Kebangkitan Besar

Kebangkitan Besar

Sunday, April 24, 2011

Signal Kerajaan Sorga

Pdt. Riza Solichin

“Ketika perempuan itu terus-menerus berdoa di hadapan TUHAN, maka Eli mengamat-amati mulut perempuan itu; dan karena Hana berkata-kata dalam hatinya dan hanya bibirnya saja bergerak-gerak, tetapi suaranya tidak kedengaran, maka Eli menyangka perempuan itu mabuk. Lalu kata Eli kepadanya: "Berapa lama lagi engkau berlaku sebagai orang mabuk? Lepaskanlah dirimu dari pada mabukmu." Tetapi Hana menjawab: "Bukan, tuanku, aku seorang perempuan yang sangat bersusah hati; anggur ataupun minuman yang memabukkan tidak kuminum, melainkan aku mencurahkan isi hatiku di hadapan TUHAN.”
(1 Samuel 1:12)


Di dalam setiap masalah dan peristiwa yang terjadi dalam hidup kita Tuhan selalu memberikan pesan kepada kita yang berisi tuntunan dan arahan untuk menjalani hidup sebagai anak Allah. Untuk dapat menangkap pesan itu dengan baik, dibutuhkan hati yang sensitif terhadap sinyal kerajaan Sorga.

Takut akan Tuhan menurut teks Yunaninya dapat diartikan sebagai; “tremble, alert” yang artinya “alarm, tanda bahaya” Kalau getaran Allah ini dapat kita tangkap dengan baik maka hidup kita akan berjalan dalam tuntunan Allah, sehingga segala tindakanpun akan bersesuaian dengan kehendak-Nya.

Ketika terjadi arus kemacetan lalu lintas, orang yang berada dilantai tertinggi sebuah gedung dengan orang yang berada di lantai bawah akan berbeda dalam mengetahui informasi tetantang situasi arus lalu lintas. Biasanya orang yang berada dilantai tertingi yang akan lebih mudah memantau kemacetan sehingga mengetahui kapan ia harus menagadakan perjalan tanpa mengalami kemacetan. Demikian juga hidup kita semakin tinggi tingkat hubungan kita dengan Tuhan semakin tinggi pula kesanggupan kita mengantisipasi masalah yang ada dihadapan kita.

Alkitab berkata bahwa dunia di akhir jaman ini sudah semakin rusak, artinya masalah yang kita hadapi akan semakin kompleks karensa itu kita harus lebih sensitif dengan Allah.

Alkitab berkata Hana sedang mencurahkan isi hatinya dihadapan Tuhan oleh karena banyaknya masalah dan tekanan yang terjadi atas hidupnya, namun Imam Eli tidak bisa melihat hal ini dan justru ia berpikir bahwa Hana sedang mabuk anggur. Kalau kita tidak memiliki sensifitas kepada Tuhan, maka kita pasti akan kesulitan untuk mengenali/membedakan suara Tuhan sehingga langkah hidup kita akan menuju kepada kebinasaan.

Suatukali dalam kitab Injil diceritakan bahwa murid-murid Yesus pernah kehilangan rasa sensitif kepada Tuhan, akibatnya ketika Yesus datang menghampiri mereka, murid-murid tidak mengenali-Nya, bahkan mengira Yesus sebagai Hantu (Baca: Matius 14:22)

Bagaimana supaya kita memiliki rasa sensitif kepada Tuhan? Kuncinya ada dalam Yesaya 50:4 “Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid.”

Kalau kita rajin melakukan doa fajar, maka hati kita akan semakin peka kepada Tuhan, dan ketika Ia berbicara kita dapat menangkap dan mengenalinya dengan baik. Kalau hal ini kita alami maka keluarga, pelayaan, pekerjaan dan bahkan di semua aspek hidup kita akan terjadi “multiplikasi dan promosi dari Tuhan. Hal ini terjadi karena kita mendengar dan mau melakukan perintah-Nya yang disampaikan kepada kita.

Mengapa Tuhan setelah hari kebangkitan-Nya, Yesus pertama sekali hanya menampakkan diri kepada Maria dan bukan kepada murid-murid lainnya terlebih dahulu? Kuncinya adalah karena Maria bangun pagi-pagi sekali untuk pergi kekuburan Yesus, artinya Maria punya kebiasaan bangun pagi karena dirinya begitu rindu untuk selalu berjumpa dengan Tuhan (Baca: Yohanes 20:1-12; Markus 16:9). Kebiasaan Maria perlu menjadi teladan bagi kita dalam membangun mezbah bagi Tuhan melalui doa fajar.


“ Mari Bangun kepekaan kita dengan selalu membangun mezbah bagi Tuhan melalu doa fajar sebab bukan hanya Maria Yesus juga selalu melakukan hal ini (Markus 1:35; Lukas 21:38; Yohanes 8:2)”

No comments:

Post a Comment