosa disebabkan karena ketidaktaatannya terhadap kehendak Tuhan. Tetapi disini kita akan belajar dari pemimpin agung kita yaitu Tuhan Yesus mengenai ketaatan. Sejauh mana ketaatan daripada Tuhan Yesus terhadap Bapa ? ketaatan Tuhan Yesus terhadap Bapa adalah sampai kematiannya di atas kayu salib, seperti yang tertulis dalam Filipi 2:5-11 “. . . . . Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa!

Memang secara manusia, Tuhan Yesus tidak sanggup menghadapi pergumulan yang sedang Ia jalani yaitu harus mengalami penderitaan yang berat, bahkan sampai mati di atas kayu salib. Karena terlalu beratnya penderitaan yang Ia tanggung, sampai Tuhan Yesus berdoa sebanyak tiga kali dengan kata-kata yang sama seperti yang tertulis dalam Matius 26:39 “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.”

Tetapi oleh karena ketaatanNya, Ia menyerahkan sepenuhya ke dalam tangan Bapa, walaupun berat rasanya untuk dapat menanggung semua penderitaan itu. Dan pada akhirnya Ia ditinggikan dan diberi kuasa baik di bumi maupun di surga.

Selain kita belajar dari ketaatan Tuhan Yesus, kita akan melihat contoh tokoh lain yang juga taat terhadap kehendak Tuhan, yaitu Abraham. Ketika Abraham menantikan untuk mendapatkan seorang anak Ia menunggu sampai usia yang sangat lanjut. Dan ketika janji untuk mendapatkan seorang anak sudah tergenapi, lalu Tuhan berkata supaya anak itu dipersembahkan kepada Tuhan. Walaupun secara manusia ia merasa kecewa, tetapi karena ketaatannya justru membuahkan hasil yang luar biasa. Dimana Tuhan menjadikan Abraham sebagai bapa segala bangsa dan keturunannya menjadi bangsa yang besar sesuai dengan janji Tuhan.

Melalui penjelasan diatas, marilah kita senantiasa belajar hidup dalam penguasaan diri dan taat terhadap kehendak Tuhan, supaya kita tetap berkenan di hadapan Tuhan dan pelayanan kita tidak sia-sia. Amin.