Monday, May 21, 2012

Hidup Dalam Rencana Tuhan







Pdt. Abraham Alex Tanuseputra
“Tetapi barangsiapa bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan. Sebab bukan orang yang memuji diri yang tahan uji, melainkan orang yang dipuji Tuhan.”
II Korintus 10:17-18

Saudara, perlu kita ketahui bahwa iman dan ambisi itu perbedaannya tipis sekali; dan hal ini berkaitan dengan kehidupan manusia, khususnya kehidupan orang Kristen. Iman itu mencipta (create a vision), tetapi apabila iman itu mulai tercampur dengan ambisi, maka visi yang hendak kita capai akan berubah menjadi cita-cita pribadi, diantaranya mengumpulkan kekayaan sebanyak-banyaknya, bangga terhadap diri sendiri, mencari popularitas dan yang pada akhirnya akan menjadi manusia sombong. Selain itu, iman yang tercampur dengan ambisi akan menghasilkan buah-buah  yang tidak baik, misalnya buah pertengkaran, perceraian atau perpisahan dan lain sebagainya. Sedangkan, apabila iman saja yang bekerja dalam kehidupan orang percaya dan tidak tercampur dengan ambisi, maka visi yang hendak kita raih akan sejalan dengan kehendak Tuhan. Selain itu, apabila kita tetap dalam iman, maka kita akan tetap aman.

Allah kita adalah sang penjunan yang membentuk kehidupan manusia, khususnya orang-orang percaya untuk menjadi sesuatu yang indah dan berharga menurut pemandanganNya. Dan saat ini kita akan melihat beberapa contoh tokoh Alkitab yang mengalami pembentukan di tangan sang penjunan (Allah). Misalnya Yusuf (Kejadian 37); Yusuf adalah anak yang paling disayang oleh ayahnya yaitu Yakub. Walaupun Yusuf masih muda, tetapi ia mendapat kepercayaan dari orang tuanya untuk mengawasi saudara-saudaranya yang lain; selain Yusuf dapat dipercaya, ia juga memiliki budi pekerti serta kerohanian yang baik.
Walaupun Yusuf memiliki kerohanian yang baik, tetapi ia juga mempunyai ambisi. Ambisi daripada Yusuf telah tampak ketika ia menceritakan mimpinya pada saudara-saudaranya.

Adapun isi mimpi yang diceritakan oleh Yusuf adalah sebagai berikut : ketika mereka sedang di ladang mengikat berkas-berkas gandum, lalu bangkitlah berkas Yusuf dan tegak berdiri; kemudian datanglah berkas-berkas saudaranya untuk mengelilingi dan menyembah kepada berkas Yusuf. Setelah mendengar apa yang telah diceritakan oleh Yusuf maka saudara-saudaranya semakin benci kepadanya. Apalagi ia menceritakan tentang mimpinya yang lain yaitu bahwa telah tampak matahari, bulan dan sebelas bintang sujud menyembah kepada Yusuf. Maka saudara-saudaranya semakin benci kepadanya, bahkan sampai ayah Yusuf menegornya. Memang, Tuhan memiliki rencana untuk membuat Yusuf sukses; tetapi Tuhan tidak ingin ambisi daripada Yusuf muncul dalam kehidupannya. Oleh karena itu Allah mengijinkan persoalan datang menimpa Yusuf, baik itu dimasukkan ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya, kemudian dijual untuk dijadikan budak orang Mesir, difitnah oleh istri Potifar, dimasukkan kedalam penjara dan persoalan yang lain sampai pada akhirnya ia menjadi orang kedua dalam pemerintahan Firaun di negeri Mesir. Melalui kisah Yusuf ini, maka kita dapat memetik suatu pelajaran yang luar biasa.
Dimana selama 13 tahun Yusuf mengalami barbagai macam penderitaan, tetapi iman daripada Yusuf tetap berjalan terus dalam kehidupannya. Memang, hal ini tidak mudah untuk dilakukan karena membutuhkan waktu yang cukup panjang. Tetapi apabila iman kita tetap berjalan terus walaupun mengahadapi tantangan seperti yang dialami oleh Yusuf, maka ketahuilah bahwa Tuhan sedang mematikan segala ambisi kita dan Tuhan akan mengangkat serta memuliakan kita.

Contoh yang lain adalah : kisah tentang Musa. Musa adalah seorang Ibrani yang diambil oleh Putri Firaun, kemudian dididik secara kerajaan Firaun; baik itu diberi pendidik yang baik khususnya tentang tata negera dan dilatih untuk berperang, selain mendapat perawatan sedemikian rupa. Dari didikan mereka, maka dalam diri Musa muncul suatu ambisi untuk menjadi orang yang berkuasa.
Walaupun dia memiliki ambisi, tetapi ia juga diberi iman oleh Tuhan, sehingga hatinya terbeban untuk membebaskan bangsanya yaitu bangsa Israel yang diperhamba oleh Firaun. Suatu saat Musa melihat orang Mesir yang menjadi mandor dalam pembangunan itu telah memperlakukan orang Israel secara tidak wajar, maka Musa bermaksud menolong orang Israel itu dengan cara membunuh mandor tersebut. Tetapi tindakannya itu diketahui oleh beberapa orang Israel, sehingga pada saat orang Israel sedang berkelahi dan Musa mendekati untuk melerainya dan memberi nasehat, maka orang Israel tersebut menjawab : “apakah engkau mau membunuh kami seperti engkau membunuh orang mandor itu ?”. Mendengar jawaban orang Israel maka takutlah Musa karena tindakannya diketahui orang lain. Akhirnya Musa lari ke rumah Yitro untuk menggembalakan kambing domba selama 40 tahun, yang disertai dengan berbagai macam tantangan. Maka selama itulah ambisi Musa yang kuat telah diruntuhkan, sampai pada akhirnya Musa bertemu dengan Tuhan secara pribadi melalui semak belukar yang tampak terbakar. Dari sekian lama persoalan yang dialami oleh Musa telah diijinkan oleh Tuhan, karena Tuhan sedang mempersiapakan Musa untuk melakukan perkara yang besar.

Contoh yang lain adalah kisah nabi Elia. Nabi Elia memiliki kuasa Allah yang luar biasa. Ia telah melakukan berbagai macam mujizat termasuk menghancurkan 450 nabi baal. Tetapi, walaupun demikian Allah tetap mengijinkan Elia mengalami ketakutan yang luar biasa ketika sedang menghadapi Izebel. Dimana Izebel hendak membunuh Elia; sehingga akhirnya Elia ingin mati saja setelah mendengar ancaman dari Izebel. Dari kejadian ini Tuhan mempunyai maksud yang indah atas diri Elia yaitu Tuhan ingin mematikan ambisi dan kesombongan daripada Elia, agar Elia tetap berjalan dengan imannya dan kuasa Tuhan tetap dinyatakan.
Dari beberapa contoh diatas masih terdapat contoh-contoh yang lain, misalnya Abraham, Ruth dan lain sebagainya; mereka adalah tokoh-tokoh iman yang perlu kita teladani.
Dan melalui beberapa penjelasan diatas maka dapat kita simpulkan bahwa segala sesuatu yang sedang terjadi dalam kehidupan kita pasti ada rencana yang indah, walaupun harus kita harus mengalami berbagai macam pergumulan. Sebab Allah lebih tahu, mana yang terbaik bagi kita sesuai dengan rencana dan kehendakNya, seperti pelajaran dari pekerjaan tukang periuk yang tertulis dalam kitab Yeremia 18; disana telah disebutkan “. . . . . maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya.

 Amin.




No comments:

Post a Comment