Kebangkitan Besar

Kebangkitan Besar

Monday, May 28, 2012

Milikilah Gaya Hidup Yang Berbeda










Pdt. Abraham Alex Tanuseputra

“Aku datang segera. Peganglah apa yang ada padamu, supaya tidak seorangpun mengambil mahkotamu.”
(Wahyu 3:11)
Ketika kita menerima Yesus sebagai Tuhan dan juru selamat, maka saat itu kita masuk dalam bilangan orang-orang yang diselamatkan. Dan jangan sekali-kali terlintas dalam pikiran kita untuk melepaskan keselamatan itu demi kekayaan, harta, kedudukan maupun jabatan. Sebab keselamatan merupakan anugerah dari Allah yang tidak dapat diganti dengan harta atau kekayaan termasuk dunia ini, melainkan dengan darah yang mahal yaitu darah Kristus.
Seperti firman Tuhan katakan di dalam Injil Matius 16:26 “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya ? kata “kehilangan nyawa” juga mengandung pengertian “kehilangan keselamatan”. Agar keselamatan tetap ada dalam kehidupan kita, maka kita harus mempertahankan gaya hidup/lifestyle kita sebagai orang yang percaya kepada Kristus. Dan gaya hidup kita sebagai orang percaya sangat berbeda dengan gaya hidup orang dunia (orang yang belum mengenal Kristus).
Apabila kita mempelajari sejarah gereja, maka kita tahu bahwa pada gereja mula-mula telah mengajarkan bagaimana kita hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Sehingga pada jaman kisah para rasul telah nyata bahwa gereja berkembang secara luar biasa atau dengan kata lain “gereja mengalami kesuksesan”. Dan jikalau gereja diberkati, maka jemaatnya pasti diberkati atau sebaliknya, apabila jemaat diberkati maka gereja pun diberkati. Tetapi sayang, suatu saat Kekristenan mulai tidak murni lagi, dan gereja mulai kehilangan gaya hidup yang sesuai kehendak Tuhan. Pada jaman pemerintahan kaisar Roma yang telah menjadi Kristen, mulai berpolitik dalam negara. Kaisar telah memaksa seluruh rakyatnya untuk menjadi Kristen, sehingga bukan Injil yang diberitakan ataupun urapan Roh Kudus tetapi maksud-maksud tertentu yaitu mencari keuntungan sendiri. Dan saat itulah gereja mengalami stagnasi dan tidak berkembang lagi dan saat itu pula gereja berada dalam abad kegelapan.
Tetapi dengan berjalannya waktu telah muncul satu sosok yang bernama Martin Luther. Dia telah menemukan kebenaran Firman Tuhan dan ia mulai protes terhadap keadaan gereja yang tidak karuan. Dan protesnya telah dikenal dengan pro-Testament, yaitu kembali kepada Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Mulai sejak itu telah muncul pembaharuan-pembaharuan dalam gereja sehingga muncul gereja reform dan lain-lain.
Berdasarkan sejarah masa lalu, maka jangan sampai hidup kita sebagai orang Kristen mengalami seperti pada abad kegelapan. Bukankah keadaan dunia saat ini semakin gelap, untuk itu marilah kita semakin bercahaya di tengah-tengah kegelapan itu, yaitu dengan memiliki gaya hidup seperti gaya hidup gereja mula-mula, antara lain :


Suka berdoa (Kisah Rasul 1:14)

Dalam Kisah Rasul 2 telah diceritakan bahwa pada waktu mereka berdoa terjadi lawatan Allah yang luar biasa, dan kejadian tersebut dikenal pada umumnya hari Pentakosta. Sejak saat itu jemaat Tuhan semakin hari semakin bertambah, dan kesemuanya itu diawali dengan doa. Demikian halnya dengan keberhasilan atau kesuksesan yang akan kita raih atau sudah kita raih adalah karena adanya gaya hidup berdoa. Dan apabila gereja itu tidak berdoa lagi, maka gereja itu pasti akan mati.
Sebagai seorang Kristen harus hidup berdoa senantiasa didalam Roh. Artinya hidup kita tidak pernah lepas dari Tuhan. Kalau kita sering berdialog dengan Tuhan, maka hubungan kita dengan-Nya pasti baik juga. Kisah Rasul 2:42 berkata, “Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.” Dan bagi seorang istri atau suami atau anak yang tidak pernah berdoa, maka jangan pernah berharap keluarganya percaya kepada Tuhan Yesus dan dipulihkan. Kita percaya bahwa Allah kita adalah maha pengasih dan pemurah kalau kita semakin dekat, maka Dia akan semakin dekat pula kepada kita.

Senantiasa haus untuk membaca Firman Tuhan (Kisah Rasul 2:42)

Kerinduan untuk membaca dan merenungkan firman Tuhan diawali dengan doa. Dan apabila kita tekun untuk menyelidiki firman Tuhan dan merenungkannya, maka Allah akan menyingkapkan rahasia-rahasia ilahi (1 Korintus 4:1). Dan selanjutnya kita akan gemar melakukan apa yang telah difirmankannya, dengan demikian apa yang tertulis dalam Mazmur 1:2-3 menjadi kenyataan dalam kehidupan kita. Sebab semakin kita membaca Firman Tuhan, maka semakin kaya kita dengan janji-janji Tuhan. Dan janji-janjiNya pasti akan digenapi dalam kehidupan kita sebab Ia tidak pernah lalai akan janji-janjiNya (II Petrus 3:9). Kalau kita benar-benar percaya tentang perjanjian ini, walaupun kita ini hanya menerima setetes saja, maka percayalah bahwa kekayaan dan kuasa Tuhan tidak terbatas. Di Korea ada kegerakan orang membaca firman Tuhan, di manapun mereka berada, di kantor, di sekolah, mereka membawa Alkitab dan membacanya. Kita lihat bahwa Korea adalah bangsa yang diberkati Tuhan, walaupun sempat mengalami krisis tetapi Tuhan segera memulihkan keadaan mereka.


Suka menabur (Kisah Rasul 2:45)

Jikalau kita saat ini dibawa Tuhan pada satu tingkat untuk diberkati, maka satu hal yang harus kita perhatikan yaitu kita tetap menabur. Sebab apabila kita tidak menabur lagi, maka kita akan mengalami stagnasi bahkan grafiknya justru semakin menurun. Karena pelipatgandaan akan terjadi dalam kehidupan kita ketika sedang menabur. Kita menabur tidak hanya digereja saja, tetapi juga pada orang-orang miskin, karena firman Tuhan dalam Injil I Yohanes 3:17 telah berkata : “Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?. Dan selain itu, jikalau kita menabur, maka kita harus menabur di tempat yang subur, dalam pengertian segala yang kita tabur dapat dipergunakan untuk kemuliaan nama Tuhan.

Mendirikan Mezbah Bagi Tuhan (Kisah Rasul 2:47)

Persembahan yang kita berikan kepada Tuhan harus disertai dengan hati yang memuji dan menyembah Allah. Pujian dan penyembahan harus menjadi gaya hidup kita, sebab Allah bertahta atas puji-pujian, seperti yang tertulis dalam Mazmur 22:4, bunyinya: “Engkaulah Yang Kudus yang bersemayam di atas puji-pujian orang Israel.” Selain itu, di dalam pujian ada kelepasan, seperti kisah yang terdapat didalam Kisah Para Rasul 16:25-26. Dimana ketika Paulus dan Silas memuji Tuhan maka terbukalah belenggu mereka dan pintu penjarapun juga terbuka.
Saudara, pada pengujung akhir jaman ini marilah tetap memiliki gaya hidup yang sesusai dengan kehendak Tuhan supaya kita dapat tampil beda di tengah-tengah orang yang belum mengenal Tuhan.

Amin.


KehadiranNya Melenyapkan Kekuatiran







Pdt. Abraham Alex Tanuseputra

Ayat Bacaan : Matius 6:25-34
".. Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.
Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari..."
Judul perikop dari bacaan di atas mengenai hal kekuatiran. Dan di dalam bacaan tersebut menasehatkan supaya kita tidak kuatir atas kehidupan kita, karena kuatir akan merugikan diri sendiri. Ketika seseorang mulai kuatir maka secara tidak sadar orang tersebut menghambat dirinya untuk mengalami peningkatan atau kemajuan, bahkan keadaannya semakin buruk. Selama saya (Pdt. Abraham Alex T.) melayani Tuhan, saya percaya bahwa kerajaan surga bisa turun ke bumi dan pemeliharaannya sungguh nyata dalam kehidupan saya. Seperti halnya Musa ketika memimpin bani Israel keluar dari Mesir menuju tanah perjanjian, mereka harus melintasi padang gurun.  Seperti yang kita ketahui bahwa di padang gurun tidak ada air, tumbuh-tumbuhan ataupun hujan.
Tetapi selama 40 tahun di padang gurun mereka tetap dipelihara Tuhan. Makanan disediakan Tuhan berupa mana, dan apabila mereka butuh daging, Tuhan sediakan berupa burung puyuh, demikian pula air juga disediakan Tuhan. Walaupun demikian mereka tidak pernah mengucap syukur kepada Tuhan, justru mereka selalu bersungut-sungut dan kuatir atas hidupnya. Mereka merasa lebih nyaman tinggal di Mesir, padahal di Mesir mereka menjadi budak yang kehilangan harkat dan martabatnya sebagai umat pilihan Tuhan. Ketika mereka berada di padang gurun, kekuatiran dan ketakutan membelenggu hidupnya, meskipun Allah sudah menyatakan mujizatNya sepanjang perjalanan mereka.

Saudara, mungkin kita pernah atau sedang mengalami seperti yang dialami oleh bangsa Israel yaitu berada ”di pandang gurun.” Ingatlah bahwa Tuhan tetap beserta dengan kita, dan janganlah kita kuatir atas kehidupan kita, sebab firman Tuhan menasehatkan kita : ”Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Matius 6:33). Kalau kita mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya dengan kata lain kita mencari Tuhan atau berdoa maka disitulah kita sedang mengundang sorga untuk turun ke bumi, seperti yang tertulis dalam Matius 6:10, ” datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.”
Setiap orang percaya kepada Yesus Kristus, dibaptiskan pasti selamat, sebab di bawah kolong langit tidak ada nama yang memberikan keselamatan kecuali nama Yesus. Sejak kita percaya kepada Yesus Kristus kita boleh mengalami/menikmati kerajaan sorga. Apabila kita taat kepada Tuhan maka Tuhan memelihara kita, oleh sebab itu janganlah kita kuatir.
Apabila Tuhan menunjuk suatu tempat baik di sorga maupun dibumi sebagai tempat kediamanNya maka disitulah ada urapan Allah dan tempat tersebut menjadi makmur, sebab dimana Tuhan hadir maka disitu ada kesejahteraan. Lalu, ”dimana Tuhan hadir ?” di padang gurun, di Israel, di Yerusalem. Saat Daud mempunyai cita-cita membangun bait Allah tetapi dia tidak sampai menyelesaikannya, sehingga yang menyelesaikan adalah Salomo. Dengan demikian Salomo diberkati secara luar biasa, sampai tidak ada raja yang megah dan mulia seperti Salomo. Untuk itu perlu kita mengerti bahwa ketika Tuhan berkenan di tempat dimana Tuhan tinggal maka tempat itu menjadi makmur. Dan saat ini Allah di tengah-tengah kita sebab kita adalah bait Allah (I Korintus 6:19-20).
Kerajaan Allah seperti seorang perempuan mengambil tepung yang diberi ragi. Walaupun ragi itu sedikit tetapi sanggup mengkamirkan seluruh adonan. Demikianlah satu orang dipenuhi Roh Kudus maka semua orang dipenuhi Roh Kudus. Satu orang diselamatkan maka seisi rumah diselamatkan. Begitu pula dengan rumah tangga kita. Apabila seisi rumah kita membuka mezbah bagi Tuhan maka disanalah Tuhan hadir. Hal itu kita kerjakan di bumi tetapi keadaannya sama seperti di sorga. Apabila kita melibatkan Tuhan dan mengandalkan kekuatan Roh Kudus dalam kehidupan kita maka kita akan melakukan perkara yang besar. Dan apa yang menjadi doa Paulus seperti yang tertulis dalam Efesus 3:14-21 akan menjadi kenyataan dalam kehidupan kita.

Kesaksian : Pada tahun 1971 anak saya lahir tetapi saya tidak ada biaya akhirnya saya bawa ke bidan kampung. Dan saat itu saya tidak ada biaya untuk membawa ke dokter, padahal saat itu anak saya lahir dalam kondisi sungsang. Akhirnya setelah dia lahir sempat kekurangan oksigen sehingga mengalami gangguan pada otaknya atau dapat dikatakan anak itu lahir dalam kondisi cacat. Padahal saya ini seorang hamba Tuhan yang sering berkhotbah bahwa anak-anak Tuhan pasti hidupnya diberkati, sedangkan anak saya lahir dalam kondisi cacat. Tetapi dari sinilah Tuhan mengajar saya mengenai perkara-perkara yang luar biasa. Dan sampai usia lima tahun anak saya masih belum bisa bicara, tetapi saat itu timbul pertanyaan, “mengapa anak saya masih belum bisa bicara ?” dan saat itu Tuhan bertanya, “dimanakah alamatKu ?” saya jawab : “ada dalam kerajaan sorga, duduk di sebelah kanan Allah Bapa.” Tetapi Tuhan menjawab, “alamatKu ada di dalam dirimu.” Seperti yang firman katakan, “bahwa tubuhmu adalah bait Allah.”
Lalu saya berkata, “Tuhan aku tidak bisa melayaniMu lagi sebab anak saya cacat, karena nanti saya tidak akan menjadi berkat bagi orang lain.” Tetapi Tuhan berkata, “cipta dia.” Lalu saya bertanya kepada Tuhan, “Bagaimana anak yang sudah umur lima tahun bisa dicipta.” Tetapi Tuhan berkata, bukankah aku ada dalam dirimu ?”. Dengan demikian dalam diri telah dibukakan dan mendapat pengertian bahwa di dalam diri kita ada kuasa untuk mencipta. Dan saat itu saya mulai mencipta anak saya dalam doa untuk menjadi normal, walaupun setelah saya berdoa anak saya masih belum sembuh atau pulih, tetapi saya tetap percaya, sehingga dalam tiga bulan anak saya sudah bisa berjalan tetapi saya belum mendoakan dia untuk bicara, dan akhirnya saya berdoa supaya dia bisa bicara.

Saudara, dari sinilah kita akan belajar bagaimana dampak kehadiran Tuhan dalam kehidupan kita. Seperti halnya pada waktu bumi dalam keadaan campur baur dan Tuhan hadir maka segalanya menjadi sempurna, demikianlah dalam kehidupan kita apabila Dia hadir dalam kehidupan maka kehidupan kita akan menjadi sempurna.

 Amin.

Monday, May 21, 2012

Hidup Dalam Rencana Tuhan







Pdt. Abraham Alex Tanuseputra
“Tetapi barangsiapa bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan. Sebab bukan orang yang memuji diri yang tahan uji, melainkan orang yang dipuji Tuhan.”
II Korintus 10:17-18

Saudara, perlu kita ketahui bahwa iman dan ambisi itu perbedaannya tipis sekali; dan hal ini berkaitan dengan kehidupan manusia, khususnya kehidupan orang Kristen. Iman itu mencipta (create a vision), tetapi apabila iman itu mulai tercampur dengan ambisi, maka visi yang hendak kita capai akan berubah menjadi cita-cita pribadi, diantaranya mengumpulkan kekayaan sebanyak-banyaknya, bangga terhadap diri sendiri, mencari popularitas dan yang pada akhirnya akan menjadi manusia sombong. Selain itu, iman yang tercampur dengan ambisi akan menghasilkan buah-buah  yang tidak baik, misalnya buah pertengkaran, perceraian atau perpisahan dan lain sebagainya. Sedangkan, apabila iman saja yang bekerja dalam kehidupan orang percaya dan tidak tercampur dengan ambisi, maka visi yang hendak kita raih akan sejalan dengan kehendak Tuhan. Selain itu, apabila kita tetap dalam iman, maka kita akan tetap aman.

Allah kita adalah sang penjunan yang membentuk kehidupan manusia, khususnya orang-orang percaya untuk menjadi sesuatu yang indah dan berharga menurut pemandanganNya. Dan saat ini kita akan melihat beberapa contoh tokoh Alkitab yang mengalami pembentukan di tangan sang penjunan (Allah). Misalnya Yusuf (Kejadian 37); Yusuf adalah anak yang paling disayang oleh ayahnya yaitu Yakub. Walaupun Yusuf masih muda, tetapi ia mendapat kepercayaan dari orang tuanya untuk mengawasi saudara-saudaranya yang lain; selain Yusuf dapat dipercaya, ia juga memiliki budi pekerti serta kerohanian yang baik.
Walaupun Yusuf memiliki kerohanian yang baik, tetapi ia juga mempunyai ambisi. Ambisi daripada Yusuf telah tampak ketika ia menceritakan mimpinya pada saudara-saudaranya.

Adapun isi mimpi yang diceritakan oleh Yusuf adalah sebagai berikut : ketika mereka sedang di ladang mengikat berkas-berkas gandum, lalu bangkitlah berkas Yusuf dan tegak berdiri; kemudian datanglah berkas-berkas saudaranya untuk mengelilingi dan menyembah kepada berkas Yusuf. Setelah mendengar apa yang telah diceritakan oleh Yusuf maka saudara-saudaranya semakin benci kepadanya. Apalagi ia menceritakan tentang mimpinya yang lain yaitu bahwa telah tampak matahari, bulan dan sebelas bintang sujud menyembah kepada Yusuf. Maka saudara-saudaranya semakin benci kepadanya, bahkan sampai ayah Yusuf menegornya. Memang, Tuhan memiliki rencana untuk membuat Yusuf sukses; tetapi Tuhan tidak ingin ambisi daripada Yusuf muncul dalam kehidupannya. Oleh karena itu Allah mengijinkan persoalan datang menimpa Yusuf, baik itu dimasukkan ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya, kemudian dijual untuk dijadikan budak orang Mesir, difitnah oleh istri Potifar, dimasukkan kedalam penjara dan persoalan yang lain sampai pada akhirnya ia menjadi orang kedua dalam pemerintahan Firaun di negeri Mesir. Melalui kisah Yusuf ini, maka kita dapat memetik suatu pelajaran yang luar biasa.
Dimana selama 13 tahun Yusuf mengalami barbagai macam penderitaan, tetapi iman daripada Yusuf tetap berjalan terus dalam kehidupannya. Memang, hal ini tidak mudah untuk dilakukan karena membutuhkan waktu yang cukup panjang. Tetapi apabila iman kita tetap berjalan terus walaupun mengahadapi tantangan seperti yang dialami oleh Yusuf, maka ketahuilah bahwa Tuhan sedang mematikan segala ambisi kita dan Tuhan akan mengangkat serta memuliakan kita.

Contoh yang lain adalah : kisah tentang Musa. Musa adalah seorang Ibrani yang diambil oleh Putri Firaun, kemudian dididik secara kerajaan Firaun; baik itu diberi pendidik yang baik khususnya tentang tata negera dan dilatih untuk berperang, selain mendapat perawatan sedemikian rupa. Dari didikan mereka, maka dalam diri Musa muncul suatu ambisi untuk menjadi orang yang berkuasa.
Walaupun dia memiliki ambisi, tetapi ia juga diberi iman oleh Tuhan, sehingga hatinya terbeban untuk membebaskan bangsanya yaitu bangsa Israel yang diperhamba oleh Firaun. Suatu saat Musa melihat orang Mesir yang menjadi mandor dalam pembangunan itu telah memperlakukan orang Israel secara tidak wajar, maka Musa bermaksud menolong orang Israel itu dengan cara membunuh mandor tersebut. Tetapi tindakannya itu diketahui oleh beberapa orang Israel, sehingga pada saat orang Israel sedang berkelahi dan Musa mendekati untuk melerainya dan memberi nasehat, maka orang Israel tersebut menjawab : “apakah engkau mau membunuh kami seperti engkau membunuh orang mandor itu ?”. Mendengar jawaban orang Israel maka takutlah Musa karena tindakannya diketahui orang lain. Akhirnya Musa lari ke rumah Yitro untuk menggembalakan kambing domba selama 40 tahun, yang disertai dengan berbagai macam tantangan. Maka selama itulah ambisi Musa yang kuat telah diruntuhkan, sampai pada akhirnya Musa bertemu dengan Tuhan secara pribadi melalui semak belukar yang tampak terbakar. Dari sekian lama persoalan yang dialami oleh Musa telah diijinkan oleh Tuhan, karena Tuhan sedang mempersiapakan Musa untuk melakukan perkara yang besar.

Contoh yang lain adalah kisah nabi Elia. Nabi Elia memiliki kuasa Allah yang luar biasa. Ia telah melakukan berbagai macam mujizat termasuk menghancurkan 450 nabi baal. Tetapi, walaupun demikian Allah tetap mengijinkan Elia mengalami ketakutan yang luar biasa ketika sedang menghadapi Izebel. Dimana Izebel hendak membunuh Elia; sehingga akhirnya Elia ingin mati saja setelah mendengar ancaman dari Izebel. Dari kejadian ini Tuhan mempunyai maksud yang indah atas diri Elia yaitu Tuhan ingin mematikan ambisi dan kesombongan daripada Elia, agar Elia tetap berjalan dengan imannya dan kuasa Tuhan tetap dinyatakan.
Dari beberapa contoh diatas masih terdapat contoh-contoh yang lain, misalnya Abraham, Ruth dan lain sebagainya; mereka adalah tokoh-tokoh iman yang perlu kita teladani.
Dan melalui beberapa penjelasan diatas maka dapat kita simpulkan bahwa segala sesuatu yang sedang terjadi dalam kehidupan kita pasti ada rencana yang indah, walaupun harus kita harus mengalami berbagai macam pergumulan. Sebab Allah lebih tahu, mana yang terbaik bagi kita sesuai dengan rencana dan kehendakNya, seperti pelajaran dari pekerjaan tukang periuk yang tertulis dalam kitab Yeremia 18; disana telah disebutkan “. . . . . maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya.

 Amin.




Friday, May 11, 2012

Mempertahankan Kemerdekaan







Pdt. Alex Tanuseputra
Apabila kita membaca surat Paulus yang ditujukan kepada jemaat di Galatia, maka kita akan mendapatkan nasehat atau peringatan yang tegas; yang berbunyi : “. . . Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.” (Galatia 5:1). Oleh sebab itu, kita sebagai orang Kristen biarlah sekali merdeka tetap merdeka (dalam pengertian merdeka secara fisik maupun merdeka secara roh), supaya kedamaian itu tetap ada dalam kehidupan kita untuk selama-lamanya.
Setiap makhluk tentunya membutuhkan kebebasan/kemerdekaan untuk menjalankan kelangsungan hidup dalam dunia ini,  seperti halnya yang dialami bangsa Indonesia dimana  bertahun-tahun berada dalam penjajahan dan tahun 1945 dinyatakan telah merdeka walaupun perlu pembenahan lebih lanjut, dan sejak tahun 1945 sampai sekarang, bangsa Indonesia mengalami banyak tantangan dan perubahan-perubahan. Dengan adanya berbagai tantangan dan perubahan, maka bangsa ini akan dibawa pada suatu kedewasaan, karena semakin lama suatu bangsa itu merdeka maka bangsa itu seharusnya mengalami kedamaian. Tetapi sebaliknya apabila suatu bangsa yang telah merdeka, namun tidak pernah berubah untuk menjadi dewasa, maka negara itu akan tertatih-tatih dalam menjalankan roda kehidupan. Demikian halnya dengan kita, bahwa sejak kita menerima Yesus sebagai Tuhan dan juru selamat, maka sejak itulah kita  telah dimerdekakan dari dosa, karena kita telah berlindung di bawah naungan darah Kristus.

Tetapi apabila kita tidak pernah mengalami perubahan untuk menuju pada kedewasaan rohani, maka Kekritenan kita akan tertatih-tatih sehingga kehidupan kita tidak pernah mengalami ketentraman dan kedamaian.
Apabila kita membaca surat Paulus yang ditujukan kepada jemaat di Galatia, maka kita akan mendapatkan nasehat atau peringatan yang tegas; yang berbunyi : “. . . Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.” (Galatia 5:1). Oleh sebab itu, kita sebagai orang Kristen biarlah sekali merdeka tetap merdeka (dalam pengertian merdeka secara fisik maupun merdeka secara roh), supaya kedamaian itu tetap ada dalam kehidupan kita untuk selama-lamanya.

Memang untuk mempertahankan kemerdekaan itu tidak mudah, karena kerapkali mengalami berbagai macam gangguan, terutama adanya pemberontakan-pemberontakan yang didasari oleh keinginan untuk mengutamakan diri sendiri. Hal ini terjadi seperti kisah daripada anak yang terhilang, dimana ketika ia ingin menuruti keinginan dagingnya, maka ia harus jauh dari dari bapanya, termasuk jauh dari segala apa yang dipunyai oleh bapanya. Sehingga pada akhirnya anak ini mengalami kesengsaraan yang luar biasa; bahkan hendak makan ampas untuk makanan babi saja ia tidak dapat. Tetapi setelah ia bertobat maka hidupnya dipulihkan kembali. Dari kisah ini ada suatu nasehat, yaitu supaya kita yang sudah dimerdekakan dan menjadi anak-anak Allah, janganlah sekali-kali kita berontak untuk tidak mentaati apa yang sudah menjadi ketetapan daripada firman Tuhan.

Suatu ketika Yesus bertemu dengan orang lumpuh yang sedang berbaring dekat kolam Betesda, orang tersebut mengalami kelumpuhan selama 38 tahun. Sementara itu, ia sedang menantikan goncangan kolam ketika malaikat Tuhan datang untuk menggoncangkan kolam tersebut, sebab pada saat kolam itu goncang dan orang-orang yang sakit masuk ke dalam kolam itu maka segala penyakit mereka akan sembuh. Sedangkan saat itu, tidak ada seorangpun yang membantu orang itu untuk membawa pada kolam itu ketika sedang tergoncang. Pada akhirnya Yesus sendiri yang menyembuhkan orang lumpuh tersebut, tanpa harus masuk ke dalam kolam Betesda yang sedang tergoncang. Dan suatu saat orang yang sudah disembuhkan dari lumpuhnya itu bertemu dengan Yesus di Bait Allah; lalu Yesus berkata kepadanya : ”Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk.” (Yohanes 5:14) Peringatan ini tidak hanya ditujukan kepada orang lumpuh yang sudah disembuhkan, tetapi peringatan ini juga ditujukan kepada kita.
Karena berapa banyak orang Kristen yang jatuh bangun dalam dosa, mereka tidak mau mempertahankan kemerdekaan yang sudah diberikan melalui pengorbanan Yesus di atas kayu salib. Dan berapa banyak orang Kristen yang giat untuk hadir dalam acara ibadah pemulihan tetapi mereka tidak mengalami pemulihan; mereka hanya ingin mendapatkan mujizat untuk dirinya, tetapi mereka tidak ada kerinduan untuk bertemu dengan Dia yang membuat mujizat itu. Yesus bertemu dengan orang yang lumpuh selama 38 tahun. Ini merupakan gambaran gereja yang mengalami kelumpuhan. Dan sejak rasul-rasul bergerak ke Asia kecil yaitu Tesalonika, Korintus, Galatia, Itali dan akhirnya sampai ke Roma, maka terjadilah pemulihan yang luar biasa, khususnya di Roma. Roma telah mengalami pemulihan yang luar biasa, bahkan seluruh penduduknya menjadi orang yang percaya kepada Yesus. Mereka mendapatkan berkat secara luar biasa. Tetapi setelah politik masuk dalam gereja, maka gereja mengalami kelumpuhan. Gereja mengalami abad kegelapan selama 1900 tahun. Namun suatu saat muncul Marthin Luter yang merupakan gerakan protestan. Saat itu firman Tuhan tidak boleh dibaca oleh hamba-hamba Tuhan, sehingga gereja mengalami kelumpuhan. Kalau gereja jatuh dalam dosa lagi maka gereja itu pasti mengalami kelumpuhan. Demikian dengan kita yang sudah dimerdekakan; janganlah kita sampai jatuh oleh perkara-perkara jasmani, sebab apabila kita jatuh di dalam perkara-perkara jasmani maka keadaan kita akan semakin buruk dibanding dengan sebelumnya.

Selain kisah orang lumpuh yang disembuhkan; ada kisah lain yang juga merupakan peringatan bagi kita supaya tidak lagi jatuh kedalam dosa. Kisah tersebut menceritakan mengenai perempuan yang berzinah, dimana perempuan itu kedapatan sedang berzinah dan ia harus dirajam dengan batu sampai mati, tetapi oleh karena Yesus ada ditengah-tengah mereka maka Ia menyatakan kasihNya. Pada waktu itu Yesus berkata kepada orang banyak, katanya : orang yang tidak pernah berbuat dosalah yang pertama kali melempari wanita ini. Maksud Tuhan berkata demikian adalah Ia ingin menunjukkan kasihNya yaitu mengampuni orang yang berdosa itu. Setelah Yesus berkata demikian, maka satu persatu diantara mereka pergi meninggalkan perempuan itu dan hanya Yesus yang berada disitu bersama perempuan yang hendak dirajam oleh batu itu. Lalu Yesus berkata kepada perempuan itu, katanya : ”. . . . Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” (Yohanes 8:11b).

Kisah selanjutnya adalah orang buta yang disembuhkan oleh Yesus. Ketika orang buta itu disembuhkan, maka Yesus menasehatkan orang itu, katanya : “jangan masuk ke kampung!” (Markus 8:26). Orang itu diminta untuk tidak kembali ke kampung tersebut, supaya orang itu tidak jatuh dalam dosa kembali, karena kampung tersebut dipenuhi dengan orang-orang yang hidup dalam dosa.
Saudara, melalui beberapa kisah yang sudah kita pelajari, yaitu mengenai orang lumpuh disembuhkan, orang yang berzinah diampuni dosanya dan orang buta dicelikkan matanya, biarlah menjadi peringatan bagi kita supaya kita tetap mempertahankan kemerdekaan yang sudah Tuhan berikan. Karena apabila kita jatuh kembali di dalam dosa, maka keadaan kita akan semakin buruk; seperti yang tertulis dalam Injil Matius 12:43-45, yang berbunyi : “  . . . . . . lalu ia keluar dan mengajak tujuh roh lain yang lebih jahat dari padanya dan mereka masuk dan berdiam di situ. Maka akhirnya keadaan orang itu lebih buruk dari pada keadaannya semula.  

Amin.

Wednesday, May 9, 2012

Menghormati Korban Kristus







Pdt. Alex Tanuseputra
“Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman. Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: "Di manakah engkau?" Ia menjawab: "Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi."
(Kejadian 3:8-10)
Kerinduan Allah untuk bergaul dengan manusia berawal sejak manusia berada di taman Eden, tetapi oleh karena manusia jatuh dalam dosa, maka hubungan antara manusia dengan Allah terputus. Akhirnya Adam dan Hawa diusir dari taman Eden. Namun bagaimanapun juga kerinduan hati Allah untuk bergaul dengan manusia masih tetap berlangsung sampai hari ini. Hal ini dapat dibuktikan ketika Adam dan Hawa melakukan pelanggaran, maka Allah berinisiatif untuk menyatakan kasihNya dengan cara menumpahkan darah dari seekor domba untuk diambil kulitnya, dan kulitnya digunakan untuk menutupi ketelanjangan daripada manusia.

Maka sejak itulah “darah” merupakan suatu tanda korban (Kejadian 3:23-24).
Kalau darah domba hanya dapat menyucikan manusia secara lahiriah, tetapi darah Kristus sanggup menyucikan sampai hati kita yang paling dalam seperti yang tertulis dalam Ibrani 9:13-14 “Sebab, jika darah domba jantan dan darah lembu jantan dan percikan abu lembu muda menguduskan mereka yang najis, sehingga mereka disucikan secara lahiriah, betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup.”

Dan ketika manusia jatuh dalam dosa, maka manusia tidak dapat lagi berhubungan dengan Allah karena ditengah-tengahnya ada sekat atau batas. Dan hal ini merupakan blue print (gambar perencanaan) daripada Tabernakel. Di dalam Tabernakel terdapat apa yang disebut dengan ruang maha kudus. Dan di dalam ruang maha kuduslah Allah bersemayam. Sedangkan antara ruang maha kudus dan ruang kudus telah dibatasi dengan tirai yang tebal, sehingga manusia tidak dapat berhubungan langsung dengan Allah, tetapi harus melalui perantaraan para imam yang menjadi wakil daripada umat manusia. Tetapi tabir (batas) itu menjadi pecah, karena Allah yang menjadi manusia telah menerjang tabir itu melalui penyaliban di atas golgota, sehigga saat ini kita dapat masuk ke ruang maha kudus untuk bertemu dengan Allah (Ibrani 10:19-10). Oleh sebab itu kita patut mengucap syukur senantiasa dan menghormati pengorbanan Kristus, sebab melalui pengorbanan Kristuslah kita dapat diselamatkan dan hanya oleh darahNya kita dapat masuk ke ruang maha kudus. Jadi, darah Kristus ini sangat berfungsi untuk mengembalikan pergaulan manusia dengan Allah.

Tetapi berapa banyak orang yang melecehkan pengorbanan Kristus dengan cara hidup yang tidak sesuai dengan firman Tuhan. Padahal kita tahu bahwa keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan (Kisah Rasul 4:12).
Salah satu contoh orang yang menghormati pengorbanan Kristus adalah Maria. Maria yang selalu memperhatikan firman Allah dan dia sudah berbuat sesuatu terhadap apa yang telah dia terima dari Tuhan. Misalnya : Maria telah memberikan minyak mur dengan menuangkan pada kaki Yesus lalu ia menyekanya dengan rambutnya. Hal ini dilakukan olah Maria sebelum Yesus disalibkan (Yohanes 11:1-2). Selain mempersembahkan minyak mur, Maria juga mempersembahkan minyak narwastu  (Yohanes 12:3). Enam hari sebelum Yesus disalibkan, Maria memberikan korban bagi Kristus. Dan inilah wujud iman daripada Maria selain merupakan rasa hormatnya terhadap korban Kristus. Karena imanlah dosa Maria diampuni. Sebab iman itu mendahului sesuatu yang belum terjadi.

Walaupun Korban Kristus telah terjadi pada dua ribu tahun yang lalu, tetapi sampai saat ini korban itu memiliki nilai yang tiada tandingannya. Oleh karena itu kita harus menghormati korban Kristus lebih lagi. Mari kita imbangi korban kita dengan persembahan hidup kita supaya kita semakin diberkati. Sebab kalau kita perhatikan di dalam Ibrani 6 disebutkan bahwa orang yang melecehkan korban Kristus dapat dikatagorikan sebagai orang yang murtad. Sedangkan, kalau kita benar-benar menghormati korban Kristus maka tidak ada kuasa kegelapan yang mampu menggangu kita. Yesus lebih suka tinggal di Betania karena disana ada korban yang dipersembahkan, walaupun disana ada musibah yaitu kematian daripada Lazarus.

Demikian dalam kehidupan kita, mungkin saat ini sedang mengalami musibah, baik itu kematian atas usaha, pekerjaan, kebahagiaan atau keharmonisan rumah tangga, tetapi biarlah kita ingat bahwa apabila kita menghormati korban Kristus dan memberikan korban persembahan bagi Tuhan, maka Allah senantiasa melawat kita. Dan apabila Tuhan melawat kita maka tidak ada yang mustahil dalam kehidupan kita. Dan kita juga harus mau menerima didikan dan peringatan dari Tuhan, sebab kalau kita perhatikan peristiwa Sodom dan Gomora yang telah diperingatkan Tuhan bahwa kota tersebut akan dijungkir balikkan tetapi karena mereka tidak mau berubah atau bertobat maka kota tersebut dijungkir balikkan. Memang, semua kejahatan adalah dosa, dan upah dosa adalah maut.

Tetapi kalau kita membaca dalam I Yohanes 5:16 disana dikatakan : “Kalau ada seorang melihat saudaranya berbuat dosa, yaitu dosa yang tidak mendatangkan maut, hendaklah ia berdoa kepada Allah dan Dia akan memberikan hidup kepadanya, yaitu mereka, yang berbuat dosa yang tidak mendatangkan maut. Ada dosa yang mendatangkan maut: tentang itu tidak kukatakan, bahwa ia harus berdoa.” Dari ayat yang telah kita baca di atas disebutkan bahwa ada dosa yang tidak mendatangkan maut apabila orang yang telah berbuat dosa segera bertobat dan meninggalkan perbuatannya yang jahat. Selain itu, tindakan bertobat merupakan penghormatan terhadap korban Kristus di atas kayu salib.  

Amin.

Tuesday, May 8, 2012

Tidak Hanya Sekedar Mendengar







Pdt. Abraham Alex Tanuseputra

“Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.”

(Matius 7:24-27)
Kita percaya bahwa perlindungan Allah sangat sempurna. Dan perlindungan Allah ini telah menjadi bagian dalam kehidupan orang yang percaya kepada Kristus. Berlaku dan tidaknya perlindungan Allah tergantung dari cara kita meresponi akan firman Allah, seperti yang tertulis dalam ayat bacaan di atas. Dimana, orang yang mendengar firman Allah dan melakukannya ia sama dengan orang yang bijaksana.
Tatkala persoalan atau bahaya datang, ia akan tetap berdiri teguh sebab ada kekuatan Allah yang menopangnya. Sedangkan orang yang mendengarkan firman Allah tetapi tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh. Ketika persoalan atau bahaya menerpa dalam kehidupannya, ia mengalami penderitaan yang cukup hebat, dan pada akhirnya meninggalkan Tuhan (lepas dari perlindungan Allah).
Saudara, firman Tuhan tidak hanya sekedar kita dengar, baca atau dimengerti saja. Sebab apabila hanya kita dengar dan dimengerti saja, maka tidak ada bedanya dengan orang farisi atau para ahli Taurat. Dimana mereka cukup fasih mengenai firman Tuhan tetapi untuk aplikasinya “nol”. Dan mengenai hal ini pernah disinggung oleh Tuhan Yesus, kataNya : “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran” (Matius 23:27).

Lalu bagaimana sikap kita supaya firman Tuhan dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, yang pada akhirnya kita dapat mencapai posisi sebagai orang yang bijaksana ? Hal yang pertama adalah : kita tidak hanya sekedar membaca atau mendengarkan firman Tuhan, tetapi kita harus sampai mendapatkan wahyu (revelation) dari apa yang kita terima. Dan setelah kita mendapatkan wahyu, maka harus kita rekam dalam hati kita, supaya kita mempunyai inspirasi. Dan inspirasi ini harus direalisasikan dalam kehidupan kita melalui pimpinan daripada Roh Kudus yang disebut dengan iluminasi (perwujudan daripada inspirasi). Sehingga pada akhirnya kita akan memiliki wisdom (hikmat) dan bertindak sebagai orang yang bijaksana.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering temui berapa banyak orang yang mengaku dirinya sebagai anak Tuhan, tetapi hidupnya tidak ada bedanya dengan orang yang tidak mengenal Tuhan. Memang, mereka rajin datang ke gereja atau mengikuti seluruh kegiatan gereja. Tetapi tak satupun firman Tuhan yang mereka terima menjadi rhema dalam hidupnya, sehingga Kekristenannya tidak mengalami pertumbuhan. Semuanya ini disebabkan karena kurang adanya perhatian yang serius terhadap firman Allah, seperti yang tertulis dalam Ayub 33:14-18 “Karena Allah berfirman dengan satu dua cara, tetapi orang tidak memperhatikannya.
Dalam mimpi, dalam penglihatan waktu malam, bila orang nyenyak tidur, bila berbaring di atas tempat tidur, maka Ia membuka telinga manusia dan mengejutkan mereka dengan teguran-teguran untuk menghalangi manusia dari pada perbuatannya, dan melenyapkan kesombongan orang, untuk menahan nyawanya dari pada liang kubur, dan hidupnya dari pada maut oleh lembing.”  Dan tidak heran jikalau orang tersebut tidak pernah mengalami mujizat dalam hidupnya. Jadi wahyu (revelation) ini sangat penting dalam kehidupan orang beriman, sebab firman Tuhan dalam Amsal 29:18a juga mengatakan : “Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat,  . . . .”. Dalam bahasa aslinya bahwa kata “liar” ini adalalah “ paw-rah' “ yang berarti binasa (perish) atau tidak adanya perlindungan (uncover). Untuk itu, kita tidak dapat main-main dalam Kekristenan. Apalagi saat ini kita berada pada pengujung akhir jaman, dimana segala sesuatu tidak menentu dan tidak dapat diprediksikan dengan kepandaian manusia, kecuali dengan wahyulah kita dapat berdiri kokoh.

Saudara, ketika kita mulai sungguh-sungguh rindu untuk melakukan kehendak Tuhan, maka seperti apa yang tertulis dalam Kisah Para Rasul 2:17 akan digenapi dalam kehidupan kita sebagai orang percaya. Memang, untuk melakukan wahyu yang telah kita terima dari Tuhan itu tidak gampang karena memerlukan ketaatan, sedangkan apa yang kita terima dari Tuhan untuk dilakukan kadang-kadang sangat bertentangan dengan keinginan daging kita; bahkan seringkali tidak masuk akal untuk kita lakukan. Tetapi apabila kita mengetahui pikiran Tuhan maka kita akan melakukan apa yang menjadi kehendakNya. Lalu, bagaimana kita dapat mengetahui pikiran Tuhan ? Dalam I Korintus 2:10-11 dijelaskan bahwa : “Karena kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh, sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah. Siapa gerangan di antara manusia yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri manusia selain roh manusia sendiri yang ada di dalam dia? Demikian pulalah tidak ada orang yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri Allah selain Roh Allah. Jadi, melalui pimpinan Roh Kudus maka kita dapat mengetahui pikiran Allah. Sedangkan orang yang tidak sungguh-sungguh dalam Tuhan, tidak akan pernah mengetahui pikiran Allah, karena firman Tuhan berkata : “Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani” (I Korintus 2:14)

Saudara, melalui beberapa penjelasan diatas, biarlah kita semakin haus dan lapar akan kebenaran firman Tuhan, agar kita mendapatkan wahyu dari Tuhan untuk dilakukan dalam kehidupan kita sehari-hari dan menjadi gaya hidup kita. Dan pada akhirnya kita akan menjadi orang yang bijaksana atau berhikmat. Dan apakah keuntungan menjadi orang yang berhikmat ? Amsal 3:13-18 berkata : “Berbahagialah orang yang mendapat hikmat, orang yang memperoleh kepandaian, karena keuntungannya melebihi keuntungan perak, dan hasilnya melebihi emas. Ia lebih berharga dari pada permata; apa pun yang kauinginkan, tidak dapat menyamainya. Umur panjang ada di tangan kanannya, di tangan kirinya kekayaan dan kehormatan. Jalannya adalah jalan penuh bahagia, segala jalannya sejahtera semata-mata. Ia menjadi pohon kehidupan bagi orang yang memegangnya, siapa yang berpegang padanya akan disebut berbahagia.”  

Amin.

Rahasia Di Balik KematianNya





Pdt. Abraham Alex Tanuseputra

Pelayanan Tuhan Yesus dimulai saat di padang gurun. Dia telah dicobai iblis sebanyak tiga kali, namun Dia telah benar-benar sanggup menguasai diriNya, sampai pelayananNya di taman Getsemani. Pengalaman Tuhan di taman Getsmani adalah “Obey The Lord” mutlak (Taat terhadap kehendak Allah). Memang, secara daging Tuhan Yesus saat di taman Getsmani sempat mengatakan : “Bapa kalau boleh cawan ini berlalu, tetapi bukan kehendakKu yang terjadi, melainkan kehendakMu yang terjadi.” Hal ini dilakukanNya beberapa kali sampai malaikat Allah turun menguatkan Dia. Selain ketaatan, Ia juga merasakan takut terhadap kematian yang akan segera Dia hadapi. Disini ada ketaatan yang mutlak, sampai Ia mati di atas kayu salib.

Kematian Tuhan Yesus mengandung pengertian yang luar biasa. Banyak orang berpengertian bahwa kematian Tuhan Yesus hanya untuk menebus dosa saja, padahal sebenarnya memiliki arti yang lebih dalam lagi. Untuk lebih jelas lagi, kita akan membaca Ibrani 9:16-18 “Sebab di mana ada wasiat, di situ harus diberitahukan tentang kematian pembuat wasiat itu. Karena suatu wasiat barulah sah, kalau pembuat wasiat itu telah mati, sebab ia tidak berlaku, selama pembuat wasiat itu masih hidup. Itulah sebabnya, maka perjanjian yang pertama tidak disahkan tanpa darah.”

Apabila kita perhatikan ayat di atas, maka kematian Yesus Kristus ada hubungannya dengan wasiat yang diberikan kepada kita. Mungkin timbul bertanya dalam diri kita : “apa yang Tuhan Yesus miliki sehingga Ia memberikan wasiat kepada kita ?”. Memang, tujuan utama Tuhan Yesus mati adalah untuk menebus dosa kita, tetapi disisi lain Ia hendak melepaskan suatu wasiat. Karena dengan kematianlah maka surat wasiat itu dapat dikatakan sah, tetapi apabila seseorang yang memberikan suatu wasiat belum mati, maka wasiat itu belum sah. Sedangkan yang memberi wasiat kepada kita sangat unik sekali, karena Ia telah mati dan pada hari yang ketiga Ia bangkit. Lalu apakah wasiat itu tidak sah lagi ?, tidak !. Karena kebangkitanNya mempersiapkan kita pada kehidupan yang kekal.
Kalau demikian, betapa kayanya kita semua yang mendapat anugerah yang luar biasa. Tetapi kalau kita hanya menjadi orang Kristen yang bertumbuh lambat (tidak pernah dewasa) dan tidak mengerti hal ini maka kita tidak akan menikmati berkat ini.

Kuasa kekayaan, hikmat, kekuatan, hormat dan puji-pujian ini sebenarnya sudah dijanjikan oleh Allah kepada Abraham dan keturunannya, meskipun untuk mendapatkan penggenapannya harus mengalami berbagai macam tantangan. Tetapi kita akan melihat salah satu contoh keturunan Abraham yang mendapat hak waris secara langsung dari Allah, yaitu Yakub. Yakub memang tidak menerima warisan secara siklus, seperti yang Ishak terima dari Abraham. Tetapi Tuhan memberikan berkat secara luar biasa kepada Yakub, yaitu dua pasukan yang besar. Padahal ketika Yakub keluar dari rumah, ia hanya membawa sebuah tongkat. Namun melalui tongkat inilah setiap orang dapat membaca riwayat Yakub. Karena, setiap kali Yakub bertemu dengan Tuhan atau mengalami pertolongan Tuhan, ia selalu mengukir kisah perjalanannya pada tongkat itu (Kejadian 32:9-10).

Lalu siapa saja yang berhak menerima hak waris dari Allah ?
1. Mereka Yang Disebut Sebagai Anak.

Supaya kita disebut sebagi anak Allah, maka kita harus percaya kepada Tuhan Yesus. Karena ketika pertama kita percaya kepada Kristus; maka kita telah mendapat meterai dari Roh Kudus. Dan Roh itulah yang bersaksi bersama-sama roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah, . . . . . (Roma 8:16-17). Dan jikalau kita adalah milik Kristus, maka kita juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah (Galatia 3: 29). Lalu, apakah meterai Roh itu cukup bagi kita ? tidak. Kita perlu dibaptis dalam roh. Karena baptisan Roh Kudus mengandung arti bahwa kita sedang masuk dalam sengsara Kristus dan dibangkitkan bersama Kristus, agar terjadi kelahiran baru. Melalui manusia baru inilah kita berhak memiliki hak waris tersebut. Dan apakah cukup hanya sampai dibaptis Roh Kudus ?, tidak. Karena kita perlu dipenuhi oleh Roh Kudus.
Tatkala kita dipenuhi Roh Kudus, maka keluarlah buah-buah roh dalam kehidupan kita yang pada akhirnya kita senantiasa diurapi oleh Roh Kudus. Dan salah satu ciri orang yang dipenuhi serta diurapi oleh Roh Kudus adalah ia memiliki kerendahan hati, penguasaan diri dan hidup taat terhadap kehendak Allah. Karena tanpa kerendahan hati, penguasaan diri dan taat terhadap kehendak Allah, maka tidak mungkin kita akan menerima warisan tersebut (Mazmur 37:11,22,29 &34; Filipi 2:5-9).
2. Mereka Yang Hidup Dalam Roh (Roma 8:17-19)
Orang yang hidup dalam Roh, setiap langkah-langkah kehidupannya senantiasa dipimpin oleh Roh Kudus dan bukan dikuasai oleh keinginan daging. Dan orang yang hidupnya dikuasai oleh keinginan daging tidak akan melihat kehidupan karena keinginan daging adalah mati, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera. Selain itu keinginan daging merupakan perseteruan dengan Allah. Jadi mana mungkin orang yang hidup menurut keinginan daging dapat disebut sebagai ahli waris kerajaan Allah, sedangkan yang memberi hak waris adalah Allah.
Memang hidup menurut Roh itu sangat menderita buat daging kita, tetapi penderitaan inilah yang membuat kita berhenti untuk berbuat dosa, seperti yang tertulis dalam I Petrus 4:1 ”Jadi, karena Kristus telah menderita penderitaan badani, kamu pun harus juga mempersenjatai dirimu dengan pikiran yang demikian, -- karena barangsiapa telah menderita penderitaan badani, ia telah berhenti berbuat dosa.
3. Mereka Yang Hidup Dalam Kedewasaan (Galatia 4:1-3)
Setiap anak berhak untuk mendapatkan warisan, tetapi dengan syarat : anak tersebut harus sudah akil balig atau dengan kata lain anak tersebut sudah dewasa. Karena apabila anak tersebut belum dewasa, maka anak tersebut masih dibawah perwalian. Demikianlah Kekristenan kita, apabila Kekristenan kita belum mengalami kedewasaan, maka kita belum layak untuk menerima warisan itu. Dan orang yang Kekristenannya belum dewasa memiliki kecenderungan untuk melakukan dosa, karena mereka masih terpengaruh oleh roh-roh dunia.

Oleh sebab itu marilah kita semakin giat dalam mengikut Tuhan, dengan menaruh kepercayaan kita sepenuhnya kepada Kristus dan hidup menurut kehendak Roh untuk menuju Kekristenan yang dewasa. Agar segala apa yang dijanjikan oleh Tuhan akan tergenapi dalam kehidupan kita, Amin.